Love Me Now

Love Me Now
Stupid


__ADS_3

(Da Ji Hao readers, author kembali mau bilang "XieXie" buat dukungannya. Author juga mau ingetin nih, jangan lupa buat Like yah. Itung² itu adalah apresiasi dari readers sekalian buat penulis. XieXie and Keep Healthy)


💮 🦁🐰💮



"Kau masih saja teledor" ujar FanFan padaku


Sementara aku masih bengong dan terdiam memandangi laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan itu.


"Ini" dia menyerahkan ponselku


Lamunanku berakhir seketika saat seseorang memanggil FanFan dengan sebutan ' Wakil Direktur'.


"Wakil Direktur, kau sudah datang. Ayo kita kesana" ujar Kepala Departemen Bedah Toraks.


FanFan berlalu melewatiku, sementara aku hanya diam membatu di tempatku berdiri. Untuk pertama kalinya sejak 7 tahun yang lalu aku melihat FanFan. Tidak banyak yang berubah darinya. Waktu bahkan tidak tega untuk merusak wajah tampannya.


"Eh, kau kenapa bengong? Jangan-jangan kau terpeona pada Wakil Direktur yah?" Panggil Profesor Su


"Eh, tadi kepala departemen memanggilnya Wakil Direktur? Dia wakil direktur yang baru?" Tanyaku


Profesor Su mengangguk, " Oh, dia masih muda kan?"


Jadi 1 persen kemungkinan yang aku sepelekan itu benar-benar menjadi kenyataan. Jadi ketakutanku selama ini benar, FanFan adalah Professor muda lulusan Stanford Medical College yang akan menjadi Wakil Direktur Shanghai United Family Hospital. Lamunanku seketika buyar setelah pewara acara mempersilahkan FanFan untuk naik ke atas panggung.


"Dia benar-benar FanFan" kataku dalam hati seraya masih tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.


"Kau mengenalnya? Eh dia lulusan Universitas Fudan juga loh? Dia satu angkatan denganmu" ujar Profesor Su yang masih saja tertarik dengan wakil direktur muda itu.


"Entahlah"balasku


Mana mungkin aku tidak mengenalnya, aku adalah temannya dari kecil, aku adalah mantan pacarnya dan aku juga adalah tetangganya. Hanya saja aku terlalu malas berargumen dengan Profesor Su.


Karena shock dan masih tidak percaya dengan keberadaan FanFan, aku memutuskan untuk mencari udara segar dan keluar dari keramaian aula.


Tapi sial bagiku, ketika melewati koridor hotel aku melihat FanFan yang sedang menelpon. Aku berniat untuk memalingkan diri darinya, tapi dia sudah terlanjur melihatku. Akan sangat memalukan kalau aku berbalik, aku tidak punya pilihan lain selain melewatinya. Tidak ada jalan pintas untuk menghindarinya.



Aku berharap dia masih berbicara ketika aku melewatinya. Berharap dia tidak akan menegurku. Aku pun berjalan ke arahnya, mulutnya terus mengobrol lewat telpon tapi matanya terus melihatku.


Didalam hati aku berkata, "teruslah menelpon, jangan bicara padaku. Anggap aku adalah angin"


Tapi tiba-tiba langkahku terhenti tepat saat aku melewatinya.



Suaranya menyapaku, "Bagaimana kabarmu?"


Tubuhku membeku saat mendengar suara beratnya itu. Langkah kakiku terhenti dan secara otomatis tubuhku berbalik untuk membalas ucapannya.


"Aku baik-baik saja, kau sendiri?"


Dengan senyuman tipis dia menjawab, "Aku baik-baik saja, sudah lama sekali yah kita tidak bertemu. Sudah 7 tahun lebih"


Dering ponselku membuat percakapanku dan FanFan terhenti. Aku melihat id penelpon di layar ponselku dan ternyata ibuku menelpon lagi. Ketika akan menjawab telpon ibuku itu FanFan tiba-tiba memanggilku.



"Xiao Xi"


Mendengar FanFan memanggilku membuat hatiku bergetar, sudah lama aku tidak mendengarnya memanggil namaku.


"Waktu ponselmu jatuh tadi, aku melihat foto seorang anak kecil. Dia anakmu?" tanya FanFan


Sejenak aku terdiam dan menjawabnya, "Ehm"


Aku berlalu meninggalkannya setelah jawaban bodoh yang aku katakan itu. Dengan terpaksa aku berbohong lagi padanya. Entah kenapa mulutku yang murah ini mudah sekali untuk berkata-kata tanpa memikirkan akibatnya.

__ADS_1


*/


Malam ini adalah malam yang penuh kejutan. Siapa sangka aku akan bertemu FanFan setelah 7 tahun lamanya. Dan yang lebih mengejutkan, dia adalah wakil direktur yang baru di Rumah Sakit tempatku bekerja.


Aku kembali ke perjamuan setelah cukup puas menghirup oksigen diluar aula.


"Uwahh, perempuan itu terlihat berkharisma sekali, dia pacarnya wakil direktur yah?" Ujar salah seorang tamu undangan


Aneh rasanya mendengar hal itu, FanFan memang sudah tidak muda lagi. Usianya sudah sangat matang untuk menikah dan juga dia sekarang sukses. Apa yang bisa aku harapkan, kalau ditanya bagaimana perasaanku saat ini. Jawabku hanya satu 'Entahlah'.


"Kau sudah mau pulang? Kenapa buru-buru sekali?" Ujar Profesor Su


"Xiao Bai, sepertinya alerginya kambuh" kataku


Aku bergegas pulang setelah mendapat telepon dari ibuku. Xiao Bai memiliki riwayat alergi yang sama denganku, dia juga mengidap sinusitis.


Profesor Su menawariku tumpangan, tapi aku tau dia masih ingin menikmati acara. Jadi kuputuskan untuk berdiri di luar hotel dan menunggu taksi. Tapi hingga 10 menit berlalu pun aku belum juga beranjak dari tempatku berdiri. Hingga suara klakson yang berasal dari mobil sport berwarna kuning-hitam yang tidak aku kenali itu mengusik telingaku. Lampu mobil yang mengarah ke arahku itu membuat pandanganku menjadi silau.


"Naiklah, aku akan mengantarmu" suaranya berat


Aku membungkuk merendahkan tubuhku untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil mewah itu. Dan ternyata dia adalah FanFan. Siapa yang mengira dia akan ada disini, bukankah acara di dalam hotel di buat untuknya?


"Tidak apa-apa, aku bisa naik taksi" kataku.


"Aku juga mau bertemu orangtuaku. Naiklah, kita kan searah" jawabnya.


Sejenak aku berpikir, apakah aku harus naik atau tidak. Aku harus cepat pulang karena Xiao Bai membutuhkanku dan pada akhirnya aku juga masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak ada sepatah kata pun terucap dari mulut FanFan. Begitu pula aku, aku bingung harus berkata apa. Tapi aku sendiri benci berada di situasi yang canggung seperti ini.


"Selamat yah, kau sekarang sudah menjadi Wakil Direktur" kataku seraya berusaha memulai pembicaraan.


"Terima kasih" balasnya


Setelah 2 percakapan singkat itu kami kembali diam. Aku tidak ingin bicara lagi seolah-olah aku sedang melakukan wawancara dengan seseorang. Dan dia juga tidak mau berusaha untuk memulai pembicaraan, jadi lebih baik diam.


FanFan sudah mengenal seluk beluk daerah kompleks rumahku ini lebih dari siapapun, luasnya San Fransisco tidak membuatnya lupa arah rumahnya. Mobil mewahnya itu berhenti tepat di depan pagar rumahku.


"Tidak perlu ini sudah malam" kata FanFan


"Kalau begitu aku pergi" ujarku sambil menutup pintu mobilnya


Suara FanFan kembali terdengar, dia memaggilku, "Xiao Xi…"


FanFan tiba-tiba memanggilku ketika aku sudah akan berjalan ke arah rumahku. Aku berbalik dan melihat raut wajahnya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku.


Aku berjalan mendekat dan menundukan badanku, lalu mulai berbicara lagi melalui kaca mobil, "Kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"


FanFan tersenyum, "Senang bisa bertemu lagi denganmu"


Lima kata yang keluar dari mulutnya itu membuatku terdiam, aku bingung harus meresponnya bagaimana. Sudah 7 tahun berlalu, tapi entah kenapa perasaanku masih tidak menentu seperti ini ketika berhadapan dengan FanFan.


Secara refleks mulutku berkata "Aku juga"


Mobilnya bergerak maju melewati rumah orangtuanya. Aku kembali berpikir 'bukankah dia ingin bertemu orangtuanya, kenapa melewati rumahnya sendiri? Apa dia lupa rumahnya?'


*/


Semua pikiranku tentang FanFan sirna setelah melihat Xiao Bai yang tampak bersin-bersin karena alerginya yang kambuh. Dia alergi terhadap bulu, tapi dia masih saja bermain dengan kucing atau anak anjing tetangga kami.


"Kau jangan memegang kucing lagi Xiao Bai. Atau ayahmu akan memerahiku" kataku


Melihat ibuku yang tidak bereaksi apa-apa, sepertinya ibu tidak tau kalau FanFan sudah pulang ke Shanghai. Apakah itu berarti orangtua FanFan juga tidak tau kalau FanFan sudah berada di China?


"Kau kenapa menatapku begitu? Ada yang ingin kau katakan?" Tanya ibuku.


"Hah? Tidak ada kok" balasku.


Aku masuk ke kamarku untuk berganti baju, dari balik jendela kamarku yang menghadap ke kamar FanFan, aku melihat kamarnya yang masih gelap.

__ADS_1


Disudut meja, boneka yang pernah FanFan berikan padaku dulu masih terpajang. Aku meraih boneka itu.


"Tuanmu sudah kembali" ujarku sambil menatap boneka yang pernah FanFan berikan padaku dulu.


Malam ini pikiranku di penuhi oleh FanFan. Seribu pertanyaan muncul di kepalaku. Aku bingung harus bagaimana, dia dan aku akan sering bertemu sekarang. Tidak mungkin aku akan terus menghindarinya.


*/


Fajar menyingsing, pagi cerah yang damai hancur seketika ketika ibuku berteriak-teriak memanggilku. Kebiasaan ini sudah berlangsung dari aku kecil hingga aku dewasa. Tidak ada kedamaian sama sekali untukku bahkan saat waktu libur.


"Xiao Xi, ayo bangun. Kau mau sampai kapan tidur? Bantu mama mencari Xiao Bai. Dia menghilang lagi" teriak ibuku


Mendengar Xiao Bai tidak ada di rumah membuatku langsung bangkit dari tempat tidurku. Dengan muka bantal aku berlari menuruni tangga.


"Mama.." teriak Xiao Bai sambil berlari kearahku.


Bukan Xiao Bai yang mengagetkanku, tapi FanFan yang sedang duduk dan mengobrol bersama ayahku. Rupanya nyonya Wong hanya memperdayaiku agar aku mau bangun, dia tau kalau Xiao Bai adalah kelemahanku.


"Xiao Bai, kau jangan memanggil bibimu dengan sebutan mama, nanti orang mengira dia sudah menikah" kata Ibuku.


Aku, "....."


Mendengar kata-kata ibuku itu membuatku malu. Semalam aku bilang pada FanFan kalau aku sudah punya anak dan dalam hitungan 10 jam kebohongan itu terungkap.


"Bibi, jadi Xiao Bai bukan anak Xiao Xi?" Tanya FanFan.


Dengan bangga ibuku menjawab, "Mana mungkin? Dia anak Hendery. Xiao Xi merawatnya sejak Li Yu tengah hamil besar. Itulah kenapa Xiao Bai memanggilnya dengan sebutan mama"


FanFan yang mendengar jawaban ibuku langsung menatapku sambil menelengkan kepalanya, dia nyaris tertawa. Di matanya jelas tertulis 'dasar Xiao Xi bodoh'. Ah, kebohonganku bahkan tidak bisa bertahan selama 24 jam pun.



"Eh Xiao Xi, kau cepat mandilah. Kau selalu seperti itu. Lihatlah FanFan, dia bahkan sudah rapi. Eh FanFan, kau sarapan disini saja yah" timpal ibuku


Dengan rasa malu aku naik ke kamarku dan melakukan apa yang ibuku suruh. Aku mandi dan berganti baju. Setidaknya aku harus terlihat seperti manusia di depan mantan pacarku yang semakin tampan dan sukses itu.


Aku berjalan menuruni anak tangga dan melihat ibuku yang mulai antusias setelah melihat FanFan. Aku penasaran dengan reaksi ibuku saat dia tau kalau FanFan sekarang adalah Wakil Direktur di Rumah Sakit di tempatku bekerja. Dia pasti akan mengutukku karena telah melepaskan umpan yang besar.


1 jam kemudian setelah FanFan pulang, ibuku terus-terusan berceloteh tentang FanFan. FanFan sudah seperti pahlawan negara saja di mata ibuku.


Aku mulai kesal, "Ma, apa FanFan sudah memenangkan sesuatu untuk China, berhentilah membanggakannya"


"Eh bukankah dia semakin tampan? Apa dia sudah punya istri? Dia bekerja dimana?" Tanya Ibuku


"Dia sekarang Wakil Direktur di Rumah Sakit tempatku bekerja" ujarku


PAKK


Ayahku dan Xiao Bai tampak terkejut


"Auh..ma kenapa memukulku?"


"Lihatlah dia sekarang? Kau memang tidak beruntung, kenapa kau putus dengannya?" Teriak ibu padaku.


Karena tidak tahan dengan omelan ibuku aku pun masuk ke kamar untuk bersiap berangkat ke Rumah Sakit.


Siapa yang mengira aku akan bertemu dengannya lagi dan dalam kondisi seperti ini. Aku yang mengira sudah menjadi sukses bahkan sekarang hanyalah semut dimata FanFan.


Takdir menolak kami untuk bertemu selama 7 tahun, tapi penolakan itu nampaknya sudah berakhir. Aku masih berhutang maaf padanya, inikah alasan takdir mempertemukan aku dan FanFan lagi?


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.

__ADS_1


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2