
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
Hari demi hari kami lewati sebagai sepasang suami istri. Kami melakukan hal yang biasa kami lakukan, bekerja, dan mengurus rumah. Belakangan tetangga kami dari unit apartemen sebelah selalu bertanya padaku.
"Nona kecil, kau baru menikah kan? Tapi anakmu sudah besar yah? Oh apakah ini adalah pernikahan keduamu? " Kata ibu berusia 30 tahunan itu.
Pertanyaan macam apa itu? Bukankah dia seharusnya bertanya dengan sopan, kenapa malah menyimpulkan sesuatu yang tidak benar. Beruntung aku adalah orang yang sabar dan ramah.
Aku tersenyum canggung,"Anak itu adalah keponakanku."
Ibu rumah tangga yang sepertinya telah menghabiskan separuh kegiatannya untuk bergosip itu perlahan mundur, tertawa canggung lalu pergi meninggalkanku. Saat itu aku berpikir, aku benar-benar tidak mau menjadi seorang ibu rumah tangga penggosip yang selalu penasaran pada hidup orang lain.
*/
Aku dan FanFan menikah saat musim semi, saat di mana Spring Festival akan segera berlangsung. Tahun baru China akan segera digelar dan pernak pernik imlek juga sudah banyak dijual belikan. Beruntung aku sudah menempelkan beberapa pita hiasan. FanFan mungkin tidak akan terlalu peduli akan hal ini, tapi aku adalah seorang istri. Tentu saja aku harus mempersiapkan rencana imlek ini dengan penuh dedikasi.
FanFan masih sibuk dengan komputernya, di sisi lain Xiao Bai juga duduk di pangkuan FanFan. Mereka berdua telah terbenam dalam dunianya. Aku sendiri masih sibuk mencatat keperluan yang ingin aku persiapan, mulai dari baju sampai ampao.
"FanFan, kita mau menghabiskan tahun baru dimana? Dirumah orangtuaku atau dirumah orangtuamu?"
FanFan menjawab,"Lebih baik kau mengarahkannya ke tempat musuh."
Tempat musuh? Dia pikir ini lelucon yah? Kenapa jawabannya melantur kemana-mana?
Aku,"Kemari atau aku marah."
FanFan,"Iya, iya. Xiao Bai kau main sendiri yah. Paman mau bicara pada bibimu."
FanFan segera bangkit dan duduk di sampingku. Lengannya merangkulku, dia mencoba bersikap genit, "Jangan marah, Itu bukanlah sebuah masalah kan? Rumah orangtua kita berdekatan, jadi mari kita menghabiskan tahun baru dirumah keduanya. Malam tahun baru dirumahku dan keesokan harinya dirumahmu, bagaimana?"
Memang benar kalau rumah orangtuaku dan rumah rumah orangtua FanFan sangatlah dekat, bahkan hanya berjarak beberapa langkah saja. Tapi bukankah bagus kalau direncanakan lebih awal.
Aku tersenyum "Bagaimana kalau dirumahmu saja, Hendery gege dan istrinya juga akan datang. Wubai juga pasti akan tinggal bersama kedua orangtuanya."
FanFan mencondongkan tubuhnya dan mengecup sudut bibirku "Lakukan apa yang membuatmu senang istriku."
Aku berbalik dan memeluk leher FanFan, mengecup pipi kiri dan kanannya,"Baiklah, masalah selesai. Kau sekarang bisa bermain dengan Wubai. Aku akan pergi belanja."
Karena sedang asyik dengan dunianya, FanFan benar-benar mengabaikanku. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun saat aku keluar dari kamar dam bersiap pergi. Matanya terfokus ke layar komputer sementara tangannya mengetuk-ngetuk keyboard. Xiao Bai juga tidak jauh berbeda, semenjak dia di asuh oleh FanFan dia menjadi bocah yang baik. Dia hanya duduk dipangkuan FanFan selama seharian.
Aku agak sedikit kesal dan cemburu saat melihat situasi ini, bagaimana mungkin mereka mengabaikan satu-satunya wanita yang ada di apartemen ini hanya demi game konyol itu.
Aku bergumam sambil melirik ke arah Xiao Bai, "Awas saja kalau kau meminta coklat."
FanFan menyahut, "Cepatlah kembali."
Oh, rupanya dia masih punya insting kalau istrinya ini sedang menunggunya menawarkan ajakan untuk mengantarnya. Tapi apa? FanFan hanya berkata 'Cepatlah kembali.'
Aku,"Kau juga, awas kalau kau berubah menjadi hewan buas lagi, aku tidak akan membiarkanmu bersikap tidak sopan lagi padaku."
Aku berlalu dan segera pergi ke swalayan untuk berbelanja. Di swalayan semua dekorasinya telah berubah menjadi merah, warna merah dan emas sangat mendominasi. Di tengah-tengah gedung ada sebuah pohon sakura dengan beberapa ampao merah yang tergantung. Tentu saja itu hanyalah ampao tipuan, hanya amplop merah yang kosong tanpa uang sepeser pun.
Dalam sekejap keranjang belanjaanku sudah penuh dengan barang-barang. Mulai dari jeruk mandarin, sampai ornamen imlek pun sudah siap. Saatnya untuk menelpon FanFan dan menyuruhnya untuk menjemputku.
Aku memekik menahan emosi, "Dasar FanFan..."
Manusia tampan itu tidak mengangkat telponnya, sudah 12 kali aku menelponnya tapi tidak di jawab. Aku yakin telinganya sedang tersumbat oleh headset. Terpaksa aku pulang sendiri dengan menaiki taksi. Aku naik ke unit apartemen dengan plastik di tangan kiri dan kananku yang semuanya penuh dengan belanjaan.
Pintu terbuka, FanFan menyambutku dengan wajah tak berdosanya. Ingin rasanya aku melemparkan semua belanjaan ini padanya.
"Kau sudah pulang? kenapa tidak menelponku?" Katanya dengan tampang polos dan tak berdosa.
__ADS_1
Aku berjalan masuk dan meninggalkannya tanpa satu katapun yang keluar dari mulutku. Dengan jengkelnya aku meletakkan barang belanjaanku itu di atas meja, aku pun masuk ke kamar.
"Kau kenapa? Kau marah lagi?" FanFan tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.
Aku menggigit bibir bawahku dan mengepalkan tanganku, "Mulai sekarang tidurlah bersama game, makanlah bersama CTF mu itu kalau kau memang kenyang, jangan pernah memintaku untuk melakukan sesuatu untukmu. Oh iya, sekalian saja kau nikahi itu komputermu!"
FanFan berjalan ke arahku, dia tiba-tiba duduk dibawahku dengan posisi berjongkok, tangannya meraih tanganku.
FanFan, "Maafkan aku, aku tadi benar-benar terbawa suasana. Aku sudah lama sekali tidak bermain game, jadi…"
Aku melotot ke arahnya," Jadi?"
FanFan,"Jadi apa?"
Aku segera mengibaskan tangannya yang menggenggam tanganku itu seperti mengibaskan seekor nyamuk dan berbalik membelakanginya.
"Baiklah, aku janji tidak akan mengabaikanmu lagi. Aku akan langsung berlari ke arahmu begitu kau memanggilku." kata FanFan seraya meminta ampunan.
Aku mulai melunak,"Kau janji?"
FanFan mengangguk patuh, andaikan saja dia mengangguk sambil menjulurkan lidahnya aku yakin dia akan mirip anjing Husky yang menggemaskan.
Aku mencubit kedua pipinya,"Awas kau."
*/
Jadi sesuai rencana, kami merayakan libur lunar new year di rumah FanFan. 2 hari sebelum perayaan tahun baru China kakakku dan istrinya sudah kembali ke Shanghai. Sesuai adat dan kebiasaan, maka seorang istri harus ikut ke rumah suami mereka untuk merayakan tahun baru China.
Karena Li Yu sudah menjadi istri Dery gege maka dia harus pulang ke rumah mertuanya yang tidak lain adalah orangtuaku. Sementara aku akan merayakan tahun baru China dirumah FanFan.
Ini adalah kali pertamakalinya aku merayakan tahun n
FanFan,"Apa kau sudah mematikan kompor? AC juga jangan lupa."
Aku,"Cerewet, semuanya sudah kok. Ayo pergi."
FanFan,"Kau mau pindahan atau apa? Kenapa banyak sekali barang yang kau bawa?"
FanFan tampak tersiksa dengan beberapa tas yang ia bawa. Tangan kanannya menggendong Xiao Bai, sementara tangan kirinya penuh dengan paper bag.
Aku,"Itu kan untuk keponakan-keponakan kita. Selalu ada hadiah ketika imlek kan?"
FanFan melirikku, matanya seperti pisau yang tajam.
"Eh, kau juga harus memberikan ampao untukku." candaku.
FanFan,"…"
Begitu sampai dirumahku kami langsung menurunkan Xiao Bai dan mengantarnya ke orangtuanya. Dery gege dan istrinya sudah berada dirumah dengan Xiao Nai yang di gendong ibuku.
Kami hanya masuk sebentar untuk mengantar Xiao Bai, tapi ibu sudah menyuruhku untuk segera pergi.
"Cepatlah pergi kerumah mertuamu atau mama akan mengambil sapu dan menyapumu keluar." kata ibuku dengan nada bercanda.
Ibu kemudian berdiri dan menepuk pundak FanFan, "Menantu, bawa istri nakal mu ini. Maaf merepotkanmu yah."
Aku,"…."
Aku dan FanFan segera menyingkir dari rumah keluarga Wong, berpindah beberapa langkah menuju rumah keluarga Liu. Dari luar rumah sudah terdengar teriakan mengerikan dari keponakan FanFan, Xiao Lu. Entah apa yang terjadi tapi bocah 7 tahun itu menangis dan meronta-ronta pada ibunya.
Kami masuk dan melihat kejadian itu,"Xiao Lu, kau kenapa?"
__ADS_1
YangYang gege,"Bocah ini mau bermain dengan anak anjing tetangga."
Aku,"Xiao Lu kemarilah, bibi punya sesuatu untukmu."
Xiao Lu langsung berhenti menangis dan menghampiriku. Dia meraih hadiah yang ada didalam paper bag, tak lama berselang dia wajah suramnya kembali ceria.
"Jie, aku akan membantumu."
Hexin jiejie, "Oh, irislah kubis itu. Daging biar aku yang urus."
Ibu mertua kami datang dengan wajah kagum,"Mama beruntung punya menantu seperti kalian. Entah kenapa tapi mama rasa dua anak laki-laki mama itu punya selera yang sama dalam hal mencari istri, kalian berdua sama-sama cantik, rambut kalian sama-sama pendek, dan kalian juga mungil."
YangYang gege menyahut dari ruang tengah,"FanFan mewarisi DNA ku ma."
FanFan tidak mau kalah,"Yang ge adalah saudara laki-lakiku, tentu saja selera kami sama."
Kami membuat beberapa hidangan untuk di santap saat malam tahun baru, ada pangsit dan beberapa hidangan daging. Tidak banyak yang dilakukan kaum laki-laki, FanFan dan YangYang gege hanya bermain game seharian. Ayah mertuaku tengah keluar bersama Xiao Lu untuk bermain dengan Xiao Bai dirumahku.
Berbicara mengenai pangsit sendiri, itu adalah makanan wajib saat tahun baru lunar. Pangsit dengan isian daging mempunyai filosofi sendiri yang sangat dijunjung tinggi oleh orang China. Ada 2 alasan kenapa pangsit itu makanan wajib saat tahun baru imlek. Pertama, pangsit dengan isian daging digunakan sebagai makanan mewah bagi orang-orang biasa ketika ekonomi belum berkembang. Yang kedua, “Pangsit” dalam hanzi ditulis dengan 饺子 (Jiaozi) dan itu memiliki bunyi yang sama dengan karakter 交 子 (Jiāozi) yang artinya "waktu ketika tahun baru tiba”. Kedua alasan ini yang kemudian disimpulkan sebagai "perpisahan dengan yang lama dan menyapa yang baru"
Aku sendiri tidak terlalu mengerti tentang filosofi ini, yang aku tau pangsit ini makanan yang enak. Makanan lembut yang akan mengenyangkan, selebihnya aku tidak tau menau mengenai filosofinya.
Begitu selesai memasak aku kembali ka kamar FanFan, naik le lantai 2 kamarnya. Di dalam FanFan sudah tengkurap dengan matanya yang terfokus dengan ponsel. Tanpa banyak bicara aku langsung merobohkan badanku ke arahnya, menindihnya dan menjadikan pinggangnya sebagai bantal.
"Kau lelah?" katanya.
"Menurutmu?" Aku balik bertanya
Dia kembali diam setelah dua kata itu, matanya masih sibuk dengan game yang ada di ponselnya. Aku kembali menggodanya, "Eh kau mau punya anak berapa?"
Dia langsung melemparkan ponselnya ke sisi lain tempat tidur, "Hmm bagaimana kalau 2 atau 3?"
Aku,"Kau kira semudah itu? Apa kau pikir aku kucing?"
FanFan menyeringai mendengar ucapanku yang terdengar seperti lelucon itu.
"Menurutmu, anak kita laki-laki atau perempuan?" Tanya FanFan.
Aku meledeknya, "Bukankah kau seorang yang jenius, kenapa bertanya padaku?"
FanFan acuh tak acuh, "Kau pikir aku seorang OBGYN?"
(Obstetrics and gynaecology/ obgyn : tenaga medis profesional yang menangani kesehatan reproduksi wanita, kehamilan, dan kelahiran)
Aku kembali menyuarakan pendapatku untuk mendapatkan anak laki-laki. Keingananku untuk menjadikan anak laki-laki seorang member boy group benar-benar besar. FanFan hanya mencibir begitu mendengar keinginan bodohku itu.
FanFan, "Memangnya apa bagusnya itu boy group? Aku akan menjadikan anak kita sebagai pemain CTF handal atau dokter terkenal."
Aku segera mengetuk kepalanya dengan ponsel yang dilemparnya tadi itu,"Ada Xiao Lu, Xiao Bai, Xiao Nai. Kelak kalau anak kita laki-laki, aku akan akan menamainya Xiao Hai. Kemudian 4 anak laki-laki itu akan menjadi The Xiao Siblings"
FanFan segera menyela,"Bodoh"
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1