
Suasana malam yang cerah dan bertabur bintang, tak seindah suasana hati John yang sedang di rudung kegalauan.
Sementara itu, suasana jalanan yang lenggang, membuat Adien tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sahabatnya.
"Selamat malam Pak Adien." sapa securty penjaga rumah John.
"Malam juga Pak," jawab Adien.
"Silahkan masuk Pak, anda sudah di tunggu oleh tuan John." Security mempersilahkan Adien.
"Baik, kalau begitu. Saya ke dalam dulu." Adien mengangguk dan masuk ke dalam rumah John.
Adien mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak John dan menghubunginya.
"Dimana kau?" tanya Adien sambil berjalan menaiki anak tangga.
"Di tempat biasa, cepatlah!" John menutul kembali panggilan teleponya.
Adien segera bergegas menuju balkon, tempat di mana John berada.
"Kenapa lagi loh?, kusut bener tu muka." Tanya Adien yang baru saja sampai di balkon.
"Entahlah Dien, malam ini rasanya gue kacau banget." John menunduk sambil menggelengkan kepala.
Adien masih terdiam menunggu penjelasan dari mulut sahabatnya.
"Kalau lo gak mau cerita, gua gak bisa maksa, Lagian yang ngerasa lo juga bukan gue." Adien berlagak masa bodo.
John mengangkat kembali kepalanya yang tertunduk dan memandang Adien.
"Dien, gue mutusin untuk mengakhiri masa lajang gue." tandasnya.
"Lah terus, kenapa lo mesti sedih?, harusnya lo itu bahagia cuy." tegas Adien.
__ADS_1
"Bagaimana gue bisa bahagia Dien, di saat upacara sakral sekali dalam seumur hidup gue...," John menghentikan ucapanya.
Adien bangun dari tempat duduknya, dan menghampiri John.
"ngomong, ngomong ma gua. Keluarin semua unek unek lo!" ucap Adien sambil memegang pundak John.
"Gue kangen mereka....," John bangun dari tempat duduknya dan berbalik membelakangi Adien.
John tak ingin sahabatnya melihat dia dalam posisi lemah dan menangis.
Sejenak Adien terdiam, sebagai teman sekaligus sahabat. Adien benar benar tahu siapa yang di maksudkan oleh John.
"I ya, gue paham perasaan lo John." Adien mencoba menenangkan hati John.
"Dien," panggil John.
"I ya, gue denger kok. Gak budek, apaan?"
"Bisakah orang tua loh hadir, dan mewakili acara pernikahan gue dengan Lusi." pinta John.
Adien menggeleng kepala, merasa heran dengan cara berpikir sahabatnya itu.
"John, orang tua gue itu, orang tua loh juga kalee!, ya pasti mau lah. Dan asal lo tahu ya, mereka pasti bahagia denger anaknya mo kawin." Adien mencoba menegaskan.
"Hah,,, Kawin? tanya lagi John.
"I ya, kawin. Kenapa? Adien melipat tanganya di pinggang.
"Emang kambing!" ucap John tertawa dan melupakan kesedihanya.
"I ya juga ya." Adien menggaruk kepalanya yang tidak gatak dan membalas tawaan John.
Setelah lelah tertawa, akhirnya mereka duduk kembali pada tempatnya.
__ADS_1
"Maaf ini kopinya Pak Adien." Lusiana yang baru datang menyimpan kopi di meja balkon.
"Duh malah bikin repot ini." Adien yang merasa tidak enak.
"ha..ha, seharusnya saya yang minta maaf. Saya tidak tahu kalau Pak Adien akan datang maen kesini." ucap Lusi sambil memeluk nampanya.
"Panggil saja saya Adien kalau di luar kantor!, lagian sebentar lagi... " Adien menghentikan ucapanya sambil melirik pada John.
" Kalau begitu, saya pamit ke dalam lagi. Kalau ada yang di perlukan, Mas John bisa panggil saya." Lusi berbalik membelakangi mereka berdua.
"Behhh, mas John cuy, mas John. Mesra bener." goda Adien pada Lusi.
Siluet merah terlihat di pipi Lusiana, tak ingin dirinya merasa malu, akhirnya Lusiana pamit meninggalkan kedua orang Dewasa tersebut.
"apaan sih lo." John menggeleng melihat sahabatnya yang lucu.
"O ya, John. Besok kan hari libur." ucap Adien mulai terlihat serius.
"Hem." jawab John mengangguk.
"Bagaimana, kalau kita pergi berziarah ke makam orang tua loh?" saran Adien.
"Ide bagus, tapi yang di maksud 'Kita' siapa?" tanya lagi John.
"Uhhh Johntor, muka aja lo gantenging, lelet bener sih lo. Maksud gue itu, Lo, gue, dan dan ketiga calon keluarga lo. Gitu dudul!" Adien menjelaskan panjang lebar dengan sedikit urat terlihat di lehernya.
"I ya..ya, gue paham." John memanyunkan mulutnya.
"Satu lagi ini, sekalian lo kenalin tu si lusi ma orang tua gue dan juga orang tua loh!" tandas lagi Adien dengan sangat jelasnya.
"I ya, paham. Detail amat ngomongnya." John bersungut sungut.
"Dah ah, gua ngopi ngerokok dulu, keburu adem, kecut ngobrol ma loh." Adien menggigit rokok dan menyalakan dengan pemantiknya.
__ADS_1
Mereka berdua kembali melanjutkan obrolan malamnya, dengan topik pembicaraan lain yang tak kalah hangatnya