Love Me Now

Love Me Now
The Truth


__ADS_3

Hujan dan udara dingin adalah kombinasi cuaca yang sangat tepat untuk tidur. Pukul 8.45 ku lihat di jam dinding FanFan. Dengan mataku yang tidak mau lagi terbuka aku menatap aquarium berisi ikan koi di dalamnya. Ikan koi berwarna orange besar itu terus menggeliat di dalam air, pergerakannya yang memutar-mutar menghipnotis mataku hingga akhirnya aku tertidur.


Entah berapa lama aku terlelap, tapi bunyi ponselku yang keras memaksaku membuka mata. Sambil meregangkan sekujur tubuhku aku mengambil ponselku yang berada di dalam tas. Aku melihat id yang tertera di layar, ternyata ibuku. Dengan mata yang masih setengah terbuka aku mengangkat telpon ibuku.


"Kau dimana? Apa kau tidak mau pulang?"teriaknya dengan suara menggelegar bak petir ditengah hujan


"Aku di kamar…"


Aku membuka mataku lebar-lebar dan mendapati diriku di kamar FanFan. Entah apa yang sudah terjadi, tapi aku sekarang berada di atas ranjangnya.


"Kau di kamar siapa!" Teriak ibuku lewat ponsel.


Tidak mungkin aku bilang kalau aku di kamar FanFan. Walau dia akan senang, tapi rasanya itu sedikit tidak berbudi. Jadi aku bilang padanya, "Aku di rumah Jing, aku tadi kehujanan"


Omelan ibuku berhenti setelah terdengar suara Xiao Bai yang memanggilnya. Beruntung aku tangkas dan cepat tanggap, kalau tidak, ibuku akan menyebarkan kabar yang tidak-tidak pada orangtua FanFan.


Aku keluar dari kamarnya dan tidak menemukan FanFan di manapun. Ikatan batin kami sepertinya masih sangat kuat. Aku menerima WeChatnya sedetik sebelum aku akan menelponnya.


"Aku ke Rumah Sakit duluan. Kalau kau lapar kau boleh makan makanan yang ada di dapur. Ingat untuk mematikan kompor sebelum kau pergi. Jangan membakar dapurku" tulisnya di WeChat.


Ngomong-ngomong kapan aku pernah membakar dapurnya? Aku rasa pesan FanFan ini bukanlah hal yang penting. Yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah siapa yang membuatku tidur di ranjangnya?


Segala kemungkinan terpikir di otakku, mulai dari kebiasaanku tidur sambil berjalan sampai kemungkinan FanFan yang menggendongku ke kamarnya. Jadi ku putuskan untuk menanyakan padanya.


"Kau yang mengendongku ke kamarmu yah?"tulisku di WeChat.


Dalam hitungan detik dia membalas pesanku


"Oh " katanya


Ah~aku benar-benar sudah gila. Tak lama berselang notifikasi ponselku kembali muncul.


"Berhentilah makan, aku harap kau tidak akan bertambah gendut" tulisnya di WeChat dengan emoji panda mengikuti pesannya.


Aku, " Apa aku seberat itu? Aku bahkan kurus sekali.."


Dasar plin plan, awalnya dia menyuruhku untuk makan semua makanan yang ada di kulkasnya. Dan sekarang, FanFan mengatakan aku mirip panda yang gemuk.


*/


Aku yang tidak bisa tidur bangun untuk melihat Xiao Bai di kamarnya. Baru saja beberapa hari yang lalu Wubai tiba di Shanghai, dan sekarang ia harus kembali terbang ke Beijing.


Rencana langit memang misterius, kakak iparku mengalami kontraksi hebat sepulangnya dari Shanghai. Mengharuskan bayinya lahir ke dunia lebih cepat dari prediksi dokter. Ayah dan Ibu yang sudah tidak kuat untuk pergi jauh digantikan oleh aku.


"Kau sekarang sudah menjadi gege" bisikku pada Xiao Bai yang tengah tertidur pulas.


Aku kembali ke kamarku dan melihat jam telah menunjukkan malam yang semakin larut. Aku berjalan mendekat ke arah jendela dan melihat keluar. Mataku tertuju pada kamar FanFan yang gelap gulita.



"Sudah lama sekali lampu kamarnya tidak menyala" kataku


Ketika hendak menutup gorden jendelaku, tiba-tiba lampu di kamarnya menyala. Panjang umur sekali laki-laki jenius itu, baru saja aku memikirkannya dan sekarang dia sudah muncul seperti hantu. Aku melihat sosok Liu FanFan yang tinggi itu dari balik gorden kamarnya.


Sepertinya dia kembali pulang ke rumah paman dan bibi, atau mungkin hanya mampir sebentar. Aku pikir sekarang FanFan hanya menghambur-hamburkan uangnya, dia bisa saja kembali ke rumah paman dan bibi tanpa harus membeli apartemen mewah. Atau mungkin FanFan hanya mencari alasan untuk bisa jauh dariku? Melihatku memang akan membuatnya teringat pahitnya masa lalu.


"Ah, terserah dia saja. Dia mau membeli hotel sekalipun, itu bukan urusanku" ujarku


Aku berjalan menjauh dari jendela, melihat notifikasi ponselku menyala aku pun mengambilnya. Aku melihat layar ponselku, FanFan mengirimiku pesan malam-malam begini?


''Kau kenapa melihatku tadi?'' Tulisnya di WeChat


Aku, "…."


Selain seorang dokter dan wakil direktur, rupanya FanFan sudah beralih profesi menjadi cenayang yah? Tidak, tidak, tidak, atau jangan-jangan tadi dia melihatku?


(Cenayang : seseorang dengan kekuatan spiritual tinggi)

__ADS_1


Beberapa menit kugunakan untuk berpikir, memikirkan jawaban pesan FanFan yang lebih realistis dan masuk akal. Jawaban yang tidak akan membuatku malu dan membuatnya besar kepala.


Jari-jari kecilku mulai menari-nari diatas keyboard ponsel, sebentar-sebentar mengetik dan sebentar-sebentar menghapus.


Aku menghela nafas, "Apa WeChatnya benar-benar sesusah ini? Kenapa aku begitu sulit untuk menjawabnya?"


Setelah merenung selama 10 menit ku kirimkan balasan untuknya, " Aku pikir tadi aku melihat hantu"


Konyol sekali, FanFan mungkin sedang menertawaiku sekarang.


*/


Keesokan harinya aku dan Xiao Bai bersiap-siap untuk pergi ke Bandara. Aku sudah izin cuti pada Profesor Su, aku mengambil waktu liburku yang selama ini aku tidak ambil. Selama 4 hari aku akan berada di Beijing.


"Pa, apa taksinya sudah datang?"


Ayahku, "Hmm itu…"


FanFan yang tiba-tiba masuk ke rumahku. Pakaiannya santai, dia sepertinya tidak akan berangkat ke Rumah Sakit. Pakaian yang ia pakai sekarang tidak mencerminkan aura seorang wakil direktur sama sekali.


"Kau pergi sama FanFan saja yah. Dia ada urusan di Rumah Sakit Beijing" kata Ibuku


Seperti ada petir diatas kepalaku sekarang, menyambarku hingga hangus tak bersisa.



Aku, "Tapi ma…"


FanFan menyahut, "Aku ada urusan di Peking Hospital, aku bukannya mau mengikutimu"


Aku yakin semua ini bukan takdir, ibuku yang mengatur semua ini. Tadi malam dia pasti cerita pada FanFan. Di hari yang sama dan pesawat yang sama, apa ada kebetulan seperti ini?


FanFan pergi ke Beijing dengan dalih ada urusan di Peking dan disaat yang bersamaan Dery ge menyuruhku untuk membawa Xiao Bai sekalian menjenguk kakak iparku yang baru saja melahirkan. Belum satu minggu berlalu sejak aku bertemu FanFan, dan rasanya sudah sangat canggung. Aku harus mulai membiasakan diri dengan kehadirannya. Tidak mungkin aku akan terus menghindarinya.


Di pesawat kami duduk di deretan yang sama dengan Xiao Bai di tengah. Penerbangan dari Shanghai ke Beijing yang memakan waktu 2 jam 20 menit membuat Xiao Bai kelelahan dan akhirnya ketiduran. Begitu pula FanFan yang tampak terlelap di kursi penumpang. Urusan di rumah sakit pasti membuatnya penat, apalagi sekarang ia adalah Wakil Direktur di Rumah Sakit yang juga tempatku bekerja.


'Penumpang yang berbahagia, dalam 5 menit pesawat China Airlines akan segera mendarat di Beijing Capital International Airport. Di mohon kepada penumpang untuk kembali ke tempat duduk, mengencangkan sabuk pengaman, membuka penutup jendela, dan melipat meja'


'Welcome to Beijing Capital International Airport' pengumuman dari Pilot pesawat menandakan pesawat yang kami tumpangi telah mendarat di Beijing dengan selamat.



"Kau tidak mau membangunkan Xiao Bai?"tanya FanFan


"Sssttt..aku akan menggendongnya" jawabku


Tapi ketika akan membuka safety belt Xiao Bai, FanFan menghalangi tanganku dan menggantikanku menggendong keponakanku itu.


"Dengan kakimu yang pendek itu Xiao Bai akan merasa tidak nyaman" ledek FanFan


Kami keluar dari pesawat dengan FanFan yang masih menggendong Xiao Bai. FanFan berjalan dengan tangan kanannya menggendong Wubai dan tangan kirinya menyeret koper. Entah bagaimana kelihatanya, dia membawa 2 koper sekaligus dengan satu tangan.


FanFan tidak lantas berjalan keluar Airport tempat biasanya penumpang menunggu taksi.


"Eh, kau mau kemana? Aku harus menunggu taksi di luar" teriakku pada FanFan yang terus berjalan sambil menarik koperku


"Tempat parkir" katanya


Tiba-tiba FanFan berhenti didepan mobil CRV berwarna putih. Tangan kirinya melepas koper yang ia seret dari tadi, meraih kedalam saku jaketnya dengan kesulitan.


"Eh" katanya dengan mata mengarah ke saku jaketnya


"Oh" kataku.


Aku mendekat dan memasukkan tanganku untuk mencari sebuah benda yang ada disaku jaketnya. Itu adalah kunci mobil FanFan.


"Naiklah aku akan mengantarmu, jangan menolak. Aku melakukannya untuk Xiao Bai" kata FanFan

__ADS_1


Tanpa banyak bicara aku pun naik ke mobilnya dan duduk kursi belakang bersama Xiao Bai yang masih tertidur.


Beruntung Xiao Bai sudah bangun saat kami sampai di apartemen Dery gege, kalau tidak FanFan pasti akan mengantar kami sampai ke depan pintu apartemen kakakku.


"Terimakasih FanFan, eh Xiao Bai katakan terimakasih pada Paman FanFan" kataku


Dengan manisnya bocah itu berlari dan memeluk kaki FanFan. FanFan menurunkan badannya dan mengelus kepala Xiao Bai sambil berkata, "Sama-sama"


FanFan pergi setelah mengantar aku dan Xiao Bai ke apartemen Dery ge.


*/


Dengan tangan kanan menuntun Wubai dan tangan kiri memegang pegangan koper, aku berdiri didepan pintu apartemen kakakku. Tak lama setelah mendengar bunyi bel yang aku pencet, kakakku membukakan pintu apartemennya.


"Kalian sudah datang, eh lihatlah jagoan papa. WuBai kemarilah, biarkan papa memelukmu" kata Dery ge


Aku masuk dengan koper bawaanku. Di Sofa tampak kakak iparku Li Yu, yang duduk sambil mengendong bayinya yang baru saja lahir ke dunia.


"Saozi, bagaimana kabarmu?" Sapaku


"Aku baik, xiaogu sendiri bagaimana ?" Tanyanya


(Xiaogu : adik ipar perempuan)


"Aku juga baik-baik saja"


Li Yu mengalihkan bayi kecilnya itu padaku sementara dia mulai memeluk Wubai, "Xiao Bai, kemarilah mama merindukanku nak"


Aku menggendong keponakan keduaku yang baru lahir itu, keponakan kedua yang juga berjenis kelamin laki-laki. Matanya lebar seperti mata kakak iparku.


"Saozi namanya siapa?"


"Wong Wunai. Tapi kami memanggilnya Xiao Nai"


"Xiao Nai Ni Hao. Eh dia mirip denganmu" ujarku


Nama yang bagus, anak sulung bernama Xiao Bai dan anak bungsu bernama Xiao Nai.


Sementara aku mengobrol dengan kakak iparku, Dery ge memanggilku. Sepertinya dia ingin bicara serius denganku. Tapi apa?


Aku menyusulnya ke ruang kerjanya, "Ge, ada apa?"


"2 tahun yang lalu FanFan datang ke Beijing dan dia menemuiku. Dia menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Aku tidak mau mengungkit masa lalu, tapi aku rasa kau harus tau Xiao Xi. FanFan masih mencintaimu, tapi semuanya ada ditanganmu" kata kakakku


Aku terdiam, Hendery gege bahkan tidak melakukan pemanasan. Bahasanya singkat dan clear, seolah-olah ini adalah beban yang sudah lama ingin ia katakan. Tapi kenapa baru sekarang mengatakannya padaku?


"Kenapa gege baru mengatakannya padaku?" kataku



"Dia melarangku mengatakannya padamu. FanFan mau kembali padamu saat dia benar-benar sudah mampu untuk melindungimu, saat dia benar-benar sudah pantas bersamamu"


Apa aku mulai menyesali keputusan yang aku buat dulu? Kenapa setelah mendengar kata-kata kakakku, hatiku mulai menaruh harap.


Aku tertawa sinis, "Bukan dia yang tidak pantas, tapi aku ge. Dia terlalu baik untukku dan aku terlalu buruk untuknya"


Berpisahnya sebuah pasangan biasanya pasti karena orang ketiga, anak rahasia atau lainnya. Tapi nyatanya rasa tidak tenang, kesibukan, kekhawatiran juga membuat orang yang saling menyukai menjadi berpisah. Inilah yang aku alami 7 tahun yang lalu, rasa bersalah yang dibumbui rasa cemburu dan saling tidak percaya, membuat aku dan FanFan berpisah.


Dering ponselku membangunkanku dari lamunan tentang FanFan. Aku melihat layar ponselku dan melihat nama orang yang sedang aku lamunkan. Kenapa FanFan menelponku?


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢

__ADS_1


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2