
Dengan motor gedenya yang berwarna hijau metalix , di tambah kaca mata the Matrix hitam tembus pandang, membuat John makin terlihat tampan gak ketulungan.
Dengan berbekal informasi yang telah di dapatkannya, John segera melajukan motornya Ninjanya menuju pasar di mana Adien sedang berdagang.
Sepanjang perjalan menuju pasar, John bermurah senyum kepada siapa saja yang melihatnya. Bahkan tak sedikit kaum hawa banyak terpeleset, malah bahkan beradu badan karena hilangnya konsentrasi atau sering kita namakan gagal fokus.
Sesampai di parkiran pasar, John langsung memarkirkan motor gedenya dengan cantik. ia terlihat mulai berjalan masuk ke area dalam pasar mencari keberadaan sahabat kentalnya.
Sementara di satu tempat yang sama, masih di dalam pasar itu juga. Adien terlihat sibuk melayani pembeli yang antusias berbelanja sayur segar kepadanya.
"Dien, Bapak mau cari minuman dulu. Kamu tunggu disini dulu ya!" titah Dul Hamid pada Adien.
"I ya, Pak." jawabnya dengan masih berkutat melayani beberapa pembeli sayurnya.
Sementara itu, John kini perlahan mendekati lapak atau jongko tempat Adien berjualan. ramainya pelanggan membuat Adien kurang memperhatikan akan kedatangan sahabat kecilnya.
Keadaan sibuk seperti itu, membuat John terlintas ide untuk sekedar iseng mengerjai sahabatnya.
"Sawi berapa mang?" tanya John dengan suara agak di buat ngebass.
"Murah mas, 10 ribu saja." jawab Adien sambil melihat sayuran sawi yang di pegang John, tanpa memperhatikan siapa pembelinya.
John pun sengaja menanyakan harga setiap sayur yang terpajang di meja daganganya Adien tanpa terlihat keseriusan untuk membeli. Jelas itu membuat Adien sedikit jengkel dan menahan amarahnya.
"Ini orang niat beli gak sih?" batin Adien sambil merapihkan kembali sayurnya yang sedikit berantakan bekas John memilih milih sayurnya.
"Gak jadi mang, sayurnya jelek jelek." ucap John sambil melipat tangan di dadanya.
__ADS_1
"Sabar Dien, sabar. Pembeli adalah raja." gumamnya dalam hati.
Seumur hidup, baru kali ada pembeli yang bilang sayur gua jelek, itu orang gak tau kualitas apa ya?.
"Kenapa?, anda marah, tersinggung dengan apa yang telah saya katakan barusan?" tanya John dengan menaikkan nada bicaranya untuk memancing emosi sahabatnya, yang belum juga menyadarinya.
Ucapan John tersebut, Jelas menantang si penjual agar sekiranya berduel kalau tidak menerima dengan apa yang telah di ucapkanya.
Dengan gemuruh hati yang sudah tidak bisa di tahan lagi, Adien mengambil sawi dan berniat melemparkanya ke muka si pembeli yang telah menyulut emosinya.
John yang telah mengerti dan bisa membaca pergerakan Adien, segera bersiap berancan ancan menerima lemparan yang akan di lakukan sahabatnya.
"Sialan loh!!!," ucap Adien sambil melemparkan sawinya ke arah muka John.
Kreepp…
Dengan cepat John menangkap sawi yang di lemparkan ke mukanya.
Adien makin geram melihat serangannya yang dengan begitu gampang di tahan olehnya.
"Tak bisa di biarkan lagi, ngelunjak ini orang." ucapnya sambil melompat tinggi melewati meja dagangannya.
Tetapi berbeda dengan John, pemuda tampan yang terlihat oppa, malah tertawa terbahak-bahak, ke isengannya berhasil mengelabui sahabatnya.
Adien makin tak kuasa melihat lawannya yang terus mentertawakanya, Adien mencoba menarik baju John, tapi sayang lagi lagi John berhasil menepis tangan Adien.
Demi keamanan dan ketertiban, warga yang kebetulan berada disitu, langsung melerai pertarungan yang akan terjadi.
__ADS_1
Tangan Adien langsung di tarik oleh seseorang, dan membawanya ke pinggir.
"Lepaskan aku!, aku harus menghajar orang itu biar tahu rasa dia," ucap Adien sambil mencoba berontak dari genggaman Dul Hamid.
"Sabar Dien, sabar. Ini minum dulu teh dinginnya biar kamu rada adem!" titah Dul Hamid sambil mendudukan anaknya di bangku pasar.
"Terima kasih Pak," ucap Adien setelah meminum teh dinginnya.
Setelah situasi telah kembali normal, John menghampiri Dul Hamid dan Adien yang terlihat duduk di bangku panjang pasar.
Setelah dekat, John langsung merampas plastik minuman teh dingin Adien, dan kini malah duduk bersebelahan dan meminumnya dengan sengaja di depan Adien dan Dul Hamid.
"Tuh kan Pak, dia yang mulai duluan," ucap Adien pada Bapaknya.
Dul Hamid hanya diam dan merasa heran melihat tingkah laku pemuda yang baru saja ribut dengan anaknya.
"Halahhh, gitu aja Kok lapor sama bapaknya!, dasar pemuda cengeng!" ucap John penuh penekanan sambil melepas kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger di matanya.
Adien terdiam, melihat dan memperhatikan pemuda tampan yang baru saja melepas kacamata hitamnya.
Sambil menatap ke depan, John terlihat menitiskan air matanya, dan membuat Adien makin bingung di buatnya.
"Kenapa dia menangis?" batin Adien sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah puas meneteskan air matanya, walau berat dan lidah terasa kelu John mencoba mengatakan sesuatu.
"Kamu enak Dien, kalau ada masalah kau bisa melapor pada ayah dan ibumu, sedangkan aku… " ucapnya terpotong.
__ADS_1
John seketika berhambur memeluk Adien, Dien ini gue John. Adien langsung membalas rangkulan sahabat kentalnya.
Dul Hamid hanya bisa terdiam sambil meneteskan air matanya melihat suasana haru yang terjadi di depan matanya.