
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
Malam ini aku habiskan hanya berdua bersama FanFan. Bersenang-senang dan bercerita banyak hal, entah itu tentang pengalamannya sewaktu berada di Amerika ataupun tentang Shangyan yang mencoba mengungkapkan perasaannya padaku dulu.
FanFan acuh tak acuh,"Hanya dia dan dia, apa kau tidak populer? Aku ketika berada di San Fransisco selalu menjadi pusat perhatian."
Aku tidak mau kalah, "Enak saja, aku juga populer dikalangan para coass tau. Walaupun itu hanya karena sifatku yang galak. Eh, jadi selama 7 tahun ini kau pernah pacaran saat disana? Lalu putri profesor Chen yang pergi bersamamu bagaimana?"
FanFan kembali pamer, "Wanita barat itu cantik dan seksi. Mereka tinggi dan ramping, tapi aku tidak tertarik. Kau yang mungil begini lebih aku sukai ketimbang mereka."
Aku menyeringai senang, seperti akan melahap FanFan yang sedang melancarkan rayuan gombalnya.
Setelah berpikir sejenak FanFan kembali melanjutkan, "Ah, aku tidak tau soal putri Profesor Chen. Kami hanya berangkat bersama saat ke San Francisco, kami tidak dekat. Hanya sesekali bertemu, dan bahkan aku tidak tau sekarang dia dimana."
"Oh." balasku.
Topik ringan yang sedari tadi kami bahas berubah menjadi perbincangan yang cukup serius. Kami berbicara soal resepsi yang akan kami adakan di Shanghai. Resepsi pernikahan dan pemberkatan yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Aku, "Sebenarnya aku ingin sekali memelihara beberapa anjing atau kucing, tapi aku tidak bisa. Jadi mungkin ikan koimu yang gendut itu akan menjadi gantinya."
FanFan membalas,"Berpikirlah topik yang lebih penting. Bagaimana dengan gaun pengantinmu? Apa kau tidak ingin diet dulu?"
Aku menaruh kembali kue yang hampir aku lahap itu. Apa berat badanku naik? Sepertinya tidak.
Aku, "Apa aku benar-benar gemuk?"
FanFan tertawa," Menyenangkan sekali menggodamu. Makanlah sebanyak yang kau mau, kau sangat kurus."
Kami berbicara soal masa depan yang mungkin saja akan menjadi rintangan kami kedepannya. Masalah rumah, anak, dan pekerjaan, semua itu harus clear dan jelas.
FanFan kali ini cukup serius, "Lalu bagaimana dengan Xiao Bai? Apa kau ingin membawanya untuk tinggal bersama kita?"
Aku diam, aku sama sekali tidak memikirkan hal ini. Aku berharap bisa membawanya, aku sudah berjanji pada kakak dan kakak iparku untuk merawat bocah itu. Setidaknya sampai Wubai lulus sekolah dasar.
FanFan kembali berbicara,"Bawalah dia, aku tidak masalah dengan Xiao Bai. Dia keponakanmu, maka dia juga keponakanku. Anggap saja kita belajar merawat anak. Bagaimana?"
Aku sedikit tenang mendengar jawabannya, tapi satu lagi batu besar yang mengganjal hatiku. Itu adalah orangtuaku dan orangtua FanFan, mereka sudah tua, dan kalau kami berdua pindah lalu bagaimana dengan mereka?
FanFan memberikan solusi yang tak pernah aku minta darinya. Solusi yang akan mengeluarkan banyak biaya, "Aku sudah membeli apartemen yang dekat dengan rumah papa dan mama. Sangat dekat sampai kau bisa berjalan-jalan kesana."
Mataku berbinar-binar, "Kau.., FanFan kau memang sesuatu. Kau yang terbaik."
"FanFan, aku mau meminta satu hal lagi padamu." kataku.
FanFan menatapku, "Apa?"
"Saat nanti aku tertimpa masalah di rumah sakit, aku mohon kau jangan ikut campur, yah? Aku tau kau berniat melindungiku, tapi aku ingin berjalan menghadapinya dengan tangguh. Jangan berdiri di depanku, tapi tuntunlah aku dari belakang. Berdirilah dibelakangku agar saat aku jatuh dan roboh kau akan selalu meraihku." Aku serius.
"Tapi.." FanFan menyela.
"Yah? yah?" Pintaku sekali lagi.
FanFan mengangguk, "Ehm, aku mengerti. Kau memang perempuan yang kuat."
__ADS_1
Aku tidak mau membebani FanFan lebih jauh. Aku tidak mau dia menjadi tercela karena melindungiku dengan otoritasnya. Memisahkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan adalah hal yang paling masuk akal. Saat sedang bekerja, maka FanFan adalah atasanku, tapi saat kami sedang santai, dia tetap suamiku yang harus aku hormati.
*/
Keesokan harinya aku sudah benar-benar siap meninggalkan suamiku ini. Koper dan tasku sudah siap, begitu pula FanFan yang akan mengantarku ke bandara. Kami pergi meninggalkan hotel bintang lima ini dan berangkat menuju bandara.
"Hubungi aku kalau kau sudah sampai yah? Aku janji akan segera kembali." kata FanFan.
"Aku mengerti." kataku.
Sebelum pergi FanFan kembali memelukku dan mencium keningku. Dia kemudian berbisik, "Sampai bertemu di altar."
Aku tersenyum mendengar bisikan yang diikuti oleh nafas hangatnya itu. Aku benar-benar tidak sabar menantikan hari itu. Hari dimana aku dan FanFan berdiri di altar bersama.
FanFan langsung pergi begitu aku memasuki ruang tunggu. Dengan berat hati aku melambaikan tangan padanya.
Kembali ke permasalahanku, masalah pasien yang akan aku hadapi nantinya. Tidak seperti biasanya, aku yang biasanya tertidur saat berada di pesawat berubah menjadi dokter serius yang sangat rajin. Aku membuka laporan dan catatan medis pasien yang akan aku hadapi nantinya ini.
"Seharusnya dia bisa menjalani appendektomi 2 minggu kedepan. Tapi anehnya, absesnya semakin parah." kataku serius.
Penerbangan 2 jam 45 menit benar-benar tidak terasa saat digunakan untuk belajar. Mempelajari kasus pasien membuat waktuku banyak berlalu. Tanpa terasa pesawat yang membawaku dari bandara Narita Tokyo telah mendarat di bandara Pudong, Shanghai.
Dengan koper bawaanku yang masih aku seret, aku langsung keluar dari bandara. Tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung menitipkan koper bawaanku dilobi. Aku berlari menuju ruangan staff bedah umum. Beberapa dokter magang dan residen berada didalam ruangan, mereka tampak sedang asyik bercengkrama. Hingga aku yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka.
"Mana Profesor Su?" Aku masih terengah-engah.
Aku mengambil jas dokterku dan kembali berlari menuju kamar VIP yang ada di lantai 3. Dari kejauhan aku melihat beberapa perawat dan dokter magang berkerumun. Sepertinya ada yang tidak beres. Saat aku mau melewati pintu kamar, aku melihat sosok yang familiar. Tapi aku hsnya berlalu dan mengabaikannya.
Fokusku hanya tertuju pada Profesor Su yang tampak berdebat dengan wali pasien. Ini adalah masalahku, tapi malah Profesor Su yang terkena imbasnya.
Aku, "Maafkan saya bu, apa yang salah? Saya adalah dokter penanggung jawab pasien ini."
Tanpa banyak berkata-kata, wanita paruh baya yang aku ajak bicara ini tiba-tiba menamparku. Menamparku sangat keras, hingga aku hampir roboh. Kerumunan yang melihat kejadian ini hampir berteriak.
Profesor Su mendidih, "Bu, apa yang anda lakukan? Anda tidak berhak menampar dokter dari rumah sakit kami!"
Nada profesor Su meninggi, emosinya hampir meledak, "Anda akan kami laporkan ke pihak yang berwajib!"
Aku bangkit dari posisiku yang hampir membungkuk 90 derajat. Kepalaku masih sedikit berputar, darah keluar dari sudut bibirku. Walau tidak banyak, tapi itu cukup sakit dan perih.
Aku tetap memaksakan senyum, "Kalau ada masalah, kita bisa bicarakan baik-baik."
Wanita arogan itu, "Kau lihat? Putraku hampir mati karena menahan sakit. Aku dengar dia harus di operasi, tapi kau malah tidak melakukannya. Dan aku dengar dari beberapa perawat kalau kau terburu-buru meninggalkan rumah sakit karena harus ke Jepang."
Inilah yang aku takutkan, gosip yang beredar di rumah sakit akan membawa pengaruh buruk dimasa depan.
Aku menghela napas, "Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman. Saya tidak bisa melakukan tindakan operasi karena absesnya yang buruk, saya harus memberinya antibiotik dan melihat hasilnya selama 2 minggu kedepan."
Wali pasien itu semakin emosi, " Lalu apa yang terjadi? Lihatlah sendiri!!"
Aku membela diri," Saya akan mencari tahu lebih lanjut. Saya berjanji akan…"
Ibu pasien itu menyelaku," Tidak perlu, aku akan melaporkan ini ke pihak rumah sakit. Dan kau dokter sialan, kau harus menanggung akibatnya. Aku mau dokter putraku diganti!!"
__ADS_1
Wali pasien itu mengusir kami keluar dari kamar putranya. Dia tidak membiarkan seorangpun masuk ke dalam kamar mewah itu. Sementara itu Profesor Su masih geram, dia terus mengumpat selama berjalan.
Profesor Su, "Kau tidak apa-apa?"
Aku mengangguk sambil memegang bibirku yang sedikit robek itu. Profesor Su kembali melanjutkan omelannya," Apa dia gangster? Dia bahkan tidak terlihat seperti istri pejabat. Kau tenang saja, aku tau kau tidak melakukan kesalahan. Aku akan membantumu."
Aku, "Terimakasih."
Profesor Su, "Kau obati lukamu dulu, biar aku yang mencari jalan keluarnya."
Aku tidak bisa hanya mengandalkan kepala departemen. Aku juga harus mencari jalan keluar, aku yakin tidak ada tindakanku yang salah pada pasien itu. Aku harus mencari tau lebih lanjut.
Tanpa sempat mengobati luka yang ada di bibirku itu aku langsung memeriksa catatan medis pasien. Perawat senior yang melihatku tampak sangat iba padaku.
"Dokter, kau baik-baik saja? Kemarilah aku akan mengobati lukamu itu." katanya.
Aku, "Tidak perlu. Eh perawat senior, aku minta padamu untuk menasihati para dokter dan perawat yang sering bergosip."
Perawat senior itu tersenyum sambil mengangguk padaku. Aku kemudian berlalu meninggalkannya dan pergi ke ruangan staff bedah umum untuk memeriksa catatan medis pasien itu.
"Bocah itu mengidap masalah lambung ya?" Kataku.
Ketika serius berbicara sendiri, sebuah tangan ramping datang ke arahku dengan sebuah plaster luka. Aku mendongak ke arahnya, ternyata itu adalah sosok yang tadi aku lihat di depan pintu kamar VIP.
"Ini" kata laki-laki muda itu.
"Kau.." aku berdiri.
Laki-laki muda berseragam dokter itu adalah Gong Jun. Mahasiswa cerdas yang aku temui di Narita airport kemarin. Tapi apa yang dia lakukan di sini? Apa dia seorang dokter magang?
"Dokter, kau tidak apa-apa?" Tanya pemuda manis itu padaku.
Aku,"Ah, iya. Terimakasih."
Aku mengambil plaster luka yang Gong Jun berikan padaku itu. Hari ini ada banyak kejutan, mulai dari pertemuan keduaku dengan pemuda cerdas ini, dan juga hari dimana aku di tampar oleh wali pasien.
Ayah dan ibuku bahkan tidak pernah menamparku, tapi lihatlah sekarang, tangan orang lain menyentuh pipiku dan membuatku mengeluarkan darah. Lebih baik hal ini tidak diketahui FanFan, kalau dia sampai tau, maka langit akan runtuh. Dia pasti akan mengamuk pada wali pasien itu.
Beberapa saat setelah aku berpikir tentang FanFan, notifikasi ponselku langsung menyala. Sebuah WeChat masuk, dan benar saja itu adalah FanFan.
Tertulis di pesan WeChatnya, "Aku masih rapat, aku akan menelponku nanti. Awas saja kalau kau berusaha berbohong lagi padaku"
Baru pesan singkat yang aku terima, tapi nyatanya ini adalah sebuah ancaman. Perhatian FanFan yang bak ancaman itu sangat menyeramkan. Aku harus berusaha menyelesaikan masalah ini sebelum FanFan tiba di Shanghai.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1