Love Me Now

Love Me Now
A Love So Beautiful


__ADS_3

Halo, Da Ji Hao readers yang baik hati. Ini adalah bab terakhir dari novel 'Love Me Now'. Tapi, nantinya author bakalan ngasih Extra Bab yang berisi Side Story 'Their Youth' (Masa Muda) dan 'After Marriage' (Kehidupan setelah menikah)


Sekali lagi dan untuk kesekian kalinya Author mau bilang 'XieXie' buat readers sekalian yang udah jadi pembaca Novel ini. Keep Healthy Readers ♡


 


💮Sebelum baca jangan lupa buat Like dan Vote yah💮


 


 


Beberapa hari belakangan ini FanFan sangat sibuk, dia harus bolak balik Shanghai-Tokyo. 3 hari berada di Shanghai dan 4 hari berada di Tokyo, aku jadi merasa kalau dia sudah punya perempuan lain saja. Tapi bukan itu masalahnya, orangtua menyebalkan yang memimpin rumah sakit itu selalu menyuruh FanFan untuk melakukan tugasnya. Alasan ayah Gong Jun itu banyak dan terdengar cukup masuk akal, membuat FanFan yang mendengarnya berubah menjadi iba. Mulai dari 'Aku sudah tua dan tidak bisa melakukan penerbangan lagi' sampai alasan romantis seperti 'Aku tidak bisa meninggalkan istriku'. Pikirnya FanFan masih bujang apa?


Dan satu lagi masalah, sebenarnya ini bukan masalah, tapi lebih pantas disebut dengan 'sedikit gangguan'. Pepatah mengatakan 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya', dan buah yang aku maksud disini adalah Gong Jun, putra direktur Gong.


Dia tidak berhenti mengikutiku dan menggangguku, terkadang dia cukup usil padaku. Semua kelakuan pemuda itu membuatku tak habis pikir, sebenarnya apa yang ada di otaknya?


Aku mulai geram,"Eh, aku tau papamu adalah direktur rumah sakit, tapi aku yakin dia tidak akan mentolerir sikapmu ini."



Gong Jun membalas dengan senyuman ceria,"Apa hubungannya dengan papa? Aku adalah aku, kenapa harus mengaitkan aku dan papa?"


Dalam hatiku aku sudah mengutuk bocah ini 'Apa kau lahir dari batu? Papamu adalah orang yang berkontribusi atas kelahiranmu didunia ini'


Aku berlalu dan terus mengabaikan Gong Jun, tapi dia adalah tipikal laki-laki yang tidak mudah menyerah. Dia mengekor padaku seperti anak ayam yang selalu mengikuti pada induknya.


"Dokter, apa kau membenciku?" Gong Jun bertanya.


Aku segera menjawab,"Tidak, tidak, aku tidak punya alasan untuk membencimu. Hanya saja perilakumu sedikit membuatku jengkel, beda jengkel dan beda benci kan? Eh bocah, kau adalah calon dokter yang hebat. Kau memenangkan beasiswa ke Jepang itu artinya kau cerdas, jadi berhentilah main-main denganku dan buatlah papamu bangga."


Gong Jun mengeluarkan permen dari sakunya,"Dokter mau?"


Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menolak permen mint yang Gong Jun tawarkan padaku itu. Dia memakannya, dan dengan mulut yang menghisap permen itu dia kembali berbicara,"Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu dokter?"


Aku,"Katakan, apa itu?"


Gong Jun,"Dulu aku mempunyai seorang senior, dia begitu mirip denganmu. Dia perhatian tapi galak, aku sempat menyukainya dan berniat mengaku padanya. Tapi kau tau apa yang terjadi?"



Aku, "Kau ditolak? "


Gong Jun diam, dia menggeleng-gelengkan kepalanya,"Dia mengalami kecelakaan tragis saat sedang menjalani coass."


Aku jadi teringat kalau aku juga pernah mengalami kecelakaan saat menjalani coass di Beijing dulu. Kenapa cerita Gong Jun ini terdengar menyeramkan? Ini seperti akulah tokoh dalam ceritanya.


Aku sedikit penasaran, "Lalu dimana dia sekarang?"


Gong Jung tersenyum pahit,"Dia sudah di surga sekarang."


Ternyata senior yang disukai bocah ini telah meninggal. Patut saja dia menjadi sangat pilu sekarang, sungguh kisah yang menyedihkan. Kembali ke topi awal, lalu pertanyaannya sekarang, apa hubungannya denganku?


Gong Jun menjawab,"Saat aku melihat dokter aku seperti melihatnya. Dokter seperti reinkarnasinya, dan itu sedikit menghiburku."


Jadi aku hanya pelarian saja bagi bocah ini? Hanya karena aku mirip dengan orang yang disukainya dia jadi begitu usil padaku?


Aku,"Dengarkan aku. Aku bukan dia dan dia bukan aku. Kami adalah dua wanita yang berbeda, jangan pernah berpikir kalau aku adalah reinkarnasinya."


Gong Jun,"Iya maafkan aku."


 


💮


 


Aku hendak kembali ke apartemen, berniat menelpon FanFan tapi aku takut mengganggunya. Jadi aku putuskan untuk pulang sendiri. Sudah hampir 30 menit aku menunggu taksi, tapi nihil. Kakiku mulai keram karena harus berdiri, tapi tiba-tiba Gong Jun datang dengan mobilnya.


Gong Jun keluar dari mobilnya, "Dokter, ini sudah malam. Biarkan aku mengantarmu, jangan menolak."


Ini memang sudah malam dan aku masih harus menjemput Xiao Bai dirumah ayah dan ibu. FanFan sendiri belum pulang, aku takut Xiao Bai sudah menungguku jadi ku putuskan untuk ikut dengan Gong Jun.


Gong Jun mengantarku ke rumah ayah dan ibu, kemudian dia kembali mengantarku dan Xiao Bai ke apartemen. Gong Jun segera pergi begitu kami sampai di apartemen.


Tak lama berselang FanFan pulang, dengan wajah letihnya dia berbaring di sofa sambil memperhatikan Xiao Bai yang tengah asyik menonton TV.


"Aku akan menyiapkan makan malam untukmu."kataku.


FanFan,"Oh."


Dari dapur aku mendengar percapakan antara FanFan dan Xiao Bai. Mulai dari Xiao Bai yang berceloteh tentang teman kelasnya, sampai FanFan yang menanyakan apakah Xiao Bai sudah belajar atau belum. Sekilas percapakan mereka terdengar seperti percakapan ayah dan anak. Tapi sesuatu yang keluar dari mulut Xiao Bai membuat suasana menjadi memanas, FanFan bertanya pada Xiao Bai, "Apa kalian naik taksi?"



Dan dengan polosnya Xiao Bai menjawab,"Gege tampan yang mengantar kami."


__ADS_1


Matilah aku, FanFan akan segera menjadi iblis begitu mendengar kata 'Gege tampan'. Api semakin membesar setelah bocah cerewet itu menyiramkan minyak tanah, sekali lagi dengan polosnya Xiao Bai berceloteh tentang kebaikan Gong Jun. Aku yakin FanFan akan murka karena cemburu.


"Xiao Bai, kau masuk ke kamar. Bawa mainanmu." kataku.


Tanpa banyak bertanya, bocah 6 tahun itu segera masuk ke kamarnya. FanFan masih duduk, hawa disekitarnya menjadi gelap.


"FanFan, jangan salah paham. Itu tadi, Gong Jun…"



Suara FanFan terdengar dingin, "Kenapa tidak menelponku?"


Aku,"Aku pikir kau sangat sibuk. Jadi.."


Belum selesai aku bicara dan FanFan sudah masuk ke ruang kerjanya. Laki-laki itu pasti sedang merajuk, inilah yang aku takutkan dari FanFan. Sikapnya seperti anak remaja ketika sedang cemburu. Dia bahkan belum makan dan mengunci dirinya diruang kerja.


Dengan berhati-hati aku mengetuk pintu ruang kerjanya,"Suamiku, kau belum makan. Makanlah dulu."


FanFan dari balik pintu,"Nanti saja."


Aku,"Tapi nanti makanannya dingin."


Tidak ada jawaban dan respon lebih lanjut dari FanFan. Menghibur FanFan yang sedang merajuk jauh lebih sulit daripada menghibur Xiao Lu. Dia akan terus berdiam diri dan bermidatasi sampai akhirnya dia puas dan hatinya tenang. Jadi aku membiarkannya.


Aku kembali masuk ke kamar dan meraih ponselku. Disituasi darurat ini aku bertanya pada kedua kakak iparku, Li Yu dan Hexin jiejie. Kami bertiga punya grup WeChat sendiri, didalamnya kami terbiasa membahas kehidupan rumah tangga.


Aku mengetik,"Jiejie, apa yang kalian lakukan kalau suami kalian merajuk? FanFan sepertinya minum Cuka"


(醋(cù) berarti cuka, karena cuka mempunyai rasa asam, istilah ini merujuk ke ekspresi ketika seseorang memakan sesuatu yang masam makanya ekpresi mukanya jadi masam sama seperti ketika melihat pasangan kita lagi berduaan sama orang lain/Cemburu)


Hexin jiejie membalas secepat kilat,"Kau apakan FanFan? Kau selingkuh?"


Ibu Xiao Bai juga membalas,"Tidak mungkin Xiaogu selingkuh."


Aku,"Dia marah karena aku diantar oleh coass. Itu juga karena terpaksa, lagi pula kami tidak berdua. Ada Xiao Bai di antara kami."


Setelah pengakuanku itu, secara bergantian kedua kakak iparku itu membalas.


Hexin jiejie,"Bujuk dia secara halus."


Li Yu membalas,"Atau kau bisa merayunya."


Aku,"Sudah tapi tidak berhasil."


Secara kompak mereka berdua membalas,"Kalau itu semua masih tidak berhasil lakukan 'itu'"


Aku berpikir itu mencerna apa maksud kata 'itu'. Setelah beberapa detik berpikir aku akhirnya sadar. 'Itu' yang mereka maksud adalah kegiatan yang biasanya dilakukan oleh suami istri. Aku sedikit tersipu malu membaca pesan kedua kakak iparku ini. Sakit Jiwa!



Aku,"…."


  💮


 


Ini sudah 4 hari sejak FanFan bersikap dingin padaku. Dia biasanya memang sedikit jutek, tapi kali ini FanFan benar-benar jutek. Dia biasanya akan merespon ucapanku walau hanya dengan dua kata, tapi kali ini dia benar-benar mendiamkanku.


Ditengah malam aku terbangun, aku melihat sisi lain tempat tidurku yang kosong. Kemarin FanFan masih tidur bersamaku walau hanya punggungnya yang selalu menghadapku. Tapi malam ini aku benar-benar ditinggal sendirian. Dia begitu jahat bahkan ketika dia akan segera berangkat ke Jepang.


Aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Di sisi lain aku berjalan lagi ke arah kamar Xiao Bai, tidak ada FanFan didalam, dia pasti tidur diruang kerjanya. Dan benar saja, ketika aku membuka pintu dia masih terjaga dengan jari jemarinya sedang menari-nari di atas keyboard.


"Kau belum tidur?" Aku bertanya.



"Tidurlah duluan." Katanya dengan nada suaranya yang masih sedingin salju.


Suasana kembali hening, entah kenapa aku jadi emosional dan tanpa sadar air mata mengalir dari mataku, "Maafkan aku, aku salah karena tidak menelponmu, aku salah karena pulang dengan laki-laki lain, kau boleh mencelaku tapi ku mohon jangan diami aku begini."



Jari jemari FanFan berhenti mengetik, aku begitu emosional dan meninggalkannya. Aku kembali masuk ke kamar setelah permintaan maaf konyol yang aku katakan itu, tak lama berselang suara pintu kamarku berderit lalu tertutup kembali.


Bau persik khas FanFan kembali tercium, dia membuka selimut dan berbaring disampingku. Aku segera berbalik untuk melihatnya.


Suara FanFan mulai lembut lagi,"Kenapa kau menangis?"


Aku mengusap air mataku,"Aku tidak tau, itu mungkin karena aku tau kalau aku salah. Aku terlalu cengeng."


FanFan menepis air mataku,"Sudahlah jangan menangis lagi. Aku sudah tidak marah lagi."


FanFan sedikit beranjak, dia tiba-tiba mencium keningku, mencium mataku yang bengkak seperti biji kenari dan terus menciumku sampai bibirku. Dia kemudian berhenti,"Aku mendiamkanmu selama 4 hari dan selama itu pula aku berpuasa. Aku rugi selama 4 hari, jadi apa tidak ada kompensasi untukku?"


Aku," Dasar hewan buas."


Tanpa banyak berkomentar FanFan sudah berbuat semena-mena lagi. Dia kembali mendapatkan keuntungan setelah 4 hari berpuasa. Tapi sayang bagi FanFan, perutku tiba-tiba berkontraksi dan aku merasa mual saat mencium aroma persik dari tubuh FanFan. Tadi aku masih baik-baik saja dan sekarang aku mual.


Aku segera berlari ke kamar mandi, wajahku pucat seperti kertas. Aku lemas hingga akhirnya duduk diatas closet. FanFan segera menghampiriku, "Apa yang terjadi? Kau makan mangga lagi hari ini? Berapa banyak kopi yang kau minum?"

__ADS_1


Aku mengingat-ngingat semua makanan yang masuk ke perutku hari ini. Aku hanya minum segelas kopi di pagi hari, aku bahkan tidak memakan mangga. Tapi anehnya aku merasa sangat mual sekarang.


FanFan bertanya dengan canggung, "Kau, kapan kau terakhir menstruasi?"


Mataku melotot, aku memandangi FanFan yang tengah serius bertanya padaku,"Itu..apa mungkin?"


Apa mungkin aku tengah hamil? Kali terakhir aku mual saat berada dirumah ayah dan ibu, penyebabnya karena mangga dan kopi. Tapi kali ini bukan itu, aku mual begitu aroma persik yang kuat dari parfum FanFan tercium olehku.


"Besok aku akan menemanimu menemui dokter Jiang."


Aku mengangguk mengiyakan ucapan FanFan.


Aku benar-benar penasaran dengan hasilnya, andai saja aku punya test pack. Aku tidak punya satupun test pack, itu karena aku tidak pernah memiliki niatan untuk membelinya. Tapi mengingat kejadian kali ini, aku benar-benar yakin kalau didalam perutku telah ada kehidupan yang lain.


Malam itu aku menjadi begitu waspada, aku memikirkan hasil pemeriksaan besok, aku benar-benar berharap kalau hasilnya akan positif.


"Aku sudah menyingkirkannya." kata FanFan.


FanFan menyingkirkan parfum persik kesukaannya itu entah kemana, dia bahkan mengganti bajunya dengan baju baru yang tidak beraroma. Hingga akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.


Keesokan harinya FanFan benar-benar menyeretku ke departemen OBGYN, ini masih jam istirahat makan siang dan dia sudah mulai menggunakan otoritasnya lagi. Seorang wanita berusia kisaran setengah abad tengah duduk dikursinya sambil menatap layar komputer.


(Obgyn/ostetri dan ginekologi : tenaga medis profesional yang menangani kesehatan reproduksi wanita, kehamilan, dan kelahiran)


"Senior, kami datang." kata FanFan.


Itu adalah dokter Jiang, dia adalah dokter senior di Shanghai United Family Hospital yang kini menjabat sebagai kepala departemen OBGYN.


Aku membungkuk untuk memberi salam padanya,"Maaf mengganggu waktu anda dokter, tapi…"


Dokter Jiang menyelaku,"Tapi laki-laki dingin ini yang memaksamu kan?"


Aku tersenyum meledek sambil menatap ke arah FanFan. Sementara dokter Jiang masih terus berkicau,"Dia bahkan tidak membiarkan wanita tua ini untuk istirahat."


Nada bicara dokter Jiang bercanda, tapi FanFan memang benar-benar gila. FanFan kembali merayu dokter senior itu dengan kata-kata manisnya,"Aku akan mentraktirmu lain kali."



"Ishh!" dokter Jiang mencela.


Dengan tangan lihai yang sudah puluhan tahun bekerja itu, dokter Jiang memeriksaku dengan santai. Dia mengambil transducer dan mulai melakukan USG. Reaksi wajahnya tidak dapat ditebak, kadang dia tersenyum tapi kadang juga tidak.


(Transducer : alat biasanya digunakan ketika USG, yang ditempelkan di kulit untuk memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi)


"Selamat, kalian akan menjadi papa dan mama." kata dokter Jiang.


Aku tidak tau harus bereaksi bagaimana, aku bahagia bercampur haru, aku terharu tapi juga bingung. Sementara FanFan masih tetap tenang dan tidak beraksi apa-apa, hanya senyum tipis yang terpancar dari wajahnya.


"Kau setenang ini, kau sudah tau?" Tanyaku.



"Suamimu ini adalah seorang dokter nyonya." kata FanFan.


Aku juga seorang dokter, tapi aku bahkan tidak menyadari sesuatu yang kini tengah hidup didalam tubuhku.


  💮


 


Para orangtua telah berkumpul di apartemen kami, orangtuaku dan orangtua FanFan tampak sangat gembira. Wajah mereka bak musim semi yang ceria, penuh semangat dan kebahagiaan. Orangtua FanFan akan mendapatkan cucu keduanya, sementara ayah dan ibuku akan mendapatkan cucu ketiganya. Siapa sangka ibuku yang dulu mengomel malah sangat menjagaku sekarang, dia memberiku banyak makanan dan melarangku untuk terlalu lelah.


Dengan kehamilanku ini aku benar-benar merasa bahwa dunia ini adalah milikku. Aku bahagia hanya dengan bersama FanFan, tapi ketika Xiao Bai datang kebahagiaan itu menjadi berlipat ganda, dan sekarang setelah aku hamil kebahagiaanku menjadi berlipat-lipat.


Aku bersandar dibahu FanFan,"Apa kau bahagia? Kenapa kau bisa setenang ini?"


FanFan mencium keningku dan membelai rambutku,"Kau adalah kebagiaanku, dan itu sudah cukup. Tapi sekarang kau malah memberikanku kebahagiaan lain, bagaimana bisa aku tidak bahagia? Terima kasih istri, Wo Ai Ni."


 


 


💮THE END💮


 


 


Pantengin Terus yah, soalnya Author bakal kembali dengan bab spesial "ANOTHER SIDE STORY" FanFan dan Xiao Xi


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.

__ADS_1


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2