Love Me Now

Love Me Now
Honeymoon (Part 2)


__ADS_3

💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮


*/


Aku sedikit takut untuk membawa FanFan menuju Auckland Sky tower, pasalnya wisata yang ditawarkan berhubungan dengan ketinggian. Tapi anehnya FanFan tidak merasa takut, dia bahkan menyetujui rencanaku itu tanpa banyak bicara.


Aku yang pensaran, mulai bertanya-tanya pada FanFan, "Seingatku kau fobia ketinggian, tapi kenapa kali ini kau setuju?"


FanFan, "Selama di Amerika aku menjalani beberapa terapi dan sekarang adalah saat yang tepat untuk membuktikannya."


Aku sedikit terkejut mendengar jawaban FanFan itu,"Kau ingin membuktikannya? Kau gila yah?"


FanFan tersenyum,"Iya, itu semua karenamu. Aku tau kau suka naik Rollercoaster, kereta gantung atau semacamnya, jadi aku pikir akan bagus untukku kalau aku mulai terbiasa dan mengobati fobiaku ini."


Sunggu manis kata-kata FanFan tadi, selama di Amerika dia hanya memikirkan cara untuk menjadi lebih baik, terlebih lagi itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk aku. Bagaimana mungkin aku bisa tidak mencintainya?



Selang beberapa lama, kami akhirnya sampai di bangunan yang terkenal akan ketinggiannya itu. Begitu berada didalam bus yang akan membawa kami ke Auckland Sky tower, menara itu terlihat sangat kecil. Tapi entah kenapa saat aku dan FanFan berada tepat didepan gedung pencakar langit itu, menara itu tampak sangat tinggi. Aku yakin kalau Xiao Bai melihat menara ini dia akan segera mengatakan kalau Jack berada diatas langit.


(Mengacu pada dongeng Jack and the Beanstalk)


Aku melirik FanFan yang sedang mendongak ke arah langit, matanya seperti sedang mencari ujung dari Sky tower ini. Jakunnya bergerak ketika dia menelan ludah, FanFan nyaris takjub bercampur panik.


Aku memang menyukai ketinggian melebihi apapun, tapi kalau untuk melakukan skydiving atau skywalk di menara yang tingginya mencapai 1.076 kaki ini rasanya aku pun tidak mampu.


Aku bertanya pada FanFan,"Kau bilang berapa meter?"


FanFan,"Kalau kita kembali ke Shanghai, berjanjilah satu hal padaku."


Aku, "Apa?"


"Pergilah ke bagian Otolaryngologist." Setelah jeda FanFan kembali melanjutkan ucapannya,"Tingginya 328 meter, cukup untuk mematahkan semua tulang rusukmu."


Aku, "…."


Aku bukannya tuli sampai harus pergi ke bagian Otolaryngologist, hanya saja tinggi menara itu membuatku kehilangan akal sehat. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu yang ekstrim, jadi aku dan FanFan hanya menikmati pemandangan kota Aukcland diatas ketinggian 722 kaki. Bukan masalah untuk FanFan kalau hanya uang tambahan, tapi lift kaca yang membawa kami itulah yang membuat FanFan pucat tak berdaya.


( Otolaryngologist : Kalau di Indonesia dokter THT/ Telinga Hidung Tenggorokan)


"Kau tidak apa-apa?" Kataku.


FanFan mengangguk, dia nyaris pingsan. Inikah FanFan yang jantan dan perkasa? dia begitu lemah ketika berada diatas daratan. Aku berani jamin kalau terapi fobia ketinggian yang ia lakukan selama di Amerika itu gagal total.


Alhasil sepulang dari Sky Tower itu FanFan muntah-muntah. Semua makanan mahal yang ia makan tadi keluar dan itu membuatku sangat khawatir. FanFan sendiri adalah manusia yang keras kepala, aku berniat membawanya ke rumah sakit tapi dia menolak.


Wajah FanFan sepucat salju,"Aku punya obat ditas."


"Kau benar-benar tidak apa-apa?" Kataku.

__ADS_1


FanFan mengangguk dan mendorongku menemukan obat ditasnya itu. Di dalam ransel FanFan ada beberapa obat, bukan beberapa tapi banyak. Dia membawa semua obat yang mungkin saja akan kami butuhkan, sementara aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal ini.


Aku mencemoohnya terlebih dahulu sebelum memujinya, "Aku yakin kau bahkan bisa membawa mayat dengan ranselmu itu, kenapa ada banyak barang?"


FanFan bangkit dan meminum obatnya, tangan kirinya memegang perutnya.


"Tidurlah, kau pasti stress. Dengarkan aku, jangan pernah mencoba untuk melakukan eksperimen seperti ini lagi. Kau hampir membuatku mati ketakutan." kataku dengan mata melotot.


Tanpa ada perlawanan FanFan, dia hanya bisa mengangguk. Sekalipun aku menendangnya atau mengolok-ngoloknya dia tidak akan berdaya untuk melawanku, FanFan begitu lemah sekarang.


Matanya hampir terpejam,"Hari ini kita tidak melakukan hal lain?"


Aku segera menyelimutinya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut berwarna putih, "Tidak hari ini, berhenti bicara dan tidur!"


Bagaimana mungkin dia masih berpikir untuk melakukan 'hal lain' itu disaat perutnya nyaris dipompa, dasar laki-laki.


*/


Hari kedua kami di Auckland.


Malam harinya aku sangat antusias untuk rencana hari ini, tapi siapa sangka kesialan kembali terjadi. Hujan deras menjadi kendala rencanaku. FanFan masih berbaring ditempat tidur, sementara aku hanya melihat keluar jendela yang penuh dengan embun.



"Menyerahlah, ayo kemari." kata FanFan dengan senyuman menakutkannya.


"Diam." kataku.


Aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang pewara acara itu katakan, aku mencari saluran tv berbahasa China tapi tidak ada.


Aku kembali mengeluh, "Aku jadi rindu China, rindu Shanghai, rindu Xiao Bai."


FanFan tiba-tiba bergeser ke arahku, dia menggeliat seperti cacing. Tak lama kemudian kepalanya sudah berada diatas pahaku, sementara matanya masih terfokus dengan layar ponselnya.


Aku kembali memolotinya,"Wakil direktur Liu FanFan, ada 2 bantal dan 1 guling disini, tapi kenapa malah menggunakan pahaku?"


FanFan acuh tak acuh, matanya masih terfokus pada game yang ia mainkan,"Mereka tidak seempuk pahamu."


Aku kembali mengutuk laki-laki yang pernah menjadi pacarku ini di dalam hati 'kau pikir aku adalah ayam atau sapi?'. Kata-kata FanFan barusan itu pasti memiliki arti lain, segala kemungkinan muncul di otakku. Maka dari itu kuputuskan untuk mengujinya.



Aku berdecak, "Wah, lihatlah tulang selangka wanita-wanita itu."


FanFan sedikit terpengaruh oleh kata-kataku. Dia tampak melirik layar tv yang aku tunjuk itu, tapi itu hanya selang beberapa detik hingga kemudian tatapannya kembali ke layar ponsel.


Tiba-tiba 2 kata keluar dari mulutnya, "Kau kenapa terpesona? Kau sendiri kan punya? Hanya saja…"


"Hanya saja apa?" Aku bertanya.

__ADS_1


FanFan sedikit menyeringai bahagia, "Hanya saja itu bersembunyi."


Aku,".…"


Maksud dari perkataan FanFan tadi itu 'kau gemuk, sehingga tulang selangkamu tertutupi oleh tumpukan lemak'.


Dengan sedikit emosi aku mulai mencubit lengan FanFan, dia sedikit bersuara karena menahan sakit. Aku terpikir untuk mengecek tulang selangka milik FanFan, jadi aku menggapai kerah bajunya dan menariknya. Dari dalam lubang kerah baju itu aku melihat tulang selangka yang dalam, tampak kuat dan elegan.


FanFan meletakkan ponselnya dan tiba-tiba bangkit,"Nyonya Liu, jangan melewati batas."


Aku membela diri, "Melewati batas apanya? Aku hanya ingin melihat tulang selangkamu."


FanFan tidak tersipu tapi dia malah tersenyum mengejek bercampur dengan ekspresi bangganya itu. Tampang FanFan inilah yang paling aku benci sedari kami masih muda.


Setelah menyeringai FanFan kembali bicara,"Nyonya Liu, kau sekarang begitu berani yah? Kau sekarang sangat agresif."


Aku memiringkan kepalaku seraya memasang wajah menyebalkan. Seperti anak kecil yang sedang meledek anak lain, aku memanyunkan bibirku pada FanFan. Tapi laki-laki tetaplah laki-laki, aku melakukan ini hanya dalam rangka bercanda. Tapi tidak dengan FanFan, dia langsung melompat dan meraih bibirku dengan bibirnya, dengan mata melotot aku mendorongnya.


Aku menaikkan volume suaraku, "Dasar kau yah Liu FanFan!"


FanFan dengan wajah bahagianya kembali menyahut,"Apa? Bukankah kau sengaja melakukannya agar aku menciummu? Bukan yah?"


Aku, "….."


FanFan benar-benar mewujudkan kata-katanya saat melamarku dulu, dia pernah bilang 'Maka tebuslah kesalahanmu, biarkan aku menindasmu selama sisa usiamu'. Dan benar saja, dia sekali lagi menindasku dengan caranya.


FanFan tiba-tiba berbicara lagi setelah diam selama beberapa detik,"Eh bagaimana kalau kita melakukan 'hal lain' yang tadi malam tidak sempat kita lakukan? Aku yakin langit sengaja menurunkan hujan agar kita bisa melakukannya."


Setelah berkata-kata cukup panjang FanFan kembali memasang wajah genitnya. Aku hanya bisa memutar bola mataku melihat kelakuan suamiku ini. Diluar memang hujan dan dingin, jadi mari ambil hikmahnya saja. Mungkin benar apa kata FanFan, langit sengaja menurunkan air matanya karena dia ingin aku dan FanFan melakukan 'hal lain' itu.


*/


Selama beberapa hari berada di New Zealand ini kami tidak banyak bepergian, kami hanya diam dan tinggal di hotel, itu juga karena cuaca yang tidak menentu.


Di hari ke 4 masih tidak ada perubah, cuaca masih saja tidak mendukung. Jadi aku menyarankan pada FanFan untuk pulang ke Shanghai lebih cepat. FanFan hanya mengiyakan dan menuruti saranku itu.


"Lagi pula aku masih ada beberapa operasi." kata FanFan.


Aku juga mengangguk,"Aku juga."


Oleh karenanya kami segera kembali ke Shanghai di hari ke 5. Berada lebih lama di New Zealand hanya akan menghabiskan uang dan tenaga. Apalagi lamanya penerbangan membuatku benar-benar muak.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢

__ADS_1


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2