
Rabu,kamis,jumat.Tiga hari berlalu sudah sang Sultan beserta para pengabdi nya telah tinggal di kediaman Dirmo.
Sabtu siang,seperti telah di jadwalkan sebelumnya.Jon akan di bawa oleh Sultan Abdullah atas mandat dari sang Ayah yang bertitle Sang Raja Arab.
Berat memang di rasakan oleh Dirmo dan Suminah sebagai kakek dan Neneknya, tapi semua itu mengikuti amanah atau pesan terakhir Jarwo, untuk kebaikan anaknya di masa yang akan datang.
Suasana menjadi hening, ketika Jon memasukan kopernya kedalam bagasi mobil.
Adien sebagi sahabat sedari kecilnya, hanya bisa menunduk sambil meneteskan air mata sebagai tanda sedih yang sangat mendalam.
Setelah memasukan kopernya, Jon menghampiri Adien yang masih terlihat menunduk sambil menangis.
"Sudahlah Dien, jangan bersedih seperti itu, " ucap Jon pada Adien.
Seraya sambil menepuk nepuk pundak Adien.
Brugh...
Seketika Adien memeluk Jon sambil menangis, Suasana haru pun tercipta seketika.
Adien melepas pelukannya dan segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.
"Jon, ambil ini! " seraya memberikan sebuah jam wecker kepada Jon.
"Jam wecker ini akan selalu mengingatkan waktu untuk sholat, " ucap Adien pada Jon.
"Terima kasih Dien, tunggu sebentar. " ucap Jon pada Adien.
Seraya mengeluarkan sebuah Arloji dari saku kemejanya dan memberikannya pada Adien.
__ADS_1
"Ambil ini Dien!, harganya memang tak seberapa, tapi aku harap kau akan menyukainya. " ucap Jon sambil menatap Adien.
"Jon, kamu harus berjanji padaku, " pinta Adien pada Jon.
"Janji apa Dien?" tanya Jon.
"Kamu harus berjanji menjadi orang sukses, dan jangan lupakan aku disini.!" sebuah pinta yang penuh harapan pada Jon.
"Baiklah, aku berjanji. Ketika aku kembali nanti, aku akan datang sebagai orang sukses.
Setelah perbincangan antara dua sohib itu berakhir, kini Sultan mengajak Jon untuk masuk ke dalam mobil untuk bersiap berangkat menuju bandara.
"Adien, come here, " titah Sultan pada Adien.
Adien berjalan menghampiri Sultan yang memanggilnya dengan sedikit menundukan kepala sebagai bentuk penghormatan.
"Take it" Seraya memberikan sebuah Al qur'an yang di lengkapi dengan terjemahanya.
Sultan pun masuk ke dalam mobil dan bersiap berangkat menuju bandara.
Kini mobil yang membawa Jon, perlahan meninggalkan area halaman kediaman Dirmo. Di kaca mobilnya Jon mengeluarkan kepala dan melambaikan tangan pada orang-orang yang sangat di sayanginya.
Semakin lama semakin jauh, mobil yang di kendarai mulai berbelok di persimpangan jalan.
"Nek aku titip ini sebentar. " ucapnya sambil menyimpan hadiah yang telah di beri Sultan di atas meja.
"Kamu mau kemana?" tanya Dirmo pada Adien.
Tanpa menjawab pertanyaan Dirmo, Adien malah berlari mengejar mobil yang sudah tidak terlihat di matanya.
__ADS_1
Dengan nafas yang terengah engah, yang di sertai air mata.Adien terus mengejar mobil yang membawa Jon sahabatnya pergi.
Setelah melewati persimpangan, Adien terus berlari mengejar mobil yang sudah mulai terlihat di matanya, walau memang jaraknya sangat jauh sekali.
Dengan penuh semangat Adien berteriak teriak memanggil Jon yang berada di dalam mobil.
"Jon, kau pasti bisa, " seru Adien yang terlihat masih berlari mengejar mobil yang jaraknya semakin Jauh.
Semakin lama, stamina Adien makin lemah. Pergerakannya pun makin melambat.
BRUGH
Adien terjatuh dengan posisi tengkurap , dengan susah payah dia memaksa dirinya untuk bangun dan terus mengejar Jon.
Sementara Jon yang merasa mendengar seseorang memanggilnya dari belakang, segera memalingkan pandanganya kebelakang kaca mobil dan memastikannya.
"Seperti suara Adien. " batin Jon.
"Kenapa Jon?" tanya Sultan.
"Tidak ada apa apa. " jawabnya.
Seraya membenarkan kembali posisi duduknya lagi seperti semula.
Aku yakin tadi suara Adien yang memanggil, tapi, Aku kok tidak melihatnya.Ah mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sementara Adien yang baru bangkit dari jatuhnya, hanya bisa menangis menyadari mobil yang membawa sahabatnya telah hilang dari pandangannya.
"Jon, aku akan menunggumu disini. " teriak Adien yang berharap sahabatnya akan mendengar jeritan suaranya.
__ADS_1
Dengan celana sobek di bagian lutut, Adien menangis sambil berjalan tertatih-tatih untuk kembali pulang menuju rumahnya.