
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
Hari demi hari berlalu, pemberkatan dan pesta pernikahan antara aku dan FanFan akan segera diselenggarakan. Persiapan resepsi pernikahan juga sudah sangat matang, bisa dikata itu sudah mencapai 90 persen. Undangan juga sudah menyebar, beberapa kerabat dan teman kami adalah prioritas. Selain itu beberapa petinggi rumah sakit dan dokter juga akan kami undang, FanFan yang mempunyai banyak koneksi tentu saja akan menambah jumlah tamu undangan itu.
Mulai 3 hari ke depan aku sudah cuti, sejak dari jauh-jauh hari aku mengajukan cuti. Sementara FanFan masih sibuk dengan pekerjaannya, beberapa operasi besar yang ia tangani cukup untuk membuatnya kelelahan. Operasi jantung sangatlah menyita waktu dan tenaga, FanFan bisa menghabiskan waktu berjam jam bahkan sampai 10 jam hanya untuk satu kali pembedahan saja. Tak heran kalau belakangan ini dia terlihat sangat letih.
FanFan bahkan sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Begitu memasuki pintu apartemen dia akan langsung roboh ke arahku. Dengan tubuh mungilku ini aku berusaha menopangnya menuju ke sofa, mengambilkannya air minum, dan membantunya melepas arloji.
“Kau sudah bekerja keras, aku kasihan padamu." kataku sambil membelai rambutnya seperti anak anjing.
“Ini yang terakhir, mulai besok aku akan sangat longgar. Kita bisa pindah besok." FanFan menjawab dengan nada lemas.
Besok kami berencana pindah ke apartemen yang sudah FanFan siapkan sebelumnya, apartemen yang sengaja ia beli agar kami bisa tinggal di dekat rumah orangtua kami. Besok akan menjadi hari yang sangat sibuk untuk kami karena ada banyak barang yang harus dipindahkan.
FanFan bangun dari tidurnya “ aku akan mandi.”
FanFan masuk ke kamar untuk melepas pakaiannya, mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Sementara aku tengah memainkan peran seorang istri yang teladan, dengan semangat aku memasak di dapur dan menyiapkan makan malam untuk FanFan. Bukan malam tepatnya, ini sudah larut malam dan FanFan masih belum makan malam.
Teriakan FanFan tiba tiba menggema ditengah desisan suara ikan yang aku goreng, “Xiao Xi.."
Aku meninggalkan ikan yang aku goreng itu dan buru-buru menghampirinya, “Ada apa?”
FanFan, “Kau yang mengosongkan semua lemari ini?”
Aku , “Oh, tentu saja.”
Aku dengan bangga menjawabnya dengan kata 'Oh' dan membuat FanFan kembali mengerutkan alisnya. Bukankah aku sudah melakukan hal yang benar? Lalu apa yang salah?
“Kenapa kau tidak menungguku? Baju-baju ini kan banyak, lalu bagaimana bisa kau memindahkan semua baju ini ke dalam box-box itu. Apakah tidak berat?” kata FanFan.
Aku menyeringai, “Jangan berlebihan, aku hanya merasa bosan seharian berdiam diri. Bukanlah lebih baik melakukan sesuatu, anggap saja aku sedang olahraga angkat beban. ”
Kami bercengkrama cukup lama perihal pemindahan barang-barang, sampai-sampai aku lupa ikan yang sedang aku goreng di dapur. Mataku dan mata FanFan melotot seolah akan keluar begitu bau hangus tercium diseluruh ruangan. Aku langsung berlari menuju dapur dan menemukan asap yang mengepul dari atas kompor. Nyaris saja, aku benar benar hampir membakar apartemen FanFan.
FanFan menghela nafas, ”…”
Aku membela diri, “Jangan menyalahkanku, kau yang tadi duluan memanggilku.”
FanFan, “…..”
Yah ini memang salahku, tapi FanFan juga terlibat. Teriakannya yang terdengar seperti orang yang kepanikan tadi itu membuatku langsung menghampirinya tanpa pikir panjang. Kesalahanku disini adalah karena aku yang teledor, aku bersikap seperti anjing yang sangat patuh pada majikannya. Begitu FanFan memanggilku aku akan langsung datang padanya. Sungguh, aku bodoh karena cinta.
Ikan yang tadi aku goreng itu kini telah berada di atas piring dan tertata rapi di meja makan. FanFan menatap ke arah meja makan, tatapannya seperti tatapan kesedihan bercampur dengan rasa takjub. Memandangi ikan yang tadinya akan terasa lezat jika dimakan namun kini telah berubah menjadi ikan yang mati dengan mengenaskan, berwarna hitam dan penuh dengan arang.
“Kau tenang saja, aku tidak akan memintamu memakan ikan ini. Aku tidak mau kau mengidap kanker karena memakan ikan hangus, aku akan memasakkanmu hotpot” kataku seraya memberi saran.
FanFan hampir terharu, “Kau tadi juga ke pasar?”
Aku, “Tentu saja tidak, bukankah ada hotpot instan. Tunggu yah, aku akan menyiapkannya untukmu.”
__ADS_1
FanFan. “….”
Tentu saja itu bukan hotpot asli dengan banyak isian daging, dengan kulkas FanFan yang hampir kosong itu bagaimana bisa aku membuatkan hotpot untuknya?
*/
Keesokan harinya kami benar-benar siap pindah, beberapa agen pemindahan barang juga sudah mengangkut barang- barang kami. Bahkan akuarium besar berisi ikan koi yang gemuk itu juga sudah diangkut menuju apartemen baru kami. Aku dan FanFan pun bergegas menyusul begitu urusan kami selesai. Aku masih harus kembali ke rumah ayah dan ibu untuk mengambil baju-bajuku dan juga barang-barang Xiao Bai. Rencana kami untuk mengasuh Xiao Bai semakin mantap, apalagi tidak lama lagi Xiao Bai akan masuk sekolah dasar.
Aku dan FanFan tiba disebuah unit apartemen yang di beli FanFan, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di apartemen ini. Aparetemen baru kami ini cukup luas, lebih besar dari apartemen milik FanFan yang sebelumnya. Ada 3 kamar didalamnya, 1 kamar utama dan 2 kamar berukuran sedang. Dari balik jendela kaca yang besar itu aku bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Sungai HuangPu membentang luas di depan apartemen kami, jalan setapak tempat aku dan FanFan biasanya lewat juga terlihat.
“Ini akan menjadi kamar kita, dan kamar di sebelah sana akan menjadi kamar Xiao Bai” kataku yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan.
FanFan terlibat, “Lalu satu kamar lainnya untuk apa?”
Aku, “Tentu saja untuk calon anak kita, tapi sambil menunggu, aku ingin menggunakan ruangan itu untuk tempat kerja.”
FanFan menyeringai, “Apa kau ingin aku membeli unit apartemen yang lebih besar lagi? Dengan 4 kamar mungkin lebih baik.”
“Tidak perlu.” kataku.
Apartemen yang di beli FanFan ini sudah sangat bagus, entah berapa juta Yuan yang sudah ia keluarkan untuk membeli apartemen dan perabot. FanFan bahkan membelikan sebuah ranjang baru untuk Wubai, meja belajar bergambar kartun juga sudah tertata rapi dikamar Wubai. Entah kapan dia mempersiapkan semua ini tapi aku benar-benar kagum padanya.
Aku hampir menangis, “Kau melakukan semua ini sendiri tanpa aku ketahui, kau menghabiskan semua uangmu hanya untuk membahagiakan aku. Dan aku sama sekali tidak tau akan semua itu, tapi lihatlah dirimu kau bahkan marah ketika aku hanya melakukan hal kecil seperti melipat pakaian. Aku benar benar merasa tidak berguna.”
Kata-kata romantis macam apa ini? Apa benar FanFan yang mengatakannya? Aku hampir pingsan ketika mendengarnya berkata seperti itu.
Dengan refleksnya aku mencium pipi FanFan, tapi dia malah mendorongku lebih dekat. Menarik pinggangku hingga wajah kami terlalu dekat, terlalu dekat sampai hembusan nafas FanFan yang transparan itu terasa hangat di wajahku.
Adegan romantis kami berakhir seketika saat agen pemindahan barang tiba-tiba menekan bel. Bahkan bibir FanFan belum sampai di bibirku, terpaksa dia harus mengeremnya. FanFan memutar bola matanya.
"Ada-ada saja." keluh FanFan dengan senyuman meledek.
Aku tersenyum membalas ledekannya,"Sudahlah, kita masih punya banyak waktu untuk itu."
Tak lama berselang, seluruh ruangan di apartemen baru kami ini sudah penuh dengan barang-barang. Berdua, aku dan FanFan bekerja sama mengatur dekorasi ruangan. Mulai dari ruang tamu hingga dapur, semuanya kami lakukan sendiri.
Aku kesusahan menggantung sesuatu ,"Eh bantu aku!"
FanFan datang dengan kedua tangannya yang masih memegang ember dan lap, "Eh, kenapa kau sudah menggantung pernak-pernik warna merah dimana-mana?"
Aku,"Eh sebentar lagi kan tahun baru imlek, jadi apa salahnya? Aku bahkan akan menempelkan stiker-stiker ini didepan semua pintu apartemen kita."
FanFan, "Terserah kau saja."
FanFan yang 7 tahun tinggal di Amerika mungkin sudah lupa adat negara sendiri. Ini adalah tradisi yang sangat penting. Warna merah dalam etnis Tionghoa berarti keberuntungan, maka dari itu setiap musim tahun baru China akan banyak sekali ornamen-ornamen berwarna merah bertebaran dirumah-rumah.
Aku kembali memerintah, "Eh ini juga, tempel di pintu kamar Xiao Bai, di depan jendela juga yah. Aku mengandalkanmu suamiku."
__ADS_1
FanFan tidak berkata apa-apa, dia hanya memutar bola matanya dan secara acuh tak acuh mengambil tumpukan stiker bertuliskan karakter Fu itu.
Aku melihat sekilas stiker merah yang di tempel FanFan itu, "Eh itu terbalik!!"
FanFan kaget sampai hampir mengumpat,"Apalagi yang salah?"
"Jangan membalik karakternya, mama menyuruhku menggantungnya dengan benar. Aku tidak mau ikut-ikutan mitos." kataku.
FanFan,"…"
Menempelkan karakter huruf 福 (Fu) yang berarti “keberuntungan” pada pintu, jendela, dinding atau palang rumah mereka sudah menjadi kebiasaan turun temurun orang Tionghoa hingga sekarang. Tetapi, ada cerita yang unik dibalik pemasangan karakter huruf 福 (Fu) yang dipasang secara terbalik dengan tujuan ucapan selamat datangnya musim semi dan berdoa untuk kebahagiaan. Tetapi entah kenapa ibuku selalu melarangku memasangnya secara terbalik. Dia akan menampar tanganku ketika melihatku membalik karakter yang memiliki arti "keberuntungan" itu.
*/
Sehari sebelum pemberkatan.
Hari kemarin berganti hari ini, semua persiapan pesta dan pemberkatan sudah mencapai angka 99% dan di hari ini pula semua keluarga dan kerabat dari Beijing datang.
Mereka semua berkumpul di apartemen baru kami. YangYang gege dan Hexin jiejie beserta anak mereka Xiao Lu yang sudah tumbuh menjadi anak yang tinggi. Ada juga Hendery gege beserta istri dan anak kedua mereka, Xiao Nai. Dan yang terakhir ada orangtuaku dan orangtua FanFan.
Tidak ada kecanggungan sama sekali antara FanFan dan Li Yu, mereka bersikap apa adanya. Melupakan semua masa lalu dan siap menyambut masa depan.
"Apartemen kalian sungguh mewah." kata ayah mertuaku.
Yang ge menyahut,"FanFan adalah anak papa yang paling kaya."
FanFan menyeringai mendengar ledekan kakaknya itu. Semua laki-laki berkumpul diruang tamu untuk mengasuh anak-anak. Sementara para wanita sibuk memasak di dapur. Hexin jiejie dan Li Yu sepertinya sudah sangat terbiasa dengan topik gosip ibu-ibu, tapi tidak dengan aku. Ranah bicara mereka sangat asing bagiku, mereka hanya berbicara soal kehidupan rumah tangga dan anak, sementara aku sama sekali belum punya pengalaman soal itu.
Hexin Jiejie menyikut lenganku, "Kau akan segera terbiasa dengan topik ini nantinya."
Aku tertawa canggung, "hahah topik ibu-ibu memang sangatlah unik."
Para anak-anak sibuk bermain, Xiao Lu yang setahun lebih tua dari Xiao Bai menjadi sangat bersemangat. Sementara Xiao Nai yang masih bayi hanya bisa bermain bersama ayahnya.
Xiao Lu yang dulunya begitu mungil kini tumbuh menjadi anak yang tinggi dan tampan. Kecantikan Hexin Jiejie dan ketampanan YangYang gege menurun pada putra mereka, itu juga yang terjadi pada Xiao Bai dan Xiao Nai. 3 anak laki-laki cucu keluarga Wong dan keluarga Liu sedang berkumpul bersama.
(Xiao Lu)
Aku penasaran bagaimana rupa anakku kelak. Apa dia perempuan atau laki-laki? Kalau nantinya anakku laki-laki, aku akan menamainya Xiao Hai. Jadi total ada 4 anak laki-laki dari keluarga kami, mereka akan terlihat seperti boy group 4F yang terkenal itu.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1