
Dataran Tiongkok mendingin, musim yang paling aku sukai telah tiba. Bulan yang menjadi favorit kebanyakan orang telah datang. Selamat datang desember.
1 minggu sebelum Natal…
Tanggal 18 desember di musim dingin, tepat sehari sebelum hari kelulusanku sebagai coass di Beijing, aku pergi ke Rumah Sakit untuk berpamitan dengan staff dokter dan perawat.
1,5 tahun lamanya aku berada di Beijing United Family Hospital ini. Semua kenangan masih tersimpan di dalam memori ingatanku. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke Beijing bersama FanFan, saat menangani pasien pertama, saat aku dan Dery ge kecelakaan, semua itu masih ada dalam ingatanku. Dan besok aku akan kembali ke Shanghai, kota kelahiranku.
"Kau harus sering-sering menghubungi kami, kau juga harus datang ke sini kapan-kapan" ujar dokter Yu Tang
"Terimakasih selama ini kau mengajarkanku pelajaran yang tidak akan pernah aku dapat dari junior lain" ujar dokter Zhang
"Kau jaga dirimu baik-baik yah dan juga jangan sungkan untuk menelponku ketika kau butuh bantuan" imbuh dokter Chen
"Terimakasih semua"
Aku membungkuk 90 derajat kepada mereka semua. Memberikan salam perpisahan untuk mereka yang sudah aku anggap sebagai keluarga. Mereka memberikan aku kenangan yang tak akan pernah aku lupa selama sisa hidupku.
Aku pun keluar dari ruangan staff setelah membereskan semua barang-barangku. Dengan sebuah box ditanganku aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit tempat aku biasanya berlari-lari. Dari ujung koridor terlihat hospital couple favoritku berdiri. Mereka adalah kakak dan kakak ipar FanFan, Yang ge dan Hexin Jìejie. Aku tersenyum dari kejauhan, berjalan mendekat menghampiri keduanya.
"Gege, Jiejie…" sapaku
Hexin jiejie menggenggam tanganku, "Nanti malam datanglah ke apartmen. Tengoklah Xiao Lu sebelum kau pergi"
"Kau memang sudah putus dengan FanFan, tapi kau tetap akan menjadi adik dan temanku Xiao Xi" timpal Yang ge
Aku tersenyum mendengar kedua kerabat dekatku ini. Entah kenapa aku merasa berat meninggalkan kota Beijing yang sudah menjadi saksi bisu hari-hariku selama 1,5 tahun ini.
*/
Malam ini aku benar-benar pergi ke apartemen Hexin Jiejie. Aku mau melihat keponakan FanFan yang sudah lama tidak aku lihat.
"Xiao Lu, keponakanku kau sudah semakin besar yah. Ini, bibi punya ampao merah untukmu" ujarku sambil menyelipkan ampao kedalam selimut bayi mungil itu
"Kelak saat kau sudah sukses kau harus memberinya lagi" ledek Hexin jiejie
Hexin jiejie melanjutkan, "Aku akan menyiapkan sesuatu untuk kau makan setelah menidurkan bayi ini"
Aku berjalan masuk lebih dalam ke sudut apartemen YangYang gege. Kamar dengan pintu berwarna putih tampak tertutup rapat, terlihat sudah lama tidak ada yang menempatinya. Ku buka pintu kamar itu, tampak gelap dan sunyi. Aku menyalakan lampu kamar, dan melihat tumpukan buki-buku medis yang tersusun rapi di dalam lemari kayu.
Gorden yang tertutup rapat menutupi pemandangan indah kota Beijing yang bisa terlihat dari balik jendela bening besar itu. Tidak banyak debu yang aku temukan, nampaknya Hexin jiejie rajin membersihkan kamar yang ditinggal pemiliknya ini.
Aku duduk di kursi belajar yang ada di kamar itu, di atas meja aku melihat catatan-catatan kecil. Beberapa resep obat dan diagnosa penyakit tertulis rapi di atas sticky note yang tertempel dibuku-buku medis itu. Beberapa catatan itu tampak sudah berdebu karena sudah 2 bulan di tinggal pemiliknya.
"Apa sekarang kau juga sedang belajar?" Kataku
Di dalam kotak dibawah meja aku melihat koleksi kamera FanFan yang tidak dia bawa. Kamera yang selalu ia banggakan, kamera yang selalu ingin dia beli. Aku teringat saat ia merengek seperti anak kecil hanya karena ingin membeli sebuah kamera.
Aku mulai emosional, "Kau di telantarkan oleh tuanmu yah?"
Suara lembut datang dan menyahuti ucapanku, "Kau merindukannya yah?"
"Sangat, aku masih sangat merindukannya Jie"
"Kenapa kau tidak menelponnya? Kau harus mencoba menghubunginya. Atau…apa kau mau aku menelponnya sekarang? Aku akan berpura-pura menelponnya agar kau bisa mendengar suaranya" kata Hexin Jiejie
Aku menggelengkan kepala, menolak saran dari ibu Xiao Lu itu. Aku hanya akan semakin merindukannya ketika mendengar suaranya. Aku sudah berusaha melupakan FanFan, menjalani hari-hariku tanpa suara nya, jadi aku sudah terbiasa.
Setelah puas ngobrol bersama Hexin jiejie aku berpamitan untuk kembali ke apartemen Dery gege. Masih banyak barang yang harus aku bereskan.
__ADS_1
"Kau jaga diri baik-baik yah, maaf aku dan YangYang tidak bisa mengantarmu ke bandara. Tapi kami janji kok, kami akan ke Shanghai untuk merayakan tahun baru disana" ujar Hexin jièjiè
"Aku akan menunggu kalian"
Pertemuan kami hari ini diakhiri dengan pelukan hangat.
*/
Masih ada satu orang yang ingin aku temui sebelum pulang. Aku menelpon orang itu dan mengajaknya bertemu. Dia adalah Li Yu, pacar kakakku. Ada sesuatu dibenakku yang ingin aku sampaikan padanya.
Aku menunggunya di depan apartemen Li Yu. Malam sudah terlalu larut, akan susah jika aku memintanya untuk datang ke tempatku. Dengan berlari-lari Li Yu datang menghampiriku. Seperti biasa, dia akan tetap terlihat cantik walau hanya memakai pakaian rumahan.
"Ayo kita bicara di apartemenku, disini dingin" tangan langsingnya menarik tanganku.
Aku menggenggam tangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepala aku menolak tawarannya itu.
Lalu aku bilang padanya, " Aku akan kembali ke Shanghai besok. Aku hanya ingin menitipkan kakakku padamu. Aku percaya padamu Li Yu"
Li Yu tersenyum, "Aku mengerti, kau jangan khawatir"
Aku merasa lebih tenang sekarang, aku harap mereka berdua bisa bahagia. Akan sia-sia aku putus dengan FanFan kalau mereka tidak bahagia.
*/
Di apartemen, Dery ge membantuku berkemas. Dia sibuk berbicara dengan ibuku sementara tangan kirinya berusaha meraih koper dari atas lemari.
Ibuku menelponku untuk memastikan semuanya sudah siap. Tidak banyak barang yang aku bawa, hanya baju dan beberapa dokumen penting.
"Aku sudah mengirimkan tiket pesawatmu lewat WeChat" kata Dery ge
Aku membuka ponselku untuk memastikan kakakku tidak usil lagi. Pupil mataku membesar begitu melihat gambar tiket yang ada di Wechat.
"Ge, kau memesan kelas bussiness lagi? Ini kan sangat mahal? Kau menghabiskan berapa Yuan? Eh ini notifikasi apa lagi…?"
"Hendery Wong, apa kau sakit? Gege, kau waras kan?
"Tentu saja. Biarlah, lagi pula ini tidak seberapa dan anggap saja ini adalah ampao natal untukmu. Selamat atas kelulusanmu Xiao Mei Mei"
(Xiao Mei Mei : adik (perempuan) kecil)
Notifikasi kedua yang membuat mataku melebar itu adalah informasi saldo. Kakakku mengirimkan uang ke rekeningku, jumlahnya sangat banyak. Dia menghamburkan banya uang untukku hari ini, mulai dari tiket pesawat sampai ampao natal.
"Xiexie gege.." aku memeluk kakakku
"Jangan kekanak-kanakan lagi" balas Dery gege
Malam ini adalah malam terakhirku di Beijing. Semua barang bawaanku sudah siap. Aku siap berangkat besok.
Aku mengambil bukuku dan masuk ke kamar untuk beristirahat. Aku masuk ke kamar tempat FanFan dulu tidur. Kamarnya masih bersih, itu karena aku selalu membersihkannya.
Terkadang di malam hari aku suka masuk ke kamar ini hanya untuk membaca buku. Aku ingin merasakan apa yang FanFan rasakan saat duduk dan belajar sambil memandang kelap-kelip kota Beijing dari jendela kamarnya.
"Selama ini kau melihat kota Beijing dan kau tidak pernah memberitahuku kalau pemandangan disini sangatlah indah " bisikku dalam hati
*/
Keesokan harinya...
"Xiao Xi, ayo bangun! Apa kau mau ketinggalan pesawat? " Teriak Dery ge
"Benarkah, ya ampun. Aku mandi dulu ge"
Kakakku terlihat jengkel sekali, dia harus ke Rumah Sakit pagi-pagi sekali. Tapi sebelum itu dia harus mengantarku ke Bandara. Wajahnya yang menjengkelkan itu mungkin tidak akan aku lihat lagi selama beberapa hari ke depan, jadi lucu saja melihat wajah masamnya itu.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Dery ge
"Oh, sudah tidak ada lagi kok"
Dengan tergesa-gesa kami keluar dari apartemen. Mobil kakakku melaju dengan cepat menuju bandara. Begitu sampai, tanpa basa-basi kakakku menurunkan koper dari bagasi mobilnya. Dia memelukku lalu bergegas pergi lagi.
"Kau hati-hati yah. Telpon aku kalau sudah sampai" katanya dari balik kaca mobil
Penerbanganku terjadwal pukul 9 pagi. Masih ada 1 jam sebelum pesawat take off. Aku pergi menuju waiting room dan mencari restoran. Karena kesiangan bangun, aku tidak sempat makan tadi.
Dari belakang tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan melihat wajah laki-laki tampan sedang tersenyum padaku. Itu adalah Shangyan.
"Eh, kenapa kau bisa ada disini?" Tanyaku
"Aku akan kembali ke Shanghai. Kau sendiri?" Balasnya
Aku, "sama"
Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Shangyan. Kebetulan juga pesawat yang ditumpanginya juga sama dengan pesawat yang akan membawaku ke Shanghai. Kami memutuskan untuk pergi bersama.
"Kemana FanFan? Bukankah seharusnya kalian bersama?" Tanya Shangyan
Sejenak aku terdiam mendengar jawaban Shangyan. Lalu kemudian tersenyum tipis dan menjawab, "Dia ke Amerika"
"Hah? Kapan?"
"2 bulan yang lalu" jawabku dengan senyum yang masih pahit.
Setelah mendengar jawabanku itu Shangyan tidak kembali bertanya padaku. Dia mungkin tau kapan dia harus berhenti bertanya.
Tak lama berselang pengumuman keberangkatan pesawat pun terpampang di Information Board. Aku dan Shangyan pun masuk ke dalam pesawat.
Aku kembali teringat kenanganku dengan FanFan, saat pertama kali akan pergi ke Beijing, FanFan membantuku memasang safety belt. Dia meledekku karena aku tidak bisa memasangnya.
Saat kedua kalinya kami pergi ke Beijing untuk menjalani coass kami tepatnya 1,5 tahun yang lalu, FanFan memberikan bahunya untuk aku sandari. Andaikan kami tidak putus, apakah dia akan duduk di sampingku dan memberikanku bahunya lagi?
Tidak ada gunanya aku menyesalinya sekarang. FanFan sudah pergi dan mungkin sekarang dia sedang membenciku di Amerika sana.
"Kau tidak apa-apa Crystal?" Tanya Shangyan yang duduk di belakang kursiku
"Aku baik-baik saja, bisa kau bangunkan aku saat kita sudah sampai di Shanghai?" Kataku
"Oh, aku akan membangunkanmu. Kau istirahat saja".ujar Shangyan
'Pesawat China Airlines tujuan Beijing-Shanghai akan segera lepas landas. Di mohon kepada seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduk masing-masing, mengencangkan seat belt, membuka penutup jendela, dan menegakkan sandaran meja'
Tak lama setelah informasi dari awak pesawat, pesawat kami pun lepas landas meninggalkan Beijing Capital International Airport.
Diatas ketinggian langit, hatiku berkata ' FanFan, benci aku kalau memang itu bisa membuatmu lega. Kutuk aku sebanyak kau mau kalau itu bisa meredakan kemarahanmu padaku'. Aku meninggalkan hutang pada FanFan, hutang maaf yang entah kapan akan aku bayar.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1