
Hari-hariku di Rumah Sakit berubah total. Entah kalimat apa yang bisa mendefinisikannya, entah ini adalah bentuk berkah atau karma yang di kirim Tuhan untukku. FanFan yang bekerja di rumah sakit yang sama denganku membuatku kesulitan bernapas. Pemikiran bodohku kalau aku akan jarang bertemu dengannya sama sekali salah.
Departemen Bedah Toraks memang ada di lantai 3, tapi ruangan Wakil Direktur ada di lantai 2, lebih tepatnya berada di samping ruangan tim bedah umum. Profesor Su yang mulai menyadari keanehan di antara aku dan FanFan pun semakin penasaran. Indera penciumannya bahkan mengalahkan anjing pittbul.
Dia akan memulai penindasannya padaku, bukan menindas dalam arti yang sebenarnya. Lebih tepatnya dia seperti sekutu FanFan yang berusaha mengganggu dan mengolok-ngolokku.
Misalnya siang ini, aku dan Profesor Su berniat untuk makan siang di kantin. Tidak sengaja kami berpapasan dengan FanFan yang juga keluar dari ruangannya. Mata FanFan melirik ke arah kami seolah akan bertanya "kemana kalian akan pergi?"
Tapi tampaknya Profesor Su sudah peka dengan niat FanFan. Mata FanFan yang sedari tadi menatapku mengindikasikan sesuatu, maka seketika itu pula Profesor Su berkata "Eh, bagaimana kalau kita makan siang bersama saja"
Entah apa yang ada di otak Profesor Su itu sampai dia mengajak FanFan makan bersama kami. Dan alhasil, kami bertiga pun makan siang bersama di kantin sambil mengobrol beberapa topik kecil.
Aku tidak menguyah makananku dengan baik, semua enzim pencernaanku seperti mati dan tidak berfungsi. Aku yang biasanya rakus saat makan tiba-tiba berubah menjadi aggun. Menguyah makanan 18 kali dan menelannya dengan anggun.
"Eh, aku duluan yah. Pasienku mengalami kejang di IGD. Wakil direktur, aku permisi yah"
Profesor Su yang sedari tadi menjadi moderator di antara kami pergi begitu saja setelah mendapat telpon dari perawat. Dan lagi, aku yang malang ini terjebak dalam suasana canggung bersama FanFan. Parahnya, semua staff yang sedang makan di kantin melirik ke arah kami.
Mereka pasti sedang mengutukku, aku yang biasa-biasa ini akan dikira sebagai parasit yang menempel pada wakil direktur rumah sakit yang muda nan tampan.
"FanFan, sepertinya aku membuat mereka tidak nyaman. Kau wakil direktur rumah sakit yang baru saja pindah kemari dan sekarang kau makan bersama dokter biasa sepertiku" kataku.
FanFan meletakkan sumpit yang ia pegang itu, mata tajamnya yang sedari tadi fokus menatap makanan berubah menjadi menatapku.
"Dokter Crystal, mari kita bersikap profesional saat di rumah sakit" katanya dengan deep voice nya.
Aku, "…"
Menyebalkan sekali, dia mulai menindasku lagi. Waktu untuk bersikap anggun telah habis, lebih baik untuk telihat memalukan didepan pacarku ini ketimbang harus berlama-lama menerima penindasannya.
Makanan yang aku makan tidak tercerna dengan baik karena aku makan dengan terburu-buru. Seperti orang yang kelaparan, aku buru-buru menghabiskan makananku. Hingga akhirnya di suapan terakhirku aku membuat diriku malu. Malu, benar-benar memalukan sampai aku berharap untuk menghilang dari bumi.
"Apa kau anak kecil? Kenapa masih tersedak?" Kata FanFan sambil menyeka butiran makanan yang ada di mulutku.
Puluhan mata menatap kami, aku harus segera melarikan diri dari kenyataan ini.
"Aku tidak apa-apa. Maafkan aku dokter Liu FanFan, aku harus segera pergi" Tanpa melihat kebelakang aku meninggalkan FanFan di kantin.
Entah apa yang akan terjadi sekarang, aku menjadi sangat lemah. Sepertinya separuh rohku sudah melayang sejak kedatangan FanFan di rumah sakit ini. Inikah bentuk balas dendam FanFan padaku? Menindasku dan mempermainkanku adalah cara kejamnya untuk membalasku, tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menerimanya dengan lapang dada.
*/
Aku kembali ke ruangan staff setelah membuat diriku malu di kantin tadi. Aku menghampiri Profesor Su yang sedang asyik menatap layar ponselnya di sudut ruangan staff bedah umum.
"Bagaimana pasienmu?"
"Hah? Pasien yang mana?" jawabnya
Aku, "…."
__ADS_1
Dia mengelabui aku lagi, mengatasnamakan nama pasien untuk membuatku terjebak dalam situasi yang canggung tadi. Ingin rasanya aku mengumpat didepan ketua departemen bedah umum ini.
Profesor Su, "Eh kau bantu aku yah. Kau gantikan tugas jaga malamku, aku harus menemani anakku yang sakit" katanya.
Tanpa bertanya lebih lanjut, aku mengiyakan permintaannya itu. Lagi pula kasihan Profesor Su, dia adalah orangtua tunggal yang harus mengasuh anaknya sendiri.
Jaga malam bukanlah hal yang asing untukku, dulu aku merasakan bagaimana tidak enaknya saat jaga malam. Dan sekarang aku bisa melihat semua itu terpancar sangat jelas di wajah para coass muda.
"Kalian tidurlah di nurse station, tapi ingat kalian tidak boleh lengah. Hubungi aku kalau ada apa-apa" kataku.
Aku meninggalkan para dokter muda dan beberapa residen di IGD. Sementara aku pergi ke ruangan staff untuk sekedar meletakkan kepalaku.
(Residen : Dokter yang mengambil program speasialis)
Dari tadi pagi aku tidak pulang, mandi dan makan di rumah sakit. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah bantal, aku hanya mau tidur. Aku meletakkan kepalaku di sandaran sofa, hingga tak sadar aku pun mulai terlelap.
Bunyi ponselku yang sedari tadi berdering membangunkanku dari tidur singkatku. Aku terbangun dengan selimut yang menempel di tubuhku. Entah siapa yang menyelimutiku, dia pasti adalah orang yang baik.
Pagi harinya aku keluar dari rumah sakit untuk kembali ke rumah. Langit yang sama sekali tidak berpihak padaku kembali meneteskan air matanya. Aku bahkan tida membawa payung. Aku pakai tasku untuk melindungiku dari hujan yang semakin deras. Dengan kaki pendekku aku berlari menuju halte bus. Tapi sial lagi bagiku, bus yang harusnya aku naiki sudah berangkat 5 menit yang lalu. Dan aku harus menunggu lagi selama 20 menit.
Dengan baju yang basah kuyup aku berdiri di halte. Angin yang yang cukup kencang membuatku tambah kedinginan. Di tengah rintikan hujan aku melihat kejauhan, mataku mulai menyipit untuk melihat objek besar yang datang mendekat padaku.
"Ku mohon jangan lagi.." pintaku sambil memohon menatap langit.
Bukan tanpa alasan aku berkata begitu, mobil sport mewah yang tampak sangat familiar itu kembali membunyikan klaksonnya padaku. Aku akan trauma kalau hal ini terus-terusan terjadi. Bunyi klakson dan mobil sport berwarna kuning-hitam itu adalah 2 hal yang paling ingin aku hindari sekarang.
"Naiklah, kau bisa terkena hipotermia " teriak FanFan dari balik kaca mobilnya
Aku diam setelah berteriak padanya, tapi bukannya segera pergi, FanFan malah keluar dari mobil. Dengan gesit dia menarikku masuk ke dalam mobilnya
Aku berteriak, "Kau apa-apaan?"
Mantel coklatnya mulai basah, "Kau diam saja, atau aku akan.."
"Akan apa?" Kataku seolah memotong perkataannya.
Dia menghela nafas panjang seperti sedang menahan emosinya padaku. Dengan cekatan dia membuka mantel coklat yang ia pakai itu dan memberikannya untukku.
"Pakailah" katanya.
"Aku tidak mau" kataku
Dia berbalik menatapku dengan tatapan ibu tiri. Matanya seolah mengeluarkan kilatan, lalu ia berkata dengan nada acuh tak acuh, "Kau mau aku memakaikannya atau kau pakai sendiri"
Aku, "…"
Dengan kecepatan cahaya, aku menarik mantelnya itu dan memakainya. Entah sejak kapan FanFan yang pecicilan dan urakan itu telah berubah menjadi pangeran berhati dingin. Apa 7 tahun di Amerika telah mengubahnya menjadi laki-laki kejam?
Di dalam mobilnya aku terdiam sambil menatap embun yang jatuh di kaca mobil FanFan. Setelah di pikir-pikir ini bukanlah arah rumahku.
__ADS_1
"Eh kau mau kemana?" Tanyaku.
"Ke apartemenku" balasnya
FanFan sudah benar-benar tidak waras, untuk apa dia mengajakku ke apartemnnya? Bukankah seharusnya dia mengantarku pulang kerumahku sendiri?
"Turunkan aku!" Kataku
"Apa kau ingin mempermalukan aku di depan orang tuaku? Kau tidak lihat aku hanya memakai piyama?" Ujarnya.
Dia memang sedang memakai satu set pakaian tidur. Piyama biru navy menempel di badannya. Untuk apa pagi-pagi keluar hanya dengan memakai piyama, apa dia anak kecil?
"Ada panggilan darurat tadi di rumah sakit" katanya.
Dia bahkan terlihat seperti ahli telepati, dia seakan tahu apa yang ada dalam benakku. Aku belum mengatakan apa-apa dan dia sudah menjawabku. Jawaban yang 100 persen benar.
Tak lama berselang, kami pun sampai di sebuah apartemen mewah. Gedungnya tinggi, hampir sama dengan gedung apartemen Dery ge dulu, atau bahkan lebih mewah.
Dengan pakaianku yang basah, aku mengikutinya masuk ke lift. Jari-jari ramping FanFan menekan tombol no 3, hingga akhirnya lift itu berhenti di lantai 3.
Kaki panjang FanFan terus berjalan melewati lorong apartemen, hingga akhirnya dia berhenti di sebuah unit apartemen bernomor 85. Dengan jari-jemarinya yang panjang dia menekan password pintunya itu, hingga akhirnya terdengar suara 'bip' tanda pintu telah terbuka.
Aku masuk ke dalam apartemennya yang mewah itu. Dengan baju yang masih basah, aku tampak ragu untuk duduk di sofa berwarna abu-abu itu. Akhirnya aku hanya berdiri di depan rak buku sambil menunggu FanFan keluar dari kamarnya. Aku berniat untuk mengelilingi apartemen mewahnya itu, hanya saja aku tidak melakukannya. Sesekali aku hanya melirik ke segala penjuru ruangan yang bisa di jangkau oleh mataku.
"Eh, kau akan berdiri di sana sampai besok?" Ujar FanFan yang tiba-tiba keluar dari kamarnya
Kata-katanya ini sama persis dengan yang ia ucapkan dulu. Aku ingat aku sedang menunggunya di depan rumahku dan dia berada di dalam mobil ayahnya. Sambil menggerutu FanFan mengucapkan kata-kata yang 100 persen sama dengan apa yang baru saja ia ucapkan tadi.
"Aku membelinya ketika aku berada di Miami. Ini masih baru, aku belum pernah memakainya" katanya.
Dia memberiku beberapa helai pakaian. Dia terlihat iba padaku karena bajuku yang basah ini hampir memperlihatkan dalamanku. Awalnya aku menolak tapi dia terus memaksaku.
Apa harus dia pamer di saat seperti ini? Dengan langkah yang berat aku mengikutinya menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Dia melarangku memakai kamar mandi di luar, alasannya karena toiletnya sedang rusak. Cukup masuk akal memang.
Aku masuk ke kamar mandi FanFan, sebelumnya aku melintasi kamar FanFan. Kamarnya besar, warna abu-abu muda dan tua mendominasi kamarnya. Didalam kamar mandinya juga mewah, beberapa skincare mahal berlabel Chanel terpajang rapi di depan cermin. Seketika aku melihat bayanganku di cermin, satu kata untuk mendefinisikannya 'Kau terlihat menyedihkan Xiao Xi'.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
__ADS_1
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰