Love Me Now

Love Me Now
The Real Purpose


__ADS_3

💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮


*/


Profesor Su terus menyeringai padaku, dia tidak berhenti tersenyum saat menatapku. Membuatku merasa geli padanya.


"Kepala departemen Su, apa kau sudah lepas kendali? Kenapa kau dari tadi tersenyum?" Tanyaku


Profesor Su menghela nafas dan kembali tersenyum, kedua tangan mungilnya menopang dagunya," Ah, aku senang melihat kalian kembali bersama. Siapa yang mengira langit masih memberimu kesempatan. Jangan sia-siakan wakil direktur lagi atau kau akan menyesal seumur hidup"


Aku tersenyum, pikiranku mulai melayang ke masa lalu. Benar apa kata Profesor Su ini, jangan sampai aku menyesal lagi. Tuhan sudah begitu baik padaku dengan mengirim FanFan kembali padaku.


"Profesor, kau benar. Kali ini aku benar-benar harus melindunginya" balasku


Profesor berdiri dan langsung memelukku, "Gongxi, gongxi. Aku turut bahagia atas hubungan kalian"


Dia tiba-tiba melepaskan pelukannya, "Pergilah, wakil direktur pasti sudah menunggumu"


Profesor Su melirik FanFan yang sudah berdiri dibalik pintu ruangan staff.


*/


Bucket bunga yang diberikan oleh FanFan ini sungguh indah, indah dan besar. Besar dan berat pula, aku tidak tau ada berapa jumlah mawar merah yang ada di bucket bunga sebesar ini, jadi aku putuskan bertanya padanya.


FanFan menjawab dengan pasti,"ada 520 tangkai bunga mawar merah"


Aku menutup mulutku yang mulai melengkung karena ingin tersenyum. Begitu manis dan perhatiannya FanFan sekarang, 520 bucket bunga ini tentu saja sangat berarti bagiku.


Dalam bahasa mandarin angka "520" itu bermakna "aku mencintaimu". Para remaja Tiongkok seringkali mengganti ucapan "Wo Ai Ni/我爱你" dengan simbol angka "520". Itulah mengapa aku sangat terharu dan bahagia saat FanFan mengatakan kalau ada 520 tangkai bunga mawar merah di bucket ini.


Aku,"FanFan, 200"


FanFan," Hah? Apa maksudmu?"


Aku,"…."


FanFan," Eh itu maksudnya apa? Aku hanya tau makna angka 520, selebihnya aku tidak tau"


Aku,"Ai Ni O"


FanFan tersenyum mendengar jawabanku itu, aku kira dia sudah mengetahui semua makna angka itu. Tapi nyatanya kepopulerannya dulu tidak membawa banyak pengaruh dalam pergaulannya, dia bahkan tidak tau arti simbol "200".


Aku,"Padahal artinya kan so sweet.."


"200" dalam bahasa mandari berarti "aku mencintaimu loh". Aku berniat membalas simbol 520 nya itu, tapi malah gagal total karena ketidaktahuan FanFan itu.


Rumah sakit bukanlah tempat umum seperti taman atau mall yang membebaskan semua orang itu melakukan segala hal. Tapi hari ini, Liu FanFan melakukannya untuk pertama kalinya. Mungkin bukan pertama kalinya, aku pernah melihat adegan seperti tadi didalam drama favoritku 'A Love So Beautiful'. Dalam drama itu Jiang Chen melamar Chen Xiao Xi di rumah sakit, tapi Jiang Chen cukup malu untuk melakukan lamaran seperti FanFan.


Jiang Chen hanya menyiapkan sarung tangan bedah yang ia pompa menggunakan gas helium agar sarung tangan bedah itu berubah menjadi balon. Bedanya lagi, Jiang Chen melamar Chen Xiao Xi didalam kamar rumah sakit yang hanya ada mereka berdua saja. Jadi wajar kalau sekarang aku merasa jauh lebih istimewa dibandingkan Chen Xiao Xi.


Aku bertanya pada FanFan, "Eh, apa kau tidak takut dipecat karena sudah menyalahgunakan otoritasmu seperti tadi? Bukankah sebagai wakil direktur rumah sakit kau harus memberi contoh pada bawahanmu? "


FanFan fokus mengemudikan mobilnya, tanpa melihat ke arahku, dia menjawab dengan nafas panjang yang ia keluarkan, "Tidak, aku hanya akan sibuk menggantikan semua tugas direktur selama seminggu ke depan"


Entah kesepakatan apa yang sudah dia lakukan dengan direktur rumah sakit, tapi kelihatannya itu rumit sekali.


*/


Apartemen FanFan, Shanghai


Karena lamaran dadakannya di rumah sakit tadi, dalam semalam FanFan berhasil menjadi trending topik di Weibo. Banyak artikel menyebut namanya, misalnya saja 'Dokter tampan melamar kekasihnya di rumah sakit', atau 'romantisnya wakil direktur rumah sakit Shanghai'


(Weibo: Sosial media mirip twitter yang dipakai oleh warga Tiongkok)


"Gongxi, kau sekarang menjadi tenar dan mengalahkan Wang Yibo" ledekku


Aku melanjutkan, " Eh, kenapa kau melamarku lagi? Kemarin kan sudah?"



FanFan menjawab, "Aku tidak mau kau resah seperti Tong Nian"


"Tong Nian…" aku berpikir keras

__ADS_1


Aku teringat adegan dimana Tong Nian yang merasa resah karena bingung harus menerima lamaran Han Shangyan atau tidak. Tong Nian berpikir orangtuanya harus mengetahui kalau Han Shangyan melamarnya, singkat kata, restu orangtua adalah hal yang sangat penting. Tapi sejak kapan laki-laki tampan yang berada disampingku ini membaca novel romantis? Bukankah koleksi buku-bukunya hanya seputar medis dan gamers saja?


(Tong Nian dan Hang Shangyan adalah tokoh novel romantis Stewed Squid with Honey (Hanzi; 蜜汁炖鱿鱼; Pinyin: Mi Zhi Dun You Yu) karya Mo Bao Fei Bao )


Aku meledeknya lagi, "Oo jadi sekarang kau menyukai novel romantis alih-alih membaca kamus medis yang tebal itu yah?"



"Berhentilah menggodaku, aku hanya tertarik karena Han Shangyan memerankan seorang ahli CTF " FanFan mengeluh


(CTF: E-sport CaptureThe Flag)


Menyenangkan sekali bisa menggoda laki-laki yang dulu urakan ini. Sikapnya masih saja sama, dia suka menindas tapi tak suka jika ditindas.



"Kalau aku tidak mau berhenti, kau mau apa?" Aku menantangnya


"Hmm?" FanFan memiringkan kepalanya


Matanya yang awalnya memelas berubah menjadi mata elang, dengan tiba-tiba dia mengayunkan lengannya dan seketika itu pula tangannya sudah menarik pinggangku.


"Kau mau apa? " aku tergagap


"Kau tidak seharusnya mengujiku. Kau harus menerima akibatnya"


Berniat menindas malahan ditindas. Aku memang tidak berdaya ketika menatap mata FanFan. Wajahnya yang semakin mendekat membuatku menyerah untuk melawan. Hungga tak sadar, mataku sudah menutup dengan sendirinya.


"Dasar gadis bodoh. Tidak mungkin aku akan melakukan sesuatu padamu, aku baru saja melamarmu" FanFan berbisik di telingaku.


Memalukan sekali, dia benar-benar cerdas. Sudah berapa kali aku ditipunya, mengira dia akan menciumku tapi ternyata tidak.


"Ayo pergi" katanya


"Eh mau kemana?"


"Ikut saja"


FanFan mengajakku ke rumahnya, melewati rumahku yang tepat berada disamping rumahnya. Aku rasa dia ingin memberitahu orangtuanya kalau dia sudah resmi melamarku. Ayah dan Ibu FanFan menerimaku dengan hangat, hanya saja mereka sedikit kaget karena kami yang tiba-tiba balikan setelah bertahun-tahun berpisah.


"Sejujurnya bibi takut FanFan akan kehilanganmu. Banyak gadis di luar sana yang mengejarnya seperti tikus yang mengejar kucing. Mereka hanya tertarik pada uang dan ketampanannya. Bibi hanya mempercayaimu Xiao Xi" timpal ibu FanFan sambil kedua tangannya menggenggam tanganku


Ibu FanFan kembali menceritakan bagaimana kehidupan FanFan selama ini. Paman Liu dan bibi selalu yang pergi mengunjungi FanFan di Amerika karena FanFan yang tidak mau kembali.


Bibi melanjutkan," Hidupnya dulu sangat suram, dia bahkan tidak mau kembali ke Shanghai dan menengok kami. Kehilanganmu di masa lalu membuat dunia anak bungsu kami ini runtuh"


FanFan mengelak,"Ma, itu tidak benar"


Aku tersenyum mendengar cerita paman dan bibi, itu berarti aku sangatlah berarti bagi FanFan. Menyamakan antara aku dan hidupnya, aku merasa beruntung bisa memiliki FanFan disisiku.


Selepas dari rumahnya, FanFan rasa masih perlu untuk dirinya berkunjung kerumah orangtuaku. Tapi aku rasa tidak, sudah lebih dari cukup pengakuan besar-besaran yang ia lakukan tadi di rumah sakit.


"Aku akan menemui paman dan bibi, tadi aku belum sempat berkata-kata banyak" katanya


Aku,"Kau mau apa lagi? Mamaku sudah menjualku padamu"


Benar saja, FanFan tidak butuh restu apa-apa lagi dari orangtuaku. Apalagi ibu, ibuku bahkan merasa aku sangat beruntung bisa mendapatkan FanFan kembali. Tampan, mapan, dan pintar, 3 kombinasi yang membuat ibuku menjualku pada FanFan. Ibuku benar-benar mempercayakan masa depan putri satu-satunya ini pada Liu FanFan.


"Kapan kalian akan berencana menikah?" Tanya ayahku


Aku menjawab, "Untuk itu, kami…."


FanFan menyelaku secepat kilat, "Secepatnya paman, aku masih harus ke Jepang minggu depan. Aku ingin menikahi Xiao Xi secepatnya. Kami hanya perlu mendaftarkan pernikahan kami, perihal resepsi bisa belakangan"


"Bagus sekali, bibi setuju" ibuku tersenyum sumringah.


FanFan melajutkan,"Sejujurnya aku ingin dia tinggal bersamaku"


Apa perlu sejujur itu FanFan pada orangtuaku. Aku tidak masalah dengan semua itu, tapi setidaknya dia harus meminta pendapatku dulu.


"Aku mau minta izin paman dan bibi untuk membawa Xiao Xi ke Jepang" kata FanFan


Mataku melototinya, kapan dia menjadi sangat berani seperti ini? Apa kehidupan barat yang selama ini ia jalani sudah membuatnya lupa adat timur. Aku yang tidak bisa menyembunyikan perasaanku sontak langsung berdiri sambil berkata "Aku ada jadwal operasi minggu depan, dan itu sangat padat"

__ADS_1


"Aku akan mengurusnya" mata FanFan berkedip padaku


Ibuku, "Tunggu sebentar"


Ibuku beranjak dari sofa setelah dua kata yang di ucapkannya itu. Ia masuk ke dalam kamarnya, dengan pintu kamar yang masih terbuka ibu lalu keluar sambil membawa buku kecil berwarna merah yang sekilas tampak seperti visa.


"Ini" ibuku menyodorkan buku kecil tipis itu pada FanFan


Itu adalah buku anggota keluarga, identitas yang menunjukkan kalau aku adalah bagian dari keluarga Wong. Tapi sekarang ibuku sudah memberikan punyaku pada FanFan, itu artinya ibu sudah benar-benar rela melepasku untuk tinggal bersama FanFan?


"Ma.." kataku


"Bibi..ini" FanFan kebingungan


"Bibi percaya padamu Xiao Liu, bibi mengenalmu dari kecil. Siapa yang menyangka kau akan menjadi anak bibi sekarang. Bibi sangat mempercayaimu, bahkan melebihi putri bibi ini" kata ibuku


(Xiao Liu, panggilan kecil FanFan. FanFan ketika kecil dipanggil Xiao Liu, sama seperti kakaknya, YangYang. Liu sendiri adalah marga FanFan dan YangYang gege)


Momen mengharukan ini benar-benar membuatku membuatku ingin menangis. Aku bangkit dari sofa dan memeluk ayah dan ibu. Aku menangis tersedu-sedu dipelukan orangtuaku.


"Berhentilah menangis, kau kan masih putri ayah dan ibu. Dasar gadis nakal" ibuku menahan air matanya


"Paman, bibi, aku berjanji akan menjaga Xiao Xi. Kalian tidak perlu khawatir" FanFan menambahkan.


Ayahku," Kalian harus bahagia, jangan membuat orangtua ini menjadi sedih"


*/


Satu minggu berlalu


Jadi inilah kesepakatan yang FanFan dan direktur rumah sakit buat. FanFan benar-benar harus bekerja keras karena lamarannya padaku. Karena janjinya pada direktur rumah sakit, FanFan menjadi sangat sibuk. Mulai dari menggantikan jadwal operasi direktur, sampai menemaninya bermain biduk. Satu minggu ini, FanFan benar-benar tidak ada waktu untukku. Tapi tiba-tiba dia mengajakku bertemu di taman rumah sakit.


Aku pergi ke taman dan melihatnya sedang duduk dibangku taman, dengan seragam scrub biru yang masih dipakaianya. Melihatnya masih memakai seragam operasi itu, dia pasti baru saja keluar dari ruang operasi.


Aku menghampirinya, "Kau kenapa ingin bertemu denganku?"


"Apa kau tidak bisa lembut sedikit? Satu minggu ini kita jarang bertemu dan kau sama sekali tidak terlihat merindukanku" kata FanFan sambil menarik pipiku dengan kedua tangannya yang masih berbau disentifektan.


Ia meraih paper bag berwarna coklat dari bangku tempatnya duduk tadi. Kemudian dia berbicara lagi "kita bertemu 30 menit lagi disini, kita ke kantor pencatatan sipil"


"Hah? Kau mau apa? Apa kartu tanda pendudukmu hilang?" Aku bertanya


"Aku mau menikahimu xiao mei mei" dia menarik pipiku lagi


(Xiao Mei Mei : sebutan untuk adik kecil)


Dia mulai seenaknya lagi, memutuskan tanpa meminta pendapatku. Aku bahkan belum bersiap-siap. Bukankah hal penting dan seumur hidup seperti ini harus penuh dengan persiapan yang matang. Tapi lihatlah FanFan ini, dia bahkan tidak peduli tentang pendapatku.


"Kau keterlaluan, kau bahkan tidak mau memberitahukannya dulu padaku. Aku bahkan tidak merias diri hari ini. Foto di buku nikah kita nanti pasti akan kelihatan jelek, bukan kau tapi aku yang akan kelihatan jelek" kataku dengan nada kesal


"Bukalah paper bag itu" katanya lagi


Aku membuka paper bag itu dan melihat beberapa helai pakaian didalamnya. Kemeja putih dan rok hitam terlipat rapi didalam paper bag itu, label baju itu masih menempel pada kerahnya.


Aku, "Ini.."


"Tidak mungkin aku tidak mempedulikanmu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau pernah menggerutu padaku saat aku mengajakmu ke toko pakaian yang murah dulu saat kita di Beijing. Aku pergi yah, sampai ketemu nanti" FanFan berlalu meninggalkanku


Aku melihat lebih teliti pakaian yang diberikannya padaku itu. Kemeja bermerk Gucci yang harganya sebanding dengan gajiku dan juga rok hitam Chanel yang tidak akan mampu aku beli. Dia memang paling tau caranya meredakan amarah seorang wanita.


Soal ucapan FanFan yang tadi, aku jadi teringat saat kami sedang berada di Beijing. Dia mengajakku ke pesta dan membelikanku gaun, tapi bukan ditoko yang menjual pakaian bermerk. Dan karena itu mungkin FanFan terpikir untuk membelikanku pakaian yang lebih mahal. FanFan tau saat itu aku memang kesal padanya dan sekarang dia menebusnya.


Aku sebenarnya bukanlah tipikal perempuan yang gila akan pakaian bermerk. Aku biasa memakai pakaian murah, tapi aku juga tidak akan menolak kalau diberi pakaian yang harganya sebanding dengan gajiku ini.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.

__ADS_1


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2