
John yang kini telah melepaskan kungkunganya, langsung mengambil baju yang telah di siapkan Lusiana yang telah jatuh di lantai kamarnya, dan berlalu menuju kamar mandi.
"Mamama...." ucap Juna sambil memeluk ibunya.
Lusiana masih terlihat menangis dan mengeratkan pelukannya pada Juna.
"Terima kasih Juna, kamu udah menyelamatkan mama nak." ucap Lusi sambil melepas pelukan dan membenarkan baju yang kancingnya telah copot akibat keganasan John di pagi hari.
Lusiana mengusap air matanya, dan memutuskan untuk segera meninggalkan kamar John menuju ruang makan.
Di ruang makan, Lusi berlagak seakan tak terjadi apa apa di depan Jumira.
"Kok lama sekali Lusi?" tanya Jumira.
"Tadi Lusi lupa Bu, belum menggosok Baju Tuan John." jawabnya dengan tenang.
"Kamu habis menangis ya Lus?, mukamu kok sembab?" tanya lagi Jumira yang memperhatikan wajah Lusi.
"Masa sih Bu, perasaan Ibu mungkin." jawabnya mencoba berkilah.
Jumira melihat kancing baju Lusiana yang hilang, makin membuatnya tidak nyaman.
"Lusi tolong jujur pada Ibu!, apa yang telah di lakukan John padamu." ucap lagi Jumira penuh penekanan.
"Tidak ada apa apa Bu, Lusi tidak Bohong." Jawab Lusi.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau jujur kepada Ibu. Ibu tak akan memaksamu." ucapnya sambil mengambil Juna dari pangkuan Lusi.
Suasana menjadi hening sesaat, tak ada kelanjutan pembicaraan antara mereka berdua.
"Pagi semua." sapa John yang baru saja mendudukkan diri kursi ruang makan.
Sial, apakah Lusi sudah menceritakan perbuatanku pada Ibunya.
"Lusi, kenapa kamu diam saja. Cepat ambilkan nasi untuk Tuan John!" titah Jumira yang duduk sembari memangku Juna.
"I ya, Bu. Maaf tuan John." Lusi segera mengambil piring dan mengambilkan nasi rames menu paginya untuk di berikan kepada John.
__ADS_1
John berakting seakan tak terjadi apa apa antara dirinya dengan Lusiana. gelagat dan muka tanpa berdosa pun ia pasang untuk mengelabui Jumira.
"Ayo kita sarapan dulu." ajak John pada mereka berdua.
Selama acara sarapan pagi, John tak henti hentinya memandang Lusiana dengan tersenyum penuh kemenangan.
Lusiana yang menyadari John menatap penuh ancaman, hanya bisa menundukkan kepalanya sambil meneruskan sarapannya.
Acara sarapan selesai penuh dengan khidmat.
"O ya, kopinya mana ini?" tanya John.
"Maaf Tuan, tunggu sebentar." Lusi pergi sambil membawa tumpukan piring bekas sarapan mereka bertiga.
"Ya sudah Ibu mau bawa Juna ke pasar dulu Tuan John." Jumira bangun dari duduknya sambil menggendong Juna untuk di bawanya.
" I ya, Bu. Hati hati di jalan." jawab John.
John tak menyiakan kesempatanya itu, dia segera menyusul Lusi yang sedang yang sedang membuatkan kopi untuknya di dapur.
Di dapur John langsung menghampiri Lusi yang sedang mengaduk kopi.
"Tuan jangan, aku mohon." pinta Lusi penuh dengan permohonan.
"Kenapa kau masih memanggilku Tuan hah." ucap John penuh penekanan.
Dengan tangan yang telah terkunci dengan erat, tak ada perlawanan yang bisa di lakukan Lusiana pada John.
"Kau harus aku hukum Lusi." John kembali mencium leher Lusi.
Berlanjut pada telinga Lusi, John terus mencoba membakar gairah Lusiana.
"Tuan John jangan, aku mohon." Lusi mencoba menahan dan menolak rangsangan yang di lakukan John padanya.
"Jangan apa Lus?, maksudmu jangan hentikan?" John tertawa setelah mengetahui Lusi kini telah terbakar api gairah.
John membalikan posisi Lusi, kini posisi mereka berdua tepat berhadapan. John kembali melancarkan serangan yang sempat terhentinya itu.
__ADS_1
Dengan rakus John melahap bibir tipis Lusiana tanpa ampun. Tak bisa di pungkiri, sebenarnya Lusi pun menginginkan sentuhan dan belaian kasih sayang yang sudah lama tak di dapatkanya.
"Tuan hentikan!," Lusiana mendorong paksa tubuh John, membuatnya menjauh dari dirinya.
"Kenapa Lusi?, mulutmu berkata jangan, tapi tidak tidak dengan hatimu. Kau menerima dan menikmati setiap sentuhan yang aku berikan padamu." Ucap John.
"I ya, sebagai wanita normal. Aku memang menginginkanya, tapi tidak seperti ini." jawab Lusi.
"Lalu seperti apa yang kau inginkan Lusi?" John tersenyum penuh kemenangan.
"Nikahi aku!, buat diriku Halal untuk kau sentuh!" jawaban itu lolos dari mulutnya.
"Ouwh, baik. Siapa takut!" John tersenyum sambil memasukan kedua tangan pada saku celananya.
Lusi yang tak sengaja menjawab seperti itu, berbalik merasa malu. wajahnya memerah dan meninggalkan John sendirian di dapur.
John tersenyum sambil mendekati kopi yang sudah siap minum.
Ouwh, jadi dirimu sudah tak sabar ingin ku nikahi ternyata.
Seraya menyimpan kembali gelas kopi yang sudah di minumnya itu.
"Baik, aku harus segera berangkat ke kantor." ucapnya sambil melihat jam di tangan kanannya.
John berjalan meninggalkan dapur menuju mobil yang sudah menunggu dan siap mengantarnya kapan saja.
"Lusi," panggil John.
Lusi yang mendengar panggilan itu segera berlari menghampirinya.
"I ya, tuan. Ada apa?" jawabnya sambil menundukan kepalanya.
"Jangan panggil aku tuan lagi, ingat itu!, satu lagi. Jangan lupa, bawakan makan siangku nanti. Supir akan mengantarmu nanti." titah John yang tak bisa di bantah.
"Baik mas John." jawabnya sambil ragu.
"Nah gitu dong, kan enak di dengar." ucap John.
__ADS_1
John mendekati Lusi yang masih terlihat menundukkan kepalanya, dia mengangkat dagu Lusi dan kembali mencuri ciuman dari bibir Lusi yang menjadi candu baginya.
"Aku pergi kerja dulu." pamit John setelah melepas ciumannya itu.