Love Me Now

Love Me Now
Break Up


__ADS_3

Musim semi berlalu, tandanya bulan Juni telah berakhir. Memasuki bulan ke 7 dimana sang mentari akan lebih bersemangat untuk muncul. 1 Tahun 3 bulan sudah, aku dan FanFan berada di Beijing untuk menjalani coass kami. Lamanya coass 1,5 tahun sampi 2 tahun. Tapi aku dan FanFan berambisi untuk cepat selesai.


Selama 3 bulan pula aku merahasiakan hubungan antara Li Yu dan kakakku padanya. Entah karena beruntung atau belum waktunya, tapi takdir masih belum membiarkan bom waktu ini meledak. Aku bekerja sama dengan Li Yu agar kakak dan pacarku tidak mengetahuinya.


*/


"Kalian telah bekerja keras selama ini, waktu kalian selama 2 bulan terakhir tidak akan terasa." ujar Dokter Yu Tang


"Benar sekali dokter" jawabku


Setelah menyelesaikan coass di Beijing, kami berencana untuk pulang ke Shanghai. Kami akan menjalani babak baru untuk menjadi dokter. Kalau takdir masih mau berbaik hati, maka FanFan tidak akan mengetahuinya sampai saat itu tiba.


Aku dan FanFan akan mengambil program residen di Shanghai, tepatnya di Shanghai United Family Hospital. Rumah sakit yang masih cabang rumah Sakit Beijing yang sekarang kami tempati untuk coass.


"Besok aku tidak ada jadwal pagi, bagaimana denganmu?" Tanya FanFan padaku


"Ah, aku besok akan berangkat setelah makan malam. Aku juga tidak ada jadwal jaga pagi" kataku


Malam ini kami masih harus jaga malam di rumah sakit dan pulang keesokan harinya.


*/


Keesokan harinya..


"Aku mau meminjam mobil YangYang gege tapi kau melarangku, aku capek berjalan dari halte bus ke apartemen" ketus FanFan


Jalannya sempoyongan karena mengantuk, matanya menolak untuk melihat bumi lagi.


"Kenapa kau pendek? Kalau kau tinggi kau bisa menggedongku" imbuhnya


Aku, "….."


Setelah berjalan menyusuri lorong, kami sampai di depan pintu unit apartemen kakakku. Aku menekan kode masuk dan pintu terbuka. Aku masuk kedalam, meletakkan sepasang sepatu di rak.


"Kami pulang…" suaraku menyusut begitu melihat seseorang


Buku yang aku pegang jatuh seketika, tanganku tiba-tiba lemas karena melihat sosok ini. Bukan hantu, tapi lebih seram daripada hantu. Aku lebih memilih melihat Jiangshi dari pada harus melihat Li Yu yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama kakakku.


(Jiangshi: Vampir China)


"Kau kenapa?" tanya FanFan yang heran melihat aku menjatuhkan buku yang ku pegang.


Dia memungut buku itu, matanya teralihkan ke arah ruang tamu. FanFan menjatuhkan buku itu juga.


"Li Yu.." ujar FanFan yang keheranan melihat Li Yu bersama kakakku.


Kakakku masih tidak tau apa-apa, " Kau mengenal Li Yu? Tidak heran sih, kalian dari SMA yang sama. Dunia ini memang sempit sekali yah"



FanFan keheranan melihat Li Yu, sementara Li Yu sendiri bingung harus berkata apa saat melihat aku dan FanFan. Tanpa mengatakan apa-apa FanFan menarikku keluar apartemen.


"Ayo ikut aku"


Jalannya yang tadinya pelan dan lelet, sekarang menjadi sangat cepat. Wajah FanFan serius, ekspresinya tak terebak. Antara marah dan heran, dia tidak berbicara apa-apa padaku.


FanFan melepaskan tangannya ketika kami sampai diluar apartemen. Dia terlihat sangat shock. Aku bisa membaca wajahnya, tergambar seribu pertanyaan di dalam benaknya. Pertanyaan yang harus aku jawab tanpa ada kebohongan lagi. Sekarang adalah saatnya bom waktu itu meledak.



"Kenapa bisa dia ada disana bersama kakakmu?" tanya FanFan


Aku masih diam, FanFan melanjutkan, "Tidak, tidak. Kenapai kau tenang sekali? Apa kau sudah mengetahuinya dari awal?"


"Xiao Xi, tatap aku dan jawab pertanyaanku!" Nada suaranya meninggi


"Maafkan aku, sebenarnya aku sudah mengetahuinya. Aku tidak mengatakannya padamu, karena aku takut kau akan bingung. Aku takut kau akan merasa tidak enak pada kakakku dan juga aku tidak bisa merusak kebahagiaan kakakku" kataku panjang lebar berharap FanFan tidak marah


"Sudah berapa lama?" Nada suara FanFan merendah


"Se..se..sejak kau pelatihan di Macau, 3 bulan yang lalu"


FanFan terdiam, dia nampaknya kehabisan kata-kata. Dia berputar membalikkan badannya, tangannya mengepal membentuk tinju. Kemudian dia berbalik lagi padaku.


"Aku memang sudah tidak ada perasaan apa-apa pada Li Yu, lalu apa masalahnya? Kau salah karena kau tidak bilang dari awal" balas FanFan


"Aku tau, aku hanya takut melihat reaksi Dery ge saat dia tau kau adalah mantan pacar Li Yu. Aku takut dia akan merasa tidak enak pada kita dan akhirnya mengorbankan kebahagiaannya. Aku tau persis bagaimana sifat kakakku.." ujarku


FanFan marah, "Lalu kau sendiri tidak memikirkan perasaanku? Kau menyembunyikan semua ini dan menanggung beban sendiri? Apa kau meragukan aku?"


"Maafkan aku"

__ADS_1


"Kembalilah ke apartemen, aku mau sendiri" kata FanFan


FanFan yang kesal pergi meninggalkanku, dia pergi entah kemana. Aku tidak mau mengganggunya dulu, aku tau dia butuh waktu untuk sendiri.


Aku kembali ke apartemen dan melihat kakakku sedang duduk sambil bermain laptopnya. Aku tidak melihat Li Yu, dia mungkin sudah pulang.


"Mana Li Yu?" Tanyaku


"Ah,dia sudah pulang tadi. Eh..FanFan kemana? kenapa tadi kalian tiba-tiba pergi?"


"Dia kerumah Yang ge" balasku


*/


Sudah sore, tapi FanFan belum kembali. Ponselnya dimatikan, WeChatku terabaikan. Sekarang aku tidak tau dia dimana, sementara langit mulai menggelap. Dari balik jendela kamae aku melihat awan putih bergerak pergi tertutupi awan hitam, sepertinya akan hujan.


"Dia kemana? "


Sejak siang tadi FanFan tidak kembali, berulang kali aku menelponnya tapi tidak ada jawaban. Ponselnya mati dan aku tidak bisa tau keberadaannya.


"Jie, apa FanFan ada disana?"


Aku menelpon Hexin jièjie dan bertanya apakah FanFan kesana, tapi Hexin jièjiè bilang FanFan tidak kesana. Lalu kemana FanFan pergi?


Hujan akhirnya turun, rintik demi rintik hingga akhirnya langit menumpahkan air banyak. Membasahi bumi dengan derasnya. Aku mengambil jaket dan payungku untuk mencari FanFan, aku tidak tau kemana dia pergi. Dia tidak pernah keluar kemana-mana selama di Beijing, jadi aku juga bingung harus menarinya kemana.


"Aku akan mencoba mencarinya ke Rumah Sakit saja"


Ketika akan keluar dan membuka pintu apartemen, aku melihat FanFan berada tepat di depan pintu dengan bajunya yang basah kuyup karena kehujanan.


"FanFan.."


"…"


Tanpa berkata apa-apa FanFan masuk ke kamarnya. Dia sepertinya masih marah padaku. Aku menunggunya keluar dari kamarnya, tapi dia tidak kunjung keluar kamar. Aku pun mengetuk kamarnya, tidak ada respon darinya.


"FanFan aku masuk yah"


Seperti masuk ke kandang harimau, aku masuk dengan hati-hati. Aku melihat FanFan tidur, aku mendekatinya dan melihat wajahnya yang pucat karena kedinginan.


"Kenapa dahimu panas sekali?"


"Kalau mau marah mau marah saja, jangan sakit seperti ini" ujarku sambil menyelimuti tubuhnya


Setelah mengompres dahinya, aku pun meninggalkannya agar dia bisa beristirahat. Sesekali aku kembali ke kamarnya untuk melihat FanFan dan mengecek suhu tubuhnya.


"Panasnya belum turun, apa aku bawa dia ke Rumah Sakit saja yah? Aku akan menelpon Dery ge"


Ketika hendak menelpon kakakku, tangan FanFan meraih tanganku, "Aku tidak apa-apa, aku haus. Bisa kau ambilkan aku air?"


Aku mengangguk dan bergegas ke dapur untuk mengambilkannya air dan makanan. Dia pasti lapar, beruntung aku sudah memasukkannya sup jahe.


"Ini…"


Dia kembali berbaring saat meminum seteguk air hangat yang aku bawakan. Tanpa memakan sup jahe itu, FanFan kembali membaringkan tubuhnya. Mungkin wajahku masih mengesalkan untuk dilihat, dia berbalik dan punggungnya menatapku.


Semalaman aku menungguinya, aku takut panas badannya tidak turun. Aku tidur dikursi kamar FanFan sambil sesekali bangun untuk melihat kondisinya.


Tak sadar, aku ketiduran. Aku terbangun setelah suara alarm ponselku berbunyi. Ketika aku membuka mata, aku mendapati diriku yang sudah ada di atas ranjang FanFan. Tapi aku hanya sendiri, tidak ada FanFan diruangan ini.


"Dia kemana?"


Karena tidak melihatnya, aku pun keluar kamar . Aku melihatnya duduk disofa sambil bermain ponsel


"Apa kau sudah baikan?" Tanyaku


"Ehm.." jawabnya


"Badanmu panas sekali tadi malam. Jadi aku mengompresnya" kataku lagi


"Ehm.." jawabnya lagi


Aku duduk di sampingnya dan mulai berbicara. Mengharapkan respon yang lebih baik dari pada jawaban 'ehm' yang terdengar menjengkelkan itu.



"Kau masih marah padaku yah? Maafkan aku, aku salah karena menyembunyikan semua ini dari mu" ujarku sembari tertunduk lesu


"Aku tidak marah padamu, aku hanya tidak tau bagaimana harus bersikap di depan kakakmu nantinya, apalagi kalau dia tau Li Yu adalah mantan pacarku" kata FanFan


Aku diam, aku bingung bagaimana harus merespon ucapannya. Apa yang aku pikirkan sama seperti yang FanFan pikirkan, semoga semuanya akan baik -baik saja.

__ADS_1


*/


Jam 8 pagi aku harus pergi ke Rumah Sakit, aku membiarkan FanFan beristirahat hari ini. Tapi dia sudah terlihat rapi seperti biasa, siap untuk berangkat ke Rumah Sakit.


"Kau jangan pergi, kau kan masih sakit. Aku akan menggantikan tugasmu" kataku


Nadanya dingin, "Tidak perlu, aku akan semakin stress ketika berada di rumah"


Sikapnya masih belum berubah, tadi dia memang bilang kalau dia sudah tidak marah padaku. Tapi aku mengenal FanFan begitu baik, rasa kecewanya padaku masih ada.


Seharian ini aku memikirkan masalahku dan FanFan. Dia benar-benar marah padaku, aku bingung harus berbuat apa. Aku menjadi tidak fokus bekerja gara-gara masalah ini.


Aku pergi ke nurse station karena melihat dokter dan beberapa perawat sedang mengobrol. Aku bergabung bersama mereka, berharap bisa sedikit lupa akan masalahku ini.


"Apa kau tidak akan kesepian nantinya?" tanya dokter Zhang padaku


Aku baru saja tiba dan bergabung, tapi dokter Zhang sudah bertanya padaku. Aku tidak mengerti apa maksud pertanyaanya itu.


"Dokter, kau berbicara padaku?"tanyaku yang keheranan


"Tentu saja.." jawabnya


Aku masih belum mengerti perkataan dokter Zhang itu, kesepian? apa maksudnya aku akan kesepian?


"Kau belum tau? Jangan bohong, kau pacarnya, seharusnya kau sudah tau" ujar dokter Chen yang juga keheranan melihatku


"Aku benar-benar tidak mengerti maksud kalian"


Apa yang aku tidak tau? Pacar? Apa mereka membicarakan FanFan? Kenapa dengan FanFan? Aku jadi terheran-heran dengan ucapan kedua dokter residen ini.


"Bukankah pacarmu yang jenius itu akan ke Amerika untuk melanjutkan progam residennya?" ujar dokter Zhang


Aku mengelak, "Mana mungkin? Kami akan kembali ke Shanghai setelah coass kami selesai" ujarku


Dokter Chen menyahut, "Jadi kau benar-benar tidak tau yah? Seluruh departemen sudah tau kalau FanFan terpilih untuk melanjutkan program beasiswa Residen di Amerika bersama putri Profesor Chen. Awalnya aku heran karena kau tidak panik, mengingat putri Profesor Chen juga cantik. Kalau aku jadi kau pasti aku sudah kebakaran jenggot"


Mendengar perkataan dokter Chen itu membuatku tidak percaya, aku pergi mencari FanFan untuk menanyakan kebenarannya. Aku melihatnya sedang duduk di ruangan staff.


"Aku mau bicara denganmu, bisa kita bicara di luar" ujarku


Aku membawa FanFan ke taman Rumah Sakit untuk berbicara dengannya.


"Aku dengar kau akan ke Amerika? Dan kau terpilih untuk melanjutkan program residenmu disana, apa benar?" Tanyaku


FanFan diam saja saat aku tanya, melihatnya diam seperti ini, pasti berita itu benar.


"Kau diam, artinya itu benar. Dan kau tidak pernah cerita padaku, kita sudah berjanji akan kembali ke Shanghai. FanFan waktu kita hanya sisa 2 bulan lagi, setelah itu kita akan kembali ke Shanghai"


FanFan menjawab dengan tenang, "Awalnya aku mau memberitahumu. Tapi aku rasa itu tidak perlu, lagi pula belum memutuskan apakah aku akan pergi atau tidak"


"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?"tanyaku


"Kau sendiri kenapa menyembunyikan hubungan kakakmu dan Li Yu? Ah..bukan hanya itu, kecelakaan yang hampir membuatku kehilanganmu 3 tahun yang lalu juga kau rahasiakan"


FanFan yang masih marah padaku mengait-ngaitkan masalah Li Yu yang tidak ada hubungannya dengan masalah kami sekarang. Aku yang mulai terbawa emosi dan tidak bisa mengendalikan diri.


"Itu berbeda, itu masalah yang berbeda FanFan. Kau hanya mencari celah untuk menutupi kesalahanmu"


FanFan menyahut, "Apanya yang berbeda? Kau takut kakakmu terluka kalau dia tau Li Yu adalah mantan pacarku, tapi kau sendiri tidak memikirkan aku, kau egois Xiao Xi."


Seperti peserta debat, kami saling bersahut-sahutan. Membela diri masing-masing dan terus berdebat. Tidak ada diantara kami yang mau mengalah.


"Oh! kau benar..aku memang egois. Aku hanya memikirkan kebahagiaan kakakku. Lalu kenapa tidak kita akhiri saja semuanya?" Ujarku


"Apa kau tau maksud kata-katamu itu?" Tanya FanFan


Tanpa menjawab ucapannya itu, aku pergi meninggalkannya. Dia masih berteriak memanggilku.


Kekecewaan yang kami rasakan membutakan mata dan hati kami. Aku yang begitu bodoh mengucapkan kata "perpisahan" itu mungkin akan menyesalinya suatu saat nanti.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰

__ADS_1


__ADS_2