Love Me Now

Love Me Now
Let's get back together


__ADS_3

Aku pernah bilang kalau "Berpisahnya sebuah pasangan itu pasti karena orang ketiga, anak rahasia atau lainnya. Tapi nyatanya rasa tidak tenang, kesibukan, kekhawatiran juga membuat orang yang saling menyukai menjadi berpisah"


Dan hari ini sampai hari ini aku belum menemukan jawaban atas semua itu. Hatiku bimbang, aku bingung dan tidak tau harus melakukan apa. Hari ini FanFan akan menungguku di taman tempat kami berkencan dulu. Dia akan menungguku sampai aku tiba, tapi aku sendiri belum yakin. Apakah aku bisa semudah ini melupakan masa lalu dan memulai lembaran baru lagi dengannya?


Hari sudah sore, sejak tadi malam aku gundah memikirkan masalah ini. Sudah lewat beberapa jam sejak dia menungguku di taman. Tidak mungkin kan FanFan masih menungguku di taman?



Air hujan jatuh dari langit, membasahi hampir semua dataran Beijing. Ramalan cuaca mengatakan kalau hujan akan semakin lebat sampai malam nanti. Aku melihat keluar jendela, dan memang benar hujan turun semakin deras.


"Xiaogu, ada apa? Kau kelihatan kebingungan?" Tanya kakak iparku


Mungkin lebih baik aku ceritakan masalahku dan FanFan ini padanya. Li Yu mungkin mempunyai solusi yang masuk akal untukku. Jadi ku putuskan untuk menceritakan perihal FanFan padanya.


Li Yu terdiam, tampak sedang memikirkan solusi terbaik untukku. Lalu kemudian dia berbicara, "Lakukan apa yang ingin kau lakukan, jangan sampai kau menyesal untuk kedua kalinya. Xiaogu kau harus mengikuti kata hatimu"


Jawaban yang aku inginkan tersirat di dalam kata-kata kakak iparku itu. 'Jangan sampai menyesal untuk kedua kalinya' itulah kuncinya. Mengingat temperamen FanFan yang keras kepala itu, bukan tidak mungkin dia masih berdiri dan menungguku di taman seperti orang bodoh.


"Aku akan kesana" ujarku


Dengan mantel dan payung aku keluar apartemen, tidak penting jawaban apa yang akan aku berikan pada FanFan nantinya. Aku hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari.


Hujan masih deras, taxi yang aku tumpangi menerobos derasnya air hujan. Hingga selang beberapa saat, taxi ini menepi di sebuah taman yang sepi. Hanya cahaya lampu hias yang menari-nari, taman ini cukup luas, bahkan sangat luas. Aku harus mengelilingi taman ini untuk menemukan FanFan.


"Kenapa dia tidak mengangkat telponku?"


Aku mengitari taman dan melihat sosok laki-laki yang tinggi tengah duduk di bangku taman. Dia tertunduk, rambut dan bajunya basah kuyup. Aku menghampirinya sambil berlari


"Dasar bodoh, kenapa kau masih ada disini?"


FanFan bangkit dari tempat duduknya, bibirnya berwarna ungu. Sudah berapa lama dia kehujanan? Dia pasti kedinginan.


Dengan senyum yang hampir memudar, FanFan berkata, "Bukankah aku sudah bilang, aku akan menunggumu sampai kau datang"


Setelah menyelesaikan kata-katanya itu dengan nada yang lemah, FanFan ambruk padaku. Kaki panjangnya tidak mampu menahan tubuhnya lagi, FanFan pingsan.


Aku mencari-cari kunci mobil di saku bajunya, tapi trauma yang aku alami belum juga sembuh dan akibatnya aku tidak bisa menyetir. Terpaksa aku menelpon sopir pengganti untuk mengantarkan kami. Beruntung FanFan sudah sadar ketika kami sudah berada di mobil, aku sendiri tidak tau dimana dia tinggal. Awalya aku berniat membawa FanFan ke apartemen Yang ge, tapi FanFan menolak dan akhirnya menunjukkan alamat apartemen pribadinya. Hingga akhirnya kami pun sampai di apartemen FanFan.


Sopir yang baik itu membantuku memapah FanFan dan membawanya ke kamarnya. Bajunya basah dan hanya ada aku, apa yang barus aku lakukan?


"Aku memang dokter, tapi situasi sekarang ini benar-benar aneh" keluhku.


Dengan tidak yakin aku mulai menggeledah lemari FanFan. Mengambil beberapa helai pakaian baru untuk dipakainya.


Aku mengehela nafas, "Xiao Xi, kau seorang dokter. Melihat tubuh manusia adalah pekerjaanmu, anggap saja dia pasienmu. Jangan lihat apa-apa dan tutup matamu"


Tanganku mulai membuka mantel FanFan, hingga kemudian jari-jariku mulai membuka kancing kemejanya. Dengan mata tertutup rapat aku melakukan hal bodoh ini.


Tapi tiba-tiba sepasang tangan yang dingin menghentikan tanganku, aku membuka mata" Kau sadar"


FanFan, "Apa yang sedang kau lakukan?"


Aku sontak langsung berdiri, "Kau sudah sadar kan? Lakukan sendiri, aku akan keluar"


Aku meninggalkan FanFan yang perlahan-lahan mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Beruntung dia bangun, kalau tidak dia pasti akan mengomel padaku karena melewati batas. Sementara menunggunya berganti baju, aku ke dapur untuk mengambilkannya air hangat. Aku menggeledah setiap sudut apartemen FanFan untuk mencari termometer.


Aku kembali ke kamar FanFan untuk melihatnya, "Ini minumlah"


Tanpa banyak bicara dia melakukan semua yang aku suruh. Mulai dari meminum air hangat sampai mengukur suhu tubuhnya.


Aku, "Kau demam, tunggu aku akan mengambilkan kompres untukmu"


Tangan FanFan meraih tanganku, aku berbalik dan melihatnya, "Kenapa?"



FanFan," Bajumu juga basah. Kau bisa mengambil bajuku yang masih baru, ganti bajumu sebelum kau sakit"


Aku mengikuti perkataan FanFan, mengganti bajuku dengan sweeter FanFan yang besar. Sedikit lebih baik hingga aku tidak lagi kedinginan.

__ADS_1


"Kau tidak punya apa-apa di dapurmu? Dan aku hanya bisa menemukan ini. Ini mungkin lebih baik dari pada tidak sama sekali, kau harus makan dan minum obat" kataku


Beruntung di apartemen yang mungkin sudah lama FanFan tinggalkan ini aku menemukan hotpot instan. Masih ada beberapa hari lagi sebelum makanan instan ini benar-benar kadaluarsa. Sungguh perilaku yang tidak patut dari seorang dokter.


Aku melanjutkan, "Hmm..apa kau mau memesan makanan saja?"


"Tidak perlu" katanya


Dengan berhati-hati FanFan memakan hotpot instan itu. Sendoknya berhenti tepat di depan mulutnya ketika ia mendengar suara berderit dari perutku. Suara yang dibuat oleh cacing-cacing diperutku ini membuatku malu.


"Kau menyuruhku untuk makan, sementara kau sendiri kelaparan. Ini.." FanFan mengoperkan wadah hotpot itu padaku


"Eh tidak, tidak, aku..aku diet"


Mana mungkin aku sedang berdiet sekarang, tentu saja aku sedang menahan lapar. Saat seperti ini kelaparan lebih baik ketimbang harus menerima kebaikan FanFan.


FanFan mengancam, "Kau mau makan sendiri atau aku yang harus menyuapimu?"


Dengan sigap aku langsung merebut wadah hotpot itu dan langsung memakannya dengan menggunakan sendok yang sama dengan yang FanFan gunakan tadi.


*/


Malam semakin larut…


"Apa aku pulang saja yah? Sedari tadi FanFan juga tidak bicara apa-apa, dia mungkin sudah lupa" kataku


Kenapa aku merasa seperti kecewa setelah FanFan tidak menyinggung tentang hubungan kami? Pikirku semakin lama aku berada disini FanFan akan berpikir kalau aku sedang menantikannya.


"Hmm FanFan, sebaiknya aku pulang saja. Sudah malam sekali" kataku dengan suara kecil


Tidak ada jawaban dari FanFan. Mungkin saja dia sudah tidur, ini adalah saat yang tepat untuk melarikan diri. Dengan mengendap-ngendap aku berjalan menjauh dari kamar FanFan, sebelum pulang aku mencari-cari tasku yang berisi dompet dan ponsel.


"Tadi aku meletakkannya dimana yah?"


Mataku terbuka lebar, aku ingat meninggalkan tasku di kamar FanFan. Aku menelantarkan tasku saat tengah bersusah payah memapahnya tadi.


Aku berjalan berjinjit tanpa membuat suara hanya agar FanFan tidak terbangun. Benar saja, tasku berada tepat diatas tempat tidur FanFan.


"Ku mohon jangan bangun" bisikku


Tangan kananku sudah meraih tali tasku, tapi tangan kiri FanFan lebih cepat. Entah sejak kapan dia membuka matanya, tapi sekarang tasku sudah berhasil direbut olehnya.


Aku segera menegakkan badanku,"Kemarikan, aku mau pulang"


FanFan segera bangkit dari tidurnya, rupanya dia sudah baikan. Tasku masih berada dalam genggamananya. Bibirnya berkedut dia mulai tersenyum aneh padaku.


"Salahmu karena kau kembali masuk ke kandang singa" katanya


Apa itu salahku, saat aku berusaha mengambil barang milikku sendiri? Iya, aku memang salah karena meletakkan barangku secara acak. Tapi bukankah seharusnya FanFan segera mengembalikannya padaku? Apa yang dia inginkan?


FanFan kembali melanjutkan," Kau kira aku akan lupa pada tujuan awalku? Maafkan aku Xiao Xi tapi kau terlalu naif. Melihatmu datang dan merawatku seperti ini, membuatku jadi semakin yakin kalau kau masih mencintaiku"


Mataku bergetar mendengar kata-kata FanFan itu. Hatiku mengiyakan ucapannya, tapi egoku terus berusaha menutupi kebenaran itu.


Aku,"Aku..aku.."


FanFan berdiri, dilemparkan tasku itu ke sisi kanan tempat tidurnya. Dia terus berjalan mendekat dan lebih dekat lagi sampai aku benar-benar terpojok. Kedua lengannya yang panjang mengunciku diantara keduanya. Sial, aku benar-benar tidak bisa melarikan diri.


FanFan, "Kau sekarang adalah tikus yang terpojok. Kenapa kau tidak mau jujur pada dirimu sendiri? Apakah harus aku menindasmu terus-terusan agar kau mau sadar dan mengaku? Xiao Xi, aku mengenalmu sudah lama sekali dan aku tau betul bagaimana sikap keras kepalamu itu"


FanFan benar, aku hanya membodohi diriku sendiri. Sebenarnya apa yang sedang aku rasakan sekarang? Aku merindukannya, aku masih mencintainya, tapi aku juga bersalah padanya.


Ku beranikan menatap mata FanFan, "Kau benar, kau mungkin sangat benar. Tapi dari perspektifku itu hanyalah sebuah dosa, bagaimana mungkin aku yang telah menyakitimu bisa dengan mudah kembali padamu? Bukankah aku begitu jahat? FanFan, aku sudah jahat padamu dan aku selalu merasa seperti itu"


"Kalau begitu tebuslah, kau harus menebusnya selama sisa hidupmu. Tetaplah disisiku, biarkan aku merundungmu, menindasmu, menjagamu, dan mencintaimu selama sisa hidupmu. Biarkan aku membalaskan dendam ini dengan caraku Xiao Xi"


Aku terdiam, air mataku tiba-tiba jatuh saat FanFan berkata seperti itu. Lengannya yang semula mengunciku perlahan-lahan mulai jatuh, tanganya meraih pipiku dan mengusap air mataku. Sementara aku masih tertunduk dan tak melihatnya.


"Kita balikan"katanya

__ADS_1


Hingga akhirnya dia memelukku dengan erat di tengah hujan yang semakin deras diluar. Pelukannya yang begitu erat membuatku kesulitan bernapas. Dia memelukku seolah-olah dia amat sangat merindukanku.


Setelah 2 kata yang diucapkannya itu, FanFan melepaskan pelukan eratnya, dia menundukkan kepalanya dan menunduk semakin dekat. Wajahnya menyeringai di bawah lampu kamar, aku membalasnya dengan senyuman. Hingga akhirnya dia mendekatkan wajahnya padaku dan menciumku.


FanFan berhasil membuat detak jantungku yang selama 7 tahun ini normal menjadi tak karuan lagi. Jantungku berdebar saat pertama kali melihatnya di pesta penyambutan waktu itu. Tapi aku mengabaikannya, hingga sekarang aku sadar bahwa aku telah membodohi diriku sendiri.


"Jangan menangis lagi, ayo aku akan mengantarmu pulang. Dery ge akan membunuhku kalau sampai kau tidak pulang. Lagi pula aku takut terbawa suasana dan melangkah lebih jauh" kata FanFan dengan tangannya yang masih melingkar dipinggangku


Aku mengangguk tanpa berkata-kata.


FanFan, laki-laki yang besar bersamaku masih sama seperti dulu. Dia bertanggungjawab, alih-alih menyuruhku untuk tinggal bersamanya dia lebih memilih untuk mengantarku ke apartemen Dery ge.


FanFan menyalakan pemanas mobilnya dan dia juga memberikan jaket yang ada di kusi belakang mobilnya untuk aku pakai. Wangi jaketnya masih sama, bau buah persik yang identik sekali dengan FanFan. Kebanyakan laki-laki menyukai parfum beraroma manly, tapi tidak dengan FanFan. Ada dua bau khas yang selalu tercium dari tubuhnya, pertama bau persik yang manis dan yang kedua bau obat yang umum sekali bagi seorang dokter


*/


Sesampainya di apartemen


"Aku akan menelponmu nanti" katanya sambil tersenyum padaku


Aku membalasnya dengan senyuman dan lambaian, hingga akhirnya FanFan pergi meninggalkanku. Dengan hati berbunga bak anak remaja, aku naik ke unit apartemen Dery ge dengan sweater FanFan yang masih aku pakai.


"Aku pulang" suaraku pelan


Ini sudah malam tapi kenapa mereka belum tidur? Dery ge, istrinya, dan Xiao Bai menatapku dengan tatapan kebingungan. Kakak iparku yang cepat tanggap menyeringai padaku, tapi Dery ge dan Xiao Bai tampak kelabakan melihatku. Tanpa menghiraukan mereka aku langsung masuk ke kamar.


Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Boleh kami masuk?" Kata Dery ge dengan suara seperti berbisik


Tadi dia bilang "kami" artinya dia tidak berdiri sendiri dibalik pintu kamarku itu. Aku membuka pintu kamarku dan melihat kakakku dan istrinya menyeringai kepadaku.


"Eh bagaimana hasilnya?"tanya Dery ge


Aku tidak menyangka kakakku yang terkenal bermartabat dan cool ini sekarang tampak seperti ibu-ibu penggosip di kompleks rumah kami.


"Hmm..begitulah" kataku


"Ooo…"cemooh kedua kakakku ini


Dery ge terdiam sebentar, dengan mata berkaca-kaca dia mendekat padaku, lalu di pegangnya kedua tanganku dengan erat lalu ia berkata, "Akhirnya kau bisa hidup bahagia, aku sudah capek disuruh oleh mama untuk mencarikanmu calon suami"


"Apa kau ingin aku tendang ge?"kataku


Dengan wajah puas dan gembira kakakku dan istrinya keluar dari kamarku, kakakku menoleh ketika akan menutup pintu.


"Gong Xi, aku harap kau bahagia"katanya sambil mengedipkan matanya


Setelah hujan tadi, langit malam menjadi kerlap kerlip karena rasi bintang yang terbentuk di angkasa. Aku menatap keluar jendela sambil membayangkan kejadian di apartemen FanFan tadi. Hingga akhirnya dering telponku membangunkanku dari imajinasi liarku.


"Kau belum tidur?" kataku dengan senyum lebar


FanFan menelponku, katanya dia ingin mengajakku mengobrol semalaman. Tapi aku menolaknya, aku rasa dia harus beristirahat setelah tadi kehujanan.


"Kita mengobrol besok saja" kataku


FanFan mematikan telponnya setelah berbicara cukup panjang, katanya dia ingin menunjukkan sesuatu padaku besok. Aku selalu berhasil dibuat heran olehnya, dia akan menunjukkan sesuatu padaku tapi tidak mengatakan apapun tentang sesuatu itu. Sepertinya di otak FanFan tidak hanya ada tumpukan medical term, aku rasa di dalam otaknya ada Pandora Box yang menyimpan banyak misteri.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰

__ADS_1


__ADS_2