Love Me Now

Love Me Now
Boyfriend


__ADS_3

Sepertinya FanFan juga ingin Dery gē mengajarinya. Seperti dugaanku, dia adalah murid teladan yang tidak akan pernah menyerah menjadi yang terbaik.


"Aku akan mengajari kalian, tapi dengan satu syarat, yang kalah harus mengikuti permintaan pemenangnya bagaimana? kalian setuju?"


"Deal…" kataku dan FanFan.


Bukan tanpa alasan, Dery gē benar-benar ingin memotivasi kami untuk bisa menjadi yang terbaik. Dia ingin aku dan FanFan mendapatkan pengalaman yang tidak bisa di rasakan oleh semua orang. Bersaing dengan pacar sendiri, agak aneh memang. Tapi aku akan berusaha.


Dery Gē menjadi tutor kami dalam belajar. Di tengah-tengah kesibukan tugas di rumah sakit, kakakku ini masih mau membantuku dan FanFan. Sementara aku dan FanFan tidak pernah punya waktu untuk jalan berdua, berkencan layaknya pasangan pada umumnya. Kami memang sering menghabiskan waktu bersama, hanya saja dengan cara yang berbeda, kami belajar dan bertugas di rumah sakit bersama.


Bagi mahasiswa kedokteran "Pacaran" itu adalah hal yang mewah, beruntung aku di tugaskan di rumah sakit yang sama dengan FanFan, kalau tidak kami pasti tidak akan pernah punya waktu bertemu .


*/


Waktu terus berlalu, dan waktu ujian seleksi pun semakin dekat


"Ujian kalian tinggal 3 hari lagi dan kesempatan untuk mengikuti pelatihan di Macau sudah di depan mata. Aku harap kalian bisa belajar lebih giat lagi" ujar Dery gē


Hari demi hari berlalu, hingga h-3 sebelum ujian seleksi. Di rumah, di rumah sakit, bahkan saat berjaga di IGD kami sempatkan untuk belajar.


*H-2 sebelum ujian seleksi*


Secara dadakan apartemen kakakku menjadi tempat kursus, buku kesehatan berisi medical term, dan jenis-jenis penyakit bertebaran di lantai. Meja ruang keluarga yang biasanya kosong sekarang menjadi penuh dengan selebaran putih berisi kumpulan soal-soal.


"Apa ada yang belum kalian mengerti sejauh ini?" Tanya Dery gē


"Ada sebuah kasus di sini, lihatlah disini tertulis 2 bayi yang di diagnosa menderita gastroschisis dan omfalokel, lalu apa bedanya gastroschisis dan omfalokel? Gejalanya hampir sama kan?" Tanyaku


(gastroschisis \=cacat lahir pada dinding perut dan omfalokel \= keluarnya organ yang ada di dalam rongga perut bayi, seperti lambung, usus, dan hati melalui pusar)


"Keduanya sama karena bentuk dan lokasi area pusarnya normal, dan karena ketiadaan jaringan di bagian atas pusar, usus kecil atau besar tetap keluar dari pusar. Namun pada gastroschisis, usus tak dilindungi oleh kantung apapun dan biasanya lebih sering terjadi pada bayi yang lahir dengan berat rendah..."balas Derygē.


Aku terkesan mendengar jawaban kakakku itu, dia kan bukan dokter spesialis anak, tapi dia juga menguasai pengetahuan diluar bidangnya.



"Lalu mengenai keduanya, ada perbedaan dalam penyembuhan dan prognosisnya juga kan?? " sambung FanFan.


"Oh benar" jawab Dery gē


Aku dan FanFan belajar sampai larut malam. Aku jadi teringat saat masa-masa kuliah dulu, saat aku mengerjakan laporan bersama FanFan. Mata Dery gē yang sudah mulai menyerah pun tidak bisa berbohong lagi, akhirnya dia masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara aku dan FanFan masih tidak bergeming. Tapi 2 menit kemudian, FanFan yang terkenal seperti cacing kepanasan mulai bereaksi.


"Ah, aku juga lelah" seru FanFan sambil menutup bukunya.


"Apa kau tidak bisa pelan-pelan menutup bukumu. kalau rusak bagaimana?" Kataku.


FanFan memutuskan untuk berhenti karena lelah, sementara aku masih lanjut belajar. Matanya yang setajam mata elang itu mulai melirikku. Awalnya aku diam, tapi karena merasa tidak nyaman aku mulai menegurnya.


"Eh, kenapa kau melihatku begitu?"


"Apa salahnya aku melihat pacarku. Xiao Xi, kau itu galak sekali, apa kau tidak bisa selembut Jiang YanLi? Kau bahkan penggemar novel itu, kenapa tidak bisa mencontohnya?" omel FanFan sambil mencubit pipiku


(Jiang YanLi ; tokoh dalam novel Mo Dao Zu Shi karya Mo Xiang Tong Xiu Ia terkenal karena sifatnya yang lemah lembut dan penyayang)


Aku bahkan tidak punya tenaga untuk membalas omelannya itu. Memang kenapa kalau aku penggemar novel Mo Dau Zu Shi? memang apa hubungannya dengan perangaiku?


"Bangunkan aku ketika kau sudah selesai yah" sambungnya


Aku menyuruhnya untuk tidur di kamarnya, tapi dia tidak mau. FanFan bilang akan menemaniku sampai aku selesai.


*/


1 jam kemudian.


Aku melihat FanFan yang tertidur di sofa. Dengan kaki panjangnya yang melampaui sofa itu, dia terlihat sangat damai.

__ADS_1


"Kasihan pacarku FanFan, dia pasti lelah. Dia bahkan bisa tertidur di sofa yang kecil ini"


Aku tidak tega untuk membangunkannya, jadi aku memutuskan untuk mengambilkannya bantal dan selimut.


"Kakimu akan sakit saat kau bangun" ujarku sambil meletakkan bantal di kaki FanFan dan menyelimutinya agar dia hangat.


"Tetaplah disini"


FanFan tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam pelukannya.


"Kau terbangun yah, lebih baik sekarang kita ke kamar saja. Kau pasti lelah tidur di sofa?" Ujarku.


"KITA???" seru FanFan.


Apa yang sudah aku katakan? aku benar-benar tidak sadar mengatakan kata "kita". Gara-gara itu, FanFan jadi meledekku.


"Maksudku kau ke kamarmu, dan aku ke kamarku"kataku sembari mengklarifikasi ucapan nyelenehku tadi.


Aku berdiri dan bergegas masuk ke kamar. Tapi FanFan bangun dan menarik tanganku lagi. FanFan bertanya padaku mengenai taruhan kami, dia ingin aku menyebutkan permintaanku. Aku menyebutkan keinginanku begitupun dia.


"Aku mau membeli kamera retro, aku mau kau mengizinkanku. Yah,yah.." ujar FanFan dengan raut muka serius.


Aku terdiam mendengar permintaannya itu, aku tidak tau harus menjawab apa. Kamera retro yang ingin dibelinya itu sangatlah mahal. Dia bahkan bukan seorang fotografer, kenapa harus meminta kamera?


Masalah ini bermula beberapa hari yang lalu. Saat itu aku dan FanFan tidak sengaja lewat di sebuah toko antik di pusat kota Beijing. Matanya yang jeli tidak sengaja mendeteksi kamera retro itu. Akhirnya kami pun melihat dari dekat kamera itu. Bukan karena kagum pada kamera tua itu, mataku terbelalak karena melihat price tag kamera yang menunjukkan harga yang fantastis. Kalau di pikir-pikir, harganya sama dengan uang beasiswa FanFan selama 1 semester. Tentu saja aku melarang FanFan untuk membeli barang tua itu.


"Kau diam. Artinya kau mau?" ujar FanFan.


Dia meminta hal mahal padaku, maka aku tidak akan kalah darinya.


"Kau mau barang mahal itu, aku setuju. Sebagai gantinya, kalau aku menang aku mau kau mendapatkan tanda tangan Lan Zhan" balasku


(Lan Zhan : tokoh dalam novel Mo Dao Zu Shi, tampan dan terkenal shaleh)


Tentu saja aku tidak bodoh, mana mungkin seorang tokoh novel memberikan tanda tangan. Yang aku maksud adalah aktor yang memerankan tokoh Lan Zhan. Aku mau FanFan membawakanku tanda tangan Wang Yibo. Dia adalah salah satu idolaku.


"Kau gila ya?mana mungkin?" Teriak FanFan.


Dia pun berlalu dan meninggalkanku. Aku masuk ke kamarku dengan wajah bangga. Siapa suruh mulai duluan, dia angkuh sekali. Jadi aku juga akan bersikap angkuh.


*/


*Beijing United Family Hospital*


H-1 sebelum ujian seleksi


Aku pergi ke kantin bersama Hexin jiejie untuk makan siang bersama. Sehari sebelum ujian seleksi, aku semakin gencar belajar, mataku bahkan tidak pernah lepas dari buku yang aku pegang, bahkan saat makan sekalipun.ĺ


"Kau terlihat sangat sibuk belakangan ini, kau bahkan tidak datang ke rumah. Apa kau tau Xiao Lu merindukanmu."


"Ah, aku juga merindukan malaikat kecil itu tapi aku harus menahannya. Jie (kak), aku sedang berkompetisi dengan FanFan" bisikku pada Hexin jiejie


Aku pun menceritakan semuanya pada kakak ipar FanFan itu. Aku harap dia akan memberi nasihat pada FanFan. Tapi sepertinya tidak, reaksi Hexin Jiejie berbeda 180° dengan ekspetasiku


"Sudahlah menyerah saja, FanFan dan kakaknya tidak jauh berbeda" ujar Hexin jiejie yang sudah mulai pesimis.


Dia masih bilang seperti itu bahkan setelah aku menceritakan syarat yang FanFan ajukan. Jawaban Hexin jiejie benar-benar membuatku geleng-geleng kepala.


*/


"Kau terlihat sibuk Crystal"ujar Dokter Zhang


"Ah, iya dokter. Aku harus belajar untuk ujian seleksi besok" balasku.


"Apa kau percaya diri bisa lolos?.Oh jadi kau akan bersaing dengan pacarmu sendiri?" sindir dokter Chen yang tiba-tiba menyela pembicaraanku dengan dokter Zhang.

__ADS_1


Sabar, sabar, dan sabar. Aku harus bersabar menghadapi dewi ular ini. Ingin sekali aku membalas perkataan dokter Chen itu, tapi aku tidak ingin membuat keributan di depan pasien. Dan juga hubunganku dan dokter Zhang sudah mulai membaik, aku tidak ingin menambah musuh gara-gara satu orang menyebalkan ini.


"Kalau begitu JiaYou (bersemangatlah)" ujar dokter Zhang yang kemudian berlalu sambil menarik tangan dokter Chen.


*/


8 jam sebelum ujian seleksi ⏰


FanFan menyuruhku untuk berhenti belajar, dia tidak ingin melihatku jatuh sakit. FanFan bahkan sengaja tidak belajar agar aku juga tidak belajar, dia tau aku akan belajar lebih keras dibandingkan dirinya.


"Aa, buka mulutmu" ujar FanFan sambil menyuapiku bakpao daging kesukaanku.


"Xie Xie"


Hingga jam 1 lewat aku belum juga berhenti. Lama kelamaan FanFan tidak tahan melihatku. Aku melihatnya masuk ke kamarnya, tak lama berselang FanFan kembali dengan memakai piyama favoritnya, dia tampak telah siap untuk tidur.



"Oh?kau sudah ganti baju. Kenapa kau kembali?ada yang lupa?"tanyaku


"Ada.." jawab FanFan


"Apa?"tanyaku


"Kau" jawabnya


"Hah?"


FanFan membuka tali yang ada di piyamanya dan dia mendekat ke arahku. FanFan sambil mengikatkan tali piyama itu di tanganku seperti penculik yang sedang mengikat sanderanya. Setelah membuat sampul di tanganku, FanFan tiba-tiba menggendongku dan membawaku ke kamarku. Bukan gendongan ala-ala putri di negeri dongeng, dia menggendongku seperti seseorang yang sedang membawa karung beras.


"Kau mau apa? turunkan aku!"


"Ini sudah larut malam, kau mau aku yang menidurkanmu atau kau tidur sendiri?" tanya FanFan.


"Iya,iya aku akan tidur. Aku akan tidur sendiri"


FanFan kemudian melemparkanku ke tempat tidur seperti karung beras. Dua membuka tali piyamanya yang masih terikat di tanganku.


"Eh sepertinya aku melupakan sesuatu, tunggu.."ujarku


Mendengar perkataanku itu, FanFan langsung mengerutkan alisnya sebelah.


"Ah baiklah, bailklah. Aku akan tidur, ha..kau lihat aku memenjamkan mataku"


FanFan menyelimutiku dan tiba-tiba dia mencium keningku, membuatku membuka mata. Caranya menyayangiku sungguh berbeda, dia memang spesial.


"Wanān (selamat malam)" bisik FanFan


"Wanān " balasku


Aku mendengar suara FanFan menutup pintu dan keluar dari kamarku. Berkat FanFan Aku akhirnya menyerah dan memilih tidur. Sejujurnya aku memang sudah letih sekali, sudah beberapa hari ini aku kurang tidur.


"FanFan, kau benar-benar yah" Teriakku


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰

__ADS_1


__ADS_2