
Malam ini mendung, sama seperti nasibku yang tidak lolos seleksi.
"Malang sekali…" keluhku
Malam ini aku berniat kerumahnya Hexin Jiejie, tapi karena hujan malah tidak jadi, padahal aku sudah sangat rindu pada Xiao Lu. Dery gē keluar dari kamarnya, dia memakai pakaian tebal. Sepertinya dia akan pergi.
"Ge, kau au mau kemana?di luar hujan loh.." tanyaku
"Ada pasien darurat, aku harus cepat Rumah Sakit"
Dery gē terlihat terburu-buru keluar dari apartemen. Kalau Dery gē tidak ada, itu berarti hanya ada aku dan FanFan. Belum 1 jam sejak perkataannya itu, aku sudah kembali merinding. Sejak kapan Liu FanFan yang sehari lebih muda dariku itu menjadi sangat implusif.
Aku bingung harus bagaimana. Sejauh ini, FanFan masih berada dikamarnya tapi kalau dia keluar nanti bagaimana? Aku juga tidak bisa menghindarinya.
BRUKK!!
Terdengar suara benda jatuh dari kamar FanFan. Aku yang penasaran langsung pergi ke kamarnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Kau tidak apa-apa?"
FanFan memungut buku yang jatuh itu, matanya melirikku, "Aku tidak apa-apa, hanya menjatuhkan buku"
Kamus kedokteran tebal yang jatuh itu mengenai kakinya. Warna kulit yang pucat bahkan lebih pucat dari salju itu berubah menjadi pink. Begitu beratnya kamus itu hingga kakinya memerah.
"Coba aku lihat. Wah,kakimu jadi merah. Kenapa kau tidak hati-hati.." ujarku sambil melihat kaki FanFan
Aku melanjutkan, "Tunggu sebentar, aku akan mengambil air dingin untuk mengompres kakimu"
"….."
FanFan tidak mengatakan apa-apa, hanya sedikit merintih saat berjalan menuju ranjangnya. Dengan kaki kiri yang hampir tidak menekan lantai, ia menahan rasa sakit itu. Tiba-tiba, tangan FanFan menggapai pergelangan tanganku.
Aku berbalik," Mm?"
"Duduklah" katanya
Aku duduk di ranjangnya, berbalik ke arahnya dengan wajah penuh pertanyaan. FanFan diam tanpa sepatah kata pun, perasaanku jadi tidak enak. Kedua bola mataku mulai mengering, membuat kelopak mataku ini berkedip lebih cepat. Jantungku berdegup kencang, apa akan terjadi malam ini? Janji yang ia ingin tukar itu?
Tangannya meraih telapak tanganku, "Janjimu, boleh aku minta malam ini?"
"Hah..?"
Aku melanjutkan,"Hmm.. itu..bukankah kau harus memberiku waktu untuk berpikir?"
FanFan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tidak berani melihatnya, aku hanya bisa diam. Semakin dekat, hingga tidak sadar ku tutup mataku. Dengan mata tertutup, aku hanya bisa merasakan nafas hembusan nafasnya yang semakin dekat.
__ADS_1
"Kau sedang apa?" Tanya FanFan
Aku membuka sebelah kelopak mataku, melihat wajahnya yang terlihat senang saat menggodaku. Alisnya hampir menyatu saat FanFan menatapku.
"Kenapa kau menutup matamu? Apa yang sedang kau pikirkan? Ya Ampun!!" Seru FanFan sambil mengusap kepalaku
"Bukankah kau ingin menagih janjiku, kau bilang kau tidak akan bersikap sopan lagi padaku?" Ujarku terus terang
"Pssttt…hahahhaha"
FanFan tidak bisa berhenti tertawa, dengan kedua tangan di perutnya, dia tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling di ranjangnya. Sesaat setelahnya, dia kembali normal. Wajahnya masih memerah karena tertawa, tiba-tiba bibirnya melengkung seperti bulan sabit. Healing smile khas FanFan terpancar, dengan lembut dia kemudian memelukku.
"Aku tidak akan melakukannya sampai kau benar-benar mengizinkanku. Aku tidak akan memaksamu dan juga, aku sudah bertahan selama ini, sejak kita tinggal bersama aku mencoba mengendalikan diriku untuk tidak melewati batas" ujar FanFan
Setelah jeda singkat, FanFan melanjutkan "Malam ini, kau mau tidak menemani aku. Hanya malam ini saja" tanya FanFan
"Oh, aku akan menemanimu…"
Malam itu aku tidur di kamar FanFan, mungkin kerena selama 1 minggu kedepan aku tidak akan melihatnya. Seperti biasa dia menggunakan bantal sebagai pembatas, lucunya FanFan bahkan mengikat kedua tangannya.
"Apa kau biksu? Apa kau yakin akan tidur dengan tangan terikat seperti itu? Aku bisa saja menedangmu saat kau tidur" kataku
"Kau lebih baik menendangku, aku tidak bisa percaya pada diriku sendiri. Aku takut khilaf dan melewati batas. Sedia payung sebelum hujan"
FanFan benar-benar lucu sekali, siapa yang menyangka pacarku yang juga sahabat kecilku ini bisa berbuat seperti ini, mengikat kedua tangannya karena takut akan hawa nafsunya sendiri. Tapi aku merasa beruntung memilikinya, dia benar-benar menjagaku bahkan dari sifat alaminya sebagai seorang laki-laki.
*/
"Kau menggemaskan sekali" aku mencubit pipi FanFan dan kemudian melepaskan tali ditangannya.
Ditengah keheningan malam, suaranya membalas bisikanku "Kenapa kau melepaskannya?"
"Hah?kau belum tidur?"tanyaku
"Aku bukanlah hewan yang bisa tidur di segala macam kondisi. Lihatlah dirimu, kau bahkan tidur dengan nyenyak saat ada laki-laki disampingmu" FanFan mengomel
Aku, "….."
Tangannya yang sudah terlepas dari ikatan tiba-tiba menarikku dan memelukku. Dalam sekejap aku sudah berada didalam lingkaran tangannya.
FanFan melanjutkan, "Bukankah aku bilang untuk tidak mengujiku terus. Aku itu laki-laki dan sebagai calon dokter kau seharusnya lebih tau. Dan kau gadis bodoh, bagaimana kau bisa tidur di saat seperti ini.."
"Itu karena aku mempercayaimu" balasku
__ADS_1
FanFan menghela nafas, "Jangan percaya padaku, aku juga seorang laki-laki. Tidurlah.."
*/
Matahari menebus gorden putih di kamar FanFan. Menusuk mataku, hingga aku pun terbangun. FanFan masih tidur dengan kedua tangannya masih memelukku. Entah dewa apa yang merasukiku pagi ini, hingga aku tiba-tiba bangun dan seketika berdoa.
"Tuhan, aku mohon..setiap pagi, setiap kali aku terbangun dari tidurku selama sisa hidupku ini, izinkan aku melihat FanFan disampingku, seperti hari ini" ujarku sambil menutup mataku
"Kau seka dulu air liurmu, Tuhan tidak akan menerima doa mu" ledekan FanFan tiba-tiba terdengar dan mengacaukam kekhusukan doaku.
Melihat kilatan mataku, FanFan langsung kabur dan keluar dari kamar. Tapi tak lama berselang, dia kembali lagi
"Apa!!" Tanyaku
"Morning kiss" Ujar FanFan seraya mengecup dahiku.
Malam nanti FanFan akan terbang ke Macau. Selama seminggu aku tidak akan melihatnya, tidak akan ada keributan, dan tidak akan ada pelukan.
Sambil sarapan pagi, aku menatap FanFan yang sedang duduk di depanku sambil bermain Tab nya. Dia tampak melihat jadwal penerbangannya ke Macau malam nanti. Aku terbawa suasana, dan memilih masuk ke kamarku. Padahal saat itu aku belum menyelesaikan sarapanku.
FanFan mengikuti ku ke kamar dan melihatku sedang cemberut dengan kedua tanganku menopang dagu.
"Kau marah padaku? Kau kenapa?" Tanya FanFan sambil menatapku
"Kau akan pergi jauh, aku tidak masalah kalah dari kompetisi itu dan tidak pergi ke Macau. Tapi kenapa kau yang harus pergi? Apa kau tidak bisa membuat jawaban salah?" ujarku pada FanFan
FanFan memelukku erat, dia mencoba menenangkanku, "Hanya 1 minggu, aku janji akan menelponmu setiap hari. Eh kita sudah cukup lama pacaran, tapi baru kali ini kau bersikap manja begini padaku" ujar FanFan
Aku melepaskan pelukan FanFan, aku ingin melihat wajahnya. Wajah FanFan yang selalu ceria, healing smilenya, matanya dan bibirnya.
"Aku akan merindukanmu " ujarku pada FanFan
FanFan menatapku dan merangkulku, lalu tiba-tiba menciumku.Walau cuma 1 minggu, tapi rasanya seperti akan pergi jauh saja.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
__ADS_1
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰