LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
HUKUMAN


__ADS_3

John telah sampai di rumahnya, sedangkan Adien dengan rasa lelahnya, memutuskan langsung kembali ke apartemennya.


Di kediamannya, kini sudah kembali normal seperti biasanya.


John yang baru masuk ke dalam rumahnya, terlihat seperti seorang anak ayam yang mencari bibitnya.


Dimana dia?, apa dia kamarnya?, coba aku cari, siapa tahu saja dia berada disana.


John pun melangkah ke lantai 2 menuju kamar Lusiana, di depan pintu kamar Lusiana, John terlihat sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamarnya.


Ketuk, nggak, ketuk, ngga, ketuk.


Tok..Tok..Tok..


"Lusi, apa kau di dalam?" tanya John dari luar kamarnya.


Tak terdengar sahutan ataupun jawaban yang terdengar di telinga John.


Apa dia tidur?, ya sudah lah


Baru selangkah John meninggalkan kamar Lusi, Pintu kamar Lusi tiba tiba terbuka, dan membuat John kembali mendekati Pintu kamar Lusi.


"Maaf, tadi saya sedang ngelonin Juna dulu." ucap Lusi pada John.


"Ouwh," jawab John.


"Tuan mau makan?, biar saya siapkan sebentar." tawar Lusi sambil berlalu menuju ke dapur.


Baru saja 3 langkah Lusi melewati John, John langsung berbalik dan menarik tangan Lusiana ke dalam pelukannya.


Lusi hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan Tuan, saya tidak mau." pinta Lusi dengan kepala sambil menunduk tak mau memandang John.


"Jangan apa, tidak mau apa?, tidak mau nolak." jawab John sambil mengangkat dagu Lusi dan membungkamnya dengan ciuman.


Kena juga loh


Lusi hanya terdiam dengan mata terpejam, ketika John dengan leluasa menggoyangkan lidah di area mulutnya.


"Dengarkan Lusi!, lidahmu berkata tidak, tapi tidak dengan hatimu. Aku tau kau pun menginginkanya." tegas John sambil perlahan mengendurkan pelukan dan melepaskan Lusi dari cengkramannya.


Lusi hanya terdiam dengan muka yang masih tertunduk malu,


"Sekarang kau beristirahatlah, aku akan kembali ke kamarku." ucap John sambil mengangkat dagu Lusi dan membersihkan bekas pertukaran salivanya.


John pun pergi berlalu meninggalkan Lusi yang masih berdiri terpaku.


Jumira yang sedari tadi mengintai laksana CCTV, hanya bisa menggelengkan kepalanya, menyaksikan adegan yang tak jauh beda dengan drama Korea yang selalu tampil di televisi.


"Dasar lelaki haus," ucap Jumira sambil kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Sementara Lusiana yang sudah berada di kamarnya, dia terus tersenyum sambil memegangi bibir yang telah tersentuh John.


Di balkon kamar John, John terlihat sedang menikmati sebatang rokok.


"Hampir saja aku melahapnya tadi." ucap John sambil menggelengkan kepalanya mengingat ciuman panas antara dirinya dengan Lusiana.


"Tidak, aku harus lebih mengontrol diriku." ucap John. sambil mematikan puntung rokoknya.


Sang Surya pagi telah tersenyum memberikan senyumannya ke segala penjuru bumi, berganti tugas dengan sang rembulan yang semalam telah setia bersinar.


"Sungguh hari yang melelahkan," ucap John yang baru bangun dari tidurnya.


Melihat jam di ponselnya yang menunjukkan 5:30. John bergegas membersihkan dirinya ke kamar mandi.


Sedangkan Jumira terlihat sedang sibuk menyiapkan nasi rames untuk di suguhkan sebagai sarapan di menu paginya.


Sementara Lusiana yang baru saja selesai memandikan Juna, segera memakaikan baju Doraemon kesukaannya.


"Anak mama udah tampan, yuk kita keluar dulu." ajak Lusi pada Juna sambil menggendongnya.


Lusiana segera mendudukkan Juna di kursinya.


"Bu, aku titip Juna dulu. Aku mau menyiapkan baju untuk tuan John." pintanya pada Jumira.


"Ya sudah sana, cepat." jawab Jumira sambil menata menu sarapan paginya di meja.


Lusi segera berlari ke kamarnya dan mengambil satu style baju untuk di serahkanya kepada John.


"Permisi Tuan, ini saya Lusi." seru Lusi dari luar kamar John.


merasa tak ada sahutan, Lusi pun merasa bingung sendiri.


Masuk nggak ya?, ntar di kira gak sopan lagi.


tapi kalau tidak masuk, pekerjaan lain sudah menungguku.


Akhirnya Lusi pun memberikan diri membuka pintu kamar John dengan dengan pelan.


Setelah pintunya terbuka lebar, Lusi melihat ruangan kamar masih dalam keadaan gelap.


Kok gelap, orangnya kemana ini?, dasar pemalas.


Lusi pun memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar John. Lusi menyimpan satu style baju John yang telah di setrika nya di atas bantal.


Dengan bersungut-sungut Lusi menarik tirai kamar yang membuat gelap, agar mentari masuk ke dalam kamarnya.


berlanjut merapikan sprei yang terlihat acak acakan bekas John tidur.


"Ya ampun ni kasur apa kapal pecah.Dasar Bos, muka aja tampan tapi jorok." ucapnya sambil merapikan tempat tidurnya.


Lusi tidak menyadari bahwasanya John telah memperhatikan di belakangnya, sambil mendengar semua ocehan paginya.

__ADS_1


"Ohhh, aku tampan ya...tapi jorok." ucap John sambil berjalan menghampiri Lusi dari belakang.


Lusi yang mendengar suara majikanya, sontak kaget dan mematung sambil memejamkan mata.


Duh mati aku, dasar mulut gak bisa di ajak kompromi. Pasti tuan John marah dan akan memecatku.


Dengan hanya berlilitkan handuk putih dan bertelanjang dada, John langsung memeluk Lusi dari belakang.


"Ayo katakan lagi yang tadi telah katakan!" bisik John di telinga Lusi sambil mengeratkan pelukannya bagai ular yang siap memangsa korbannya.


"Tidak Tuan, tadi saya..saya..hanya bercanda." Lusi mencoba berkilah.


"Ohhh, bercanda ya, tapi aku kok tersinggung ya." bisik lagi John sambil mencium telinga Lusi.


Lusi merinding mendapat perlakuan seperti itu dari John, di tambah lagi sesuatu yang mengganjal pantatnya membuatnya benar benar tak nyaman di buatnya.


"Tuan saya minta maaf, saya harus ke dapur dulu menyiapkan sarapan pagi untuk Tuan." Lusi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, tapi sebelum itu kau tetap harus aku hukum." ucap John penuh penekanan.


Lusi yang baru saja kaget mendengar John akan memberi hukuman, mendongakkan kepalanya mencoba menatap John.


Lusi merasa takut melihat raut muka John yang memerah laksana ular yang siap melahap korbannya dan menelannya bulat bulat.


"Ampun, ampuni saya Tu..." ucapannya kembali terbungkam karena John langsung menjejalnya dengan ciuman.


John dengan rakus melahap bibir tipis Lusi dan tak memberi ampun atau jeda pada Lusiana untuk menghindar.


Ciumannya berlanjut ke jenjang leher, membuat Lusiana kalang kabut di buatnya.


Tuhan, tolonglah hambamu ini. jangan biarkan aku terjerumus ke lubang kedurjanaan yang kedua kalinya.


Merasa situasi yang mendukung, John membombardir Lusiana dengan gerakan gerakan spesial membuat Lusiana kelihatan tak sanggup bertahan.


John benar benar telah di kuasai nafsu birahinya, air mata Lusiana yang menetes kini tak di hiraukannya lagi.


Juna tolong mama nak


Ikatan batin yang kuat antara Lusiana dan Juna anaknya, membuat Juna sedikit peka dan terketuk untuk mencari sang mama yang belum kunjung tiba di ruang makan.


Juna segera turun dari tempat duduknya, Jumira yang sedang mencuci bekas masaknya tak menyadari bahwa sang cucu telah pergi mencari ibunya ke lantai atas.


Dengan susah payah Juna menaiki anak tangga yang begitu banyak dan tinggi sambil berpegangan ke gagang tangga.


"Mamama..." teriak Juna sambil berlari menuju kamar John.


Keadaan pintu yang terbuka, karena John lupa menutup dan menguncinya. Memudahkan Juna untuk memasuki kamarnya.


Melihat sang mama dalam posisi tertindih dengan dada yang sedang di kissmark, Juna langsung memukul mukul pantat John.


"Papapa..." teriaknya sambil menaiki punggung dan menggigit pundak John.

__ADS_1


"Ahhhh, sakit." pekik John sekaligus tersadar, dan menghentikan aksi bejadnya.


__ADS_2