Love Me Now

Love Me Now
Airplane


__ADS_3

💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮


*/


Arti kebahagian bagi setiap orang itu berbeda-beda, ada yang menganggap kebahagian itu berasal dari kekayaan, ada yang memilih keluarga sebagai sumber kebahagian mereka, ada pula yang lebih simple dan hanya memilih musik sebagai kebahagian.


Setiap kebahagian yang orang itu pilih tentu saja bukan tanpa alasan, mereka tidak berdosa karena memilih kebahagian mereka sendiri. Aku banyak belajar selama ini, bahwa kebahagian yang aku nantikan itu berasal dari satu orang dan orang itu adalah Liu FanFan.


Saat seseorang bertanya bagaimana perasaanku saat ini, aku hanya akan menjawabnya dengan satu kata 'bahagia'. Aku sangat bahagia saat ini, rasanya FanFan sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Melihatnya duduk dengan tenang sambil memakan pangsit di depanku sudah lebih dari cukup untuk membuatku kenyang.


Rasanya aku sudah tidak butuh apa-apa lagi sekarang. Di masa mudaku dulu aku banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama FanFan. Kami tumbuh dan besar bersama, melewati kerasnya hujan dan sengitnya badai kehidupan bersama. Satu harapanku pada langit dan surga, aku mau menua bersamanya. Menjadi temannya sampai hembusan nafasku yang terakhir.


"Kenapa kau tidak makan? Aku tau, kau pasti mau aku menyuapimu kan?" FanFan mengambil sepotong pangsit berisi telur dengan sumpitnya lalu menyodorkannya padaku.


"Aaa.." katanya, seperti seorang ayah yang ingin menyuapi putri kesayangannya.


Aku membuka mulutku lebar-lebar dan memakan pangsit darinya itu. FanFan dengan tatapan puas melihatku, healing smilenya terpancarkan lagi.


*/



Hujan masih tidak berhenti, kaca jendela menjadi basah karena tetesan hujan. Bunyi rintik-rintik air yang jatuh di kolam berenang menjadi musik latar belakang kami yang sedang duduk di ruang tengah.


Aku sudah seperti tokoh wanita yang paling berharga di dalam sebuah drama, bersandar pada tokoh utama pria dengan tangan pria itu melingkariku.


"Sudah malam, aku harus kembali. Tapi masih hujan" aku beranjak dari sofa sambil memandang jauh keluar jendela.


Mata FanFan terlihat meyakinkan, "Tinggallah, diluar masih hujan. Hendery gege tidak akan mencarimu, dia tau kau sudah dewasa"


Dengan tatapannya yang seperti ini membuatku juga ingin tinggal bersamanya. Tapi, aku rasa itu bukanlah ide yang bagus. Tangannya masih memegang tanganku dan berharap aku tinggal bersamanya.


"Kau baru saja melamarku, aku hanya merasa…" kataku dengan mulut tergagap-gagap.


FanFan juga bangkit dari sofa, ledekan mautnya mulai terdengar, "Aku mengerti, bukankah aku ahli dalam bersabar. Ngomong-ngomong ujianmu untukku sangat sulit Xiao Xi"


Ujian yang dia maksud bukan ujian lisan atau tulisan. Tapi ujian menahan diri, laki-laki adalah hewan buas yang bisa saja lepas kendali. Walau aku percaya pada FanFan, tapi aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri.


Setelah hening beberapa saat FanFan kembali melanjutkan, " Kau berpikit terlalu keras. Ayo kemari, ikut aku"


Tangannya meraih tanganku seraya membuyarkan semua lamunan kotorku. Dia menarikku dan membawaku naik ke lantai 2 rumahnya. Langkahku terhenti saat kami sampai di depan pintu kamar utama di rumahnya itu.


"Kenapa kau membawaku kesini?"


FanFan berbalik padaku, "Kenapa? Ah, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya mau kau membantuku mengepak semua sisa pakaianku yang masih ada di lemari"


Aku, "…."


Dasar aku yang naif, aku terlalu bodoh dalam hal seperti ini. Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada otakku, sepertinya tubuhku sudah memproduksi hormon oksitosin melebihi kadar normalnya.


(Hormon oksitosin : hormon yang berperan saat seseorang jatuh cinta)


"Ah, aku tau.." kataku sembari menahan malu.


FanFan membuka lemari besar berwarna putih yang ada di kamar utama itu. Baju-baju didalamnya tergantung rapi tanpa lipatan sedikitpun. Baunya juga masih harum dan terjaga.


"Ini semua punyamu?" Tanyaku


FanFan, "Tentu saja, YangYang gege punya sebagian. Dia biasanya menyimpan beberapa pakaian yang sudah tidak ia pakai disini"


Aku, "Kenapa?"


FanFan berbisik sambil tersenyum meledek," Dasaoku adalah orang yang mengerikan, dia akan marah kalau tau Yang ge membeli pakaian yang tidak berguna"

__ADS_1


(Dasao : Kakak ipar perempuan /Istri kakak laki-laki)


Dua bersaudara ini rupanya memiliki kemiripan yang lain selain otak mereka yang jenius. Liu FanFan dan Liu YangYang memiliki kebiasaan membeli baju yang nantinya hanya akan menjadi koleksi saja. Mereka jarang memakainya atau bahkan tidak pernah. Mereka hanya menyukai pakaian itu saat mereka masih berada ditoko, tapi ketika mereka sudah membelinya maka pakaian itu hanya akan menganggur. Itulah sebabnya Hexin jiejie selalu memarahi YangYang gege setiap dia membeli pakaian.


Rupanya masih banyak baju-bajunya yang ada di lemari. Bajunya tertata rapi, dengan berhati-hati FanFan memasukkan semua bajunya ke dalam box besar. Alih-alih koper, kenapa dia malah memilih box karton raksasa itu?


"Apa kau sudah tidak punya koper?" Tanyaku yang penasaran.


"Aku tidak akan membawa baju ini ke Shanghai. Aku akan menyumbangkan semua pakaian ini ke provinsi Gansu" katanya


(Gansu : adalah provinsi termiskin di China)


FanFan melanjutkan," Ini kesalahanku dan YangYang gege, tidak seharusnya kami menghambur-hamburkan uang sementara pemuda di Gansu sana masih banyak yang kekurangan"


Hatiku terenyuh mendengar perkataan FanFan barusan. Baju-bajunya itu masih bagus sekali, bahkan masih ada beberapa baju yang masih ada price tag nya. FanFan tumbuh dari keluarga yang berkecukupan, tapi dia tidak pernah membanggakan semua itu. FanFan adalah laki-laki yang menghancurkan negara dan membuat orang-orang menderita.


(Idiom bahasa China : Mengancurkan negara dan membuat orang-orang menderita, artinya dia itu terlalu tampan dan sempurna sekali)


Setelah 30 menit membantu FanFan mengepak baju-bajunya, akhirnya kami selesai. Rencanaya besok akan ada jasa pengiriman yang akan mengambil 3 box besar ini.


"Ah lelahnya" ujarku


Aku menjatuhkan badanku ke tempat tidur yang sedari tadi aku duduki itu. Lelah rasanya melipat banyak pakaian. Aku memejamkan mataku, rintik hujan yang tak kunjung reda semakin membuat mataku berat. Aku benar-benar mengantuk.


"FanFan, kalau kau sudah selesai, bangunkan aku yah."kataku


"Oh"


*/


Aku membuka mataku karena mendengar suara petir bergemuruh. Sudah berapa lama aku tertidur? Dan dimana FanFan? Kilatan petir tidak berhenti menari-nari di langit. Aku melihat jam dan sadar kalau aku sudah tidur selama 2 jam.


"Sekarang sudah jam 11 malam, mungkin lebih baik aku tinggal disini saja" gumamku


Kalau laki-laki lain pasti akan mengambil keuntungan dari pacarnya yang sedang tertidur lelap, tapi dia benar-benar berbeda. Alih-alih tidur bersamaku di kamar yang hangat, dia memilih tidur di sofa.


Aku melihatnya lebih dekat, dengan posisi berjongkok di depannya aku mulai menindasnya. Bukankah Liu FanFan masih tidur? Kapan lagi aku bisa menindasnya? Tapi belum sempat aku mempermainkannya, FanFan sudah menyadari keberadaanku.


"Kemarilah, aku kedinginan" katanya sambil membuka lebar-lebar tangannya seraya menunggu aku masuk kedalam pelukannya.


Aku, "…."


Dia memang orang yang sensitif, dia akan mudah terbangun saat ada suara-suara kecil. Tapi anehnya kenapa dulu dia begitu susah dibangunkan saat pagi hari?


"Cepatlah" dengan sikapnya yang manja dia menyuruhku masuk ke dalam pelukannya.


Aku juga tidak menolak, dengan malu-malu aku masuk ke dalam pelukannya. Dia mendekapku dengan erat. Malam semakin larut, tapi kakakku tidak kunjung menelponku. Aku yakin kakak iparku mencegahnya menelponku. Dia tau betul kalau Dery ge sampai menelpon, itu pasti akan mengganggu waktu berduaanku dengan FanFan. Aku menghabiskan malam yang dingin di dalam pelukannya FanFan yang hangat.


*/


Hujan telah berhenti, embun-embun menetes dari dedaunan. Matahari mulai menampakkan dirinya, cahayanya menembus dinding kaca rumah FanFan dan membuat kami yang tertidur di sofa terbangun.


Setelah membersihkan dirinya, FanFan langsung mengantarku pulang ke apartemen Dery ge. Nanti sore kami akan bertemu lagi di bandara. Kami akan pulang ke Shanghai hari ini.


"Aku pulang"


Aku masuk ke ruang tengah apartemen, di sofa sudah ada kakak iparku yang sudah siap menginterogasiku, sementara Xiao Bai tampak sibuk dengan ponsel ditangan kirinya dan Xiao Nai di tangan kanannya. Sambil mengasuh kedua anaknya itu, kakak iparku tersenyum licik padaku. Aku yang tertangkap basah tidak bisa lagi menghindarinya.


"Wah, Xiao Bai. Kau mengasuh adikmu yah?" Aku tersenyum canggung


Kakak iparku, "Xiao Bai, masuklah. Mama mau bicara sama bibi Xiao Xi"


__ADS_1


Xiao Bai menolak, "Ma..aku masih mau bermain bersama didi"


(Didi :adik laki-laki)


Kilatan muncul dimata Li Yu, dengan tatapan ibu tirinya itu Wubai langsung K.O dan masuk ke kamarnya dengan terpaksa. Tindakannya itu sungguh bijaksana, dia tidak mau bocah 6 tahun itu mendengar hal-hal yang berbau dewasa.



Kakak iparku menepuk-nepuk sofa seraya meyuruhku duduk di sampingnya. Mata besarnya mulai menanyaiku, dari sorot matanya aku bisa melihat segudang pertanyaan yang akan ia tanyakan padaku.


"Bagaimana tadi malam?" Tanya kakak iparku, Li Yu.


Dia bahkan tidak melakukan pemanasan dulu. Dia langsung membuatku mati kutu dengan pertanyaanya itu.


"Aa..tidak ada apa-apa kok Saozi. Kami semalaman hanya melipat pakaian untuk di sumbangkan" kataku seraya membuat alibi.


Sebenarnya aku tidak membutuhkan alibi atau alasan apapun untuk menjawab pertanyaan ibu Xiao Bai ini. Karena tadi malam memang tidak terjadi apa-apa. Soal FanFan yang melamarku, aku akan merahasiakannya sampai menunggu saat yang tepat untuk memberitahu keluargaku.


Matanya melotot padaku, Saozi melanjutkan" Benarkah? Aku ragu dengan yang kau katakan itu Xiaogu.."


Aku berdiri dari sofa dan mengelak, "Aku bersungguh-sungguh. Sudahlah aku mau mandi dulu"


Aku meninggalkan kakak iparku dan Xiao Nai lalu bergegas masuk ke kamarku.


*/


Setelah membereskan semua pakaianku, aku keluar kamar dengan membawa koper yang siap aku bawa ke bandara. Dery ge sendiri belum pulang dari rumah sakit. Jadi aku hanya berpamitan pada kakak iparku dan Xiao Nai.


"Xiao Bai, kau tidak boleh nakal. Mama akan menelponmu setiap hari. Okay?"


Xiao Bai mengangguk mendengar ucapan ibunya itu. Dia terus memeluk adik kecilnya Xiao Nai, sepertinya dia tidak ingin berpisah dengan Xiao Nai. Tapi apa boleh buat, dia harus tetap pergi bersamaku ke Shanghai. Dia harus segera masuk sekolah, akan susah bagi Li Yu untuk mengasuh dua anak sekaligus, apalagi Xiao Nai masih sangat kecil dan Wubai juga terlalu aktif.


Tak lama berselang, FanFan datang menjemput kami. Setelah berpamitan pada kakak iparku. Aku, FanFan, dan Xiao Bai pun pergi ke bandara bersama.


Pesawat menuju Shanghai akan berangkat jam 6 sore, dan kemungkinan kami akan sampai di Shanghai jam setengah 9 malam nanti. Sedari tadi di ruang tunggu sampai di kabin pesawat aku hanya menyandarkan kepalaku di bahu FanFan, sementara Xiao Bai sibuk dengan dunianya sendiri.



Tidur saat penerbangan itu adalah kebiasaanku. Aku tidak bisa berhenti menempel di lengan FanFan seperti lintah. Sambil tersenyum tipis aku merangkul lengannya yang padat.


"Kau tidak tidur yah?" Bisik FanFan sambil merapikan rambutku yang jatuh di wajahku.


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya pertanyaanya itu. Tanpa sadar aku merasakan kepala FanFan yang juga bersandar di kepalaku. Dia sepertinya juga lelah.


"Kau tidak boleh tidur, atau kita akan mendarat di Macau" kataku


FanFan mengangguk, "Aku tau"


💮💮💮



Mulai besok novel "LOVE ME NOW" akan UP 2 bab


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.

__ADS_1


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2