LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
KETAKUTAN HATI


__ADS_3

"Sudah di isi?" John yang melihat Adien telah datang dan duduk di depanya.


"Sudah donk Bro, santai saja." Adien tertawa renyah.


Tak berselang lama, datanglah makanan yang mereka pesan sebelumnya.


Mereka benar benar lelah, semua terlihat dari cara makan mereka yang sangat lahap semua.


Acara makan sejenak untuk mengisi tenaga telah selesai, wajah pucat kini berganti ceria.


"Mas John aku mau bawa Juna ke toilet sebentar." Lusi bangun dan membawa anaknya di temani Jumira.


"I ya, Lusi." John menganggguk.


"John, lo masih inget si Dyah?" tanya Adien.


Sejenak John mengingat Dyah manakah yang Adien maksudkan.


"Bu Dyah client kita bukan?" tebak John.


"Bukanlah cuy, itu loh. Dyah anaknya Pak Robert yang punya kawasan sawit." Adien mengingatkan John.


"Ouwh dia, kenapa emang?" tanya John lagi.


"Gue denger denger sih, katanya dia baru pulang dari London." ucap Adien.


"Lo suka ma si Dyah, Dien?" tanya John.

__ADS_1


Adien terdiam sejenak mengingat masa lalunya ketika masih SMP.


"I ya, John. Tapi sayang cinta gua bertepuk sebelah tangan." Adien menunduk kecewa.


"Kok bisa Dien?" John kaget dan heran.


Seandainya lo tahu John. Kenapa Dyah nolak gua. Semua itu, karena di hati Dyah cuma ada lo seorang John.


"Woy, Dien. Kenapa lo jadi melamun?" John menyadarkan kembali Adien.


"Gak apa apa John, gua hanya terbawa suasana aja." Adien mencoba menutupi kesedihanya.


Sementara, Lusi dan Jumira telah datang selesai dari toiletnya.


"Sudah selesai," tanya John pada mereka.


"Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita lagi." ajak adien pada mereka.


John memanggil pelayanan, dan membayar Bill tagihanya sebelum pergi.


Sepanjang perjalanan John tidak tidur, ia terus memperhatikan wajah Adien yang kini berubah menjadi sedih.


"Lo kenapa Dien?" John mengawali percakapannya.


"Gak apa apa John," jawabnya.


"Jangan bohong Dien!, gua kenal lo bukan baru hari ini." ucap John dengn penuh penekanan.

__ADS_1


"Serius Dien?,lo gak mau cerita, ma gua." tanya John sekali lagi.


Sejenak Adien melihat kaca spion depannya, ia ingin memastikan apakah Lusiana sedang tertidur atau tidak.


Adien melihat Lusiana dan Jumira telah tertidur pulas.


"John, apakah kau tahu mengapa Dyah bersi keras menolaku?" Adien memandang sepintas John dan kembali fokus pada kemudinya.


"Mana gua tahu lah Dien, emangnya gua tuhan apa, yang bisa tahu isi hati seseorang dan mengetahui segalanya sesuatunya." tegas John.


"John, dengarkan gue!, lelaki yang di sukai Dyah selama ini adalah, Loh John!" Adien mengucap penuh penekanan.


John terksesiap kaget, dia merasa tidak enak dengan sahabatnya sendiri.


"Tidak mungkin lah Dien." John menepis semua dugaan Adien.


"Apanya yang tidak mungkin John!, Dyah lah yang bilang sama gue secara langsung." Adien menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


John merasa tidak enak hati, karena memang sesungguhnya ia tak tahu bahwa Dyah menyukainya, hingga menolak cinta sahabatnya.


"Akan ku pastikan Dien, Dyah hanya buat loh!" John berikrar pada Adien.


Senyum mengembang di wajah adien, wajah yang tadinya kurang bergairah, kini telah bersemi kembali.


"Makasih John, Lo emang sahabat terbaik gua." ungkapan Adien.


"Buat gua, hanya Lusiana dan Juna di hati gua. Tak akan ada yang lain!" John menepuk pundak Adien meyakinkanya.

__ADS_1


John tak menyadari, bahwa Lusiana telah bangun dan tersenyum mendengar ungkapan isi hati Mochamad John Abdillah yang paling dalam.


__ADS_2