
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
▪︎▪︎▪︎ (Canggung)
Apa kami hanya akan duduk diruang tamu ini semalaman. Sekarang saja sudah pukul 11 malam, aku akan terlelap jika hanya bermeditasi seperti ini tanpa adanya percakapan di antara kami berdua. Ngomong-ngomong apa FanFan juga merasa canggung?
Ikan koi yang ada di akuarium terus-terusan menggeliat, sepertinya ikan yang membawa keberuntungan itu juga tau kalau suasana di ruangan ini sangat canggung.
FanFan membuka topik pembicaraan," Apa kau suka anak anjing? Mana yang lebih kau suka anjing atau kucing?"
Sungguh topik yang murahan sekali, dia tau betul kalau aku alergi bulu anjing ataupun kucing. Aku lalu kemudian menjawabnya,"Aku menyukai keduanya, hanya saja paru-paruku tidak bisa berbaur pada bulu-bulu mereka"
FanFan, "…ah,maaf aku lupa."
Dengan naifnya aku menguap di depan FanFan, aku menoleh dan melihat FanFan tersenyum padaku sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kau pasti mengantuk, lebih baik kita tidur saja. Sekarang sudah sangat malam." Kata FanFan.
Aku dengan mata melotot, "Hah?"
FanFan juga melotot, "Ah maksudku, kau tidur saja dikamarku. Aku akan tidur di sofa."
Pikirku aku sangatlah keterlaluan, membiarkan laki-laki yang secara hukum sudah menjadi suamiku tidur di sofa. Bukankah ini tidak normal sama sekali? Ini apartemennya dan aku adalah istrinya, tapi kenapa hal canggung seperti ini terjadi?
Aku beranjak dan pergi ke kamar FanFan,"Kalau begitu aku akan tidur sekarang. Selamat malam FanFan."
"Malam." balas FanFan.
FanFan mungkin sedang berpikir yang tidak-tidak sekarang, untuk apa aku tinggal di apartemennya kalau pada akhirnya kami hanya akan diam-diaman dan tidur terpisah. Aku memang naif, tapi aku tidaklah sebodoh itu. FanFan adalah laki-laki dewasa begitu pula aku sebagai wanita dewasa yang tau betul kenapa dia menyuruhku untuk tinggal dengannya malam ini.
"Ah tidak taulah, aku lebih baik tidur." bisikku.
*/
Malam semakin larut, tapi aku belum bisa tidur. Aku hanya bergulir kesana dan kemari. Suasana menjadi sunyi dan aku lihat ruang tamu sudah gelap, itu artinya FanFan sudah tidur.
Aku bangun dari tempat tidur, lalu kemudian berdiri untuk mengambil ponselku yang ada didalam tas. Tapi tanpa sengaja sesuatu terjadi.
"Aaaakkkkhh!" Aku berteriak dan membuat FanFan langsung berlari masuk ke kamar
"Ada apa?" katanya.
"Itu.." aku menunjuk ke layar tv yang persis berada di depan ranjang kamar FanFan.
Remote tv yang ada diranjang tidak sengaja aku duduki. Menyebabkan tv menyala dengan sendirinya, aku tidak akan berteriak kalau yang muncul adalah Xiao Zhan atau selebriti tampan lainnya . Tapi yang muncul di layar adalah Jiangshi yang siap menelan orang.
(Jiangshi : Vampir China)
FanFan meraih remote tv itu dan mematikannya untukku.
"Sudah, sudah. Aku sudah mematikannya." kata FanFan sambil duduk didepanku.
FanFan melanjutkan,"Bukankah kau tidak takut apapun? Kenapa kau takut Jiangshi?"
Aku membela diri," Itu..itu karena Jiangshi muncul tiba-tiba, aku jadi tidak punya persiapan."
FanFan kembali membalas,"Kau kira hantu akan memberitahumu dulu kalau mereka akan muncul? Kau lucu sekali."
Beruntung aku tidak mengumpat tadi, aku hanya terkejut dan hampir menangis. Aku biasanya bukanlah seorang penakut, tapi kalau Jiangshi muncul secara tiba-tiba seperti tadi, tentu saja aku akan merasa keget.
"Tidurlah." FanFan bangkit dari duduknya.
Secara tidak sadar aku meraih tangannya dan bilang padanya "Sebenarnya aku masih sedikit takut. Bagaimana kalau kau disini saja?"
Dia tersenyum manis, lalu kembali duduk. Dan kemudian berbicara "Aku akan menemanimu sampai kau tertidur. Jangan khawatir."
Aku mulai membaringkan badanku dan berusaha untuk tidur, dengan tanganku yang masih menggenggam tangan FanFan. Aku mengintip dari sela kelopak mataku, FanFan masih terjaga. Mata kami bertemu, tapi FanFan mengalihkan pandangannya lagi. Aku melepaskan genggaman tangannya dan mulai menggeliat ke sisi lain ranjang.
"Kau mau apa?" Tanya FanFan saat melihat aku mulai menggeliat.
__ADS_1
Aku menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong, "Kau besok akan sangat lelah, tidurlah disini. Jangan tidur sambil duduk begitu."
FanFan masih diam, lagi-lagi dia berpikir. Apa dia seorang biksu suci? Seharusnya aku yang takut sebagai perempuan, tapi kenapa ini malah terlihat seperti aku yang akan menerkamnya? Apa aku terlalu agresif? Aku hanya berniat baik padanya, aku tidak mau dia kelelahan karena harus tidur dengan posisi duduk seperti itu.
FanFan mulai membaringkan tubuhnya di ranjang, tanpa banyak bicara dia mematikan lampu utama. Hanya cahaya kecil berwarna warm white yang menyala dari lampu tidur kamarnya.
"….." (sunyi lagi)
"Boleh aku memelukmu?" Kata FanFan dengan suara rendahnya.
Aku pikir dia akan terus-terusan menjadi biksu yang suci, tapi siapa sangka FanFan yang akan memulainya terlebih dahulu.
"Em." kataku sambil mengangguk.
FanFan mulai melingkarkan lengannya kepadaku, jantungku jadi semakin tak karuan. Jantungku akan meledak kalau aku terus-terusan merasa gugup seperti ini, padahal dia hanya memelukku seperti biasa. Kenapa tiba-tiba suhu menjadi sangat hangat yah? Padahal AC di kamar ini menyala dengan sangat baik.
"Hiks, hiks, hiks.."
Beginilah aku, aku akan cegukan saat merasa gugup. Membuat FanFan yang berada tepat disampingku tersenyum. Bukannya melepaskan pelukannya atau mengambilkan aku air minum, dia malah semakin erat memelukku.
FanFan berbicara, "Aku tidak akan melepaskannya."
Aku,"Ah?"
Setelah tertawa sejenak, FanFan kembali melanjutkan "Kau harus membiasakannya, kau tidak mungkin terus menerus akan cegukan setiap kali aku peluk kan? Ah tidak, tidak, kau biasanya tidak akan cegukan kalau hanya pelukan biasa? Lalu, apa yang sedang kau pikirkan sekarang Xiao Xi?"
FanFan mulai menggunakan cegukan ini sebagai awal mula ledekannya. Dia meledekku dan membuatku malu. Tapi FanFan benar, aku harus mampu mengendalikan perasaanku sendiri. Aku bersama FanFan, dia adalah Liu FanFan, aku tidak boleh merasa gugup saat bersamanya. Apalagi kami sekarang adalah suami istri yang sah dimata hukum.
"Xiao Xi…" FanFan kembali berbicara dengan nada lembut.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Apa kau marah kalau hari ini aku tidak bersikap sopan padamu? Aku..aku " FanFan mulai tergagap.
Aku tahu maksud dari kata-katanya itu, aku bukanlah anak remaja yang naif yang tidak mengerti maksud dari pernyataan FanFan itu. Bukan artian "sopan" yang ada di dalam kamus, tapi "sopan"dalam artian menjaga batasannya.
Dengan berani aku mulai membalikkan badan kearahnya. Walau cahaya yang amat redup karena hanya lampu tidur berwarna warm white yang menyinari, wajah FanFan tetaplah terlihat jelas. Wajah putihnya tetap berkilauan walau hanya dengan sedikit cahaya.
Aku membelas pipinya, jari telunjukku melewati bulu matanya yang lentik dan berhenti pada lesung pipinya yang akan sangat terlihat saat FanFan tersenyum.
Hingga kemudian ku beranikan diriku, "Aku tidak akan menyuruhmu bersikap sopan lagi padaku. Aku sekarang adalah milikmu, aku sekarang adalah istrimu. Kau tidak perlu lagi menggunakan jurus pengendalian dirimu yang aneh itu"
"Kau yakin?" Tanyanya lagi dengan sorot mata yang agak lembut.
".…" aku mengangguk.
"Apa kau tidak akan menyesalinya?" Tanyanya sekali lagi
Aku, "Tidak akan!"
Dan malam itu terjadi, sesuatu yang umum dilakukan oleh pasangan ketika malam pertama. Sesuatu yang mana ketika kami belajar biologi di SMA akan menjadi topik yang sedikit menggelikan, sesuatu yang ketika kau mencarinya di internet akan muncul tulisan 18+.
(18+ : tontonan/adegan/sesuatu yang hanya boleh dilihat oleh remaja berusia diatas 18 tahun)
Aku dan Liu FanFan, teman kecil yang menikah. Siapa yang menyangka kalau aku akan melakukan hal seperti ini dengan teman kecilku yang sekarang adalah suamiku.
*/
Aku bangun lebih awal, menyiapkan beberapa makanan untuk suamiku Liu FanFan. Aku mengambil beberapa setel pakaian untuk dipakainya nanti.
FanFan masih tidur dikamar, aku mendekatinya, dari dekat aku bisa melihat tahi lalat kecil ditengah-tengah hidungnya. Dari posisi sedekat ini, aku bahkan bisa menghitung bulu matanya yang lentik itu.
"Wakil direktur, bangunlah! Kau harus segera berangkat ke Jepang."
FanFan menggeliat dan merenganggakan badannya. Seolah-olah tak ingin bangun, dia terus memelukku seperti anak kecil.
"Kau kan hebat, bisakah kau berbuat sesuatu untukku?" Katanya.
__ADS_1
Aku,"Hah?"
"Orangtua itu selalu menindasku. Aku jengkel sekali padanya" keluh FanFan.
FanFan berbicara soal direktur rumah sakit yang terus-terusan mengandalkannya. Membuat FanFan lelah dan ingin menyerah.
Aku,"Aku tidak akan mampu melawannya, tapi aku akan berusaha. Sekarang kau bangun yah, suami."
Aku beranjak dan meninggalkan FanFan. FanFan,"eh tadi kau menyebutku apa?"
Aku tersenyum dan terus berjalan tanpa menjawabnya. Sejak kapan aku berani menyebutnya 'suami', aku ingat dulu aku selalu meledek ibuku yang memanggil ayahku dengan sebutan 'Suami'. Tapi sekarang aku malah menirunya.
*/
Setelah bersiap-siap, aku pergi mengantar FanFan ke bandara. Dengan naik taxi, kami akhirnya sampai di bandara Shanghai. Kepergiannya mungkin akan agak lama, tapi aku tidak khawatir, karena aku akan menyusulnya dalam beberapa hari kedepan. Aku akan memberikan kejutan untuk FanFan nantinya.
"Aku akan merindukanmu, kau boleh ke apartemenku saat aku tidak ada. Itu juga rumahmu." kata FanFan sambil memelukku erat
"Aku mengerti. Tapi aku akan kesepian, aku hanya akan datang untuk memberi makan anak-anakmu." balasku.
Anak-anak FanFan yang aku maksud itu adalah ikan koi gemuk yang FanFan pelihara.
Tak lama berselang, pengumuman dari pusat informasi sudah menginfokan keberangkatan pesawat tujuan Shanghai-Tokyo. Dengan berat hati, kulepaskan pelukanku .
"Berhati-hatilah." kataku.
"Oh." katanya
FanFan berjalan masuk kedalam ruang tunggu sambil membawa kopernya. Melihat bayangan FanFan sudah tidak ada, aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk berganti baju dan langsung ke rumah sakit.
*/
"Aku pulang..."
Dengan raut wajah lelah, aku melangkahkan kaki menuju ruang keluarga. Ibuku pasti sedang mengobrol dengan seseorang, tapi siapa yang datang pagi-pagi begini? Aku berjalan lebih jauh dan melihat ibu FanFan tengah duduk di ruang tamu bersama ibuku.
"Bibi…"sapaku sambil membungkuk
Untuk apa pagi-pagi begini dia datang ke rumah? Selain karena ada gosip hangat selebriti, mereka tidak akan bertemu sepagi ini.
"Kau jangan memanggilku bibi lagi, panggil bibi dengan sebutan Mama. Mulai sekarang kau juga adalah putriku, sama seperti Hexin. Kalian adalah anak mantuku." kata ibu FanFan
Sepertinya FanFan sudah memberitahu ibunya soal pernikahan kami. Tidak, tidak, FanFan tidak ada waktu untuk bergosip dengan ibunya, dalangnya tidak lain dan tidak bukan adalah nyonya Wong alias ibuku yang tampak sangat bahagia sekarang.
"Maafkan aku bibi, eh..maksudku mama. Kami berencana memberitahu kejelasannya secepatnya, tapi karena FanFan harus ke Jepang, jadi…"
"Tidak apa-apa, mama mengerti kok Xifu." kata ibu FanFan.
Ibu FanFan tadi memanggilku "Xifu", senang sekali aku mendengarnya. Dia memanggilku menantu, telingaku rasanya ingin mendengarnya lagi.
Ibuku yang usil memotong pembicaraan aku dan mertuaku. Memancingku ke dalam sebuah lubang pengakuan, yang membuatku agak sedikit memerah dibuatnya.
"Tadi malam kau tidur di rumah sakit lagi yah? Lalu menantu ibu yang tampan kau biarkan dia sendiri?" Tanya ibuku.
Aku terbawa arus permainan kata nyonya Wong ini, dan menjawab "aku semalaman bersamanya, aku di apartemennya kok bu.."
Ibuku dan ibu mertuaku serentak tertawa melihat kenaifanku yang keluar begitu saja begitu terjerat umpan.
"Lalu apa yang sudah terjadi tadi malam?" Ledek ibuku lebih jauh.
"Tidak tau, ibu membuatku malu." kataku sambil berjalan ke kamar dengan kedua tanganku menutup wajahku yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
__ADS_1
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰