
Aku siap pergi bekerja dan berpamitan pada orangtuaku. Ibuku juga sepertinya akan pergi ke suatu tempat. Lebih baik untuk tidak menanyakan kemana dia akan pergi atau ibu akan berceloteh lagi.
"Ma aku pergi dulu yah? Eh papa mana?"
"Dia sedang menemani Xiao Bai jalan-jalan. Eh ayo bareng, mama juga mau ke pasar" kata Ibuku
Aku berjalan keluar rumah bersama ibuku yang akan ke pasar, padahal baru kemarin aku pergi belanja dan sekarang dia sudah belanja lagi. Saat menunggu bus di halte bersama ibu, mobil sport mewah yang mengantarku malam itu kembali singgah. Mobil FanFan menepi dan berhenti di depan kami.
Atap mobil terbuka begitu mobil itu berada beberapa langkah di depan kami. Mobil berhenti, dan sosok tampan memakai kemeja muncul.
"Selamat pagi bibi" sapanya dengan senyum ceria.
Ibuku tidak berhenti tersenyum saat melihat FanFan. Aku berusaha menghentikan celotehannya itu karena FanFan harus pergi. FanFan juga sepertinya merasa tidak nyaman dengan semua basa-basi ibuku yang panjang kali lebar itu.
"Eh kau berangkat bersama FanFan saja. Sekalian saja, kalian kan satu arah. Boleh kan FanFan?" ujar ibuku.
Mataku melotot seakan akan bergulir keluar, "Ma, bus kita akan segera tiba. FanFan kau duluan saja"
FanFan menyeringai, "Naiklah, kita kan searah"
Aku, "…"
Ibuku segera mengusirku seperti seekor lalat, " Kau dengar itu? Ayo cepatlah naik, jangan membuat orang sibuk seperti FanFan menunggu"
Aku terdiam mendengar ucapan ibu dan FanFan yang lebih terdengar seperti sebuah konspirasi untuk memojokkanku. Gara-gara ibuku aku jadi pergi ke Rumah Sakit bersama FanFan. Berdua di dalam mobil seperti ini dengannya, membuatku merasa tidak nyaman. Atap mobil yang tadinya terbuka, kembali tertutup. Oksigen sepertinya tidak bisa masuk lagi ke dalam mobil.
"Maafkan ibuku tadi, eh kau bisa menurunkanku stasiun kereta bawah tanah yang ada didepan. Aku takut seseorang akan melihat kita dan juga ini adalah hari pertamamu bekerja di Rumah Sakit" kataku sembari menunjuk stasiun kereta
FanFan menepi dan menghentikan mobilnya. Aku membuka sabuk pengaman untuk keluar, tapi tiba-tiba aku tidak bisa membuka pintu mobilnya.
"Kau mengunci pintu mobilmu" ujarku
Dia melepaskan tangannya dari kemudi dan berbalik padaku, matanya sedikit melotot hingga kemudian dia mulai bicara, "Kau masih sama seperti 7 tahun yang lalu, kau selalu mengutamakan kebahagiaan orang dari pada dirimu sendiri. Berhentilah mengkhawatirkan orang lain melebihi dirimu sendiri Xiao Xi"
Entah kenapa ucapannya yang tiba-tiba itu terasa menusuk sekali, hatiku bergetar seolah membenarkan ucapan yang keluar dari mulut FanFan itu.
"Kau benar, aku memang seperti ini" balasku secara acuh tak acuh
Klik
Terdengar bunyi unlock dari pintu mobil FanFan. Aku pun membuka pintu mobilnya dan bergegas keluar. Tapi kata-kata yang tiba-tiba keluar dari mulutnya menghentikan langkahku untuk kedua kalinya.
"Apa kau pernah menyesali keputusanmu 7 tahun yang lalu?" Ujarnya
Aku terdiam mendengar pertanyaannya itu, aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil dan menutup pintu mobil FanFan. Aku menundukkan badanku dan menjawab ucapan FanFan melalui celah kaca mobilnya, "Tidak, aku tidak menyesalinya"
Aku berjalan menjauh ke arah stasiun bawah tanah. Dari kejauhan aku melihat mobil sport FanFan melaju kencang ke arah rumah sakit.
*/
Profesor Su rupanya sudah mencium sesuatu dariku. Bukan bau busuk, tapi sebuah fakta yang mulai menarik perhatiannya.
"Eh kau akan cerita padaku secara sukarela atau aku yang akan memaksamu menceritakannya padaku?" Ujar Profesor Su yang tiba-tiba datang menghampiriku
Aku sedikit kesal, "Apa maksudmu? Ini jam istirahat dan kau sudah sibuk dengan urusanku"
__ADS_1
Profesor Su ternyata melihat aku turun dari mobil FanFan tadi. Walau Profesor Su adalah sahabat baikku, tapi bukankah aku tidak harus menceritakan semua urusanku padanya?
"Kami bertetangga" jawabku singkat
Profesor Su kembali menggila, "Ya Tuhan! Kau pasti sudah gila! Kau bertetangga dengan Wakil Direktur?"
"Ssshhtt! Kau jangan ribut" kataku sambil membekap mulut Profesor Su
Profesor Su tidak percaya kalau hubunganku dengan FanFan hanya sebatas tetangga saja. Profesor Su pandai sekali dalam membaca ekspresiku, dia tau kapan aku bohong dan kapan aku jujur.
"Katakan dengan jujur, aku janji tidak akan mengusikmu lagi. Sewaktu acara penyambutanya kau bersikap aneh setelah bertemu dengannya, ada sesuatu di antara kalian yang belum terselesaikan kan?" kata Profesor Su
Aku, "Kau dokter atau paranormal? Sudahlah, tidak ada lagi, hanya itu saja. Kami bertetangga tapi sekarang Fan.."
Pupil mata Profesor Su membesar, "Kau bahkan memanggilnya dengan namanya, kalian pasti dekat…"
Aku berdiri dari kursiku, "Kau makan saja sendiri. Aku masih harus ke bangsal"
"Eh kita belum selesai" teriak Profesor Su
Kalau aku masih tinggal di kantin, Profesor Su pasti tidak akan berhenti mengintrogasiku. Aku jadi teringat pada dokter Zhang yang selalu penasaran dengan urusan orang lain, mereka berdua sama-sama orang yang baik, hanya saja cara mereka peduli padaku sungguh membuatku tak habis pikir.
Si ratu gosip dokter Zhang sekarang sudah menjadi kepala departemen bedah di Beijing United Family Hospital. Aku mengeluarkan ponselku untuk menelponnya, entah angin apa yang merasukiku sekarang sampai-sampai aku merindukan dokter menyebalkan itu. Kami berbicara cukup lama lewat telpon. Dia bertanya-tanya soal kehidupanku, begitu pun aku. Satu hal yang mengagetkanku, dokter Zhang bilang 2 tahun yang lalu FanFan datang ke Beijing. Dokter Zhang juga tidak tau apa maksud kedatangannya dan hal itu menggangguku. Dia bahkan pergi ke Beijing, tapi tidak singgah ke Shanghai? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?
*/
Aku berjalan ke basemen tempat Profesor Su memarkirkan mobilnya. Dia bilang akan mengantarku pulang, tapi setelah 20 menit menunggu dia tidak kunjung datang. Malah orang lain yang tidak aku harapkan membunyikan klakson mobilnya. FanFan lagi, sejak kemarin aku selalu mendengar klakson mobilnya dan itu membuat telingaku sudah mulai hafal dengan bunyi klakson mobil mewahnya itu.
"Naiklah aku akan mengantarmu pulang" katanya.
"Dia tidak akan keluar, dia sedang ada operasi dadakan" jawab FanFan.
Tidak lama berselang ponselku berdering, Profesor Su menelponku. Dia bilang tidak bisa mengantarku pulang karena ada operasi dadakan yang harus ia tangani. Melihat FanFan yang masih menungguku, dengan terpaksa aku naik ke mobilnya lagi. Sudah dua kali dalam sehari aku terjebak dalam suasana tidak mengenakkan ini.
Tapi kali ini aku mulai berani untuk berbicara dengannya, dalam satu kali tarikan nafas aku memulai percakapan kami kali ini.
"FanFan, berhentilah bersikap baik padaku. Tidak seharusnya kita seperti ini…" kataku
"Seperti apa? Aku hanya mau berbuat baik pada sahabatku, apa salah?" Katanya
Dia mengatakan kalau aku 'sahabatnya'? bukankah dia sendiri yang bilang kalau orang yang sudah putus tidak akan bisa berteman lagi. Tapi nyatanya FanFan telah menjilat ludahnya sendiri.
Sesampainya didepan rumah, aku turun dari mobil. Suara mesin mobil FanFan juga berhenti, FanFan turun dari mobilnya dan mengikutiku masuk ke dalam rumah.
"Kau kenapa mengikutiku?" Tanyaku
"Bibi mengundangku makan malam" balasnya
Dia berjalan menyalipku dan berdiri di depan pintu rumahku, "Apa passwordnya masih sama?"
"…" aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanya.
FanFan adalah satu-satunya kerabat yang mengetahui password rumahku. Password rumahku sendiri tidak pernah berubah sejak aku masih remaja.
Kembali ke topik, jadi inilah alasan ibu belanja ke pasar tadi, itu karena dia ingin mengundang FanFan makan malam. Ibuku pasti punya rencana licik dan tak terduga lagi.
__ADS_1
"Paman FanFan" teriak Xiao Bai yang kelihatan senang begitu melihat FanFan
Kadang aku tidak habis pikir pada ibuku sendiri, aku sudah berulang kali menjelaskan padanya kalau aku dan FanFan sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali bersama, tapi dia masih saja memaksa.
"Xiao Xi memang bukan gadis beruntung, dia terlalu kekanak-kanakan. Saat itu dia masih muda sekali, jadi bibi harap kau bisa memakluminya"
"Aku yang bersalah padanya, 7 tahun yang lalu aku masih labil dan tidak bisa menghargainya" jawab FanFan.
Dari balik dinding, diam-diam aku mendengar perbincangan ibuku dan FanFan itu. Ucapan FanFan barusan seolah-olah membuatku bingung, FanFan bicara seoalah-olah dia juga menderita sepertiku. Dia tidak bersalah, dia adalah laki-laki baik. Akulah yang membuatnya menderita selama ini, aku menanam kebohongan yang konsekuensinya harus aku hadapi sekarang.
Cukup lama FanFan berada dirumahku, mengobrol dengan ayah dan ibuku. Terkadang juga meladeni Xiao Bai yang ingin bermain dengannya. FanFan yang dewasa menjadi sangat sopan, dia berpamitan setelah jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
" Terimakasih atas makan malamnya. Bibi, paman, aku pulang dulu. Xiao Bai, paman pergi yah" kata FanFan sambil melambaikan tangannya pada anak baptisku.
Ibuku tiba-tiba mendorongku keluar, "Xiao Xi, kau antar FanFan ke depan. Ayo cepat"
Aku, "…."
Aku berjalan dibelakang FanFan untuk mengantarnya sampai ke depan, berjalan dibelakangnya dengan punggung lebarnya menghadapku. Aku terus berjalan sampai kami sampai diluar pagar.
"Kau mau kembali ke rumahmu atau ke rumah bibi?" Tanyaku
FanFan tersenyum, dia menahan senyumnya "Bukankah itu juga rumahku"
Aku, "…."
Apa selera humornya sudah memudar? Dia sama sekali sudah tidak lucu, apa 7 tahun belakangan ini dia belajar bagaimana caranya menjadi angkuh?
FanFan berjalan mendekat ke arahku, pupil mataku melebar melihatnya mendekat padaku.
Aku, "Kau mau apa?"
" Xiao Xi, ayo ingin kita balikan" katanya sambil menatap dalam kedalam mataku.
Kata-kata yang barusan aku dengar dari mulutnya itu membuatku tercengang. Apa FanFan sudah tidak waras lagi? Secara tiba-tiba dia ingin balikan denganku setelah luka yang sudah aku berikan padanya 7 tahun yang lalu. Atau dia hanya menganggap 7 tahun ini hanya pertengkaran biasa?
"Kau pasti lelah, pulanglah dan beristirahat" kataku seolah-olah mengalihkan pembicaraan.
"Kau dan aku pasti akan kembali bersama" balasnya
Aku membalikkan badan dan masuk ke rumah seolah-olah tak mendengar apa yang barusan dia katakan. Aku tidak mau berharap apa-apa lagi padanya.
"Eh, kenapa wajahmu memerah? Kau sakit?" Teriak ibuku
Aku berjalan menaiki anak tangga tanpa membalas ucapan nyonya Wong itu. Aku bukanlah remaja seperti 7 tahun silam yang haus akan cinta. Tapi kenapa hatiku yang sudah mati selama ini menjadi berdetak kembali. Aku pasti sudah gila, aku hanya merasa kesepian selama ini.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1