
"Ge, awas!!"
Aku berteriak karena panik, mobil kami terdorong ke depan hingga menabrak lampu jalan. Mobil truk yang mendorong mobil kami itu pastilah melaju sangat cepat, hingga membuat mobil kami terdorong dengan kecepatan tinggi.
Kepalaku terbentur dan aku merasa pusing. Darah mengalir dari kepalaku, membuat sebagian penglihatanku menjadi kabur. Dengan kondisi penglihatan yang kabur ini aku melihat kakakku pingsan dengan posisi kepalanya bersentuhan dengan stir.
Tengah malam dan sepi, tidak ada suara manusia yang melintas. Hanya lampu jalan dan lampu mobil yang menyala berkelap-kelip. Dengan penglihatan yang nyaris kabur ini aku menekan tombol SOS di ponselku untuk meminta pertolongan.
Lokasi kami tak jauh dari rumah sakit, hingga tak lama berselang ambulance datang. Aku masih berusaha terjaga hingga saat tiba di Rumah Sakit. Kakiku masih kuat menopang badanku, saat itu hanya satu yang aku khawatirkan, nyawa kakakku.
"Kau, kau kenapa? Apa yang terjadi?" Dokter Chen yang sedang bertugas di IGD panik
Suaraku mulai bergetar, "Kami mengalami kecelakaan, aku tidak apa-apa, hanya sedikit lecet"
Dokter Chen melanjutkan, "apanya yang tidak apa-apa?"
Darah yang menetes dari kepalaku semakin banyak, mengalir dari sisi yang lain. Langit-langit tampak buram, mulai gelap, hingga akhirnya aku ambruk ditengah-tengah IGD.
*/
Seperti melihat bakteri menggunakan mikroskop, pandanganku mulai jernih. Aku tidak ingat sudah berapa lama aku terbaring di ranjang pasien. Bajuku yang berbau amisnya darah sudah diganti menjadi seragam pasien khas rumah sakit tempatku coass. Aku terbangun karena kepalaku yang nyeri, mungkin saja obat biusnya sudah hilang. Aku menyentuh benda putih yang melilit melingkari dahiku, itu adalah perban.
Suara perempuan yang amat sangat aku kenali menyapa, "Kau sudah sadar? Syukurlah.."
Itu adalah dokter Chen. Dia berada tepat disampingku dengan tangan kirinya memegang infus. Senyum menyeramkannya nampak, tapi anehnya aku lega saat melihat senyumnya itu.
"Sudah berapa lama aku tidur?"
Dokter Chen, "1 jam, kau tertidur saat aku menjahit kepalamu. Tenang saja, aku tidak merusak rambutmu"
"Gege, Dery, Hendery gege..dimana dia?"
"Kau tenang saja. Dokter Hendery pasti baik-baik saja, kami sudah melakukan Brain CT . Kami sisa menunggu hasilnya, semoga saja tidak ada luka serius. Aku juga akan melakukan Brain CT padamu, mengingat benturan di kepalamu itu cukup keras"ujar Dokter Chen
(Brain CT : CT scan otak)
Aku bangun dari tempat tidurku untuk melihat kakakku yang terbaring di ruang Hybrid. Tangan dokter Chen memapahku untuk membantuku berdiri. Tiba-tiba suara hentakan kaki mendekat, nampaknya bukan satu orang. Itu adalah kakak FanFan dan Istrinya, Hexin jiejie.
Hexin Jiejie panik, "Ya Tuhan! kau kenapa?
Lihatlah dirimu, apa kau tidak apa-apa? Kami langsung kesini begitu menerima telpon dari dokter Chen"
YangYang gege dan Hexin jiejie adalah satu-satunya keluarga dekat kami di Beijing. Jadi dokter Chen hanya bisa menghubungi mereka. Kedua kerabatku ini tampak sangat cemas dengan keadaanku dan Dery ge. Mereka masih mengenakan pakaian rumahan saat datang ke rumah sakit.
"Kau mau kemana?"tanya Yang ge
"Aku mau melihat Dery ge "balasku
Yang ge membantuku dengan mengambil kursi roda dan membantuku mendorong kursi rodaku ke ruangan Hybrid. Dari balik dinding kaca itu aku melihat kakakku terbaring di ranjang. Dengan bantuan selang dihidungnya dia menghirup oksigen. Tidak seperti aku yang hanya luka ringan, lukanya tampak lebih serius. Bantalan putih menempel di dahinya, menghalangi darah keluar lebih banyak dari kepalanya.
Aku mulai terbawa emosi, "Ge, bangunlah, kenapa kau harus seperti ini? Ini salahku, andai saja aku tidak menyuruhmu tinggal di rumah sakit, kau pasti tidak akan mengalami kecelakaan ini"
Untuk pertama kalinya selama aku hidup, aku melihat saudaraku yang selalu usil dan ceria terbaring lemah tak berdaya. Dia yang biasanya masuk ke ruangan Hybrid dengan jas putihnya sekarang malah harus terbaring menggunakan pakaian pasien.
Hexin jiejie dan Yang ge berusaha menenangkanku. Aku benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi, aku menyesal karena harus membiarkannya bekerja sampai kelelahan tadi.
"Ayo masuk, kau mau melihatnya dari dekat kan?" Kata Yang ge
Kursi roda berjalan maju, mendekat, membawaku lebih dekat dengan kakakku yang tengah tertidur. Wajahnya damai seperti orang tak berdosa. Aku menggenggam tangan kakakku yang dingin itu. Tanpa sadar aku mulai terbawa suasana dan kembali menangis. Meraung dan mangatakan omong kosong agar kakakku bangun.
"Eh, kau berisik sekali. Obat biusku tidak bekerja karenamu" ujar Dery ge dengan suaranya yang masih lemas.
Aku kaget, "Ge, kau sudah bangun? Ya ampun aku khawatir sekali"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, aku memeluk kakakku dengan tulus. Sangat erat, sampai dia hampir mengumpat.
"Aku tidak bisa bernapas.."ujar kakakku
Ruang hybrid yang seharusnya steril seketika menjadi pusat reuni. Dokter Yu Tang tiba-tiba datang dan bergabung bersama kami.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya dokter Yu Tang yang masih ngos-ngosan
"Mereka tidak apa-apa. Sepertinya hanya cidera kecil" ujar Yang ge
"Walau begitu, kalian harus tetap melakukan pemeriksaaan lanjutan" ujar dokter Yu Tang
Tak lama berselang, Li Yu datang. Dia terlihat begitu panik saat tau kakakku mengalami kecelakaan. Tidak ada orang yang memberitahunya, orang tidak akan percaya kalau dia datang karena mimpi buruknya tentang kakakku.
"Eh, ini ruangan hybrid. Kalian para dokter seharusnya tau kalau tidak boleh berkerumun disini" ujar Hexin Jiejie sambil menarik kursi rodaku.
Kami semua mengerti maksud dari ucapan kakak ipar FanFan itu. Ruang hybrid hanyalah alasan belaka, Hexin jiejie hanya ingin memberikan ruang untuk Li Yu dan kakakku.
Aku, Yang ge, Hexin jiejie dan dokter Yu Tang pun pergi dari ruang Hybrid. Kami meninggalkan Dery ge dan Li Yu yang sepertinya butuh waktu untuk berdua.
*/
"Yang ge, Hexin Jiejie, aku mohon jangan beritahu ayah dan ibu yah. Mereka baru saja kembali ke Shanghai, mereka akan sangat khawatir kalau tau kami mengalami kecelakaan " pintaku pada Yang ge dan Hexin Jiejie
Aku menyuruh mereka merahasiakan kecelakaan ini pada ayah dan ibu, aku takut mereka akan khawatir. Apalagi ibuku, dia pasti akan terbang ke Beijing segera setelah mendengar kabar kecelakaan kami ini.
Aku tau ini adalah hal yang salah, padahal aku dan kakakku pernah berjanji untuk tidak merahasiakan apapun dari ayah dan ibu, tapi aku rasa ini adalah jalan yang lebih baik. Yang ge dan Hexin jiejie hanya mengangguk.
Setelah diam, Yang ge melanjutkan, "Bagaimana dengan FanFan? Apa aku harus memberitahunya?"
"Jangan, dia akan pulang nanti malam. Aku khawatir dia tidak fokus dengan pelatihannya" ujarku
Yang ge dan Hexin Jiejie pun kembali setelah mengantarku kembali ke IGD. Mereka harus segera kembali karena Xiao Lu membutuhkan mereka.
*/
"Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?"tanya perawat
"Aku baik-baik saja, aku harus ganti baju aku harus kembali bertugas" ujarku
Dokter Chen tiba-tiba datang dan berteriak. Mengagetkan perawat yang berdiri untuk mengganti cairan infusku.
"Kau mau kemana? Aku doktermu dan aku tidak memperbolehkanmu pergi dari ranjang ini" ujar dokter Chen dengan mata nyaris keluar karena melotot
"Tapi dokter, aku.."
Jari-jari rampingnya mengisyaratkanku untuk kembali berbaring, tanpa adanya perlawanan aku menurutinya. Dokter Chen menyuruh perawat membawaku ke ruang rawat inap tempat kakakku dirawat. Mereka menempatkan kami dalam satu ruangan dengan dua ranjang bersampingan.
"Ge, apa kau benar-benar tidak apa-apa?"tanyaku
"Aku baik-baik saja, ngomong-ngomong ayah dan ibu…"tanya Dery ge
Aku memberitahu Dery ge untuk tidak perlu khawatir, karena ayah dan ibu tidak akan tau. Napas lega keluar dari lubang hidungnya, udara sudah bebas keluar masuk saat selang yang membantu kakakku pernapas semalam sudah dilepaskan.
"Ge, apa kau tidak bosan?" tanyaku pada Dery ge yang sedang asik memakan jeruknya.
Mulutnya penuh dengan jeruk mandarin, dengan mulut komat-kamit dia menjawab "Aku bosan. Tapi mau bagaimana lagi? Dokter Yu Tang akan memarahiku habis-habisan kalau tau aku bermain-main diluar"
"Benar juga.." balasku
Melihat bagaimana khawatirnya Li Yu pada kakakku semalam, aku penasaran bagaimana reaksi FanFan ketika melihatku seperti ini. Aku bahkan tidak mengabarinya kalau aku mengalami kecelakaan. Aku takut dia akan panik dan tidak fokus dengan pelatihannya di Macau. Lagi pula nanti malam dia akan tiba di Beijing.
Saat asyik chat dengan FanFan, dia tiba-tiba mengajakku melakukan panggilan Video. Bagaimana mungkin aku memperlihatkan perban putih yang menempel di dahiku?
"Kau kenapa tidak menerima panggilan videoku?" tanya FanFan
__ADS_1
"Aa..aku..wajahku sangat kusam dan berjerawat. Aku malu menunjukkannya padamu" ujarku
Aku terpaksa berbohong pada FanFan, walau pada akhirnya dia pasti juga akan tau.
FanFan mengatakan dia akan terbang dari Macau nanti malam dan akan sampai di Beijing tengah malam nanti. Sampai saat itu tiba aku masih bingung bagaimana caraku menjelaskannya pada FanFan. Dia akan marah padaku karena aku tidak berkata jujur padanya.
"Kau masih belum mengatakan padanya?"tanya Dery ge
"Oh. Dia pasti akan mengamuk nanti. Eh kalau dia kerasukan, gege bantu aku yah?"ujarku
Dery ge, "…"
*/
Hari menjadi gelap, tak lama lagi FanFan akan sampai di Beijing. Dia akan melihatku tidak ada di rumah. Dan aku berniat untuk memberitahunya segera setelah dia sampai dia sampai.
2 jam kemudian...
FanFan menelponku dan mengatakan kalau dia sudah sampai di Beijing. Dia berencana akan segera pulang ke apartemen begitu taksinya datang.
Aku menarik nafasku dalam-dalam, mengatakan hal ini pada FanFan terlihat sangat susah dibandingkan saat harus melakukan morning report didepan dokter konsulen.
Aku melanjutkan, "FanFan, aku tidak ada di apartemen. Aku sekarang ada di IGD rumah sakit tempat kita bertugas. Aku, aku mengalami kecelakaan.."
Tanpa merespon perkataanku FanFan mematikan telponnya. Dia mungkin saja sedang berada di jalan menuju ke rumah sakit. Aku membayangkan bagaimana ekspresinya nanti, dia akan mengamuk.
"Aku tidak mengatakannya karena aku takut kau akan.., eh tidak..tidak. Aku sebenarnya ingin mengatakannya, ah…Dery ge bantu aku.."
Aku berusaha membuat alasan yang bisa diterima oleh nalar FanFan. Berharap marahnya tidak berkepanjangan.
Seseorang mengetuk pintu. Aroma bunga crysan dari parfum ini sungguh lembut, itu adalah Li Yu yang datang menjenguk kakakku.
FanFan dalam perjalan kemari dan Li Yu sudah ada disini. Tidak mungkin aku memgusirnya di depan kakakku dan mustahil juga untuk menyuruh FanFan jangan datang. Aku khawatir mereka akan bertemut . Apa yang harus aku lakukan?
1 jam berlalu..
Dengan koper yang masih ia seret, dia datang dan menghampiriku di kamar inap. FanFan terdiam melihatku yang berada di ranjang pasien. Beruntung, saat itu Li Yu sedang keluar, ditengah kecemasan aku berharap dia tidak kembali dulu.
FanFan melepaskan tangannya dari kopernya. Dia mendekat dan memelukku. Nafas yang keluar dari hidungnya keluar dengan ritme cepat, menandakan dia ngos-ngosan karena berlari.
FanFan melepaskan pelukannya, suaranya meninggi" Kapan kau kecelakaan? Kenapa kau tidak bilang dari awal?"
Seperti dugaanku, dia marah besar karena aku tidak memberitahunya mengenai kecelakaan yang aku dan kakakku alami. Aku masih diam dan tidak menjawab, Dery ge juga diam, tanpa jawaban yang ia harapkan FanFan pergi meninggalkanku. Aku bangkit dari ranjang dan mengejarnya.
"Kau mau kemana? Kakimu masih sakit!!" Teriak Dery ge
Saat berjalan keluar, aku melihat FanFan berpapasan dengan Li Yu. Tapi sepertinya FanFan tidak melihatnya.
"Malam-malam begini dia kemana? Mana dingin lagi"
Setelah mengikuti FanFan cukup jauh, aku melihat FanFan duduk di bangku taman rumah sakit.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
__ADS_1
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰