
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
1 minggu kemudian..
Hari ini aku merasakan apa yang Tong Nian rasakan, Tong Nian begitu gembira dan bahagia saat akan pergi ke Sanya untuk menemui Han Shangyan. Begitu pula aku yang sudah siap menuju ke bandara untuk berangkat ke Tokyo, Jepang.
(Tong Nian dan Han Shanyan adalah 2 tokoh novel mandarin terkenal Go go Squid karya Mo Bao Fei Bao)
Tidak banyak barang bawaan yang aku bawa. Hanya koper berukuran sedang dan tas punggung. Aku juga tidak akan lama berada di Tokyo, hanya 3 hari saja. Meminta izin profesor Su sangatlah sulit, aku harus memutar otak dan memberikan bayaran yang tidak sedikit. Satu minggu menggantikan shift jaga malamnya adalah konsekuensi yang harus aku hadapi.
Aku menitipkan Xiao Bai pada ayah dan ibuku. Mengajaknya memang akan menyenangkan, tapi kali ini aku hanya ingin menghabiskan waktuku berdua dengan FanFan.
Aku memilih penerbangan pagi dari Shanghai, karena malamnya aku masih bekerja, bahkan beberapa jam sebelum berangkat, aku masih harus menangani beberapa operasi.
Pesawat yang akan membawaku ke Jepang akan segera lepas landas. Perjalanan dari Shanghai ke Tokyo memakan waktu 2 jam 45 menit, jadi aku bisa beristirahat sebentar. Aku akan menebus waktu tidurku yang tersita selama bertugas dirumah sakit dengan tidur di pesawat. Tidak perlu khawatir walau tidak ada FanFan sebagai alarm, aku sudah menyuruh salah satu pramugari membangunkanku ketika sampai.
2 jam 45 menit berlalu
Beruntung kakak pramugari yang baik itu membangunkanku. Aku sudah tidur seperti orang mati, aku bahkan tidak sadar kalau pesawat sudah mendarat di Tokyo. Di dalam kabin pesawat sudah tidak ada orang, hanya ada aku seorang.
"Arigatou Gozaimasu." kataku pada kakak pramugari itu.
"Maaf nona, aku juga orang China." katanya.
Aku hanya tertawa canggung mendengar jawaban paramugari itu, aku lupa kalau pesawat yang membawaku ke Tokyo adalah maskapai dari China.
Aku berjalan keluar dengan menyeret koperku, mataku langsung tertuju pada papan informasi bandara. Hampir semua tulisannya berbahasa Jepang, ada yang disebut hiragana, ada juga yang disebut katakana dan tulisan yang mirip dengan hanzi ini pastilah kanji. Aku pusing setengah mati dengan semua tulisan ini. Walau ada tulisan bahasa inggris di dalam kurung, itu juga tidak banyak membantu. Aku hanya mengetahui istilah bahasa inggris dalam istilah kedokteran.
Banyak orang mengira kalau hanzi itu adalah kanji. Kanji memang mengadopsi sebagian besar karakter dari bahasa China. Aku masih bisa membacanya saat semua tulisannya itu tertulis dalam karakter "Hanzi", tapi ini adalah Hanzi yang bercampur dengan katakana, singkat kata tulisan di papan informasi ini berbahasa Jepang.
"Wah Wifi disini sepadan dengan Wifi yang ada di Pudong." kataku.
Aku membuka aplikasi penerjemah yang sudah aku siapkan sejak dari rumah. Tapi sial sekali aku, seseorang menabrakku ketika aku berusaha menerjemahkan papan informasi.
Aku hampir mengumpat, "Aisshh, ponselku retak!"
Orang yang menabrakku itu terlihat cukup muda, mungkin berusia belasan atau awal dua puluhan. Memakai mantel berwarna coklat dan terlihat seperti orang yang cerdas. Sebagain wajahnya tertutupi oleh masker.
"Kau berasal dari China? Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." kata orang yang menabrakku itu.
Ternyata dia juga orang China. Laki-laki muda itu rupanya seorang mahasiswa yang belajar di Tokyo. Walau ponselku retak dan mati karenanya, tapi dia membantuku dengan meminjamkan ponselnya padaku.
"Maafkan aku Xiao Jiejie, aku harap kau mengingat nomer ponsel seseorang yang ingin kau telpon." kata mahasiswa itu sembari meminjamkan ponselnya padaku.
(Xiao Jiejie : Kakak kecil)
"Terimakasih." aku mengambil ponselnya.
Ingatanku akan nomor ponsel FanFan masih kuat, aku meminjam ponsel mahasiswa itu untuk mengabari FanFan. Rencana awal yang seharusnya menjadi kejutan berubah menjadi kesialan tak terduga. FanFan akan mengamuk kalau tau hal sial ini menimpaku, sungguh ceroboh sekali.
Mataku sedikit bergetar, aku mulai bicara setelah mendengar suara FanFan mengatakan "Halo".
"FanFan, aku sekarang ada di bandara Tokyo. Ponselku rusak, bisakah kau menjemputku?" kataku dengan suara memelas hampir menangis.
__ADS_1
"Kau.." Suara FanFan terdengar seperti menahan amarah, dia memekik.
Aku mengembalikan ponsel mahasiswa cerdas itu. Dia masih membungkuk dan terus-terusan meminta maaf padaku dan hal itu membuatku merasa sedikit tidak nyaman.
"Sudahlah, kau tidak sengaja. Lagi pula aku juga teledor." kataku.
Mahasiswa itu,"Kalau begitu ini kartu namaku. Kau bisa menghubungiku saat sudah kembali ke China. Aku akan mengganti ponselmu."
Aku, "Eh, tidak perlu."
Mahasiswa itu hanya tersenyum, walau bibirnya tertutupi oleh masker tapi matanya menyipit. Mahasiwa muda itu pergi setelah setelah memberikan aku kartu namanya.
Aku melihat kartu nama mahasiswa muda itu,"Gong Jun? Namanya Gong Jun, dia mahasiswa kedokteran? Wah cerdas sekali."
Selagi aku menatap layar ponselku yang hancur karena terlindas troli itu, aku juga hanya bisa memikirkan alasan agar FanFan tidak menyemprotku dengan kemarahan yang berlebihan. Alih-alih terharu, dia akan mengamuk. Padahal sejak kemarin aku sudah membayangkan bagaimana ekspresi bahagianya saat melihatku.
Pria tinggi dan tampan yang sedang aku bayangkan tiba-tiba muncul. Wajahnya yang cerah berubah menjadi gelap, pembuluh darah muncul dari dahinya. Healing smile yang biasanya akan terpancar berubah menjadi lesung pipi kemarahan.
"Matilah aku." kataku.
Aku berdiri dengan senyum keterpaksaan, melambaikan kedua tangan kecilku pada suamiku itu.
"Xiao Xi, kau.." Suara teriakan FanFan memanggilku.
Aku melihat FanFan berlari menuju arahku. Kakiku tersentak dan dengan mulut komat kamit aku berbicara dengan suara agak keras "Aku salah, aku salah. Aku hanya mau memberimu kejutan. Aku tidak apa-apa kok."
Bukannya marah dan memakiku, FanFan malah memelukku. Cukup erat sampai aku tidak bisa bernapas. Dia tidak marah?
Aku,"Eh? "
Aku mengangguk, hingga kemudian FanFan menghela nafasnya. Saat-saat yang aku takutnya dimulai, FanFan mulai cemberut. Tidak mungkin baginya untuk tidak mengomel, dia mulai mengomeliku dengan ekspresinya yang gelap itu.
"Ayo!" Katanya sambil menarik tanganku.
Tidak ada ucapan apapun keluar dari mulutnya, pandangan FanFan lurus kedepan. Tangan kanannya menarik tanganku dan tangan kirinya menarik koperku. Menyeramkan sekali melihat FanFan sekarang.
Sepanjang jalan menuju hotel kami hanya diam-diaman. FanFan tidak bicara sepatah katapun, begitu pula aku. Tapi perhatianku langsung teralihkan begitu melihat bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan kota Tokyo.
"Wah indah sekali, iyakan FanFan?" Kataku sambil menoleh ke arah FanFan.
FanFan mengernyitkan alisnya padaku. Dia pasti takjub dengan pola pikirku yang sederhana ini. Kenapa aku bisa begitu naif seperti ini? Aku peraih gelar mahasiswa kedokteran terbaik ketiga, aku juga menyelesaikan koasku hanya dalam waktu 1,5 tahun dan juga sekarang aku sudah bekerja di rumah sakit besar di Shanghai sebagai seorang Fellow. Tapi itu semua memang tidak ada hubungannya dengan percintaanku, otakku beku saat berhubungan dengan masalah cinta.
15 menit kami menaiki taksi melewati gedung-gedung pencakar langit kota Tokyo dan akhirnya kami sampai disebuah hotel besar berbintang tempat FanFan selama ini menginap. FanFan masih menarik koperku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menarik tanganku.
Lift yang kami naiki bahkan tidak berhenti hingga lantai ke 10, kami terus naik hingga akhirnya lift berhenti di lantai 12. Lorong hotel ini tampak mewah dengan karpet merah panjang disepanjang lorong. Langkah kami berhenti tepat didepan kamar bernomor 127, di depan pintu juga tertulis suite room. Itu artinya, kamar 127 ini adalah kamar yang sangat mewah. Aku masuk kedalam kamar FanFan, kamar dengan king bed besar dan berinterior serba coklat itu tampak sangat mewah dan mahal.
"Kau tinggal dikamar seperti ini selama seminggu? wah direktur pastilah sangat baik padamu." kataku sambil melihat keluar jendela.
FanFan tidak merepon ucapanku, dia masih diam saja. Dia pasti sedang merajuk padaku. FanFan sekarang terlihat seperti nona muda yang mudah merajuk.
Aku sudah tidak tahan dengan sikapnya ini, "FanFan kau, kau dari tadi marah padaku kan? Setidaknya kau harus mengatakan sesuatu padaku. Aku datang jauh-jauh dari Shanghai hanya untuk menemuimu. Apa kau tau aku bahkan menggantikan shift malam Profesor Su agar dia memberiku izin? Tapi lihatlah dirimu sekarang, kau bahkan lebih parah dari Jin Ling, kau separah Jiang Cheng. FanFan kau…"
(Jin Ling: Tokoh dalam novel mandarin berjudul Mo Dao Zu Shi karya Mo Xiang Tong Xiu yang terkenal rewel dan cerewet; Jiang Cheng : tokoh dari karya yang sama, sifatnya terkenal pemarah dan suka merajuk)
FanFan tiba-tiba berjalan padaku, langkahnya begitu cepat. Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku tapi FanFan sudah berdiri dihadapanku dengan kedua tangannya memegang bahuku. Mataku terbuka lebar saat ia tiba-tiba melakukan hal tak terduga ini.
__ADS_1
"Aku merindukanmu." katanya.
Hanya dengan dua kata itu dan dia sudah berhasil menguasi hatiku. Amarahku seketika sirna bak buih yang ditelan lautan. Dengan gampangnya mataku tertutup saat bibirnya menyentuh bibirku. Seolah sedang melampiaskan kerinduannya, FanFan memelukku dengan erat. Aku penasaran, setelah perilaku manisnya ini apakah dia masih akan marah padaku?
Setelah melepaskan pelukannya ia kemudian berbicara lagi, "Begitu kau selesai menelponlu, aku langsung memesannya ini tadi. Mana mungkin direktur mau menghabiskan jutaan yuan untuk menyewa kamar ini?"
Aku,"Jadi, apa kau masih marah padaku?"
FanFan menghela nafasnya dalam-dalam," Aku tidak pernah marah padamu. Seperti yang kau bilang, aku sangat senang melihatmu disini. Hanya saja rasa khawatirku lebih besar dan begitulah caraku melampiaskannya."
Panjang lebar jawaban FanFan itu, membuatku sedikit terharu saat mendengarnya.
"Sewaktu aku menelponmu tadi, kenapa kau langsung percaya ? Bukankah kau sudah sangat mengenalku?Aku bahkan sering menipumu dulu?" tanyaku.
FanFan menjawab dengan jawaban cerdas, "Kode nomer telpon yang menelponku tadi adalah kode nomer telpon Jepang, mana mungkin aku tidak percaya?"
Setelah jeda sejenak FanFan kembali melanjutkan,"Apa yang terjadi pada ponselmu?"
Aku,"Itu.., aku menabrak seseorang dan troli orang itu melindas ponselku sampai retak. Dan begitulah ceritanya."
FanFan,"…."
FanFan yang sibuk harus segera pergi karena sibuk. Setelah memastikan aku tidak memerlukan apapun, dia bergegas pergi. Sebenarnya aku tidak ingin dia pergi karena aku masih merindukannya. Tapi apa boleh buat? Dia bekerja keras untuk menebus janjinya pada direktur.
"Lebih baik aku mandi, lalu beristirahat." kataku sambil membongkar koper bawaanku.
Selang beberapa saat, tak disangka FanFan kembali masuk ke kamar. Aku yang tengah membongkar isi koper kaget setengah mati. Pakaianku berserakan dimana-mana.
"Kau, kau kenapa kembali?" tanyaku.
"Ponselku ketinggalan." katanya.
Ponselnya ada di atas tempat tidur dan bajuku menutupi ponselnya. Dibawah baju itu ada pakaian dalamku, aku bisa malu kalau dia melihat dalamanku dibalik baju itu.
"Dimana aku meletakkannya? Perasaan disini?" Kata FanFan.
Aku berpikir agar dia tidak melihat ke arah kasur. Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berteriak, "Cicak! FanFan ada cicak! "
Dengan kecepatan cahaya, aku mengambil pakaian dalamanku yang ada diatas ponselnya itu. Hingga kemudian FanFan berbalik.
"Eh itu ponselmu!" Kataku dengan senyum canggung.
FanFan meraih ponselnya itu, lalu kemudian mendekatkan kepalanya padaku.
"Dasar kau cicak nakal!! Aku akan melapor pada pihak hotel kalau dikamar suite seperti ada masih ada cicak." Katanya.
Bodoh sekali, sungguh bodoh aku ini. Tapi setidaknya dia tidak melihat dalamanku yang tergeletak di ranjang. Dia benar-benar tidak melihatnya kan? Aku bisa malu kalau itu benar-benar terjadi.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1