
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
30 menit kemudian aku sudah berada di taman tempat kami bertemu tadi. Kemeja putih dan rok hitam yang mahal ini sudah menempel ditubuhku yang mungil. Tak lama berselang FanFan datang dengan mengendarai mobil sport andalannya.
FanFan sudah duduk di kursi kemudi mobilnya, tanpa menunggunya membukakan pintu mobil aku langsung masuk dan kami pun berangkat untuk mendaftarkan pernikahan kami. Kami memilih untuk melakukan resepsi pernikahan sepulangnya FanFan dari Jepang.
"Aku mungkin akan sedikit lebih lama di Jepang" kata FanFan
"Kenapa? Bukankah kau bilang itu hanya satu minggu. Oh, jadi kesimpulannya, kau akan meninggalkanku setelah kita menikah" aku mulai mengomel
"…" FanFan kehabisan kata-kata
Dengan sabar dia mulai menjelaskan maksud dan rencananya padaku. Dia ingin mendaftarkan pernikahan kami lebih awal karena ingin membawaku ke Jepang. Aku memang pelupa, dia kan sudah mengatakannya pada ayah dan ibuku tempo hari.
Jadwal awalnya dia hanya satu minggu di Jepang, tapi karena urusannya semakin mendadak dia harus berada di Jepang selama 2 minggu. Dia akan membantuku mengajukan cuti. Bukan cuti tepatnya, dia hanya ingin membuatku menjadi asistennya di Jepang nanti. Tapi sayang sekali aku tidak bisa, jadwal operasiku sangat padat pekan depan.
Kalau aku berpikiran ini semacam bulan madu, aku pasti salah besar. Tidak ada waktu untuk berbulan madu, FanFan adalah orang yang sibuk. Dia seribu persen pasti akan sibuk. Alih-alih menjadi budaknya di Jepang, aku lebih memilih untuk tinggal di Shanghai.
*/
Kantor Pencatatan Sipil, Shanghai
Kami sampai dibangunan yang biasanya dipadati oleh pasangan yang akan menikah. Tapi hari ini gedung ini tampak sepi.
"Kenapa sepi sekali? Apa tutup?" Kataku
"Sekarang kan jam istirahat" balas FanFan
"Lalu untuk apa kesini sekarang?"tanyaku lagi
FanFan dengan bangga menjawabku, "Calon suamimu ini adalah orang yang berpengaruh"
Aku, "...."
Maksud dari perkataan FanFan tadi itu dia punya teman yang bekerja di kantor pencatatan sipil. Tidak susah bagi FanFan untuk memintanya mengurus pendaftaran pernikahan kami. Kartu keluarga yang ibuku berikan padanya tempo hari ditambah kartu keluarga miliknya adalah syarat utama pendaftaran utama. Selebihnya kita berdua hanya perlu berfoto untuk buku nikah.
Dan ajaibnya, semuanya terselesaikan dalam waktu 1 jam. Tangan lihai teman FanFan benar-benar patut dijuliki tangan Tuhan. Jadi kesimpulannya, aku sekarang adalah wanita bersuami? Iyakan?
"Aku akan mengganti cincin pernikahan ini ketika pemberkatan nanti"kata FanFan sambil menarik tanganku
Aku menolaknya mentah-mentah, "Tidak perlu, lihatlah! Ini kan sudah bagus. Kau suka sekali membuang-buang uangmu yah? Lebih baik sekarang kau menabung untuk masa depan kita, biaya mengurus anak dan sekolahnya sangat mahal. Jadi mulai sekarang kau tidak boleh menghambur-hamburkan uangmu"
FanFan mengangguk dan tersenyum, kemudian dia kembali berbicara "Jadi..berapa anak yang kau mau? 1, 2, atau kau mau mengalahkan Hendery gege dengan 3 anak?
FanFan membuatku tersipu malu,"Aku..aku, aku hanya memikirkan masa depan. Kau jangan meledekku"
FanFan tertawa dan menarik tanganku, dia berbalik" Apa sekarang kau hanya akan diam saja? Bukankah aku seharusnya mendapatkan hadiah"
Aku,"Hadiah?"
FanFan melepaskan tangannya dari tanganku dan membuka tangannya lebar-lebar sambil berkata,"Untuk saat ini pelukan adalah hal yang masuk akal"
Aku mengerutkan dahi dan mendekat ke arahnya. Melingkarkan tanganku di bahunya dan memeluknya dengan erat.
"Wo Ai Ni" bisikku
"520" balasnya
Aku tersenyum mendengar kode angka '520' yang ia katakan padaku itu. Rupanya dia sedikit lebih gaul sekarang.
*/
Selepas mendaftarkan pernikahan kami, aku dan FanFan masih harus kembali ke rumah sakit. Masih banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan. Tiba-tiba ponsel FanFan berdering. Dia mengemudi dengan tangan kirinya sambil memegang ponsel. Wajahnya serius, dan dia hanya menjawab "iya" dan "iya" terus menerus. Sepertinya itu dari direktur rumah sakit.
__ADS_1
"Ada apa?" Aku bertanya sesaat setelah FanFan menutup telponya
"Aku harus berangkat besok malam ke Jepang. Pertemuannya dimajukan" katanya dengan nada serius seakan tak senang
"Pergilah, aku tidak apa-apa"kataku
"Bagaimana bisa aku meninggalkan istriku yang baru aku nikahi sehari setelahnya" kata FanFan
Aku terbahak-bahak mendengar pengakuan romantis dari mulut laki-laki yang sekarang sudah terdaftar sebagai menantu keluarga Wong ini. Wajahnya memerah seperti persik setengah matang.
"Kau kenapa ketawa?" Tanya FanFan
"Tidak, tidak. Kau imut sekali saat seperti ini" kataku
Bagaimana aku bisa melarangnya pergi? Aku hanya bisa mendukungnya dan berdiri dibelakangnya. Aku tidak akan meminta apa-apa padanya, aku hanya bilang pada FanFan "jaga dirimu baik-baik"
Dia menghela nafas panjang. Seakan tak mau pergi, di sepanjang jalan dia hanya mengomel dan membicarakan sikap direktur yang seenaknya padanya. Dengan nada bercanda dia mengatakan kalau direktur rumah sakit terbaik di Shanghai itu kadang suka memanfaatkannya.
"Dia gurumu, berhentilah mengolok-ngoloknya. Lagi pula kalau bukan karena direktur, kau tidak akan bisa melamarku secara romantis. " kataku sok bijak
FanFan menolak argumenku,"Tapi aku kan membayarnya, dan ini tidak sesuai dengan kesepakatan yang aku dan dia buat. Dasar orangtua itu"
Sesampainya dirumah sakit kami langsung berpisah, FanFan berlari menuju ruangan direktur sementara aku pergi ke IGD. Di nurse station sudah ada Profesor Su yang sudah menunggu untuk diberikan jawaban. Wajahnya berkerut saat melihatku, dia seperti akan mati penasaran kalau aku tidak menjawab semua pertanyaannya itu.
"Kau dari mana? Kenapa berganti baju segala? Eh, kau memakai setelan mahal hari ini? Apa wakil direktur yang membelikannya? Tentu saja, kau mana ada minat pada fashion" Kata Profesor Su panjang lebar
Sejenak aku terdiam, aku masih memberikan Profesor Su waktu untuk menyelesaikan semua ucapannya. Aku hanya takut ketika aku memotongnya, dia akan lupa apa yang ingin dia katakan.
"Apa kau sudah selesai bicara?" Tanyaku
Profesor Su,"Hehehehe"
Sebelum menjawab pertanyaan Profesor Su, aku mulai menarik nafasku panjang-panjang,"Pertama, aku pergi karena ada urusan penting. Kedua, setelan ini diberikan oleh Wakil Direktur dan ketiga aku harus cepat-cepat bertugas sebelum kau memerahiku"
Profesor Su mengerutkan dahinya. Aku mencoba penawaran padanya agar pembicaraan kami teralihkan. Rencanaku ini juga akan sangat menguntungkan untukku nantinya jikalau berhasil.
"Profesor, bisa tidak aku cuti minggu depan? Hanya 3 hari saja"
Aku mendekatkan diriku padanya, merangkul tangan Profesor Su dan mulai berbisik "aku tadi pergi ke kantor pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahanku. Apa kau tega aku membiarkan suamiku sendirian di Jepang?"
Profesor Su tersentak, dia sudah akan berteriak tapi aku menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tanganku.
"Aku akan melepaskan tanganku kalau kau mau bersikap tenang" kataku
Profesor Su mengangguk, nafasnya lebih cepat dari tadi. Dia menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menggantikan oksigen yang aku halangi tadi.
"Kau memang luar biasa" katanya
"Jadi? Bolehkan? Kau kan baik dan pengertian" Pintaku untuk kedua kalinya
"Tidak boleh!!"jawabnya dengan tegas
Sial sekali, aku tidak berhasil merayunya. Jadi kuputuskan untuk melakukan plan B, rencana dadakan yang baru saja muncul di otakku.
"Aku akan menggantikan shiftmu selama 5 hari" penawaran kedua kembali dimulai dengan 5 jariku mengarah padanya
"Satu minggu!" Katanya dengan bangga
"6 hari!" Kataku
"8 hari!" Balasnya
Profesor Su adalah ahli taruhan yang terus menerus menaikkan taruhannya. Aku jadi kehabisan kata-kata. Dia juga pandai dalam berbisnis, dengan terpaksa aku mengiyakan permintaannya.
"Baiklah, satu minggu. Aku akan menggantikan
shiftmu selama satu minggu. Jadi apa kau mengizinkanku?" Tanyaku
"Deal" Profesor Su menyalamiku, tanda kesepakatan telah berhasil
__ADS_1
Profesor Su bertanya padaku,"Kenapa kau tidak minta cuti pada wakil direktur saja? Aku yakin dia akan melakukannya untukmu"
Benar apa kata Profesor Su itu, sebenarnya kalau aku minta cuti pada FanFan bukanlah hal yang sulit, tapi aku tidak bisa melakukannya. Cukup satu kali FanFan merusak reputasinya sebagai wakil direktur, aku tidak mau dia melakukannya lagi.
Kasihan dia, aku takut nantinya semua orang akan berpikir yang tidak-tidak tentang kami. Aku takut orang-orang mencibir FanFan dan berpikir kalau FanFan adalah contoh yang buruk bagi bawahannya.
Biarlah FanFan pergi duluan ke Jepang, aku akan menyelesaikan tugas operasiku disini, lalu pergi menyusulnya. Dan ini akan menjadi kejutan untuknya, aku tidak akan memberitahunya.
*/
Aku dan FanFan pulang kerja bersama.
"Aku tidak bisa mengajakmu jalan-jalan malam ini. Aku harus mengepak barang-barangku, aku akan mengantarmu pulang lalu kembali ke apartemen"kata FanFan
"Aku akan membantumu" kataku
Dia menatapku, bukankah wajar kalau aku membantunya. Apa ucapanku tadi membutuhkan jawaban yang sulit sehingga dia harus berpikir selama ini?
"Baiklah" katanya
Aku ikut ke apartemen FanFan, ini kali kedua aku masuk ke apartemennya. Tanpa banyak bicara FanFan masuk ke kamarnya dan mengeluarkan koper dari dalam lemarinya. Aku masuk dan membantunya melipat pakaian. Dari tadi FanFan diam saja, tidak seperti biasanya.
"Aku akan mandi" katanya secara tiba-tiba
"Oh"balasku
Setelah aku pikir-pikir, memang sepertinya ada yang salah. Apa dia merasa malu? Bodohnya aku, seharusnya sebagai perempuan, akulah yang harus tau batasan. Tadi siang kami mendaftarkan pernikahan kami dan malamnya aku langsung ke apartemennya. Walau secara hukum dia adalah suamiku sekarang, tapi aku rasa ini agak terlalu canggung.
Aku menggaruk kepalaku, sadar kalau aku begitu naif. Aku malahan membuat suasana menjadi lebih canggung setelahnya. Dengan kecepatan maksimum, aku membereskan semua pakaian FanFan dan memasukkannya ke dalam koper berawarna silver yang akan dibawanya ke Jepang.
Aku keluar kamarnya dan menunggunya keluar dari kamar mandi. Aku duduk dengan canggung di ruang tamu sambil melihat ke arah akuarium ikan koi yang tempo hari juga aku lihat. Tak lama berselang, FanFan akhirnya keluar dari kamar mandi.
Adegan ini tampak tak asing, rambut basah dan handuk pink. FanFan mengeringkan rambut basah dengan handuk pink di tangannya. Persis ketika kami masih di Beijing dulu.
"Ikanmu sudah besar" aku membuka percakapan
"Oh, aku memberinya pakan terbaik" jawabnya
"……" (sunyi )
Dengan sigap aku meraih tasku dan berdiri dari sofa. Aku berniat untuk pulang karena hari sudah semakin malam.
"FanFan lebih baik aku pulang sekarang. Kau tidak perlu mengantarku, aku..aku akan menelpon taksi saja" kataku
FanFan diam, tidak ada jawaban sama sekali keluar dari mulutnya. Sepertinya dia sedang berpikir lagi. Tapi kali ini apa yang ada dibenaknya?
"Tinggallah!" Katanya dengan suara lantang dan tatapan serius
"Hah?" Aku kebingungan
Apa aku tidak salah dengar, barusan dia menyuruhku tinggal. Aku tidak mau salah paham, jadi aku bilang padanya "apa maksudmu?"
"Tinggallah! Temani aku malam ini, aku akan ke Jepang besok. Dan juga, kau kan sudah menjadi istriku, jadi wajar kalau istri tinggal dirumah suaminya" katanya
Aku membeku, aku bingung harus menjawab apa. Sementara FanFan terus menatapku sambil menunggu jawaban dariku. Jadi ku putuskan untuk menjawabnya.
"Aku akan tinggal bersama suamiku" kataku dengan nada malu-malu kucing
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
__ADS_1
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰