Love Me Now

Love Me Now
Time passed


__ADS_3

(Da Ji Hao readers yang budiman, di bab yang udah sampe bab 49 ini author mau bilang "XIEXIE" yang banyak buat kalian semua pembaca novel 'LOVE ME NOW'. Jangan bosen dan terus semangatin Xiao Xi dan FanFan yah )


*/


Shanghai


7 tahun kemudian


Daun-daun berguguran di sepanjang jalan kompleks rumahku. Daun-daun itu sudah menguning, berhamburan diatas aspal hitam yang panas. Menari-nari terbawa angin, berserakan mewarnai aspal hitam menjadi jalanan orange. Musim semi telah tiba.


Angin menerpa rambut pendekku yang sudah rapi, membuatnya sedikit kusut dan berantakan. Padahal aku sudah siap bekerja. Dengan bersusah payah aku merapikan rambutku ditengah-tengah bus yang aku naiki.



Aku Crystal Wong, mahasiswa coass kedokteran yang sekarang sudah bergelar dokter Fellow. Aku adalah dokter fellow bedah umum.


(Dokter Fellow :Dokter subspesialis)


Aku memulai program Residenku di Shanghai United Family Hospital. Rumah sakit yang masih satu rumpun dengan Beijing United Family Hospital tempatku menjalani coass 3 tahun yang lalu.


(Residen : Dokter umum yang melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis)


Kalau dulu semasa coass aku sibuk jaga malam, selama menjadi residen juga tidak ada bedanya, bahkan lebih berat. Tenagaku terkuras habis, tidak ada waktu untuk mengobrol atau menelpon dengan siapapun. Waktu kebanyakan dihabiskan di Rumah Sakit ketimbang di rumah, pulang ke rumah hanya untuk mandi dan ganti baju, selebihnya aku berada di bangsal atau di poli.


Menjadi asisten ketika operasi dan selalu siap siaga ketika bertugas di IGD. Aku agak senang dan bersyukur, karena kesibukan yang tidak ada habisnya ini aku perlahan-lahan bisa melupakan FanFan yang sekarang ada di Amerika. Walau tidak sesignifikan itu, aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa FanFan.


beberapa tahun belakangan ini adalah waktu tersulit untukku. Susah sekali rasanya untuk move on dari FanFan. Awal mula aku masuk di Shanghai United Family Hospital, aku masih teringat janjiku dengan FanFan untuk bisa menjalani program residen kami bersama. Tapi semuanya hanya kenangan masa lalu yang harus aku lupakan.


Kehilangan sahabat kecil dan pacar di waktu bersamaaan, membuat hidupku yang dulunya berwarna berubah menjadi putih abu-abu.


Ketika berjalan melewati koridor rumah sakit, langkah kakiku terhenti di depan ruangan Departemen Bedah Toraks dan Kardiovaskular.


"Andai saja semuanya berjalan dengan semestinya, pasti sekarang aku akan melihatmu keluar dari pintu itu" kataku sambil menatap pintu putih ruangan staff bedah Toraks


Sudah 7 tahun lebih aku berpisah dengan FanFan, aku juga tidak pernah menelponnya. Kami benar-benar lost contact sejak saat itu. Sesekali aku mendengar ibunya menceritakan kabar FanFan. Aku senang ketika mendengar FanFan baik-baik saja di Amerika sana.


Tidak ada yang berubah antara aku dan orangtua FanFan, ibu dan ayah FanFan masih baik padaku. Mereka menyayangkan keputusan kami untuk berpisah. Tapi aku rasa ini adalah hal terbaik untuk aku dan FanFan. Kalau kami tidak berpisah, aku pasti tdak akan pernah memiliki kakak ipar sekarang.


Seseorang menepuk pundakku, perempuan bertubuh ramping yang selalu bersemangat. Dia adalah sabahabat baikku sekaligus seniorku di rumah sakit, aku memanggilnya Profesor Su.


"Kau melamun lagi? Apa kau sudah mengabari kerabat pasien tentang kondisinya?" ujar Profesor Su


Aku mengangguk menjawabnya, "sudah"


Dia merangkulku, "Hari ini kau temani aku membeli kado untuk anakku yah" bisik Profesor Su padaku


"Aku mengerti, aku akan menunggumu di tempat parkir" bisikku seraya membalas perkataan Profesor Su


Formalitas hanya berlaku saat kami berada di Rumah Sakit. Walau usia kami terpaut agak jauh, aku merasa sangat nyaman dengannya. Aku sering menggantikan tugasnya saat ia sedang sibuk mengurus anaknya. Tak jarang, aku sering menjaga anak semata wayangnya itu. Sejak bercerai dengan suaminya, Profesor Su menjadi orangtua tunggal yang sangat sibuk.


"Kau kenapa tidak menjadi ibu baptis anakku saja" ledek Profesor Su

__ADS_1


"Apa kau lupa? Aku kan masih muda." ujarku


*/


Rumahku masih sama, tidak ada yang berubah. Hanya wajah orangtuaku yang berubah, waktu tega membuat wajah mereka menjadi keriput. Tapi semangat ibuku masihlah sama, sementara ayah tetap tenang dan tak banyak bicara.


"Ma, aku pulang.."


Ibuku muncul dari dapur, "Apa kau sudah bertemu dengannya?"


Aku, "Ma, aku masih muda, untuk apa kencan buta?"


Setiap kali aku kembali ke rumah, ibuku akan menanyakan perihal kencan buta padaku. Sudah ada lebih dari selusin laki-laki yang ia kenalkan padaku, tapi aku tidak pernah tertarik.


Ibuku menyahut, "Kau.., lihatlah Profesor Su. Dia sudah memiliki anak, dan kau masih melajang disini!"


aku menjawab, "dia lebih tua dariku"


Seseorang datang melerai kami berdua, dia turun dari tangga dengan tangan kanannya menuntun seorang bocah laki-laki, "Ibu, sudahlah. Xiaogu butuh waktu untuk itu"


(Xiaogu : adik ipar perempuan)



Itu adalah Li Yu, mantan pacar kakakku yang sekarang berstatus sebagai kakak iparku. Tangan mungil yang ia genggam itu adalah tangan putranya, Xiao Bai.


"Xiao Bai, kau datang. Keponakanku sudah besar" aku memeluk bocah kecil itu



Dengan nada acuh tak acuh Xiao Bai menjawab, "Bibi kau sudah tua"


Aku, "..."


"Kau baru pulang?" Tanya kakak iparku


"Oh, dan lihatlah nyonya Wong itu. Dia bahkan sudah memarahiku" omelku


Li Yu yang dulunya ramping, tinggi, dan jenjang masih belum berubah. Hanya saja perutnya jauh lebih besar dari sebelumnya, ia sekarang tengah mengandung anak keduanya.


"Saozi, gege mana..?"


(Saozi : kakak ipar / panggilan dari adik ipar perempuan)


Suara datang dari lantai dua, hentakan kaki menuruni tangga. Senyum khasnya terpancar, itu Dery ge.


"Apa kau merindukanku?" Tanyanya


"Omong kosong" balasku


Setelah menikah Dery ge dan Li Yu menetap di Beijing. Mereka sudah pindah ke apartemen yang lebih besar. Mereka datang jauh-jauh dari Beijing ke Shanghai dengan alasan mau menitipkan putra sulung mereka, Xiao Bai.

__ADS_1


Kakak iparku Li Yu tengah hamil, perutnya sangat besar dan tak lama lagi akan melahirkan. Akan sulit bagi mereka berdua untuk mengurus bocah yang aktif macam Xiao Bai ini, jadi mereka mengirim Xiao Bai ke Shanghai.


"Gege, Saozi tenang saja. Aku akan mengasuhnya, aku kan ibu baptisnya"


Ayah dan ibu juga pasti merasa kesepian. Akan jauh lebih baik jika ada anak kecil tinggal dirumah ini.


Dery ge, "Ma, kau jangan memaksanya untuk menikah terus. Xiao Xi sudah dewasa, dia tau apa yang harus dia lakukan"


Aku mengangguk dan mendukung pembelaan kakakku itu.


Kakakku melanjutkan, "Pergilah istirahat, kau pasti lelah"


Aku segera naik ke lantai 2 dan meninggalkan ibuku yang terus-terusan memaksaku untuk menikah. Aku melemparkan tubuhku yang letih ke atas tempat tidur. Semalaman berada di Rumah Sakit membuatku lupa rasanya tidur di rumah sendiri.


Bicara tentang kencan buta yang selalu diatur oleh ibuku, itu tidak pernah berjalan mulus. Awalnya aku cukup tertarik, aku pikir aku harus mencoba peruntunganku, tapi nyatanya aku tetap merasa tidak cocok dengan semua laki-laki itu. Sampai akhirnya aku menyerah dan lebih memilih untuk sendiri, bekerja dan menyibukkan diri.


Usiaku memang sudah tidak muda lagi, tapi aku juga bukan perempuan tua. Cap remaja memang sudah tidak bisa diberikan padaku, wanita dewasa yang mapan lebih cocok disematkan padaku.


Liu FanFan adalah pacar pertamaku, sejak putus darinya 7 tahun silam aku tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Mungkin FanFan berbeda, mengingat dia tidak pernah kembali ke negeri tirai bambu, dia pasti sudah memiliki wanita lain disana. Wanita yang lebih baik, lebih cantik, lebih lembut dan lebih pengertian dibandingkan dengan aku.


"Xiao Xi, ini aku. Boleh aku masuk" suara kakak iparku dari balik pintu


Aku segera bangun dan membukakan pintu untuknya. Aku bisa mendengar nafas pendeknya keluar dari hidungnya. Membawa bayi di perutnya yang beratnya bisa mencapai 3 kg membuat Li Yu terengah-engah.


"Bukankah Saozi sedang hamil? Perutmu sudah bengkak begini dan kau masih naik turun tangga. Kau kan bisa menyuruhku turun" omelku


Dia tersenyum, tangannya mengelus perut buncitnya, Li Yu menghela nafas, "Ibu terus-terusan menyuruhmu untuk menikah. Hmm..andai saja dulu.."


Keningku berkerut, belum selesai ibu Xiao Bai itu melanjutkan perkataannya aku buru-buru memotongnya, "Kau, kau jangan mengungkitnya lagi. Kau adalah Saoziku sekarang. Gege dan Saozi tidak perlu merasa bersalah lagi, aku benar-benar sudah melupakan semua masa lalu itu. Aku benar-benar tidak apa-apa, lagi pula kalian sudah menebusnya dengan Xiao Bai dan Ini…"


Aku mengelus-ngelus perut buncit kakak iparku. Seseorang yang tengah mengandung tidak boleh terlalu memikirkan sesuatu yang berat. Aku tidak mau membebani kakak dan kakak iparku.


"Maafkan aku" kata Li Yu


"Sudahlah"


Li Yu sudah cukup menderita karena masa lalu ini. Dengan berani dia mengatakan masa lalunya dengan FanFan pada kakakku. Pengakuannya 6 tahun silam itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya terbebani.


Kebahagianku yang pernah hilang digantikan berlipat ganda oleh Li Yu. Dia menjaga kakakku, memberikan aku keponakan yang tampan, dan dia juga baik pada orangtuaku.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰

__ADS_1


__ADS_2