
Setelah pertemuanya dengan Sang Raja, memutuskan untuk berpamitan pulang menuju kediamannya.
Sepanjang Jalan, rasa senang bercampur sedih bercampur baur dalam perasaan kecil John. Walau bagaimanapun Jasa Raja begitu besar dan tak akan pernah bisa di lupakannya.
Tetapi John juga tak bisa egois, karena di tanah air tercintanya. Dirmo dan Saminah telah lama menanti kedatangan sang cucu kesayangannya.
Sesampai di rumah, John langsung memutuskan diri untuk membersihkan dirinya yang terasa sudah gatal dan bau keringatnya itu.
Dengan badan yang terlilit handuk berwarna putih, John keluar dari kamar mandinya. Sambil menggosok kepalanya yang masih basah, John mencari cari handphonenya yang ia lupa simpan.
"Nah, itu dia." Seraya mengambil ponselnya yang tergeletak di bawah bantalnya.
Dengan tersenyum, John mencari kontak nomer kakeknya.
"Nah, akhirnya ketemu." seraya menempelkan ponselnya di telinga untuk menghubungi Kakeknya di Indonesia.
Selang beberapa saat panggilanya hanya terhubung tanpa ada yang menjawab panggilan telponya.
"Kok gak ada yang ngangkat?" jawabnya sambil mengerutkan dahi.
Apa jangan jangan kakek masih sibuk dengan pertanian melonnya apa ya? baiklah akan aku hubungi sesaat lagi.
Sambil menunggu, John memilih baju apa yang di akan pakainya hari ini. Sambil bersiul John sesekali bersenandung lagu yang Author sendiri gak tahu lagu apa itu he.. he..,.
Setelah selesai, John berdiri di depan cermin menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Ganteng juga gua." ucapnyan sambil tertawa kecil.
John kini kembali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi kakeknya yang berada di tanah air.
Selang beberapa saat akhirnya panggilanya terhubung.
MODE TELP ON
"Hallo," ucap John.
"I ya, Hallo John." ucap Seseorang yang tidak bagi John.
"Kakek ku mana?, Ini siapa, sepertinya aku mengenal suaramu?" tanya John.
"Aku Adien, bisakah kau cepat pulang John." pinta Adien yang suaranya berubah sedikit cemas.
"Lebih baik, kau segera kembali kesini. Karena kakek dan nenek sudah merindukanmu."
Untuk menghindari Bombardir pertanyaan dari John, Adien lebih memilih menutup panggilanya karena takut dirinya akan jujur pada John tentang keadaan sebenarnya pada Dirmo.
"Siapa Dien?" tanya Sayarifah.
"John, Bu." jawabnya.
"Apa kau berkata jujur, tentang keadaan pak Dirmo padanya?"
__ADS_1
"Tidak Bu." jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu." jawab Syarifah sambil berlalu pergi.
Di lain tempat, John masih melamun dengan perkataan temannya yang meminta agar dia segera kembali.
Drett.. drett…
Getar ponsel menyadarkan lamunan John, dan dengan cepat John mengecek panggilan siapa yang masuk ke dalam handphonenya.
"I ya, Hallo." sapa John.
"Mr. John, tiket dan segala keperluannya telah di siapkan langsung oleh beliau sang Raja.
"Baiklah, terima kasih. ucapkan salamku untuk baginda Raja."
"Baik Mr. John." sambil menutup panggilanya.
Sesuai waktu yang telah di jadwalkan, John akan terbang pada jam 9 malam menurut waktu Arab setempat.
"Mungpung masih lama, lebih baik aku mencari sedikit oleh oleh untuk aku bawa kesana." seraya bangun dari tempat tidurnya dan kembali mengambil kunci mobilnya.
Dengan kaca mata Hitam yang bertengger, John semakin tampan yang memiliki level tidak tertolong tampanya.
Sepanjang perjalanan menuju pencarian oleh olehnya, tak sedikit sekali kaum hawa yang di buat klepek klepek olehnya.
__ADS_1
Dengan kemurahan senyum yang terwaris dari sifat ayahnya, John semakin banyak di gandrungi mitra bisnisnya, apalagi client hawa yang selalu ingin menawarkan kontrak bisnis padanya.