
Ke esokan harinya, mentari sudah bersinar memancar menembus setiap rumah warga. akan tetapi Robert yang kelelahan akibat olah raga malamnya, terlihat masih memejamkan matanya di atas sofa.
Begitu pun dengan Jumira, dirinya juga masih terkulai lemas berbaring di atas tempat tidurnya, dengan wajah penuh kedamaian.
"Kok Tokonya masih tutup?" tanya salah satu karyawan Jumira.
"I ya, gak tau nih. apa Bu Jum sakit?" tebak salah karyawan lagi.
"Ayo, kita lihat." ajak salah satu karyawan Jumira pada temannya.
Mereka berdua melangkah menghampiri rumah Jumira yang jaraknya tak jauh dari toko pupuknya.
Di depan pintu rumah, salah satu karyawan Jumira langsung mengetuk pintu sambil mengucap salam.
Dan tak berselang lama, munculah Robert dengan wajah yang terlihat masih acak-acakan membukakan pintu.
"Eh, ada mas Bos." sapa salah satu karyawan Jumira melihat Robert.
"Ada apa kalian pagi pagi datang kemari?" tanya Robert sambil menggaruk kepalanya dengan malas.
"Ini, mas Bos. kami berdua mau buka toko Pupuknya, tapi kuncinya yang pegang cuma Bu Jum saja." jawab salah satu karyawan Jumira.
"Ouwh, begitu ya. Tunggu sebentar." Robert berlalu menuju kamar Jumira.
TOK...TOK...
"Jum, bangun Jum. ada karyawan nanya kunci toko katanya." seru Robert dari luar pintu kamar Jumira sambil mengetuk pintu.
Mendengar suara ketukan pintu, akhirnya Jumira bangun. dia beringsut turun dari tempat tidurnya dengan jalan yang terlihat sedikit membungkuk dengan tangan yang memegang perut.
"Ini, kuncinya." Jumira memberikan kunci tersebut pada Robert agar di berikan pada karyawannya.
"Kamu kenapa, Jum?" tanya Robert yang melihat Jumira memegang perut.
"Gak tahu mas, bangun tidur perutku terasa mules." jawab Jumira.
"Ya sudah, tunggu sebentar. aku akan memberikan kunci ini dulu pada mereka, setelahnya itu ayo kita berobat." ucap Robert yang langsung berlalu menghampiri kedua karyawan Jumira yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Mas Bos. Memangnya Bu Jum kemana?" tanya salah satu karyawan yang menerima kunci dari Robert.
"Beliau lagi tidak enak badan." jawab Robert
Kedua karyawan Jumira saling bertatapan
"Wah, alamat gak sarapan ini." ucap kedua karyawan Jumira bersamaan.
__ADS_1
"Apakah setiap pagi Jumira menyiapkan kalian sarapan?" tanya Robert.
"I ya, mas Bos. Bu Jum adalah orang baik, tiap pagi beliau memberi kami sarapan tanpa memotong gaji mingguan kami." jelas salah satu karyawan.
Robert mengangguk paham, dan terlihat ia menyuruh karyawan Jumira untuk menunggu sebentar.
Dan tak lama kemudian, Robert kembali sambil memberikan 3 lembar uang seratus ribuan, dan memberikanya pada mereka.
"Ini untuk apa, mas Bos?" tanya salah satu karyawan Jumira yang belum mengerti.
"kalian berdua, carilah sarapan dulu sana, dan tolong belikan saya Rokok Surya 16, satu slop saja!" titah Robert sambil menambahkan lagi uang seratus ribu pada mereka.
"Mas Bos. mau titip sarapan juga?" tanya salah satu karyawan Jumira yang terlihat sudah siap pergi.
"Ok, saya titip ketoprak 2 porsi." pinta Robert.
Kedua karyawan Jumira pun melangkah pergi menggunakan motornya mencari sarapan di pasar.
Robert melangkah kembali menghampiri Jumira yang berada di kamar. Di dalam kamar Robert mendapati Jumira yang terlihat sedikit kesulitan melangkah ke arah kamar mandi.
"Kamu mau mandi, Jum?" tanya Robert yang tiba tiba datang dan menggendong Kukira dengan gaya brydal stylenya.
"Mas, turunin aku. malu nanti kedua karyawan Lihat." ucap Jumira .
"Mereka berdua sudah pergi." ucap Robert sambil melangkah menggendong Jumira.
"Mereka berdua butuh sarapan, Jum. makanya tadi mas Robert kasih uang supaya mereka cari sarapan sebelum bekerja." ucap Robert sambil mendorong pintu kamar mandi dengan lututnya.
"Makasih ya mas, kamu udah baik sama kedua karyawanku." Jumira tersenyum dan Robert menurunkan dari gendonganya.
"Makasih doank?" tanya Robert sambil terkekeh.
"I ya, memang kenapa?" tanya Jumira yang tidak sadar melucuti kancing bajunya di depan Robert.
"Mas Robert tidak menerima ucapan makasih doank." Robert yang berubah sedikit seperti kucing manja di depan Jumira.
"Kalau pengen kopi, tunggu sampai aku selesai mandi." Ucap Jumira.
Jumira mendorong Robert kekuar dari kamar mandi dengan lembut dan menutup kembali pintu kamar mandinya.
Jumira tidak menyadari bahwasanya dia hanya menutup pintu kamar mandi tanpa menguncinya.
Sehingga memudahkan Robert masuk kembali kedalam kamar mandi.
Jumira tidak menyadari ke asikanya dalam Bermandi ria, menjadi pemandangan spektakuler bagi Robert yang kini telah berada kembali di belakangnya.
__ADS_1
Robert terus menelan ludahnya menyaksikan punggung mulus Rahayu milik kekasih hatinya.
Jumira mencoba menggosok punggung walaupun terlihat sedikit kesulitan.
"Sini, biar mas Robert yang bantu gosokin punggungnya." ucap Robert dengan muka tak berdosa.
Jumira berbalik kaget dan menutup kedua bukit. kembar dengan tangannya.
"Kamu sejak kapan ada di dalam mas?" tanya Jumira yang terlihat seperti orang shock.
Alih alih menjawab pertanyaan Jumira, Robert malah asik memandang kedua bukit Jumira yang menyembul keluar karena ukuranya yang termasuk big melon.
Menyadari perubahan di wajah Robert, Jumira kini semakin memundurkan langkahnya. dia mencoba mengambil handuk untuk menutupi badanya yang terekspos, namun sayang, Robert dengan cepat mengambil dan menyembunyikanya di belakang punggungnya.
"Kembalikan handuknya mas?" Jumira terduduk di pojok kamar mandi.
"Ambil ini." Robert mengangkat handuk di depan Jumira.
Jumira terus mencoba meraih dengan loncatan loncatan kecilnya. Dan terus tertawa melihat bukit kembar yang menyembul naik turun.
Jumira akhirnya mendapatkan handuknya, akan tetapi Robert langsung menarik Jumira jatuh kedalam pelukannya.
"Mau kemana cantik?, mas Robert cuma mau ambil kopi pagi mas Robert saja." Robert tersenyum penuh kemenangan.
"I ya, tapi lepaskan aku dulu. katanya minta kopi." jawab Jumira yang sudah tidak tahan dengan sesuatu yang menempel di pantatnya.
"Kopi pagi mas Robert, ada di bibir kamu." Robert langsung melahap bibir Jumira dan mencercapnya.
Perbedaan fisik dan tenaga yang jauh berbeda. membuat Jumira terkunci dan tak berdaya. tak ada yang bisa dilakukanya selain pasrah pada keadaan.
Diamnya Jumira makin membuat Robert menggila dan leluasa dalam menikmati tiap jengkal kepemilikan Jumira.
"Ampun, mas." Jumira yang kini telah parau.
Robert kembali tertawa puas dan membalikan posisi Jumira jadi membelakanginya.
Jumira pasrah, dia menyadari bahwa Robert pasti akan menusuknya kembali dengan senjata pamungkasnya.
Dan benar saja dugaan Jumira, Robert menusuk Jumira dari belakang membuat Jumira kaget dan membulatkan matanya.
"Uhhh," Jumira merasakan rasa sesak di bagian perut dan saluran pernapasannya.
Robert memeluk erat Jumira dari belakang dengan bibir yang terus menggigit kecil leher Jumira meninggalkan bekas kepemilikan.
30 menit berlalu, akhirnya Robert melepas senjata pamungkasnya dari Jumira.
__ADS_1
Lepasnya senjata tersebut, kini Jumira bisa bernafas dengan lega.
"Terima kasih, Jum." Robert mencium kening Jumira.