LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
RENCANA KUA


__ADS_3

"Maafkan John Bu, Pak. Semua jadi seperti ini." John yang merasa tidak enak kepada ibu dan bapak angkatnya.


"Sudah, sudah! semua terjadi di luar dugaan kita." ucap Dul Hamid.


"Ayo kita duduk lagi," ajak Syarifah pada mereka.


Mereka kembali duduk tenang dan menikmati minuman yang telah di sediakan sebelumnya.


"John, apa kau tidak ingin mengenalkan calon istrimu kepada Bapak dan Ibumu?" Dul Hamid kembali mengawali percakapanya.


John tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal memandang Lusi.


"Oh i ya, Pak, Bu. Maksud dari kedatangan John kemari, tiada lain dan tiada bukan. Ingin memperkenalkan calon istri John kepada Bapak dan Ibu." ucap John dengan lancar.


"Cantik, Ibu suka John." Puji Syarifah yang memandang Lusiana.


"Kalau Bapak, ikut apa kata Ibu saja John. Yang terbaik untukmu, terbaik juga untuk kita. I ya, kan Bu." ucap Dul Hamid yang mendapat anggukan dari istrinya.


"Terima kasih, Pak Dul dan Bu Ifah. Saya sebagai orangtua Lusi merasa senang dengan tanggapan positifnya." ucap Jumira.


"Pak, Bu. Mungkin John tidak akan berlama lama dengan hubungan kami, John ingin menikahi Lusi secepatnya." ucap John.

__ADS_1


"Itu malah bagus John, semua di lakukan demi kebaikan bersama. Bapak sama ibu, setuju John. I ya, kan Bu." ucap Dul yang kembali mendapat anggukan positi dari istrinya.


"Yang penting Ijabnya, i ya, kan Bu!, resepsi bisa di lakukan kapan saja." ucap Syarifah pada Jumira.


"I ya, Bu Ifah. Saya setuju sekali." Jumira tersenyum senang.


"Kira kira, kapan kalian akan mendaftarkan data diri kalian ke KUA?" Dul Hamid to the point.


"Mungkin besok Pak, John dan Lusi akan mendaftarkan data diri terlebih dahulu ke KUA." Jawab John.


"Untuk resepsi, John ingin Bapak dan Ibu ikut John ke Jakarta." ajak John kepada kedua orangtua angkatnya.


"O, O, O. Kalian asyik berbincang tanpa menunggu kedatanganku." Adien yang baru datang dan duduk di antara kedua orangtuanya.


"Bahagia bener Lo Dien, kaya abis ketiban durian runtuh." John mencoba menebak Adien yang terlihat senang malam itu.


"Lebih dari durian runtuh John!, akhirnya, penantianku gak sia sia John." jawab Adien.


"Wah, apaan tu Dien?" John kepo.


"Dih, kepo juga loh dengan masalah pribadi orang." Adien melipat tanganya di dada.

__ADS_1


"Ya elah buset, Dien. Suee bener loh." John merasa jengkel dan membuat semua orang tertawa.


"Ada apa sih, Dien?" tanya kedua orang tua Adien bersamaan.


"Ibu sama Bapak sama keponya kaya John, bhua..ha..ha." Adien tertawa puas hingga membuat kedua orang tuanya geleng kepala.


"Pasti ini ada hubungannya dengan wanita yang tadi berlari keluar dari sini, siapa itu namanya?" Jumira mencoba menebak.


"Benar Bu Jum, feeling saya juga mengatakan seperti itu." Syarifah menimpali ucapan Jumira.


"Bapak tahu sekarang!" Dul Hamid tersenyum memandang Adien yang sudah memerah mukanya.


"Bapak tahu apa, Pak?" tanya John memandang Dul Hamid.


"Sepertinya, Adien berhasil menaklukkan Dyah. Bhua..ha..ha." Dul Hamid tertawa lepas.


"Nggak Bapak, enggak anak. Kalau tertawa seperti Rahwana." Syarifah menggeleng kepala.


Seketika mereka semua tertawa bersama, melihat kelucuan pada ayah dan anak.


LIKE FATHER LIKE SON

__ADS_1


__ADS_2