LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
NASEHAT


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju pulang, Jarwo terus terdiam, dirinya masih melamuni apa yang telah di katakan Roy tentang tafsir mimpi buruk yang selalu melanda istrinya.


Sesampainya di rumah Jarwo, dia langsung mematikan mesin dan memarkirkanya di pojok samping rumahnya.


Dengan langkah lemas gontai tak berarah, Jarwo mencari keberadaan istrinya yang belum terlihat batang hidungnya.


"Kemana dia?"tanya Jarwo pada dirinya sendiri.


Jarwo memasuki rumah dan mencari ke setiap sudut berharap menemukan istrinya.


"Dek kamu dimana?"seru jarwo sambil menuju belakang rumahnya.


Terdengar gemericik air di kamar mandi seperti seseorang yang sedang mandi.


"Mungkin dia sedang mandi"batin Jarwo.


Sambil menunggu istrinya keluar, Jarwo mengambil air beberapa ember untuk mencuci motor bututnya itu.


Sambil mengelus ngelus motornya, sesekali Jarwo bersenandung campur sari kesukaanya.


Tak berselang lama terdengarlah suara pintu kamar mandi terbuka.


Minem keluar hanya menggunakan samping atau jarit untuk membungkus badanya, dan menghampiri Jarwo yang sedang asik mencuci motornya.


"Kamu sudah pulang mas"tanya minem sambil menyentuh pundak Jarwo.


"Sudah dek baru saja"jawabnya sambil mendongakan kepalanya menatap minem.


Dengan samping atau jarit yang hanya membungkus tubuh minem yang putih, junior Jarwo sontak memberontak ingin keluar dari sarangnya.


"cepetan pake bajunya nanti masuk angin"titah Jarwo sambil menuntun dengan lembut Minem menuju ke dalam kamarnya.


"Kamu duduk saja Dek, biar mas Jarwo yang ambil pakaian gantinya"titahnya dengan lembut pada minem.


Minem hanya heran melihat prilaku suaminya yang kini semakin perhatian kepadanya.


"Kamu sudah makan Dek?"tanya Jarwo pada Minem.


"Belum mas, tadi aku gak sempet masak"jawabnya sambil memakai baju yang telah di pilihkan Jarwo.


"Ya sudah biar mas saja yang masak"ucapnya sambil berlalu keluar dari kamar dan menuju dapur rumahnya.


Dengan bahan yang tersedia dan seadanya Jarwo mulai melakukan aksi masaknya.


Kali ini Jarwo memasak tumis kangkung dengan tambahan ikan kakap yang baru saja di belinya di pasar ketika dia menuju pulang dari kerabatnya.


Tak lupa dia juga membuat lalapan dari daun singkong yang di rebus yang akan di jadikan teman sambal terasi gorengnya.


Setelah acara memasaknya selesai, Jarwo segera membawa dan menatanya di meja makan.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga"ucap Jarwo sambil mengelap keringat di wajah dengan kaosnya.


Dengan tersenyum penuh semangat 45, Jarwo segera menghampiri istrinya yang masih berada di dalam kamarnya.


"Dek ayo, makananya udah siap"ucap Jarwo sambil menuntun penuh hati hati menuju ruang makan.


"Duduk dulu Dek"titahnya dengan lembut pada minem.


Dengan sigap Jarwo mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk di berikan kepada minem.


"Kamu makan dulu ya, kasihan Dedek kecilnya sudah lapar"ucapnya sambil memberikan piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauknya.


"Kamu gak makan mas?"tanya Minem pada Jarwo yang menatap minem makan sendirian.


"Mas masih kenyang Dek"jawabnya sambil tersenyum


Seketika Minem menunda piring nasinya dan menghentikan kegiatan makanya.


"Aku gak jadi makan mas, nafsu makanku hilang"ucap Minem sambil menekuk mukanya.


"Jangan gitu Dek, kamu harus makan, dirimu lgi hami loh"ucapnya sambil tersenyum.


"Pokoknya aku gak mau makan mas, kalau kamu gak makan!!! serunya sambil cemberut.


Minem mengambil kembali piring nasinya dan mencoba memaksa Jarwo untuk makan.


Minem akhirnya bisa tersenyum setelah melihat kang mas Jarwo mengunyah makananya.


"nah gt donk"ucap Minem sambil tersenyum kecil.


Mereka menikmati makan dengan hikmat sekali, sesekali Jarwo dan Minem tertawa mengenang masa pacaran ya dulu.


Malamnya selepas isya Jarwo masih terlihat menangis di atas sajadahnya, tak henti hentinya dia bermunajat kepada sang maha kuasa meminta akan keselamatan seluruh keluarga kecilnya.


Tok… Tok.. Tok…


"Asalamu alakum"seru seseorang di luar yang sontak membuat Jarwo sedikit kaget.


Jarwo bergegas keluar dari kamarnya menuju ruang tamu untuk segera membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikum salam, i ya sebentar"ucap Jarwo sambil membuka pintunya yang sudah terkunci.


Seorang lelaki gagah menggunakan gamis putih berbalut sorban berwarna hijau yang melingkar di pundaknya tersenyum ketika Jarwo telah membukakan pintu untuknya.


"Eh maaf, ada pak kyai ternyata, monggo masuk pak kyai"ucap Jarwo menyambut dan mempersilahkan tamunya masuk untuk duduk.


"Pye kabare Wo?"tanya kyai tu sambil memegang pundak Jarwo dengan tanganya.


"Alhamdulillah sehat pak kyai, sebentar saya bikinkan kopi dulu"jawabnya smbil berlalu pergi ke dapur.

__ADS_1


Tak berselang akhirnya Jarwo membawa nampan yang berisi cemilan dan dua gelas kopi hitam sebagai pelengkapnya.


"monggo pak di sambi"ucapnya sambil tersenyum segan.


"terima kasih Wo, gak enak malah bikin repot saja"jawabnya sambil tertawa.


"Maaf pak, tumben pak kyai, ada perlu apa ya"tanya Jarwo dengan segan pada kyai ahli hikmat tersebut.


"Bisa kita ngobrol diluar Wo?"tanya kyai pada Jarwo.


"Tentu pak, bisa.. bisa"jawabnya sambil memindahkan nampan dan membawa ke amben teras luar rumahnya.


Setelah dalam posisi duduk nyaman akhirnya Kyai ahli hikmat itu menjelaskan panjang lebar akan maksud kedatanganya pada Jarwo.


"Kebetulan pak Kyai saya ingin curhat pada Kyai"ucap Jarwo pada Kyai tersebut.


"Monggo Wo, dengan senang hati"jawabnya dengan serius menatap mata Jarwo.


Akhirnya Jarwo menceritakan segala keluh kesah hatinya yang selalu mengganjal dan membuat pikiranya tidak tenang kepada Kyai tersebut.


Sambil menganggukan kepalanya sang Kyai mendengarkan apa yang Jarwo sampaikan padanya.


"Wo… Takdir itu sudah ada yang mengaturnya yaitu alloh"ucapnya penuh penekanan.


"Beda dengan nasib… "ucapanya menggantung.


"Kalau nasib itu gimana pak Kyai maksudnya? tanya Jarwo dengan penuh keingin tahuan.


Sang Kyai menjelaskan panjang lebar bahwsanya alloh tidak akan merubah nasib satu kaum, apabila kaum tersebut tidak berdoa atau meminta kepadanya, berbeda dengan takdir, karena takdir seseorang itu sudah tertulis di lauhil mahfudz dan itu pun hanya alloh yang tahu.


"Ohhh… Jadi begitu pak Kyai"ucap Jarwo yang kini telah memahaminya.


"I ya Jarwo, kita sebagai hamba hanya bisa berdoa dan berusaha, masalah hasil kita kembalikan hanya kepada alloh.


Tak terasa malam pun semakin larut, sang Kyai pun memutuskan untuk pamit pulang kepada Jarwo.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Wo"ucapnya sambil mengusap pundak Jarwo.


"Nggih pak Kyai, matur suwun atas! wejanganya"jawabnya sambil sungkem mencium punggung tangan sang Kyai.


Setelah selesai Jarwo kembali membereskan nampan dan gelas kopinya untuk segera di bawa masuk ke dalam rumah dan menguncinya.


**BUDAYAKAN LIKE RATE AND COMMENT KARENA ITU GRATIS….


SALAM AUTHOR**



ARBY YINGJUN SUJIARTY

__ADS_1


__ADS_2