
Suasana pagi yang cerah di hari senin, para pemburu dolar kembali sibuk dengan aktifitasnya.
Tetapi tidak bagi John, dia terlihat masih asik dengan bantal gulingnya yang ia peluk.
Tok... Tok.. Tok...
"Mas John, bangun mas!" Lusiana mengetuk ngetuk pintu kamar John.
"Hmmm," John yang masih asik dengan mimpinya.
"Mas John, sudah siang. Cepetan bangun, nanti kesiangan." Lusi mencoba terus membangunkan John.
Tak ada sahutan yang terdengar dari balik pintu kamar John.
"Ini orang tidur apa pingsan?, susah bener di banguninya." batin Lusi.
Dengan terpaksa Lusi membuka pintu kamar John, ia kini masuk untuk sekedar memastikan John yang sudah bangun apa belum.
"Hobahhhh...," Lusi jengkel, yang melihat John sedang asik mencium bantal gulingnya.
Dasar mesum, pagi pagi masih aja mimpi gak jelas.
Lusiana menutup hidung John, hingga John tak bisa bernafas, dan terpaksa bangun dari tidurnya yang mengasyikkan.
"Ada apa sih?, ganggu orang lagi tidur aja." John menjawab dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun woy, cepet kerja!" Lusi mengguncang guncang bahu John.
Seketika John menarik Lusi hingga terjatuh di tempat tidurnya. Ia membalikan posisi hingga kini Lusiana berada pada kungkunganya.
"Lepas mas," Lusi mencoba berontak.
"Tidak mau, sebelum kamu memberikanku Kiss morning." John tersenyum licik.
John melepas kungkunganya, dan mendekatkan pipinya di bibir Lusiana.
Lusiana tak ingin berlama lama lagi berada di kamar John, ia pun menuruti apa yang di minta kekasih hatinya.
Lusiana kini mulai mendekatkan bibirnya pada pipi John, tapi dengan cepat John merubah posisi wajahnya, hingga terjadilah pertemuan bibir satu sama lain.
"Emmmm." Bibir Lusiana kembali terbungkam.
"Pok," Lusiana melepas bibirnya.
__ADS_1
Ia berlari keluar dari kamar John dengan cepat.
"Ha.. Ha.. Ha," John yang merasa puas telah mendapat sarapan paginya.
Dan kini John turun dari tempat tidurnya. Ia berlalu dan masuk ke dalam kamar mandinya, untuk melakukan ritual mandinya.
Sementara, Lusiana masih terlihat jengkel. Bagaimana tidak, ia merasa telah tertipu mentah mentah oleh kekasih hatinya.
"Kenapa lagi Lusi?, masih pagi kok mukanya sudah di tekuk seperti itu." Jumira bertanya sambil memasak.
"Mas John Bu," Lusi bersungut sungut.
"Nak John." Jumira memastikan apa yang ia dengar.
"I ya, pagi-pagi udah menipu Lusi." Lusi dengan mode ketusnya.
"Menipu bagaiamana maksudnya?, Ibu malah jadi bingung." Jumira mematikan kompor gasnya dan menghampiri Lusi.
"Itu loh Bu," Lusi bingung menyampaikanya.
"Itu apa?" tanya Jumira.
"Anu loh Bu," Lusiana makin bingung, bagaimana cara ia menyampaikan pada ibunya.
"Ibu, Ibu kan pernah muda. Ibu pasti tahu dan mengerti lah." Pipi Lusiana kini memerah seperti kepiting rebus.
Jumira masih berperang dengan pikiranya. Ia baru menyadari setelah ia melihat lipstick di bibir anaknya sedikit acak acakan.
"Ya sudah kalau begitu, cepat buatkan kopi utuk nak John." Jumira kembali pada pekerjaanya.
Ibu paham gak ya maksud perkataanku?, ah jadi malu aku sama ibu.
Lusi langsung mengantar Kopi yang baru saja ia buat ke ruang tamu.
Ternyata di sana telah ada John, yang berpenampilan biasa saja, dan sejenak Lusi diam dan merasa heran, melihat John tanpa style kantornya.
"Kenapa tetap berdiri disitu?" John yang menyadari kedatangan Lusi.
"Tidak, tidak mas." Lusi menyimpan gelas kopinya di depan John.
"Lantas, kenapa kamu terlihat seperti orang bingung?" Tanya John sambil menyesap kopinya.
"Mas John libur?" tanya Lusi yang merasa tiba tiba segan.
__ADS_1
"I ya, hari ini aku libur." John melipat berita paginya.
"O ya, di mana Juna?" John menatap Lusi.
"Semalam dia agak sedikit rewel, karena demam. Tapi setelah demamnya reda ia tertidur dengan lelap." jawab Lusi sambil menyiapkan sarapan pagi untuk John.
"Dimana Ibu Lusi?" tanya John lagi.
"Beliau sedang mencuci piring di belakang." Jawabnya.
"Oh, bisakah kau panggilkan ia Lusi?" pinta John.
"I ya, tunggu sebentar." Lusi bangun dari tempat duduknya dan berlalu menghampiri Ibunya.
Di dapur, terlihat Jumira yang telah selesai dengan cuci piringnya.
"Bu, mas John manggil Ibu." Ucap Lusi.
" I ya, nak." Jumira mengeringkan tanganya dengan serebet.
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan.
"Bu, ayo sarapan dulu." ajak John yang melihat Jumira dan Lusi.
"I ya, nak John." Jumira duduk bersebelahan dengan Lusi.
Acara sarapan pagi berjalan dengan khidmat.
"Bu," panggil John.
"I ya, nak John." jawab Jumira.
"Nanti siang, saya akan mengajak kalian untuk menemui Ibuku." ucap John.
"Ibu," tanya lagi Jumira memastikan apa yg telah ia dengar.
"I ya, Ibu. Kenapa? tanya John yang merasa heran.
"Bukanya nak John, pernah bercerita jika nak John sudah tak memiliki orang tua?" Jumira meminta penjelasan.
"Oh, beliau ibu angkatku Bu. Tapi dia sudah John anggap sebagai ibu kandung sendiri." John menjelaskankanya.
"Sekalian John ingin mengenalkan Lusiana padanya, sekaligus John ingin berziarah ke makam orang orang yang John sayangi." tandasnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu Ibu akan menyiapkan segala sesuatunya dulu." Jumira pergi di iringi Lusi dari belakang.