
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
"Xiao Jiejie, kau tidak apa-apa?" tanya Gong Jun.
Aku tersadar dari lamunanku setelah kedua tangannya itu melambai-lambai padaku. Itu adalah tangan Gong Jun lagi.
"Kau tadi memanggilku apa?" Kataku dengan nada sedikit keras.
Gong Jun membungkuk, "Maafkan aku, tadi aku memanggilmu 'dokter' berulang kali. Tapi kau tidak menjawabku. Sepertinya dokter sedang memikirkan sesuatu."
"Ah, bukan itu. Hahahhah, aku hanya ada sedikit masalah, bukan sedikit, mungkin besar." Nada bicaraku mulai menurun.
Aku melanjutkan, "Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Gong Jun, mahasiswa yang ikut pertukaran pelajar ke Jepang itu ternyata adalah seorang coass di rumah sakit kami. Dia adalah dokter muda yang magang dan kebetulan kami berjodoh untuk bertemu lagi.
"Dokter, maafkan aku soal ponselmu tempo hari, aku akan segera menggantinya." kata Gong Jung.
"Eh, jangan. Tidak perlu, aku sudah memiliki yang baru." kataku seraya menolak.
Tiba-tiba Profesor Su datang dan menyela kami berdua," Gong Jun, ayahmu memanggilmu."
Ayah? Apa ada orangtua mahasiswa yang mengunjungi anaknya yang sedang magang? Lucu sekali orangtua Gong Jun ini, aku rasa dia adalah anak mama yang sangat dicintai orangtuanya.
Gong Jun tersenyum,"Kau ada-ada saja Profesor."
Bagaimana mungkin seorang coass bersikap santai seperti ini pada seorang kepala departemen? Apa dia kenalan Profesor Su? Aku saja yang dulu yang mempunyai kakak seorang ahli bedah tidak berani untuk menegakkan kepalaku saat berbicara pada seorang senior. Tapi lihatlah pemuda tampan ini?
Gong Jun berlalu dengan senyumannya. Profesor Su acuh tak acuh,"Dasar bocah licik itu!!"
Aku,"Eh kau mengenalnya?"
Aku terkesima dengan apa yang barusan keluar dari mulut kepala departemen bedah umum ini, apa telingaku tidak salah dengar? Ternyata Gong Jun adalah anak dari direktur rumah sakit.
Pantas saja dia memaksa sekali saat ingin mengganti ponselku. Aku hanya tidak ingin membebani mahasiswa sepertinya, aku tau betul bagaimana kerasnya kehidupan seorang mahasiswa. Tapi nyatanya Gong Jun bukanlah mahasiswa yang seperti itu, dia adalah putra seorang direktur rumah sakit. Label kaya yang terpampang di dahinya memang tidak bisa berbohong.
*/
Kembali ke permasalahan awalku. Aku mendiskusikan beberapa hal penting dengan Profesor Su, hal yang lebih penting dari pada kenyataan kalau Gong Jun adalah putra seorang pimpinan rumah sakit.
"Apa?!" Profesor Su terkejut.
Aku menemukan fakta bahwa pasien yang sedang bermasalah itu juga mengkonsumsi obat penekan asam lambung tipe PPI.
(PPI / Penghambat pompa proton /Proton pump inhibitor) adalah kelompok obat yang digunakan untuk menurunkan kadar asam lambung)
"Bukankah kau sudah mengetahuinya? Kau sendiri yang memeriksanya sebelum memutuskan untuk memberinya antibiotik kan?" Kata profesor Su.
"Itu memang benar, tapi aku bertaruh dia mencampur keduanya. Maksudku penggunaan PPI ini, dia hanya mengatakan kalau dia sudah berhenti meminumnya." balasku.
Profesor Su bergumam," itulah sebabnya, pasien harus jujur saat melakukan konsultasi."
Obat PPI yang diminum oleh bocah itu dapat memperparah abses hatinya. Abses yang awalnya aku kira akan mengering setelah pemberian antibiotik malah menjadi semakin parah. Dan karena inilah dia harus menahan rasa sakit dan parahnya ibunya menyalahkan aku atas apa yang putranya itu rasakan.
Profesor bangkit, "Ayo, ikut aku. Mereka harus mendengarkan ini."
__ADS_1
Profesor Su menarikku dan membawaku sampai ke kamar VIP itu. Dia bilang masalah ini harus terselesaikan sebelum sampai ke telinga komite disiplin rumah sakit.
Maka terbukalah pintu VIP itu, 3 orang berada didalam kamar mewah itu. 1 pemuda yang terbaring lemas dan dua orang paruh baya berusia sekitar 50 tahun. Ibu pemuda itu tampak garang, seolah akan melahapku dan Profesor Su yang baru datang,"Apa kalian tidak punya sopan santun?"
Profesor Su hampir mengumpat, tapi tanganku memegang tangannya. Aku maju kedepan dan mulai berbicara pada nyonya VIP itu, "Kami memang tidak tau sopan santun, tapi sikap anda lebih parah dari pada kami."
Nyonya kaya raya itu memekik menahan amarah,"Apa yang kau katakan tadi?!"
Aku kembali melanjutkan,"Bukankah anda menampar saya di depan semua orang tadi? Memarahi kepala departemen tanpa menunggu penjelasan dari dokter penanggungjawab putra anda. Saya bahkan belum menjelaskan apa yang sedang terjadi dan anda sudah menampar saya."
Ayah pemuda itu menyela," Maaf, apa benar istri saya menampar anda dokter?"
Aku mengangguk dengan ragu. Tapi kelihatannya tuan ini lebih baik dari pada istrinya, dia tampak tenang dan berbicara dengan sopan.
Aku kemudian melanjutkan,"Sekarang izinkan saya bertanya pada putra anda.."
Aku melangkah maju, lebih dekat ke arah ranjang. Pemuda yang tampak sangat lemas itu menatapku, bibirnya berkedut seolah tau bahwa rahasianya akan terbongkar.
"Xiao pengyou, terakhir kali saat kau berkonsultasi padaku apakah kau berbohong?" tanyaku.
(Xiao Pengyou : teman kecil)
Pemuda itu diam, dia semakin terpojok saat beberapa orang yang melihat kejadian ini berhamburan diruang VIP. Aku mengeluarkan catatan medis pemuda itu, "Kau masih mengkonsumsi obat ini kan?"
Mata pemuda itu bergetar, mulutnya tetap bungkam, hingga akhirnya dia mengangguk tanpa sepatah katapun. Ibu bocah itu tampak terkejut.
"Obat apa yang kau maksud dokter?" tanya nyonya itu.
"Obat ini adalah obat penekan asam lambung golongan PPI. Terakhir kali saya bertanya pada putra anda apakah dia masih meminumnya atau tidak, dan dia menjawab tidak! Itulah mengapa saya memberinya antibiotik terlebih dahulu. Dan mengenai absesnya, apakah nyonya tau? kalau dia sudah terlalu lama mengkonsumsi obat ini sampai akhirnya kondisi hatinya bertambah parah?" kataku panjang lebar.
Amarah terpancar dari mata sang ibu, dia berbalik ke arah putranya dan mulai membentak pemuda yang terbujur di ranjang rumah sakit itu, "Kenapa kau meminumnya? Apa kau mau mati!!?"
Pemuda itu sudah tidak tahan, sepertinya ada luapan emosi yang ingin ia keluarkan saat mendengar ibunya membentaknya.
Suasana di kamar VIP yang awalnya memanas berubah menjadi biru. Pemuda itu menumpahkan semua amarah dan kekecewaannya pada sang ibu, sementara sang ibu hanya diam membatu.
Pemuda itu kembali terisak,"Aku menyembunyikan semua ini karena aku tau kalau mama dan papa tidak akan pernah peduli. Jadi kuputuskan untuk menguji kalian, aku ingin tau apakah kalian masih akan bertanya soal nilai padaku saat aku sudah terbaring kaku disini?"
Kami semua terdiam mendengar perkataan bocah ingusan itu. Dia bahkan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menguji kedua orangtuanya. Betapa putus asanya pemuda ini sekarang, membuat hatiku kembali tersayat.
Aku kembali teringat orangtuaku, terutama ibuku. Dia selalu memarahiku dan mengomeliku bukan tanpa alasan, di usiaku yang sudah bukan remaja ini aku baru sadar kalau ayah dan ibuku adalah orangtua terbaik yang selalu merawat putra-putrinya.
Saat melihat keluarga kaya raya yang ada didepanku ini aku berpikir, 'Anak bukanlah hutan yang bisa di eksploitasi oleh orangtua, anak adalah pohon kecil yang harus di rawat agar dia tumbuh menjadi pohon yang kuat. Dan orang tua, orang tua bukanlah seorang monster yang harus membuat anak mereka melakukan apa yang mereka sukai'.
Nyonya VIP yang tadinya masih terlihat menyebalkan itu seketika berubah. Monster yang aku lihat didalam dirinya telah berubah menjadi sosok ibu peri yang penyayang. Dia langsung berjalan mendekat ke putranya yang tengah menangis tersedu-sedu lalu merangkul putranya itu dengan dekapan hangat.
Nyatanya ada 2 pelajaran yang aku dapat dari kejadian ini, yang pertama adalah kejujuran dan yang kedua adalah kasih sayang. Komunikasi yang tidak jujur hanya akan melahirkan boomerang, ketidakpercayaan pada seseorang yang kita cintai hanyalah awal dari kehancuran sebuah hubungan. Sedangkan kasih sayang adalah pemanisnya, kasih sayang yang tulus akan meluluhkan hati yang keras, sama seperti hujan yang perlahan-lahan mengikis bebatuan yang keras.
Nyonya itu berbalik padaku setelah melepas pelukannya, dia menunduk dan berjalan ke arahku. Awalnya aku mengira dia akan menamparku atau menghinaku lagi, tapi bukan itu yang terjadi.
"Saya minta maaf dokter. Semua ini adalah salah saya, saya terlalu egois dan hanya bisa memaksakan kehendak saya sendiri" kata nyonya itu sambil terisak.
Suhu tangannya sungguh berbeda, saat ia menamparku beberapa saat yang lalu suhu tangannya meningkat, yang artinya dia sedang marah. Tapi sekarang tangannya sedingin salju, yang artinya dia kekurangan oksigen dan merasa sedikit takut.
Tangan wanita paruh baya itu menggenggam tanganku dengan erat. Seolah akan berlutut didepanku, ibu pasien ini terus terisak sambil meminta maaf. Aku yang melihatnya menjadi tidak tega, usianya hanya sedikit lebih muda dari ibuku. Bagaimana mungkin aku membiarkan wanita yang berusia hampir separuh abad ini berlutut padaku?
"Eh, eh, Bu, anda tidak perlu melakukan ini." Aku memegang tangannya lebih erat.
Aku membantunya berdiri lebih tegak, "Aku tidak apa-apa, hanya saja kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi. Putra anda adalah anak yang cerdas, dia berusaha membahagiakan orangtuanya. Oleh karena itu bapak dan ibu juga harus membuatnya bahagia. Jangan menekannya lagi."
__ADS_1
Ayah pemuda itu menyahut,"Maafkan kami dokter, kami akan lebih memperhatikannya. Tolong dokter bantu anak kami ini untuk sembuh."
Aku membungkuk 15 derajat,"Saya akan berusaha."
Aku berlalu meninggalkan keluarga yang sedang bahagia itu. Siapa sangka semua masalah ini akan berakhir damai. Tapi wajah Profesor Su masih gelap, dia sepertinya masih belum menerima kenyataan ini.
"Sudahlah, bukankah ini akhir yang baik?" kataku.
Profesor Su acuh tak acuh,"Kau terlalu baik, eh aku hampir saja akan menuntut penyihir tua itu. Dan apa maksudmu ini akhir yang baik? Lihatlah bibirmu yang robek itu, kau kira wakil direktur akan membiarkannya? Lihat saja nanti, apakah ini akan berakhir seperti yang kau katakan tadi."
Aku diam, aku mendengarkan perkataan profesor Su dengan saksama. Aku tidak sedang berfikir untuk membantah ucapan kepala departemen bedah umum itu. Tapi kata 'Wakil Direktur' yang keluar dari mulut Profesor Su itulah yang membuatku bergidik. FanFan yang sedang berada di Tokyo itu akan segera menelponku dan menceramahiku.
Profesor Su kembali melajutkan omelannya,"Hah, kenapa Xiao Mei Mei? Apa sekarang kau takut kalau suamimu itu akan memarahimu?"
(Xiao Mei Mei : Adik kecil)
Seseorang tiba-tiba datang dan mengacaukan ledekan Profesor Su, dia adalah Gong Jun.
"Profesor Su, dokter Wong, apakah kalian tidak lapar? Ayo kita makan siang bersama, aku akan mentraktir kalian." kata Gong Jun.
Bocah kemarin sore ini sungguh berani, dia bahkan mendongakkan kepalanya saat berbicara padaku dan Profesor Su. Aku penasaran pada bocah ini, apakah dia hanya bermodalkan ayahnya saja bisa bertindak seperti ini? Aku jadi ingin melihat kemampuan bocah tengik ini.
Wajah Profesor Su berubah menjadi cerah," Wah, baiklah. Ayahmu adalah direktur rumah sakit, jadi kau pasti kaya. Kami akan mengandalkanmu."
Tanpa adanya jawaban dariku, Profesor Su langsung menarik tanganku. Kami bertiga pergi ke kantin Rumah Sakit. Tumpukan menaraku kali ini kalah dari Profesor Su, aku tidak nafsu makan. Pikiranku hanya terpusat pada Liu FanFan, aku harus menyiapkan alasan yang tidak akan membuatnya khawatir.
Gong Jun membuka topik pembicaraan,"Eh, tadi profesor bilang 'suamimu' pada dokter Wong? Apa dia sudah memiliki suami?"
Aku menyela,"Panggil saja aku Dokter Crystal."
Profesor Su bersemangat setelah sepotong sosis masuk ke dalam mulutnya," Tentu saja, mereka baru saja menikah. Suaminya adalah orang yang hebat, dia juga orang kepercayaan papamu."
Gong Jun,"Siapa?"
Profesor Su," Liu FanFan, wakil direktur Liu FanFan."
Gong Jun," Wah, bukankah dia si jenius. Yah, papaku selalu membangga-banggakannya. Sayang sekali…"
Profesor Su," Sayang sekali kenapa?"
"Aku tertarik pada dokter Crystal." kata Gong Jun
Aku yang mendengar ucapan konyol bocah ini langsung memukul kepalanya menggunakan sumpit. Aku tidak peduli apakah dia adalah anak direktur atau perdana menteri sekalipun.
"Kau bocah, jangan bicara sembarangan!" kataku.
Gong Jun,"Aku tau, aku tau."
Kemarahanku pada Gong Jun tiba-tiba sirna setelah layar ponselku menyala. Itu adalah panggilan dari FanFan.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
__ADS_1
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰