
Segala data diri yang di perlukan John dan Lusi kini telah lengkap di persiapkan.
Dalam keberangkatanya ke KUA, John tidak menggunakan mobilnya, ia lebih suka dengan motor MX king edition limit nya.
"Pak, Bu. John dan Lusi, pamit dulu sebentar." ucap John sebelum ia berangkat.
"Kenapa tidak menggunakan mobil saja John?" Adien yang baru bangun karena begadangnya.
"Kita pengen cari angin saja Dien." John asal menjawab.
"Ya sudah, kalian hati hati di jalan." ucap Syarifah.
"I ya, Bu." John dan Lusi mencium tangan kedua orang tua angkat John dan Jumira.
John menstater motornya, disusul Lusi yang naik di jok belakang sambil berpegangan.
"Pak, Bu. John berangkat dulu." seraya berjalan perlahan meninggalkan ke empat orang dewasa tersebut.
Adien masih menatap kepergian John dan Lusi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu kenapa Dien?" tanya Dul Hamid.
"Tidak apa apa, Pak. Adien hanya tidak menyangka, akhirnya John akan segera melepas lajangnya." Adien tersenyum memandang Ayah dan ibunya.
"Emang kamu gak mau nyusul Dien?" goda Jumira.
"He..he..he, kita lihat saja nanti Bu Jum." Adien kembali menggaruk kepalanya malu.
Di perjalanan menuju kantor KUA, sepasang calon suami istri ini, terlihat mesra sekali.
John sengaja memacu motornya dengan sedang, agar mereka bisa menikmati momen momen indahnya kebersamaan.
John tidak menujukan motornya langsung ke kantor KUA, akan tetapi ia lebih memilih, ingin mengaja Lusi ke tempat pecel kesukaanya.
Sesampainya di sebuah parkiran Lusi, masih bingung dengan keadaan di sekitarnya.
"Kok kita kesini sih mas?" Lusi melihat keadaan sekelilingnya.
"I ya, kita mampir sebentar ya. Aku ingin mengenalkanmu pada sebuah makanan kesukaanku." John menggandeng tangan Lusi dan membawanya ke warung pecel.
__ADS_1
Di warung pecel yang begitu ramai, Lusi teringat dengan masa lalunya, masa lalu ketika ia masih membuka warung nasi bersama ibunya.
"Ramai juga ya mas," Lusi tersenyum memandang John.
"Kamu suka?, ayo kita duduk dulu." ajak John.
Lusi duduk di sebelah John. Ia tersenyum dan merindukan masa masa kejayaan ketika ia masih berdagang.
"Kenapa melamun?, apa kau tidak suka dengan tempatnya?" John bangun dari tempat duduk namun Lusi menariknya kembali agar duduk.
"Siapa bilang aku tidak suka, aku hanya teringat, karena aku juga dulu berjualan seperti ini di pasar." Lusi memeluk tangan John.
"Ouwh, jadi kau dulu pernah berjualan seperti ini juga?, pasti pembelinya ramai, i ya, kan?" John mengangguk dan coba menebak.
"I ya, ramai banget. Tapi semenjak Pandemi, semuanya berubah, ah sudahlah." Lusi menunduk tidak bersemangat.
John mengangguk dan memahami kesulitan seperti apa yang Lusi alami.
"Ayo, kita pesan makan dulu." ajak John.
"Bukanya mas sudah sarapan tadi?" tanya Lusi yang merasa heran melihat calon suaminya.
"Dih, nafsu. Dasar mesum." Lusi merinding melihat John yang menatapnya lapar.
John bangun dan memanggil mamang penjual pecelnya.
"Mas nasi pecel 2 ya, terus minumnya es teh manis." John kembali duduk seperti semula.
Sambil menunggu pesanannya jadi, John terlihat berkutat dengan handphonenya. Ia mengecek beberapa email kantor yang telah masuk padanya.
Sementara Lusi tak hentinya terus memandangi John sambil senyam senyum sendiri.
Seketika John memalingkan pandanganya dan menatap Lusi.
"Jangan memandangku seperti itu sayang, karena itu bisa menggoyahkan imanku." ucap John yang menatap lekat pada Lusi.
"Apa sih, siapa juga yang mandangin kamu, PD." Lusi berkilah menutupi kegugupanya.
"Den mas John, Ini pesananya." si penjual memberikan nasi pecelnya pada John dan Lusi.
__ADS_1
"Terima kasih Pak le." John tersenyum sambil mengambil Sendok dan garpunya.
"Ayo sayang, kita makan dulu. Setelah itu baru kita lanjut ke KUA." ajak John pada Lusi.
"I ya, mas." Lusi mengangguk.
Mereka berdua benar benar menikmati lezatnya nasi pecel, hingga Lusiana tak menyaadari bibirnya kini telah belepotan seperti anak kecil.
John mengambil tisu yang ada di hadapanya.
"Pelan donk, makan nasi pecelnya." John mengusap pinggiran bibir Lusiana yang kotor.
"Mas, malu tahu. Banyak orang." Lusi yang merasa tidak enak pada orang di sebelahnya yang telah menelan ludah melihat kemesraan mereka.
John beralih memandang lelaki yang memperhatikan kemesraanya.
"Pergi kau dari sini!" John melempar tisu bekasnya pada orang tersebut.
"Maaf, maaf mas. Saya tidak sengaja, jiwa jomblo saya tiba tiba meronta begitu saja." jawabnya dengan polos dan muka tanpa dosa.
John bangun dari duduknya dan menghampiri orang tersebut, dan memberikan uang 1 juta rupiah kepadanya.
"Ini untuk apa, mas?" tanya si pemuda jomblo.
John memijat pelipisnya merasa penat dan jengkel pada Jomblo tersebut.
"Kau ingin tahu, Vermak mukamu sana!" John memandang pemuda jomblo tersebut seperti macan.
"Terima kasih, Mas. Saya janji tidak akan lancang lagi." pemuda Jomblo itu mencium punggung tangan John dan langsung lari seribu bayangan.
Hilang sudah nafsu makanku hari ini.
Lusi hanya tertawa melihat John yang di buat jengkel oleh pemuda Jomblo tersebut.
"Dasar Jomblo, merusak suasanaku saja." John mengumpat.
"Sudah mas, Ayo kita lanjutkan lagi perjalananya." ajak Lusi yang telah menyelesaikan makan nasi pecelnya.
John langsung membayar tagihanya berikut tagihan si Jomblo yang kabur karena ketakutan olehnya.
__ADS_1