
Hari ini, genap satu tahun aku dan FanFan melalui hari-hari kami sebagai co-assistant di Beijing. Kami berencana akan kembali ke Shanghai, segera setelah menyelesaikan program coass ini. Setelah mengambil sumpahku sebagai dokter, aku akan melanjutkan program residen di Shanghai.
(Residen adalah seorang dokter yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi seorang dokter spesialis)
Jalan yang akan aku lalui kedepannya akan sangat berbeda dengan FanFan. Aku memilih melanjutkan pendidikanku dengan mengambil spesialis bedah umum (General Surgery). Sedangkan FanFan lebih memilih mengikuti karir kakaknya sebagai dokter bedah toraks (CS/Cardiothoracic surgery/) .
Tentu saja jalan yang dipilih FanFan itu jauh lebih menantang, dia mungkin saja harus menjalani program pendidikan yang jauh lebih lama. Dan aku rasa itu adalah jalan yang paling cocok untuknya, dia kan seorang yang jenius.
Aku sih masa bodoh dengan semua tantangan itu, aku memang bukanlah orang yang menyukai tantangan. Apalagi, kalau sainganku itu FanFan. Alasan lain aku tidak mau memilih menjadi seorang dokter bedah toraks karena kakakku, Hendery. Dery ge sendiri adalah seorang dokter bedah toraks, akan lebih baik jika salah satu dari kami mengambil bidang lain.
*/
Para dokter dan staff sedang mengadakan rapat untuk pemilihan peserta yang akan mengikuti pelatihan kedokteran di Macau. Setiap Residen akan membawa satu coass pendamping di pelatihan itu.Tapi sebelum itu ada yang namanya ujian seleksi, semua coass dari setiap departemen akan di uji. Setiap departemen akan mengirimkan satu perwakilan untuk ikut dalam pelatihan itu. Tentu saja aku ingin ikut, tapi sainganku tidak mudah.
Di Beijing saja ada beberapa rumah sakit besar, sebut saja rumah sakit Peking. Dan dari departemen bedah saja sudah ada FanFan. Dia pasti tidak akan melewatkan kesempatan emas ini. Yah, aku hanya akan berusah. Terpilih yah syukur, kalau nggak yah udahlah yah
Aku pergi ke ruangan staff untuk mengambil barang-barangku, dan aku melihat FanFan sedang membaca buku. Sebuah buku tebal yang bisa saja ku gunakan untuk memukul seseorang, rupanya dia sedang membaca buku medis.
"Wah! Kau bahkan sudah memulainya" ledekku pada FanFan yang serius membaca buku.
"Ah ini, Aku hanya membacanya" balas FanFan dengan santai…
2 menit kemudian setelah ucapan singkatnya itu, tiba-tiba "PAKK!!"suara buku yang menutup itu mengagetkanku yang sedang berdiri di sudut ruangan.
"Hah? Kau sudah selesai belajar?" Tanyaku yang keheranan
"Oh~aku sudah selesai. Aku bosan, lihatlah buku ini. Buku ini bahkan lebih tebal dari kitab hukum" seru FanFan
"…"
Aku tidak berkata apa-apa lagi padanya, kadang-kadang kejeniusannya itu melampaui imajinasiku. Dia benar-benar berbeda, dia hanya membaca garis-garis besarnya saja. FanFan bilang membaca itu penting untuk mengetahui dasar-dasarnya tapi praktik jauh lebih penting. Waktunya membaca bahkan hanya 1/4 dari waktunya bermain game.
FanFan menyimpan bukunya diloker dan aku masih memperhatikannya. Aku hanya kagum dengan pacarku ini. Apa ada hal yang tidak bisa dilakukannya? Dia tidak bisa apa sih? . Lama-lama aku jadi paranoid, aku takut dia akan ambil orang. Kadang aku berpikir, aku tidak terlalu cantik, kakiku pendek, dan aku suka menindasnya, tapi kenapa dia bisa menyukaiku?
"Wei, kau kenapa melamun?" Seru FanFan
"Oh..ah..tidak..aku.."
"Nanti malam kita main yah. Sudah lama kita tidak pergi bersama" ajak FanFan
"Baiklah.."
Ketika malam harinya, sepulang dari rumah sakit aku menunggu FanFan di tempat parkir. Tidak biasanya dia terlambat, biasanya FanFan yang lebih dulu menungguku. Aku mengambil ponsel di tasku dan berniat menelponnya . Tapi tiba-tiba, aku mendapat telpon darurat dari IGD. Aku pun langsung bergegas kembali di IGD, alasan FanFan terlambat karena ternyata dia juga berada di IGD.
Kecelakaan Bus yang terjadi di pusat kota mengakibatkan banyak korban Jiwa. Seketika IGD yang aku tadi masih kondusif berubah menjadi riuh. Semua tim dokter sibuk menolong pasien yang terluka
Bebapa pasien harus segera di operasi karena menderita luka yang cukup serius. Malam itu menjadi malam tersibuk yang pernah aku rasakan selama menjadi coass di rumah sakit ini. Tidak ada waktu untuk mengobrol, semua sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Hingga dini hari kami masih bekerja, tim dokter yang menangani pasien di OR (Operating Room) belum juga keluar, mereka bekerja dengan penuh dedikasi untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Dulu aku sempat menolak untuk masuk ke dunia medis, sampai ibuku yang menyuruhku masuk ke dunia yang kebanyakan orang pikir menyeramkan. Membedah manusia, menyentuh organ-organ manusai, darah dan sejenisnya. Tapi sekarang aku sadar, dokter adalah profesi yang sangat keren.
Ketika seseorang terluka dan membutuhkan bantuan kita, maka sebagai dokter kita tidak bisa mengabaikannya. Aku bangga menjadi seorang dokter. Setelah berjam-jam berkutat dengan pasien, akhrinya kami selesai. Semua korban kecelakaan telah ditangani dengan baik…
__ADS_1
"Kalian telah bekerja keras" kata Profesor Chen
Aku melihat FanFan dari kejauhan. Dia tersenyum padaku sambil mengedipkan mata kirinya. Aku lihat jas dokternya yang semula berwarna putih bersih berubah menjadi merah karena terkena darah.
*/
Jam menunujukkan pukul 5 pagi ⏰
Kami yang bertugas malam itu sangat lelah. Aku dan FanFan pergi ke ruangan staff untuk beristirahat, tapi disana banyak dokter lain. Ada kakakku dan Yang ge yang tertidur di sofa, dokter Yu Tang , dokter Zhang dan dokter Chen. Semuanya ada di ruangan staff.
"Tunggu sebentar" kata FanFan.
FanFan mendekati kakaknya yang sedang tidur. Dia meraba-raba saku celana Yang ge dan mengeluarkan kunci mobil dari kantung celana Yang gē.
FanFan mengajakku ke basemen tempat mobil kakaknya itu terparkir. Dia menyuhku untuk tidur di mobil
"Kemarilah.."ujar FanFan sambil menarik tanganku.
Aku masuk ke mobil dan tidur di kursi belakang. Sementara FanFan tidur di kursi depan. Hari ini kami tidak bisa pulang, karena kami ada shift jaga siang dan juga follow pasien. Dari pada membuang waktu di perjalanan, kami memilih tidur di mobil.
Beberapa saat kemudian...
Bip.Bip.Bip
"Eh, kalian disini rupanya" seru Yang ge
"Oh..gē? Bukankah aku mengambil kunci mobilmu?"tanya FanFan yang masih setengah sadar.
"Aku membawa kunci cadangan, aku tau kau akan berbuat yang tidak-tidak" balas Yang gē
"Masih jam 7, aku akan membangunkanmu setengah jam lagi..kau tidurlah" bisikku pada FanFan
"Oh" balas FanFan
Aku keluar untuk memeriksa pasien di bangsal dan IGD. Setelah selesai aku pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli sarapan. Ketika kembali, aku melihat FanFan yang masih tertidur di sofa. Aku duduk di sampingnya untuk membangunkan FanFan yang masih mau tidur.
"Eh ayo bangun. Aku sudah membelikanmu sarapan" kataku.
"Xiao xi, aku merindukanmu" ujar FanFan sambil memelukku dari belakang
Aku menyikut perutnya dengan sikuku. Pagi-pagi begini dia sudah bertingkah manja. Saat kami sedang sarapan, dokter Yu Tang datang. Dia menyuruh kami untuk pulang dan beristirahat. Dokter Yu Tang bilang coass lainnya akan datang untuk menggantikan coass yang bekerja semalaman.
"Lalu kenapa dokter kembali??"tanyaku pada dokter Yu Tang.
"Ah. Ada barang yang harus aku ambil, aku akan pulang sebentar lagi" balas dokter Yu Tang.
Setelah menyelesaikan tugas dan ganti baju kami pun pulang ke apartementl. Sepi sekali, aku masuk ke kamar kakakku dan melihatnya sedang tertidur pulas. FanFan dan aku juga masuk ke kamar untuk beristirahat.
Hari ini langit sedang menangis, udara menjadi dingin dan lembab. Membuatku malas untuk bangun, aku hanya ingin tidur. Aku terbangun ketika mendengar suara ponselku yang terus berdering.
"Halo ma, kenapa?" aku mengangkat telpon ibuku dengan suara malas yang membuat ibuku mengoceh di telpon.
Ibuku akan mengomel ketika melihat anak gadisnya masih tidur di siang hari. Dia mengira aku hanya tidur dari pagi sampai malam. Dia tidak tahu kalau semalaman aku bertarung di IGD.
__ADS_1
"Aku bertugas semalaman, dan baru saja kembali tadi pagi. Ma, dari kemarin aku berjaga di rumah sakit sampai paginya lagi" balasku pada ibuku .
Ibuku pun mematikan telponnya dan menyuruhku untuk tidur lagi. Aku mencoba untuk memejamkan mataku lagi tapi aku tidak bisa karena aku sudah terlanjur bangun. Aku melihat diriku di cermin, bagus sekali. Sekarang aku sudah terlihat seperti aset berharga Tiongkok. Lingkar hitam di bawah mataku, membuatku terlihat seperti panda.
"Issh…" gerutuku
Aku bangun, mengambil buku dan laptopku. Aku keluar dari kamar dan aku mengambil camilan di dapur. Aku mulai membaca literatur yang mungkin saja bermanfaat di ujian nanti. Aku tidak terlalu berharap untuk terpilih, tapi setidaknya aku harus berusaha.
Dengan matanya yang bengkak seperti kenari, kakakku keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke arah sofa panjang di depanku dan menjatuhkan dirinya di atas sofa itu.
"Apa kau lapar? Tunggu sebentar aku akan membuatkan ramen untukmu" kataku
"Katakan, kau mau apa?" Tanya kakakku dengan sinisnya.
Kami bersaudara, kami sudah paham sifat kami masing-masing. Aku akan melakukan kebaikan saat ada maunya begitu pula kakakku, kami tidak jauh berbeda karena kami berbagi DNA yang sama
"Bantu aku belajar yah?"pintaku dengan tatapan memelas.
"Tenang saja, aku akan mengajarimu adikku" balas kakakku
Kakakku pun bersedia mengajariku. Dia masuk ke kamarnya dan kembali dengan setumpuk kertas ujian dan buku-buku miliknya.
"Wah! ini punyamu ge?" Seru FanFan yang baru bangunm
"Tentu saja" balas Dery gē dengan bangga.
FanFan yang penasaran pun bergabung bersama kami, dia terlihat antusias melihat koleksi buku medis milik Dery gē.
"Wah, bukankah ini edisi terbatas?" tanya FanFan
"Oh, aku mendapatkannya saat workshop" balas Dery gē
Bukannya mengajariku, kakakku malah sibuk mengobrol dengan FanFan.
"Gē, bukankah kau akan membantuku?" gerutuku
"Gē, kau akan membantunya?tidak adil sekali"
FanFan yang tampak merajuk masuk ke kamarnya dan keluar kembali dengan setumpuk buku.
"Apa yang akan dia lakukan?" Tanyaku
"FanFan, kau benar-benar yah" Teriakku
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
__ADS_1
Mohon Dukungannya.