
*Beijing United Family Hospital*
"Kau sudah memeriksa pasien yang ada di bangsal ?" Tanya dokter Zhang padaku
"Iya dan ini laporan grafik pasien" aku menyerahkan laporan pasien untuk morning report hari ini.
Tiba-tiba datang pasien darurat ke IGD, remaja laki-laki yang menderita depresi. Dia mencoba bunuh diri dengan cara menyayat tangannya. Remaja itu bahkan masih berontak ketika akan ditangani, beberapa tenaga medis kewalahan menangani pasien itu hingga akhirnya staff keamanan membantu.
Beruntung pasien itu menjadi tenang setelah dokter Zhang menyuntiknya dengan obat penenang. Hingga akhirnya Dokter Zhang pun menjahit luka remaja laki-laki itu, beruntung urat nadinya tidak terpotong.
"Self Injury, kenapa anak ini melakukannya?" kataku.
(Self-injury; perilaku menyakiti dan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja.)
"Cut!!" bentak dokter Zhang.
"Maaf" kataku.
Aku benar-benar tidak fokus saat dokter Zhang menyuruhku memotong benang, akibatnya dia pun memarahiku. Selang beberapa saat, kejadian tidak terduga terjadi. Remaja yang mengalami depresi itu berteriak dan mengamuk di IGD. Dia mencoba menyerang staff medis dengan pisau bedah yang ia temukan di ruang Hybrid.
Takut akan terjadi sesuatu pada staff dan pasien di IGD, suster menghunungu staff keamanan. Hingga akhirnya mereka datang dan berusaha mengatasi remaja itu, para pasien dan dokter ketakutan. Aku juga takut pasien itu melukai dirinya sendiri.
"Pasien, ku mohon tenanglah yah. Kami tidak akan menyakitimu, kemarikan pisau yang kau pegang itu yah.."ujar dokter Zhang yang berusaha menenangkan pasien itu.
Dokter Zhang mendekati remaja itu secara perlahan untuk mengambil pisau bedah itu. Tapi di saat yang bersamaan, aku melihat pasien itu mengarahkan pisau bedah itu ke dokter Zhang. Aku berlari dan mendorong dokter Zhang.
"Ah…"
Akibatnya lenganku terkena sayatan pisau bedah itu. Lenganku mengeluarkan banyak darah, sesaat aku masih tersadar dan melihat petugas keamanan berhasil mengamankan pasien itu, hingga pada akhirnya aku jatuh dan tak sadarkan diri.
Setelah beberapa saat aku terbangun, aku melihat Dokter Zhang sedang menjahit lenganku. Aku melihat lenganku penuh dengan darah.
"Kau jangan khawatir aku sudah memberimu LA " ujar dokter Zhang.
(local anesthetic / anastesi Lokal ; pembiusan pada area tubuh tertentu)
"Kenapa kau melakukannya? "tanya dokter Zhang.
Dokter Zhang bertanya kenapa aku menyelamatkannya, padahal selama ini dokter Zhang selalu berbuat semena-mena padaku. Tanpa berpikir. kata-kata bijak keluar dari mulutku.
"Aku berusaha keras melenyapkan penderitaan manusia. Meningkatkan kondisi kesehatan manusia. Dan menjunjung tinggi kemurnian dan kehormatan kedokteran (sumpah dokter di Cina). Bukankah begitu bunyi sumpah dokter yang harus aku tanamkan sejak aku menjadi mahasiswa kedokteran. Bukankah dokter harus mempunya jiwa seperti ini" balasku pada dokter Zhang.
Dokter menyelesaikan jahitan pada lenganku dengan rapi. Dia membuka sarung tangan lateks yang penuh dengan darahku itu. Di lemparkannya sarung tangan itu ke tempat sampah. Lalu dia berbalik menatapku.
"Terima kasih Crystal" ujar dokter Zhang dengan senyum tipis di wajahnya.
Tak lama kemudian kakakku dan FanFan datang. Mereka pun menghampiriku, FanFan dan kakakku tampak khawatir padaku
"Kalian tenang saja, beruntung sayatannya tidak dalam sehingga tidak mengenai saraf dia hanya menerima 7 jahitan. Aku juga sudah memberinya antibiotik " ujar dokter Zhang.
"Gē, aku baik-baik saja, kau jangan khawatir" ujarku pada kakakku yang terlihat hampir menangis.
"Bukan itu. Aku takut mama akan marahiku, kalau tau kau mengalami kecelakaan." balas kakakku.
__ADS_1
"Apa kau mau aku menendangmu?" balasku
"Sebentar aku terima telpon dulu.." ujar kakakku sambil keluar dari ruang Hybrid tempatku terbaring.
Sementara FanFan terdiam melihatku, dia memang orang yang sangat tenang. Ketenangannya bahkan mengalahkan ketenangan di Gunung Taishan.
"Eh, apa kau akan mematung disitu? " ledekku.
"Apakah sakit sekali ?" Tanya FanFan sambil memegang tanganku yang terbalut perban. Sebagai calon dokter dengan IQ sempurna, tidak mungkin dia tidak tau rasa sakit yang aku alami sekarang. Dia tertunduk dan terlihat seperti akan menangis.
" Aku benar baik-baik saja. Kau jangan khawatir. Lihatlah ini kan hanya luka ringan"
"Lenganmu di jahit dan kau bilang luka ringan? kau bisa kehilangan banyak darah, apa kau sudah gila?" teriak FanFan hingga membuat orang-orang yang mendengarnya kaget.
"Baiklah. Aku salah, maafkan aku, aku akan berhati-hati.." ujarku.
Dokter Yu Tang membolehkanku pulang lebih awal, melihat kondisi lenganku yang baru di jahit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi aku memutuskan untuk pulang. FanFan berniat mengantarku, tapi aku menolaknya, aku memilih untuk pulang sendiri.
"Kau kembalilah, lagi pula kan yang sakit tanganku bukan kakiku" ujarku pada FanFan.
♡♡♡♡
*Apartemen*
Lengan kananku yang terluka membuatku susah beraktivitas, lenganku tidak boleh kena air, dan masih terasa sakit saat digerakkan. Aku juga tidak bisa banyak beraktivitas, terutama yang melibatkan tangan, kalau tidak jahitan di lenganku bisa robek. Sementara itu, banyak sekali pekerjaan rumah yang terbengkalai.
"Aiyo, kenapa tinggi sekali ? " aku mencoba naik ke kursi untuk mengambil jemuran di teras apartemen.
FanFan langsung menggendongku turun dari kursi dan membawaku ke sofa ruang keluarga.
Setelah berganti baju FanFan membantuku mengambil semua jemuran itu. Dengan tangannya yang terbiasa memegang gunting bedah, tangan FanFan tampak kaku ketika melipat jemuran yang bari di ambilnya tadi.
"Kau kenapa sudah pulang ?" tanyaku.
"Aku izin sakit.." jawab FanFan
Aku memeriksa dahinya tapi tidak panas, dia tidak demam, dia bahkan terlihat sangat sehat.
"Kau bohong yah ?" ledekku.
"Oh. Aku khawatir kau akan melukai tanganmu yang satunya lagi…" seru FanFan.
"Bunyi apa itu ? "tanya FanFan
Perutku tiba-tiba berbunyi karena lapar, aku memang tidak sempat makan sejak siang tadi, FanFan pun pergi untuk membelikanku makanan.
"Kalau kau butuh sesuatu yang lain panggil aku saja, kalau aku tidak ada,kau bisa memanggil Dery gē" ujar FanFan yang mulai bersikap seperti ibuku.
__ADS_1
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, kapan lagi aku bisa mengerjai FanFan.
"Kau mau kemana ?" tanya FanFan.
"Aku mau mencuci wajahku, lihatlah wajahku akan kusam dan penuh jerawat kalau tidak dibersihkan" kataku
FanFan akhirnya dengan suka rela membantuku mencuci wajah,dia membawakanku lap basah dan menyeka wajahku.
"Hi..hi..ingusmu? apa kau tidak ingin membuangnya?" ledek FanFan sambil memegang hidungku
"Aku sedang tidak beringus"
Beberapa saat kemudian...
"FanFan..bisa kau ambilkan aku buku di rak itu?"
"FanFan….FanFan…"
Sedikit-sedikit aku memanggil FanFan, aku menyuruhnya ini dan itu, tapi dia masih bersabar, tidak seperti biasanya. Ketika aku hendak tidur, FanFan masuk ke kamarku dan membawa banyak bantal, dia meletakkan bantal-bantal itu di sekelilingku.
"Kenapa kau menaruhnya disini? Kan sempit.."
"Aku tidak mau kau melukai tanganmu, bibi pernah bilang kalau kau tidur seperti kuda" ledek FanFan.
Dasar Ibuku, dia pasti sudah bercerita yang tidak-tidak pada FanFan. Tapi apa ibuku tau kalau aku sakit? Apa Dery gē mengabarinya, dan kenapa Dery gē belum juga pulang?
"Dery gē belum pulang ?" tanyaku pada FanFan.
"Dia akan tinggal di rumah sakit malam ini.." kata FanFan.
"FanFan, apa kau tidak akan keluar? Aku kan mau tidur"
"Aku akan tidur disini, menemanimu" balas FanFan.
Aku memaksanya keluar tapi dia tidak mau, dia tidur di sofa yang ada di kamarku. Rasanya pasti tidak nyaman, apalagi FanFan yang tinggi tidak akan muat di sofa itu. Hingga tengah malam aku tidak bisa tidur, aku mendengar suara gemerisik. FanFan terus membolak-balikkan badannya di sofa, kakinya yang panjang tampak menggantung di ujung sofa. FanFan pasti merasa tidak nyaman. Aku pun bangun untuk melihat FanFan.
"Bagaimana dia bisa menjagaku, dia sendiri kelelahan" ujarku sambil melihat FanFan yang tertidur.
"FanFan, kau sebaiknya kembali ke kamarmu, badanmu akan sakit kalau kau tidur seperti ini.." aku menepuk-nepuk FanFan dan menyuruhnya bangun.
"Kau terbangun? maafkan aku yah" FanFan pun bangun dan berdiri, tapi dia tidak keluar.
"Kalau begitu aku akan tidur disini, kau lihat ini? aku tidak akan melewati batas ini…" katanya.
FanFan justru naik ke tempat tidurku dan membuat pembatas dari bantal. Aku yang mengantuk pun terlalu malas untuk berdebat, tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Aku percaya pada FanFan.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍
__ADS_1
Mohon Dukungannya.