
*Hari ujian seleksi*
Suara alarm pagiku seketika menghancurkan tidur nyanyakku yang singkat itu , menunjukkan sudah pukul setengah 7 pagi. Aku segera bangun, mencuci muka, lalu buru-buru keluar apartemen untuk membeli sarapan
"Selamat pagi nona kecil. Tumben kau hari ini lebih awal datang ke kedai? dan suasana hatimu sepertinya bagus sekali?" ujar pemilik kedai yang sedang sibuk menyiapkan dòujiāng (Cakhwe) dan yóutiáo (susu kedelai) kesukaanku.
Setelah mendapatkan makanan yang aku pesan, aku bergegas kembali ke apartemen sebelum dua laki-laki pemalas itu bangun. Melihat kondisi apartemen yang masih kondusif, aman terkendali menandakan mereka belum bangun.
Aku meletakkan makanan yang aku beli di atas meja.
Aku masuk ke kamar FanFan dan melihatnya masih tidur, tidak ada waktu lagi untuk membangunkannya secara halus. Aku naik atas ranjangnya dan melompat-lompat.
"Bangun,bangun,bangun. Liu FanFan, hari ini kita ada tes, ayo bangun…"
Aku menarik tangannya agar dia mau bangun, aku membuka gorden kamarnya agar matanya terbuka ketika melihat sinar matahari. Aku juga masuk ke kamar Dery gē, seperti biasa dia juga masih molor di kasurnya
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Dery ge ini lebih cocok menjadi kakak FanFan, mereka sama-sama malas dan pintar.
"Gē, ayo bangun, bukankah kau masuk pagi hari ini. Weh gē.." aku melakukan hal yang sama seperti tadi di kamar FanFan, aku melompat-lompat di atas ranjangnya agar Dery gē mau bangun.
"Iya,iya. Aku bangun, kau berisik sekali" keluh Dery ge
Aku menyiapkan makanan yang aku beli tadi, mengambil piring dan menuang susu kedelai ke dalam gelas. FanFan dan Dery gē akhirnya keluar dari kamarnya, walau masih setengah sadar.
"Setelah sarapan kalian cepatlah bersiap-siap. Aku mandi dulu…."
Setelah bersiap-siap, kami pun siap pergi. Dery gē ke rumah sakit sementara aku dan FanFan akan mengikuti tes seleksi. Tes seleksi tidak diadakan di Beijing United Family Hospital tapi di Peking Hospital.
"Ini.." Kakakku melemparkan kunci mobilnya pada FanFan
Setelah mengantar Dery gē ke rumah sakit, aku dan FanFan langsung pergi ke Peking Hospital.
*Peking Hospital*
Sesampainya di Peking Hospital, kami berkumpul di sebuah aula rumah sakit untuk mendengar arahan. Aku berdiri disebelah kanan FanFan, sementara disebelah kirinya beridiri 2 orang gadis tinggi dengan kaki jenjangnya. Mereka berbicara cukup keras, membuat telingaku panas ketika mendengarnya.
"Dia tampan sekali.." bisik salah satu gadis berambut panjang itu
"Dokter pula.." balas teman gadis itu
Di hari yang sulit seperti ini, masih ada saja yang membuat suasana hatiku buruk. Parahnya, aku tidak satu ruangan tes dengan FanFan. Dia di lantai 2 dan aku di lantai 1.
Sebelum pergi ke ruangannya FanFan mengantar aku ke kelas, tapi tiba-tiba dua gadis yang membicarakan FanFan di aula tadi datang menghampiri kami.
"Kakak...kau di ruangan mana..?"tanya Gadis berambut panjang itu
"Aku di lantai 2…" jawab FanFan
"Kalau begitu kita sama, kita bareng yuk.." ajak gadis itu
FanFan melihat kearahku ketika gadis itu berkata begitu, tapi aku hanya mengakat alis. FanFan tidak merespon, namun langkah kakinya menjauh dariku. Berjalan dengan lambat menuju ke ruangannya. Dari depan pintu ruanganku, aku masih memperhatikannya berjalan dengan dua gadis cantik di koridor.
Kedua gadis itu tersenyum lebar saat berjalan bersama FanFan. Mulut mereka akan robek kalau mereka tersenyum seperti itu terus selama 2 jam. Tiba-tiba, aku terpikirkan ide konyol. Dengan percaya diri aku keluar melewati batas pintu, menoleh ke arah FanFan yang masih terlihat di koridor.
"Kǒuzi JiaYou ..(semangat suamiku) " Teriakku
Urat maluku sudah terputus karena terbakar api cemburu. FanFan yang mendengarku berbalik dan mengerutkan dahinya. Dari kejauhan aku melihat senyum tipisnya, dia akan mengira aku gila karena cemburu.
__ADS_1
Aku yang malu pun masuk ke dalam ruanganku. Agak aneh tapi begitulah caraku melindungi pacarku dari wanita lain.
*/
"Waktu Pengerjaan soal 2 jam, dan hasil ujian akan dikirim lewat email masing-masing.." ujar pengawas ruangan
Aku mulai membuka lembar soal, aku membaca dengan teliti. Hasil latihan dan belajarku selama ini membuahkan hasil, aku hampir bisa menjawab semua soal. Hanya ada 2 nomer yang aku lewatkan karena waktu sudah habis
2 Jam kemudian…⏰
Dengan rasa percaya diri yang kurang, aku keluar ruangan. Di depan kelas ada sosok laki-laki tinggi nan tampan, berdiri dengan sebotol jus jeruk di tangannya. Tentu saja dia adalah pacar jeniusku, Liu FanFan.
"Kau kenapa?" Tanya FanFan sambil memberikan sebotol jus jeruk itu padaku
"Ah, sayang sekali. Aku melewatkan 2 soal, bagaimana ini? " keluhku
"Jangan khawatir, tidak apa-apa kau sudah berusaha. Ayo pergi.." ujar FanFan sambil menarikku pergi
FanFan mengajakku ke Cafetaria Rumah Sakit untuk istirahat makan siang, di sana kami melihat dokter Zhang dan dokter Chen yang juga ikut dalam seleksi ini.
Dokter Zhang dan dokter Chen mengobrol bersama kami, suasana memang agak canggung ketika kami makan bersama. Aku tidak terlalu dekat dengan dokter Zhang, apalagi dengan dokter Chen, aku pernah berselisih dengannya.
FanFan langsung menyadari suasana canggung di antara kami. Hingga akhirnya dia berinisiatif mengajakku pergi.
"Maaf, kami duluan" ujar FanFan sambil menarik tanganku.
Kami menjauh dari dua senior itu, membuatku bisa bernafas normal kembali.
"Hah! Untung kau membawaku pergi, tadi canggung sekali…" ujarku
"Tentu saja! Aku harus tau apa yang dirasakan Wo nèiren (istriku).." ledek FanFan
Aku kehabisan kata-kata, aku bersalah karena memanggilnya dengan sebutan "suamiku" tadi. Dia jadi besar kepala, dia bahkan terus-terusan meledekku karena hal itu.
"Tadi kau memanggilku 'suamiku' apa maksudnya..?hah?"…ledek FanFan
Setelah jeda singkat dia melanjutkan, "kau cemburu yah? Oo Xiao Xi kau cemburu yah, Crystal Wong kau cemburu yah?"
"Berhentilah meledekku…" ujarku
*/
* Beijing United Family Hospital*
Setelah ujian seleksi selesai, kami pun kembali ke Rumah Sakit untuk bertugas. FanFan pergi mencari kakakku untuk mengembalikan kunci mobil. Sementara aku pergi ke IGD. Di sana aku bertemu dengan kakak FanFan, YangYang gege.
(Gege/ge : kakak laki-laki/ kak)
"Dokter Liu" aku menyapanya
"Berhentilah memanggilku begitu. Panggil aku 'ge' ketika sedang berdua. Eh Xiao Xi, bagaimana ujian seleksimu?" Tanya Yang ge.
"Sepertinya aku akan kalah dari FanFan. Aku melewatkan 2 pertanyaan tadi.. " jawabku sambil menghela nafas
Yang Gē memberiku semangat, dia bilang kalah itu hal yang wajar, tidak ada manusia di bumi ini yang tidak pernah merasakan kekalahan. Benar apa katanya, tapi kalau sainganku itu adalah FanFan, maka itu hanya pepatah belaka. Kalau FanFan berada di no 2, maka tidak akan ada yang berada di no 1. Singkat kata, dia tidak terkalahkan.
"Nanti malam datanglah ke rumah yah. Xiao Lu merindukanmu" ujar Yang gē sambil menepuk pundakku
Aku berpikir jika aku benar-benar kalah dari FanFan bagaimana? Aku tidak peduli jikalau harus membeli kamera retro yang mahal itu, sekarang hanya ada 2 alasan kenapa aku harus menang atau kami berdua harus kalah.
__ADS_1
Alasan pertama, aku tidak mau dia mengolok-ngolokku karena kalah darinya. Dia bukanlah tipe laki-laki yang so sweet, yang akan menghibur pacar yang juga saingannya. Dia akan meledekku sampai dia puas. Alasan kedua, aku rasa jikalau dia yang lolos dan pergi ke Macau, aku takut akan merindukannya.
*/
3 hari kemudian…
Hari ini adalah hari pengumuman. Aku, Dery gē, dan FanFan berkumpul untuk melihat hasil tes kami. FanFan melihat pengumuman di laptopnya, begitu juga aku, kami mengetik password kami dan.."Enter"
Aku membuka mataku perlahan dan melihat hasilnya.
"Maaf Anda Tidak Lulus" itulah tulisan yang terpampang di layar laptopku.
Nilaiku 98 dari 100, 2 soal yang tidak aku jawab membawa petaka. Sementara itu..
"Yes, aku aku lulus.." seru FanFan sambil melompat kegirangan.
Kakakku tidak banyak bertanya, hasilnya sudah tergambar jelas diwajahku yang mendung ini. Dengan setengah hati aku memperlihatkan hasil tesku pada Dery gē dan FanFan.
"Sudah kuduga…" ujar Dery gē
Mendengar ucapan kakakku itu,aku langsung memelototinya. Aku tidak mengharapkan apa-apa dari kedua laki-laki yang ada di depanku ini, semangat atau dukungan. Mereka akan mulai menjajahku setelah ini.
"Ah...hehehee kau hanya beda 2 poin dari FanFan. Kau jangan berkecil hati.." ujar Dery gē sambil berlari ke kamarnya.
"Hah, kau menang. Selamat, Gongxi..gongxi.." ujarku pada FanFan
FanFan turun dari sofa dan menatapku.
"Kau mau apa? Ah, aku akan membelikannya untukmu. Tenang saja" kataku
"Janjimu..., apa bisa aku menukarnya" balas FanFan
Dia mau bertukar sesuatu denganku. Kemungkinannya ada 2, entah itu lebih buruk atau lebih baik.
"Apa? Eh..apa itu lebih mahal, aku tidak punya uang lagi" kataku
"Kau tidak perlu mengelurakan uang sepeser pun, kau hanya harus tulus" balasnya
"Benarkah??" Ujarku dengan mata berbinar-binar penuh harap
FanFan mengangguk, senyumnya cukup menyeramkan saat ini. Sejauh ini penawaran FanFan cukup baik, setidaknya aku tidak akan kehabisan uang bulanan.
Aku melanjutkan, "Apa yang kau inginkan?"
FanFan bergeser lebih dekat denganku, matanya serius, senyum menyeramkan dari wajahnya masih sama, lalu ia berkata " Aku tidak mau bersikap sopan lagi padamu"
Aku menyilangkan tanganku, "Hah..?bukankah kau memang tidak sopan padaku? Kau selalu menggoda dan mengejekku"
FanFan menghela nafas, lalu kemudian menatapku kembali. Aku berpikir sejenak, mencerna ulang kata-katanya barusan. Dia tidak ingin bersikap sopan padaku lagi, itu artinya….
"Kau…" aku terperanga
FanFan tersenyum padaku, "pikirkanlah, aku serius. Kau dan aku sudah dewasa kan?"
FanFan berlalu dan masuk ke kamarnya, tampaknya dia akan berbenah. Dia akan pergi ke Macau besok malam. Jadwal pelatihan di majukan sehari karena prediksi badai.
Tapi bukan itu inti masalahku sekarang. Gawat, aku benar-benar gawat, ada dua hal yang aku pikirkan sekarang. Pertama, janjiku pada FanFan. Dan yang kedua, dia akan pergi meninggalkanku ke Macau selama 1 minggu.
__ADS_1