
Waktu telah menujukan jam 3 sore, sesuai dengan yang sudah di rencanakan. John bersama Lucy beserta ibunya akan berkunjung ke kediaman Dul Hamid, selaku orang tua angkat John.
"Kalian sudah siap?" tanya John pada Lusi dan Jumira.
"I ya, kami sudah Siap." jawabnya.
Mereka semua memasuki mobil, Jumira bersama Juna duduk di belakang, sedangkan Lusi duduk di depan, menemani John di sebelah kursi kemudi.
John menghidupkan mesin mobil, dan menancap gasnya secara perlahan.
"Kenapa kau tersenyum senyum sendiri Lusi?" John yang melihat Lusi senyum senyum sendiri.
"Hmmm, tidak. Aku tidak apa apa." Lusi merasa malu.
"Lantas, kenapa wajahmu menjadi merah seperti itu." John menggoda Lusi.
Seketika Lusi memalingkan pandanganya pada Spion mobilnya, dan memang benar wajahnya kini menjadi merah malu.
Kenapa aku menjadi grogi seperti ini?
Lusi kembali membenarkan posisi duduknya. Ia terlihat lebih kalem dengan mulut yang ia buat mingkem.
"Ha..ha.ha," John tertawa melihat kelakuan aneh pada Lusi.
Kenapa dia mentertawakanku, memang aku ini badut apa!. Awas saja nanti.
Lusi tetap bersikap tenang, walaupun John terus mentertawakanya.
"Lusi, tidak seperti itu juga kali, kenapa kau harus menutup mulutmu rapat." John menggeleng kepala.
Puas benar kau mentertawakanku mas John.
Oh.. I ya, aku punya ide.
Lusi tersenyum dengan ide liciknya. Ia menatap ke belakang, memastikan keadaan ibunya. Dan ternyata kebetulan sekali, Jumira kembali tertidur di dalam mobilnya.
Lusi menarik tuas Jok, agar ia bisa sedikit melentangkan tubuhnya, di sebelah John.
"Lusi, apa kau coba menggodaku?" John melihat Lusi yang sengaja menggodanya dengan bermain lidah.
"siapahhh yang menggodamuhh." suara Lusi sengaja di buat sedit mendesah.
"Sial, kau ingin membalasku, dengan cara menggodaku." John mengumpat.
"Ahhh, tidak jugahhh." Lusi makin menggoda John.
__ADS_1
Konsentrasi John kini buyar tidak karuan. Dia mengambil Aqua dan meminumnya. Akan tetapi semua itu di rasa sia sia.
Dalam posisi mengemudinya, sesekali John memalingkan pandanganya pada Lusi, yang terlihat masih menggodanya dan kembali fokus pada kemudinya.
"Mas John, kenapa tidak tertawa lagi?" Lusi puas membuat John emosi.
"Awas saja kau Lusi, aku pasti akan menghukumu dengan berat." ancam John.
"We..siapa takut." jawab Lusi.
Mobil yang di tumpangi John, kini memasuki halaman rumah Dul Hamid.
Adien yang mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, ia langsung bangun dan membukakan pintu rumahnya.
"Pak, Bu. Mereka sudah datang." Adien memberitahukan.
Adien keluar dari rumah menyambut kedatangan John beserta calon keluarganya.
"Hi John, Hi Juna tampan ayo sini om gendong." Adien mengambil Juna dari gendongan Jumira dan menggendongnya.
"Dien, mana Ibu sama Bapak?" tanya John yang belum melihat Dul Hamid dan Syarifah.
"Mereka di dalam, ayo mari masuk." ajak Adien pada mereka.
Mereka bersama masuk ke dalam rumah Adien.
"Bu Jum, Lusi. kalian duduklah dulu!, akan ku panggilkan mereka." Adien berlalu memanggil orang tuanya sambil menggendong Juna.
Di dapur terlihat Syarifah yang baru selesai dengan acara masaknya.
"Bu, Bapak dimana?" tanya Adien yang baru saja memasuki dapur.
"Bapakmu di belakang Dien, anak siapa ini Dien?, Lucu sekali." Syarifah mencubit kecil pipi Juna.
Tak berselang lama, muncul Dul Hamid dengan wajah seperti orang bingung.
"Dien, anak siapa yang kamu gendong itu?" Dul hamid menunjuk Juna.
"Ini Pak, namanya Arjuna. Calon anaknya John." Adien memberitahukan.
"Ayo pak, Bu. John beserta calon keluarganya telah menunggu di ruang tamu." ucap Adien.
Mereka bertiga segera meninggalkan dapur dan menuju ruang tamu.
"John." Panggil Dul Hamid.
__ADS_1
"Bapak," John langsung memeluk Dul Hamid.
Syarifah terharu dan sedikit meneteskan air mata. John melihat Syarifah dan melepas pelukanya dari Dul Hamid beralih memeluk Syarifah.
"Bu, John kangen sekali dengan kalian semua." John terlihat meneteskan air mata kebahagiaanya.
Dul Hamid mengusap kepala John yang sedang menangis memeluk Syarifah ibu angkatnya.
"Kita disini semua juga merindukanmu John." Dul hamid mengelus ngelus punggung John.
Lusi dan Jumira ikut terbawa suasana, mereka bisa merasakan sekali akan rasa rindu anak kepada orang tuanya.
Sedangkan Adien hanya bisa menunduk sedih melihat suasana haru sambil menggendong Juna.
John melepas pelukanya dan mengusap air mata dengan punggung tanganya.
"Ayo kita duduk kembali," ajak Dul Hamid pada semua orang di situ.
Tok.. Tok.. Tok..
"Asalamu alaikum." seru seseorang di luar.
Terdengar seseorang mengetuk pintu dan mengucap salam, membuat semua orang saling memandang satu sama lain.
"Siapa itu?" Dul Hamid memandang istrinya.
"Biar Adien saja yang buka Pak." Adien memberikan Juna pada Lusi dan berlalu menuju pintu depan.
Adien segera membukakan pintu rumahnya.
"Dyah, Pak Robert, dan Bu Welly. Mari silahkan masuk." ajak Adien.
"I ya. Terima kasih." mereka masuk mengikuti Adien ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Dul Hamid merasa kaget. Angin apa yang membuat Robert yang punya kawasan sawit, datang ke rumahnya.
"Pak Robert, silahkan duduk."
"Terima kasih, Pak Dul. Ngomong ngomong ramai sekali ini, apakah saya tidak mengganggu acara keluarganya?" Robert merasa tidak enak.
"Tidak apa apa Pak Robert, sekalian silaturahmi. I ya kan, Pak." Syarifah memandang Dul hamid.
"I ya, betul itu." Dul Hamid meng i yakan jawaban istrinya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu saja, ngobrolnya bisa di sambung nanti saja." ajak Dul hamid yang mendapat banyak anggukan.
__ADS_1