LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
PERSIAPAN


__ADS_3

"Jon, gimana dengan hasil keputusan UAN tadi siang?" tanya Dirmo pada Jon Sambil menikmati segelas kopi hitamnya.


Seraya meletakan kembali gelas kopinya dan menunggu jawaban hasil UAN dari Jon.


"Alhamdulillah, Kek. Jon lulus. " jawabnya sambil tersenyum.


"Syukurlah Jon, Kakek senang mendengarnya, tapi… " ucapannya menggantung.


Seraya terdiam dan menatap langit langit rumahnya.


"Kenapa Kek?, kenapa Kakek melamun,?" tanya Jon yang merasa heran melihat perubahan pada wajah kakeknya.


Sejenak Dirmo terdiam dan terlihat mengeluarkan senyum yang terlihat sedikit memaksa di wajahnya.


"Kakek sedih saja Jon, karena Raja Arab akan membawamu kesana. "


"Kakek jangan sedih, kalau kakek sedih Jon juga sedih. " ucapnya pada sang Kakek.


Seraya bangun dari tempat duduknya, dan memijat mijat kaki kakeknya.


"Kakek tak pernah melarangmu Jon, karena itu untuk kebaikanmu Juga. "


Ke esokan harinya, Jon terlihat mengeluarkan motor dari garasi rumahnya. Dia menghidupkan mesin untuk melancarkan sirkulasi oli pada mesin peninggalan mendiang bapaknya.


Pagi ini Jon berniat pergi ke makam orang tuanya, berniat ziarah dan sekaligus meminta doa restu akan kepergianya menuju negara Arab, untuk melanjutkan perjuangan pendidikan menuju kesuksesan.


Sesampai di depan makam orang tuanya, Jon langsung membersihkan rumput kecil yang baru tumbuh dan menutupi makam orang tuanya itu.


Setelah selesai, Jon berlutut memeluk papan nisan bapaknya yang letaknya bersebelahan dengan makam ibunya yang papan nisannya telah hilang termakan usia.


"Pak, Bu. Jon datang kesini ingin pamit, doa kan Jon agar menjadi orang yang sukses. Dan Bapak sama Ibu jangan khawatir, walau kita berpisah, Jon akan tetap kangen kalian dan mengirimkan doa dari sana. " ucapnya dengan posisi yang masih belum berubah.


Seraya meneteskan air mata, karena rasa sesak di dada yang sudah tak bisa di tahannya lagi.


"Pak, Bu. Tunggu sebentar. " ucap Jon sambil berdiri.

__ADS_1


Seraya berlari menuju air pancuran yang keluar dari sebuah bambu dengan niat berwudhu.


Setelah selesai, Jon menggelar tikar yang terbuat dari anyaman bambu untuk alas dirinya duduk.


Jon bertawasul disertai membacakan surat yasin, sebagai hadiah, sekaligus pengobat rindu pada kedua orang tuanya.


Di lain tempat, Suminah kaget melihat pintu garasi rumahnya yang telah terbuka lebar.


"Kok pintunya kebuka ya, apa jangan-jangan ada maling masuk?." ucap Suminah.


Seraya menghampiri dan berniat mengecek siapa tahu, ada yang hilang dalam garasi rumahnya.


"Duh pye jal?" ucapnya sambil berlari keluar dari garasi tersebut dan mencari Dirmo.


"Pak… Pak, Pak kesini sebentar!" teriak Suminah dari luar rumahnya memanggil Dirmo.


"Ada apa sih Bu, pagi-pagi teriak teriak, " jawabnya yang merasa heran melihat Suminah.


"Pak, motor Alm. anak kita hilang Pak. " tegasnya pada Dirmo.


Seraya berlari menuju garasi memastikan apa yang telah di dengarnya dari Suminah.


"Kok bisa, ya.? " Dirmo masih terdiam, berperang melawan pikiranya.


"Apa jangan-jangan. " gumam Dirmo.


Seraya berlari masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamar Jono.


Tok.. Tok.. Tok…


"Jon, Jono. Buka nak!,ini kakek!" serunya dari luar kamar Jono.


Tak ada sahutan yang terdengar dari dalam kamar Jono, membuat Dirmo memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Dirmo tidak mendapati cucu.

__ADS_1


"Dimana dia?" sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Akhirnya Dirmo berjalan keluar menuju teras rumahnya menemui Suminah yang masih terlihat cemas.


"Bagaimana Pak, Jono ada?" tanya Suminah pada Dirmo.


"Dia tidak ada di kamarnya Bu, Bapak yaqin sepertinya Jono yang membawa motor itu. " jawabnya.


Tak berselang lama, terdengar suara knalpot motor jadul dari arah luar menuju rumah Dirmo.


Dari kejauhan Dirmo sudah bisa menebak jika itu adalah suara motor mendiang anaknya yang di bawa Jono.


"Asalamu alaikum, kek , nek. " sapa Jon pada Kakek dan neneknya.


"Wa'alaikum salam Le. " Jawab kedua orang tersebut.


"Kamu darimana?" tanya Dirmo yang tak basa basi lagi.


Sebelum menjawab, Jono memperhatikan mimik muka cemas dari kakek dan neneknya.


"Maafin Jon, tadi Jon pergi ke makam Bapak dan Ibu. " jawabnya sambil menunduk merasa bersalah.


Suminah terlihat mengelus dadanya, sedangkan Dirmo membuang nafasnya dengan kasar.


"Sudahlah, cepat kamu mandi sana!, dan sarapan! Nenekmu sudah menyiapkanya dari tadi. "


"Baik Kek, Nek. " ucapnya .


Seraya meninggalkan Dirmo dan Suminah di luar.


"Memangnya kapan Baginda Raja akan menjemput Jono pak?" tanya Suminah.


"Mungkin minggu depan Bu. " jawabnya.


Seraya berlalu pergi dan memasuki rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2