
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
Profesor Su menatapku dengan tatapan meledek, sementara Gong Jun tampak bingung.
"Kenapa? Kau takut dia akan marah padamu?" Ledek Profesor Su.
Gong Jun,"Kenapa harus takut?"
"Profesor Su, bisakah kau yang mengankat telpon dari Fan.., eh dari wakil direktur untukku? Katakan saja padanya kalau aku sedang berada di Ruang Operasi. Yah? yah? " pintaku sambil memelas dengan ponsel yang aku arahakan pada Profesor Su.
Profesor Su menolak dengan keras,"Eh, enak saja. Nanti aku lagi yang kena. Tidak mau ah!"
"Mana, kemarikan ponselmu dokter. Aku yang akan bicara."
Secara cepat Gong Jun merampas ponselku. Dan dalam sekejap Gong Jun sudah bicara 'halo'. Matilah aku, FanFan akan tambah murka ketika mendengar suara laki-laki yang mengangkat telponnya.
"Baiklah, akan aku sampaikan." Gong Jun tersenyum lebar.
Aku,"Kau, jangan pernah melakukannya lagi!"
Gong Jun membela diri,"Maafkan aku, tapi aku tidak punya pilihan lain."
Profesor Su bertanya,"Apa kata wakil direktur?"
Gong Jun masih santai, wajahnya tidak bereaksi apa-apa. Sampai akhirnya dia mengatakan 4 kata yang membuatku bergidik,"Tunggu aku di Shanghai."
Aku,"Apa??"
Beberapa saat setelah aku mendengar 4 kata itu, notifikasi WeChat masuk ke ponselku, itu adalah pesan dari FanFan. Aku tidak membukanya, aku hanya melihat pesan singkat itu lewat layar ponsel yang terkunci.
'Aku akan pulang malam ini. Tunggu aku, kita harus bicara.' begitu tulisnya di WeChat.
Kenapa tiba-tiba dia kembali ke Shanghai? Bukankah masih ada beberapa hari lagi sebelum dia kembali? Bukannya aku tidak senang atas kepulangannya, tapi ini bukanlah saat yang tepat. Apa mungkin FanFan kembali karena mendengar berita aku yang ditampar? Tidak mungkin kan?
Aku berdiri dari kursiku, meletakkan sumpit yang aku pegang. Makananku bahkan masih banyak, hanya sedikit yang termakan. Nafsu makanku kini berkurang sampai ke titik yang terendah.
"Eh kau mau kemana? Makananmu masih banyak."Profesor Su berteriak padaku.
Aku hanya terus berjalan dengan lemas, membelakangi Profesor Su dan Gong Jun yang masih duduk dikantin.
*/
Menit demi menit berlalu, waktu berjalan sangat cepat. Mentari mulai membenamkan dirinya kedalam bumi, seakan benar-benar dimakan oleh bumi sang mentari pun hilang. Awan berubah menjadi gelap, rasi bintang bertaburan menyambut sejuknya bulan yang baru muncul.
"Gawat, gawat, apa sebaiknya aku menjemputnya ke bandara saja yah? Eh tidak, tidak, aku tidak tau jam berapa pesawatnya akan tiba. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk sedikit meredakan amarahnya itu?" kataku.
Aku mulai berbicara sendiri diruangan staff sambil memandangi layar ponsel. Aku bingung, apakah harus menelpon FanFan atau tidak.
"Telpon saja, apa kau tidak takut dia akan memakanmu?" Suara berat muncul dari belakang telingaku.
"Benar, setidaknya itu bisa meredakan kemarahannya." aku merespon suara itu.
Setelah berpikir sejenak, aku akhirnya tersadar, "Eh, suara siapa itu?"
Laki-laki tinggi memakai setelan jas dokter sudah berdiri tepat dibelakangku. Mataku terbelalak saat melihatnya, itu adalah Liu FanFan. Matanya membara seoalah akan memakanku, sementara aku hanya melihatnya sambil menyengir seperti orang bodoh.
"Hehehe, kau sudah sampai yah?" kataku.
Suaranya sedikit meninggi, "Kau masih bisa tertawa?"
"Jangan marah, aku sudah menyelesaikan semuanya." kataku sambil menarik-narik lengan jas putihnya.
__ADS_1
FanFan memutar bola matanya, seolah dia tak percaya. FanFan berjalan mendekat padaku dan menyentuh bibirku yang robek dengan jari rampingnya.
"Apakah ini yang kau sebut menyelesaikan?" Kata FanFan.
Aku,"Eh sudahlah. Kau sebaiknya kembali ke apartemen, aku akan menceritakan semuanya nanti. Aku masih punya sesuatu untuk diurus."
FanFan pergi begitu aku mendorongnya untuk pulang. Rupanya tenaganya sudah tidak mampu untuk menolak kata-kataku itu. Dia berlalu seperti angin, sementara aku masih harus tinggal di rumah sakit sebelum akhirnya bisa pulang dan menyusul FanFan.
Malam semakin larut, tidak terasa sekarang sudah hampir tengah malam. Dengan kaki yang letih dan mata yang menolak untuk terbuka lagi aku berjalan ke arah lobi. Aku ingat kalau tadi aku meninggalkan koperku di pusat informasi, jadi kuputuskan untuk mengambilnya lagi.
Tiba-tiba seseorang mengambil alih koper yang aku seret itu, itu adalah Gong Jun lagi. Entah kenapa aku malas untuk bertemu dengan bocah itu. Rasanya hanya ada dia dan aku dirumah sakit ini, dia selalu muncul secara tiba-tiba seperti hantu.
"Eh apa yang kau lakukan?" Aku terkejut.
"Menolong dokter. Kau mau pulang, biarkan aku mengantarmu." katanya.
Mahasiswa yang sedang menjalani program magang seperti Gong Jun ini seharusnya lebih sopan dan patuh, tapi bocah ini malah sebaliknya.
Aku mengambil koperku kembali, "Tidak perlu, kau bocah cepatlah pulang. Kenapa kau masih ada disini?"
"Bocah? Aku bukan anak kecil lagi, aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk hidup mandiri. Dokter, ngomong-ngomong mana suamimu?" Gong Jun menarik koperku lagi.
Kami bermain tarik ulur koper ditengah malam yang semakin larut ini. Hingga seseorang datang dengan matanya yang berapi-api dan mengambil alih koperku, itu adalah FanFan. Mata FanFan penuh kilatan, dia terlihat seperti akan memakan Gong Jun dengan sekali lahapan.
"Aku suaminya." kata FanFan.
Gong Jun dan FanFan beradu mata, mata mereka bertatapan. Aku berada di antara kedua laki-laki ini, mereka menoleh ke kanan dan ke kiri. Apakah FanFan sedang cemburu? Apakah mereka berdua sedang mencoba memperebutkanku? Adagan ini mirip dengan adegan dalam drama romantis yang sering aku lihat.
Aku melerai, "Eh, sudahlah. FanFan ayo kita pulang."
Aku menarik FanFan keluar dari lobi rumah sakit dan meninggalkan Gong Jun yang masih terpaku. FanFan bahkan tidak berhenti mengoceh saat aku menariknya keluar. Bukan lewat mulutnya, tapi lewat tatapan matanya. Lihat saja nanti ketika kami sampai di apartemen, aku pasti akan di wawancarainya sampai pagi.
*/
FanFan membawa koperku masuk ke kamarnya. Aku sendiri sudah duduk diruang tamu sambil menatap ikan koi yang gemuk itu. FanFan muncul dari balik pintu kamar.
"Mandilah, lalu istirahat. Kau pasti lelah" katanya.
Apa hanya itu? Dia tidak mengomel atau menceramahiku? Padahal ada 2 masalah yang pasti ingin FanFan ungkit, yang pertama soal tamparan dan yang kedua soal Gong Jun.
Aku juga tidak banyak bicara saat dia menyuruhku, aku patuh seperti anak anjing. Entah kenapa belakangan ini aku menjadi sangat patuh pada FanFan. Padahal sewaktu muda dulu dialah yang akan menjadi bawahanku. Mungkin inilah karma, aku menuai apa yang aku tanam, dan sekarang adalah waktunya FanFan untuk menindasku.
Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Sementara FanFan masih terjaga diruang tamu dengan matanya melirik ke arahku.
"Mendekatlah." kata FanFan.
Aku berjalan mendekat ke arahnya lalu duduk tepat disampingnya. FanFan meraih sesuatu dari laci meja yang ada disampingnya itu, sebuah benda dengan kabel panjang keluar, itu adalah hairdryer.
Suara hembusan angin yang panas keluar dari mesin pengering rambut itu, dengan jari-jari rampingnya FanFan mulai menyisir rambutku yang pendek.
"Tadi siapa? Maksudku laki-laki yang bersamamu tadi?" Tanya FanFan.
Aku spontan menjawab,"Dia hanya coass, ah dia tadi hanya bercanda. Dia putra direktur, namanya Gong Jun."
Tangan FanFan berhenti menyisir rambutku begitu aku mengatakan nama Gong Jun. Aku kembali bertanya,"Kau mengenalnya?"
FanFan,"Tentu saja tidak, aku mengenal direktur sudah lama. Tapi aku tidak pernah mengenal putranya, aku hanya tau dia adalah seorang yang jenius."
Aku berbalik dan menatap ke arah FanFan. Dengan semangat membara aku mulai menceritakan awal pertemuanku dengan Gong Jun.
"Ponsel yang aku pinjam untuk menelponmu ketika aku berada di Jepang adalah ponsel Gong Jun. Dia adalah orang yang menabrakku."kataku.
__ADS_1
Mata FanFan melotot, pupil matanya membesar. Aku seketika berhenti bicara saat melihat tampangnya yang menyeramkan itu.
FanFan,"Diam."
Aku, ".…"
Tangan FanFan menggapai sisi laci yang lain, tak lama berselang tangannya keluar dengan sebuah box berwarna putih. FanFan acuh tak acuh, "Aku bertaruh kau pasti belum mengobati lukamu kan?"
Aku mengangguk. Benar sekali tebakan FanFan itu, aku memang belum mengobati luka bekas tamparan itu. Gong Jun memberiku plester luka tadi, tapi aku tidak memakainya karena lupa.
FanFan mengambil cutton bud dari dalam kotak obat itu, lalu kemudian mengolesi cutton bud itu dengan neosporin. Dengan teliti FanFan mengobati luka robek pada ujung bibirku itu.
(neosporin : krim antibiotik)
Wajahnya terlalu dekat, begitu dekat sampai-sampai aku bisa melihat bagaimana lentiknya bulu mata FanFan. Hembusan nafansya mengeluarkan uap panas yang tidak terlihat.
"Bibirmu sampai terluka seperti ini, aku bahkan tidak pernah merobek bibirmu ketika aku menciummu." FanFan meledek.
Aku memukulnya dengan cukup keras sampai dia mengeluarkan suara 'Ah'.
"Kau! Kau mulai berani sekarang yah" teriakku.
Setelah bertambah dewasa, gaya berbicara Liu FanFan ini semakin frontal dan tak terkendali. Membuatku yang tidak terbiasa menjadi sedikit keki, dia seharusnya bisa mengendalikan mulutnya itu.
Setelah diam sejenak, FanFan kembali mengoceh, "Kau, jangan dekat-dekat dengan si anak magang itu."
Aku menjawab, "Aku tau, aku tau. Tapi dia hanyalah junior, dia hanya bersikap bercanda. Dia terlalu enerjik, sama seperti kita saat 7 tahun yang lalu."
FanFan kembali menekuk wajahnya, semakin suram saat aku menyebut nama Gong Jun. Baru kali ini aku melihat seorang Liu FanFan cemburu. Aku hanya pernah mendengarnya dari Hexin jiejie kalau FanFan yang cemburu akan bersikap kekanak-kanakan. Memang benar, FanFan yang sekarang berada dihadapanku ini terlihat seperti Liu FanFan 7 tahun yang lalu.
"Eh, apa kau besok punya waktu?" Tanya FanFan.
"Kenapa?" Tanyaku.
FanFan menjawab, "Gaun pengantin dan persiapan pernikahan kita."
Aku benar-benar lupa akan hal penting itu, seharusnya akulah yang lebih antusias. Beberapa hari ke depan aku harus berusaha mengatur ulang jadwalku, aku juga akan meminta saran dari ibu dan ibu mertuaku, dan yang paling aku tunggu-tunggu adalah foto pranikah, foto pre-wedding yang romantis dan elegan.
FanFan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tidak mau melakukannya."
Aku, ".…"
Bagaimana mungkin momen penting seperti itu ingin ia lewatkan. Tentu saja ucapan FanFan tadi itu sedikit membuatku kecewa, membuatku bangkit dan meninggalkannya di ruang tamu.
"Eh.." teriaknya sambil mengikutiku ke dalam kamar.
Aku mulai mencela FanFan, "Apa kau tau? Aku iri melihat semua pasangan yang mempunyai foto pre wedding, aku sangat menginginkannya tapi kau bahkan tidak mau melakukannya untukku. Kau bahkan akan terlihat bagus saat di foto, lalu apa yang salah?"
FanFan menghela nafas, dengan sedikit akting memelas yang aku keluarkan tadi berhasil membuat tatapannya sedikit melunak.
FanFan,"Baiklah, baiklah, karena istriku ini sangat menginginkannya maka kita akan melakukannya. Nah, apa sekarang kau senang?"
Aku mengangguk padanya seraya tersenyum senang.
"Kalau begitu kita tidur sekarang, sudah malam. Besok kita harus bekerja" kata FanFan.
Aku kembali mengangguk, dengan hati gembira aku kemudian berbaring. Menutup mataku rapat-rapat dan membiarkan FanFan mendekapku dengan erat. Dekapannya begitu erat, erat sekali, sampai aku bisa mendengar detak jantungnya.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
__ADS_1
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰