
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
Tanpa sepatah katapun aku kembali masuk ke dalam kamar mandi, membawa semua pakaian yang aku ambil tadi. Begitu aku masuk dan menutup kamar mandi aku mulai memakai bajuku. Dan benar saja, aku benar-benar tidak memakai pakaian dalamku. Aku berdiam diri di kamar mandi cukup lama, duduk di atas closet sambil berharap FanFan sudah tertidur.
Aku bergumam, "Apa dia sudah tidur?"
Sudah cukup lama aku berada di dalam kamar mandi, tapi FanFan masih belum berteriak memanggilku, itu artinya dia sudah tidur.
Bak seorang pencuri, aku keluar dari kamar mandi dengan mengendap-ngendap. Aku menahan nafas agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dan benar saja, FanFan sudah terlelap dengan buku yang menutupi wajahnya.
"Huff.." aku sedikit lega.
Tanpa membuat suara aku merangkak naik ke atas tempat tidur, begerak seminimal mungkin agar tidak membangunkan FanFan. Melihat suamiku tidur dengan buku yang menutupi wajah tampannya itu membuatku sedikit tidak tega, jadi aku meraih buku berjudul "How to be Health" itu dan meletakkannya di meja yang ada di samping tempat tidur. Aku mematikan lampu, menarik selimut, dan bersiap tidur. Tapi tiba-tiba sesuatu terjadi di tengah kegelapan.
Aku hampir memaki, "FanFan, kau belum tidur?!"
FanFan ternyata tidak tidur, dia hanya berpura-pura tidur. Aku hampir mengumpat karena daun telingaku yang digigit olehnya. Dalam gelap gulita, aku benar-benar tidak bisa melihat wajah FanFan, seperti radio yang hanya ada suara tanpa gambar.
FanFan membela diri, "Aku tau kau akan malu, kenapa harus malu? Bukankah kita…"
Aku segera memotong ucapannya, "Diam! jangan katakan lagi."
Selang beberapa saat hening aku kembali bersuara,"Apa yang sedang kau lakukan?"
FanFan,"Membuka kancing bajumu."
Sudah cukup dia membuatku berdebar karena mengigit daun telingaku tadi, dan sekarang dia mulai membuka kancing bajuku. Aku semakin tidak bisa bernapas karenanya, kalau tidak karena kegelapan aku yakin FanFan sudah bisa melihat wajahku yang memerah, cukup merah sampai bisa digunakan untuk menggoreng telur.
Aku segera meraih tangan FanFan,"Tunggu, tunggu, FanFan entah kenapa malam ini kau begitu berbeda, aku..aku merasa kalau malam ini kau benar-benar seperti hewan buas."
Tangan FanFan berhenti, "Benarkah? Oh jadi selama ini menurutmu aku lembut? Xiao Xi, aku juga laki-laki dan tidak mungkin itu akan berubah."
Aku, "…."
Aku menyerah dan tidak bicara lagi, aku membiarkan semua hal yang ingin FanFan lakukan padaku. Aku sudah seperti putri malu yang membenamkan diri ketika di sentuh, aku membenamkan seluruh tubuhku semakin dalam ke kasur dan membiarkan FanFan melakukan semua hal yang ingin dia lakukan. Sesuatu yang biasanya dia akan bertanya, "apa boleh aku bersikap tidak sopan lagi padamu" atau "apa boleh aku memelukmu" tapi sekarang itu tidak lagi. FanFan dengan berani melakukannya tanpa harus bertanya lagi padaku.
*/
Ketika matahari mulai muncul aku juga mulai membuka mataku, matahari rupanya sudah mulai meninggi. Aku segera beranjak dari tempat tidur, "Oh tidak! Aku kesiangan, aku bahkan belum menyiapkan sarapan untuk suamiku."
Dengan wajah yang masih berantakan, aku melepaskan diri dari selimut dan segera berlari ke kamar mandi. Aku mencuci muka dan memakai pakaian yang bersih, begitu keluar aku melihat beberapa pakaian yang berhambur dilantai, ini pasti gara-gara semalam. Aku berjalan dan mengabaikan semua pakaian itu dan berjalan keluar menuju dapur.
Di dapur FanFan sudah membuat keributan, memakai celemek dan meliuk-liukkan tangannya saat memegang spatula. Entah apa yang coba ia lakukan, tapi sepertinya ini buruk.
Aku segera memeluk punggungnya, "Apa yang sedang kau lakukan?"
FanFan sedikit menoleh ke arahaku," Memasak untuk istriku."
Aku melepaskan pelukanku itu dan melihat benda yang tengah digoreng oleh FanFan itu. Itu adalah telur mata sapi yang tampak menyedihkan. Tidak ada bentuk keindahan sama sekali pada telur itu, Sunny side egg itu terlihat malang.
"Apa kau sedang membuat telur dadar?" Aku bertanya.
"Ini Sunny side egg, apa kau tidak tau?" FanFan membela diri.
"Oh." kataku.
Aku mulai memerankan peran sebagai putri, menunggu diberi makan oleh pangeran. Aku duduk di sofa sambil menunggu Liu FanFan menyelesaikan masakannya itu. Selang beberapa saat dia sudah siap.
"Eh, kemarilah. Jangan makan di depan TV." kata FanFan.
Aku, "Aku mau menonton acara ini."
FanFan, "Kau tidak akan fokus pada makananmu kalau makan di sana. Kemarilah, ayo cepat!"
Aku, "…"
__ADS_1
Aku pikir setelah aku menikah nanti tidak akan ada yang menceramahiku, aku pikir aku akan terbebas dari segala omelan ibuku, tapi nyatanya FanFan tidak jauh berbeda. Tidak ada ibuku, maka FanFan lah yang menjadi gantinya, bahkan dia jauh lebih cerewet dari ibuku.
Dengan rasa sedikit terharu aku memakan sunny side egg yang terlihat menyedihkan itu. Sekarang akhirnya aku paham, kenapa telur ceplok ini di sebut sunny side egg dalam bahasa Inggris. Itu karena kuning telur yang berada di tengah mirip dengan matahari yang bersinar. Tapi lihatlah telur ceplok buatan FanFan ini, ini bahkan tidak mirip dengan matahari, ini lebih mirip dengan lukisan abstrak Xiao Bai.
*/
Sehari setelah pesta pernikahan kami hanya berdiam diri dirumah. Hari ini adalah hari cuti kami, dalam 2 hari kami akan kembali ke bekerja. Hanya ada aku dan FanFan diruang tengah, Xiao Bai pun masih belum datang. Aku yakin kakak iparku melarang putra sulungnya itu untuk berkunjung.
Aku sibuk menonton acara variety yang selama ini belum sempat aku nonton. Ini adalah waktu luangku yang sangat berharga, waktu luang dimana hanya ada aku dan duniaku. Sementara FanFan tengah sibuk membaca, dari tadi malam dia hanya membaca, kali ini dia juga terlihat serius.
"Hahahaha, lihatlah mereka lucu sekali."
Aku tertawa terbahak-bahak ketika menonton acara variety 'xxxxx', dan itu sepertinya mengganggu konsentrasi FanFan. Aku melirik ke arahnya tapi dia masih fokus dengan bukunya. Sampai akhirnya aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku, aku tertawa sangat keras sekali.
Kali ini FanFan sudah habis kesabaran, dia menutup bukunya dan langsung menyerangku. Membungkamku dengan kedua tangannya.
"Kau sangat ribut Nyonya Liu." kata FanFan.
Mulutku masih dibungkam,"Aku mengerti, aku mengerti"
FanFan melepaskan tangannya itu dan membiarkan aku berbicara secara normal lagi,"Maafkan aku, kau bisa kembali membaca bukumu. Aku tidak akan ribut lagi."
FanFan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tidak mau."
Aku menahan tawa, mataku masih terfokus pada komedian yang sedang beraksi di layar TV, "Lalu duduklah disini dan menonton bersamaku, lihatlah mereka sangat lucu."
FanFan tiba-tiba berbaring dan menggunakan pahaku sebagai bantal. Dia memeluk pinggangku sementara wajahnya terbenam diperutku.
"Gege, kau membelakangi TV." kataku.
FanFan acuh tak acuh,"Aku tidak mau menontonnya, mereka terlihat sangat bodoh."
FanFan, "…."
Aku, "Kenapa? kau marah?"
FanFan mengerutkan dahinya, alis tebalnya sekarang terlihat menyatu. Dia sepertinya kesal, tapi aku tidak peduli. Aku hanya fokus menonton sambil tertawa terbahak-bahak.
FanFan melotot,"kau…"
Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku dan melarangnya bicara,"Diam, kau kan sedang tidak membaca. Biarkan aku menonton."
"Ah…FanFan kau. Kau kenapa menggigit tanganku? Apa kau anjing hah?" Aku memekik.
FanFan tersenyum licik, "Oh, aku memang anjing ganas. Apa kau mau aku lebih ganas lagi?"
Aku,"Tidak usah, terimakasih. Jadilah anak anjing yang baik, dan biar aku menonton."
Setelah kata-kata yang aku ucapkan itu FanFan menjadi diam, diam tanpa ada sedikit pergerakan pun. Tangannya masih melingkar di pinggangku dan wajahnya masih terbenam di perutku. Apa dia sudah tertidur?
"Kalau kau mengantuk tidurlah di dalam. Aku sudah membersihkan kamar, jangan tidur disini." kataku.
FanFan berbicara dengan suara malasnya, "Diam, aku sedang menonton TV."
Aku segera menjawabnya, "Xiao gege, apa kau menonton TV menggunakan punggungmu? Kau bahkan sedang membelakangi TV."
(Xiao gege : Kakak kecil)
"Jangan berisik, aku sedang mendengarkan percakapan bodoh para pelawak itu." FanFan menjawab secara acuh tak acuh dan kembali tidur.
Tangannya semakin erat memeluk pinggangku, sesekali kepalanya akan menyundul perutku seperti anak kucing yang menyundul perut induknya. Aku hanya bisa membiarkannya, mungkin saja dia rindu masa kecilnya. Memang terkadang seseorang ingin kembali ke masa kanak-kanaknya, dan mungkin FanFan sedang berada pada tahap ini.
Aku mendengus, "Dasar manja."
__ADS_1
Bunyi dering ponsel FanFan membuatnya bergerak, FanFan hanya bergeser sedikit hingga kemudian dia kembali memeluk pinggangku.
"Eh, kau hanya akan meregangkan badanmu? Ponselmu berbunyi, angkatlah. Itu mungkin penting." Kataku.
"Ambilkan." Katanya dengan manja.
Aku nyaris tidak tahan, "Kau tidak mau bergerak dan kau mau aku mengambilkan ponselmu? Ayo cepat berdiri!"
Dengan acuh tak acuh FanFan bangkit dan berdiri. Dia berjalan ke arah kamar dan segera meraih ponselnya. Selang beberapa saat FanFan masih tidak keluar juga, tapi saat keluar kamar dia sudah sangat rapi.
Aku meliriknya, "Apa wakil direktur tidak mendapatkan cuti? ini bahkan masih sehari setelah pesta pernikahan kita."
FanFan terburu-buru, "Bukan begitu, pasien yang tempo hari menjalani operasi bypass tiba-tiba mengalami serangan jantung. Aku harus pergi."
Dengan tergesa-gesa FanFan mencium keningku lalu berlalu meninggalkanku.
(Operasi bypass jantung : Tindakan untuk mengatasi penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah arteri koroner)
Apa yang bisa aku lakukan? Tentu saja tidak ada, tidak ada rasa kecewa sedikitpun dihatiku saat FanFan pergi di hari cuti pernikahan kami. Alasan dia pergi membuatku semakin kagum padanya.
FanFan pasti akan lama berada di rumah sakit. Mungkin seharian, mungkin saja dia harus masuk ruang operasi lagi. Dari pada hanya berdiam diri di apartemen aku memilih untuk keluar dan pergi ke rumah ayah dan ibu. Aku yakin disana masih ada Dery gege dan keluarganya, sekalian saja aku menjemput Xiao Bai.
*/
Aku masuk ke dalam rumah, ada Hexin jiejie dan YangYang gege, mereka sedang berkumpul. Xiao Bai dan Xiao Lu sedang berlarian di sekitar, sementara ayah dan ibu mereka sedang asyik mengobrol.
"Aku pulang." kataku.
"Eh pengantin baru." Hexin jiejie meledek dari kejauhan.
Aku merona karena ejekan Hexin jiejie itu. Rumahku hari ini sangat ramai, hanya ibu dan ayah mertuaku saja yang tidak ada. Ayahku juga tidak ada, kemana dia?
"Papa mana ma?"
"Dia ada kelas khusus, universitas memintanya datang." Kata ibuku.
YangYang gege berbicara, "Mana suamimu? Kenapa kau hanya sendiri?"
Aku, "Ah, dia ada hal mendesak."
YangYang gege mencibir, "Dasar bocah itu."
Hexin Jiejie langsung memukul pundak suaminya itu seraya berkata, "Kau dulu juga sama, kau bahkan pergi saat malam pertama kita."
Ibu menyuruh kami semua untuk tinggal dan makan malam bersama. Oleh karena itu aku mengirim WeChat pada FanFan dan menyuruhnya datang, tapi dia tidak membalas.
Aku bergumam "Dia mungkin sedang berada di ruang operasi."
Saat langit siang telah berganti menjadi langit malam FanFan tiba-tiba membalas WeChatku.
"Aku ada di apartemen, perutku keram. Bisa tidak kau pulang sekarang." tulis FanFan di pesan WeChatnya
Tanpa pikir panjang aku langsung pergi, aku berpamitan pada keluargaku dan berlalu meninggalkan mereka.
"Eh kau kenapa?" Teriak ibuku.
"Tidak apa-apa, aku ada urusan." teriakku.
Dengan tergesa-gesa aku langsung menuju apartemen, sampai-sampai aku lupa membawa Xiao Bai. Beruntung Dery gege dan istrinya masih bermalam di Shanghai, sebelum akhirnya besok mereka pulang.
Aku naik ke unit apartemenku, menekan password pintu. Pintu akhirnya terbuka dan bukan FanFan yang tengah kesakitan yang aku lihat. Tapi itu adalah kejutan indah lainnya yang dibuat oleh FanFan.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
__ADS_1
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰