
Keesokan harinya…
Hari ini adalah hari ke 3 aku di Beijing, besok malam aku harus sudah pulang ke Shanghai. Cutiku selama 4 hari ini membuatku terbebani, beruntung Profesor Su mau mengerti.
Setelah berpamitan pada kakak iparku, aku keluar dari unit apartemen kakakku. Dengan kemeja bergaris yang aku pasangkan dengan overall jeans dan bucket hat berwarna hitam, aku berjalan masuk ke dalam lift.
Aku melihat FanFan berdiri di lobi apartemen sambil memegang ponselnya. Aku menghampirinya, dia masih tidak sadar akan keberadaanku.
"Eh..kau sedang lihat apa?"tanyaku
Wajahnya penuh dilema,"Aku harus kembali ke Shanghai besok, ada rapat penting yang harus aku hadiri"
Dengan sumringah aku meresponnya, "Aku juga akan kembali besok malam"
FanFan tersenyum dan menunjukkan lesung pipinya padaku. Dia tampak lega mendengar bahwa aku juga akan kembali ke Shanghai.
Aku meledek wakil direktur Liu FanFan, "Aku tidak boleh cuti terlalu lama, kau pasti akan memecatku"
Dengan berpegangan tangan, kami keluar dari lobi apartemen menuju tempat parkir. Kemarin malam saat pesta hari jadi rumah sakit Peking FanFan masih bersikap acuh tak acuh padaku, tapi sekarang dia bersikap manis dengan membukakan pintu mobil untukku. Dalam semalam aku telah menjadi seorang putri.
"Awas kepalamu"katanya.
FanFan mengemudikan mobilnya menyusuri kota Beijing, melewati kompleks kota terlarang hingga akhirnya kami masuk ke dalam kompleks yang tampak mewah. Kompleks yang sepetinya hanya dihuni oleh para pesohor Beijing. FanFan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai 3.
"Ayo"katanya
Aku keheranan, "Ini rumah siapa?"
FanFan tidak menjawab, melihatnya menekan password rumah itu menandakan dialah pemilik rumah ini. Sekarang aku sadar, FanFan sekarang adalah pria sukses yang kaya raya. Dia bahkan mampu membeli rumah semewah ini.
"Eh tunggu, kemarin aku mengantarmu ke apartemen. Lalu itu punya siapa? Kenapa kau punya banyak bangunan di Beijing? Apa selain dokter kau juga makelar bangunan?" Tanyaku
FanFan, "….."
Aku melangkahkan kakiku dengan ragu-ragu.
"Masuklah, aku tidak akan memakanmu"katanya.
"Aku? Takut? Mana mungkin?"kataku.
FanFan berjalan mendekat padaku lagi, dia menundukkan kepalanya. Wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku membuatku gugup dan cegukan. Aku kembali memejamkan mataku.
"kau sedang membayangkan apa?" Kata FanFan.
FanFan menarik tanganku dan untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah FanFan ini. Rumah 3 lantai itu tampak sepi, walau di dalamnya sangat bersih. Aku bisa melihat rumah ini sudah kosong dalam waktu yang lama. Ketika aku bertanya kenapa dia membeli rumah ini, dengan santainya dia menjawab
"Untuk menipu papa dan mama" katanya.
Katanya rumah ini hanya sebagai alasan, karena FanFan sudah capek terus-terusan di paksa menikah oleh paman Liu dan bibi.
"Eh lalu apartemen yang tadi malam?" Aku kembali bertanya
FanFan,"Aku hanya menyewanya selama satu tahun, lebih nyaman untuk tinggal disana saat sendiri. Rumah ini terlalu besar"
FanFan berbalik dan dengan bangganya dia melanjutkan, "Kau adalah perempuan pertama yang aku bawa ke sini. Ah tidak juga, mama adalah orang pertama dan dasao adalah orang kedua" ujar FanFan.
(Dasao : Kakak ipar/ sebutan dari dari adik laki-laki suami)
__ADS_1
Aku berkeliling melihat rumah FanFan. Dari ruang keluarga, aku bisa melihat kolam renang dan taman karena dinding kaca yang transparan. Sementara FanFan berada di dapur, aku keluar untuk melihat taman dan kolam renangnya.
"Apa kau menyukai rumah ini?" kata FanFan yang berjalan menghampiriku dengan piring berisi cake lemon kesukaanku.
Siapa yang tidak suka rumah mewah dan megah seperti ini. Hanya saja aku tidak menjawabnya secara frontal. Aku takut FanFan mengira aku adalah perempuan yang gila uang.
"Rumahmu bagus, tapi kalau kau tidak menikmatinya akan sayang sekali" kataku.
"Aku akan menjualnya" ujar FanFan.
"Hah?" Aku terheran mendengar perkataannya itu.
"Aku akan menjual rumah ini dan membeli rumah di Shanghai. Aku mau tinggal di kota yang penuh kenangan bersamamu"
Aku menyeringai seperti matahari yang baru saja terbit. Aku mengangguk mendengar jawaban cerdas FanFan. Masuk akal, di Shanghai dia hanya tinggal di apartemen. Dan sekarang dia akan membeli rumah dengan uang hasil penjualan rumah mewah ini.
FanFan meraba-raba kantung celananya seperti sedang mencari sesuatu. Lalu keluarlah kotak berwarna navy dari dalam kantung celana FanFan. Seketika itu juga FanFan berlutut di hadapanku sembari berkata "menikahlah denganku, aku ingin kau menjadi teman hidupku"
Aku terperanga mendengar perkataan FanFan, tanpa ada clue dia melamarku di depan kolam renang rumahnya. Padahal baru kemarin aku balikan dengannya setelah berpisah selama 7 tahun lamanya.
"Aku tidak mau kau lari lagi dariku, apa kau mau menikah denganku?" Sambungnya.
Jantungku berdebar saat ini, aku tidak pernah membayangkan kalau hari ini benar-benar terjadi. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menjawab lamarannya, "Aku mau, aku mau menikah denganmu"
Di ambilnya cincin silver dari dalam kotak kecil berwarna navy itu, tapi dia tidak menyematkan cincin itu pada jariku. Dia terdiam dan tampak sedang berpikir, lalu dengan polosnya dia bertanya "cincinnya aku pasang di jarimu yang mana?"
"Dasar bodoh, tentu saja di jari manisku. Apa kau tidak pernah menonton drama romantis?" keluhku.
FanFan memasang cincin dengan berlian kecil berbentuk hati itu di jari manisku. Entah kenapa dia bisa memilih cincin yang sangat pas dengan ukuran jariku. Saat aku tanya dia hanya bilang "dulu aku kan sering menggenggam tanganmu"
"Jadi selama ini kau sudah punya prasangka kalau kita akan balikan?" Tanyaku.
"Aku selalu yakin soal itu, hanya saja aku sempat ragu ketika pertama kali bertemu denganmu sewaktu pesta penyambutan itu" katanya.
"Memangnya kenapa?" Tanyaku lagi.
"Kau lupa? Kau kan bilang kalau kau sudah punya anak" sahutnya dengan penuh semangat.
Selagi aku memandangi cincin yang berikan padaku, FanFan menyelaku, "Apa hanya ini saja?"
Aku, "Hah?"
FanFan merajuk, "Dasar bodoh, bukankah kau sering menonton drama romantis? Biasanya ketika laki-laki melamar, perempuan akan memeluk laki-lakinya itu. Tapi kenapa kau diam saja?"
Aku baru mengerti apa maksudnya setelah dia mengoceh panjang lebar. Aku perlahan mendekat padanya dan menarik pinggangnya. Karena terlalu tinggi dan tidak bisa menggapainya, aku berjinjit untuk menciumnya. Tapi sepertinya FanFan memang peka, tanpa melepaskan bibirku dari bibirnya dia menggendongku seperti seorang anak kecil. Di saat seperti ini aku ingin waktu berhenti. Seperti drama romantis yang aku putar lewat laptop, aku ingin menekan tombol "pause" dan ingin tetap seperti ini. Sekarang aku baru sadar, betapa aku merindukan FanFan.
Aku sungguh perempuan yang kuat, aku bisa bertahan selama 7 tahun ini. Aku tidak pernah membuka hatiku untuk orang lain, karena hatiku tau kalau pemiliknya akan kembali suatu saat nanti.
*/
"Cantik sekali, aku menyukainya" kataku sambil terus melihat cincin pemberian FanFan itu.
"Aku yang membelinya" katanya dengan bangga.
Menghabiskan waktu bersama FanFan sungguh tak terasa. Sedari tadi siang aku bersamanya bercerita, hingga matahari sudah mulai malu menampakkan sinarnya. Sore hari hujan turun, membuatku semakin malas beranjak dari pangkuan FanFan yang sedari tadi membaca buku pengobatan tradisional.
"Apa kau lapar?" katanya.
__ADS_1
Aku sebenarnya sudah cukup kenyang mendengarnya membahas buku yang amat panjang itu, hingga aku sadar perut sixpack FanFan itu mulai berbunyi karena lapar.
"Bukankah kau tidak punya apa-apa untuk di masak?" Kataku.
"Ehm, bagaimana kalau kita belanja saja dan kau yang akan memasak" katanya.
Aku mengiyakan permintaannya itu, kebetulan sudah lama sekali aku tidak memasak untuknya. Anggap saja ini sebagai ujian pertamaku untuk menjadi istrinya.
"Kalau begitu ayo kita pergi"
Di luar hujan, tidak terlalu deras tapi bukan gerimis. Kami pergi ke Super Market untuk belanja bahan makanan, FanFan mau makan pangsit buatanku. Jadi aku membeli tepung dan beberapa telur untuk isian di dalamnya.
Setumpuk bahan masakan sudah masuk ke keranjang belanjaan kami, "Aku rasa ini sudah cukup, ayo bayar"
"Nona, kau bicara pada siapa?" Tegur pelayan Super Market.
Aku berbalik dan tidak melihat FanFan, aku yakin dia sedang berada di suatu tempat yang menjadi tempat favoritnya saat di Super Market. Aku berjalan menyusuri Super Market dan menemukan FanFan berada di Electronic Station. Aku bertaruh dia akan membeli kamera lagi, kejadian ini sepertinya tidak asing bagiku.
"7 tahun yang lalu dia juga berbuat seperti ini" ujarku sambil mengehela nafas.
"Kau akan membeli kamera?" Tanyaku.
"Oh, aku sudah lama tidak beli kamera. Lihatlah, aku menyukai modelnya" ujar FanFan.
"Memangnya ada kamera yang tidak kau suka?"keluhku.
Aku tidak bisa melarang dia lagi untuk membeli kamera yang sudah menjadi barang favoritnya itu. Dia sekarang kaya, sebagai dokter yang merangkap jabatan sebagai wakil direktur Rumah Sakit besar tidak mungkin dia tidak punya uang. Bangunannya saja ada dimana-mana.
"Kau tidak marah kan?" Tanya FanFan padaku.
"Hahahhah, tentu saja tidak" balasku dengan senyum terpaksa.
Aku hanya beranggapan seperti ini, dia boleh membeli apa saja selagi dia belum menjadi suamiku. Tapi ketika dia telah menjadi suamiku, dia harus mengutamakan kebutuhan keluarga.
Setelah puas berbelanja, kami kembali ke rumah FanFan. Kejadian ke 2 yang sama persis dengan kejadian 7 tahun yang lalu, aku memasak di dapur sementara FanFan sibuk dengan kameranya.
"Xiao Xi"
Aku berbalik ketika mendengarnya memanggilku dan "Cekrekk". Dia memotretku tanpa ada aba-aba.
"Jelek sekali, kenapa kau memotretku? Aku bahkan belum siap"
FanFan tertawa cekikian "Kau terlihat lucu".
Aku, "…."
Kejahilannya sama sekali tidak berubah, walau usianya sudah tidak muda lagi, FanFan masih saja enerjik dan pecicilan. Hanya usia yang bertambah, wajah dan sikapnya masih sama seperti 7 tahun yang lalu.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1