
Sekembalinya John dari KUA, ia langsung pulang ke rumah peninggalan Dirmo atau Kakeknya.
"Mas, kita langsung pulang kesini?" tanya Lusi yang baru saja turun dari motornya.
"Maafkan aku sayang, ada sedikit pekerjaan kantor yang harus aq segera selesaikan." jelas John.
"Terus ibu sama Juna kan masih di rumah sana?" Lusi bertanya lagi karena khawatir.
John membelai pipi Lusi, dan mengecup keningnya.
"Sayang, aku akan minta tolong pada Adien, agar dia mengantarkan Ibu dengan Juna kesini." jawab John yang di balas anggukan Lusi.
John melangkah masuk ke dalam rumahnya bersama Lusi, ia segera memasuki kamar dan mengambil laptop kerja, dan membawanya kembali ke ruang tamu.
Sementara, Lusi yang telah mengerti akan tugasnya sebagai calon istri, ia langsung membuatkan segelas kopi hitam dan sedikit cemilan, sebagai dorongan yang akan menemani John bekerja.
John membuka menu ponselnya, dan terlihat ia menghubungi Adien. Dan tak berselang lama terhubunglah panggilan tersebut.
"Hallo, John." sapa Adien di dalam telponya.
"I ya, Dien. Sorry, bisa kan, lo anterin mertua gue pulang kesini." pinta John.
"Emang Lo gak kesini dulu John?" tanya Adien.
"Banyak kerjaan mendadak yg harus gue cek Dien." jelas John pada Adien.
Adien yang telah mengetahui kesibukan John sebagai Ceo sekaligus pemilik perusahaan. Dia hanya mengangguk dan meng i yakan permintaan sahabatnya.
"Ok, John. Tapi.. " Adien tak melanjutkan kata katanya.
" Tapi kenapa Dien?" John yang merasa penasaran.
"Calon mertua Loh, lagi asik ngobrol tuh sama Om Robert." Adien memberitahukan.
"Robert?, Robert yang punya kawasan sawit itu, Dien?" tanya lagi John sambil memandang Lusi yang berada di sebelahnya.
"I ya, John. Emang ada berapa Robert disini?, kan satu doang. Itu pun calon mertua gua!, Insya alloh tapi." Adien dengan PD nya sambil cengengesan.
"Buset, PD bener ni anak. Ya udah gue tunggu disini." John menutup panggilannya.
Lusiana menatap John sambil tersenyum heran.
" Kamu kenapa sayang?" John menghidupkan laptop sambil memandang Lusi.
"Nggak mas, cuma aku lagi mikir aja. Apa yang sedang mereka bicarakan?" Lusi yang merasa kepo dengan Ibunya.
"Maksudmu, Ibu dan Om Robert gitu?" tanya lagi John yang di balas anggukan oleh Lusi.
"Sudah, biarkan saja. Mungkin mereka hanya mengobrol biasa saja." John menepis kekepoan Lusi.
"Aku hanya khawatir dan kasian aja mas." Lusi menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Belasan tahun, Ibu membesarkanku sendirian. Tanpa pernah mengeluh apa pun kepadaku." ungkap Lusi.
John merapatkan duduknya di sebelah Lusi.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk ibu ya." Johan merangkul pundak lusi dan mencium kepalanya.
"Mas, aku mandi dulu ya." Lusi melepas tangan John dan pergi menuju kamar mandi.
Dan john kembali fokus pada laptop kerjanya, setelah menyeruput kopi hitamnya.
Sementara di lain tempat, lebih tepatnya di taman kecil depan halaman rumah Dul Hamid.
Terlihat Jumira yang sedang asik berbincang dengan Robert sambil mengasuh cucunya.
"Ouwh, jadi seperti itu." Robert yang telah mendengar paparan kisah kehidupan yang Jumira alami beserta Lusiana anaknya.
"Saya turut prihatin, semoga saja Bu Jum mendapat pendamping hidup, yang menerima Bu Jum sekeluarga dengan apa adanya." Robert reflek memegang punggung tangan Jumira.
Sementara, Jumira yang sudah lama tak pernah bersentuhan dengan lelaki, langsung kaget di buatmya.
"Maaf, Pak Robert." Jumira perlahan melepas tanganya dari pegangan Robert.
"Maafkan saya, Bu Jum. Saya terbawa suasana." Robert yang malu dan tidak enak pada Jumira.
"Om Robert," Adien yang baru saja datang langsung mencium punggung tangan Robert.
"Maaf, saya mendapat pesan dari John dan Lusiana, bahwa saya di suruh mengantarkan pulang Bu Jum dan Juna." jelas Adien pada mereka berdua.
"Ada pekerjaan kantor yang harus di selesaikanya Bu Jum." jelas Adien yang mendapat anggukan Jumira.
"Begini saja, bagaimana kalau saya saja yang mengantar Bu Jum dengan cucunya, sekalian saya ingin meminta maaf pada nak John." usul Robert.
Adien sejenak berpikir, dan memandang Om Robert mencari kebenaran atas apa yang telah di ucapkanya.
"Baiklah, Om." Adien meng i yakan usul Robert.
Robert dengan sigap berlalu meninggalkan mereka berdua untuk menyiapkan mobilnya.
"Sampaikan salam saya untuk Pak Dul dan Bu ifah." Robert yang telah kembali dengan mobil dan siap mengantar Jumira pulang.
"Baik, Om. Sepulang mereka dari pasar. Saya akan sampaikan salam anda padanya." Adien mengangguk dan melambai melihat Robert yang mulai berlalu membawa Jumira dan Juna.
"Maaf, jadi merepotkan anda Pak Robert." Jumira yang merasa tidak enak.
"Sudahlah, jangan sungkan seperti itu." Robert memandang Jumira lewat kaca spion depan dan kembali fokus pada kemudinya.
Siapa sangka dan siapa duga, Robert yang hanyut dalam perbincanganya tadi di taman, kini dirinya merasa nyaman dan menemukan jati dirinya.
"Bu Jum." panggil Robert.
"I ya, Pak Robert." jawab Jumira.
__ADS_1
" Bolehkah saya memanggil anda, Jumira saja?" tanya Robert yang melirik via spion depan.
"Boleh, Pak. Kan usia Pak Robert di atas saya 4 tahun." jawab Jumira dengan senyuman yang membuat Robert kalang kabut.
Senyuman bener kagak nahannnn.
"Kenapa anda diam Pak" Jumira membuyarkan lamunan sesaat Robert.
"Tidak, Jum. Saya hanya senang saja." Robert menutupi kegugupanya.
"Jum," panggil lagi Robert pada Jumira.
"I ya, Pak Robert. Ada apa?" Jumira bertanya.
"Bisa kah, kau hilangkan panggilan 'Pak' itu padaku." Robert bertanya sekaligus meminta.
"Gak enak lah Pak," Jumira yang merasa tidak nyaman dengan permintaan Robert.
"Ya sudah, tidak apa apa. Saya tidak bisa memaksa. Hanya tadinya jika Jumira mau, saya ingin Jumira memanggil saya 'Mas Robert' saja." ungkapan pasrah namun sedikit penekanan.
Jumira sedikit menimbang nimbang dengan permintaan Robert yang di lontarkan padanya.
Manggil mas Robert doang kan, apa susahnya.
"Mas Robert." Jumira memanggilnya kini.
"I ya, Jum." jawabnya dengan antusias.
Seneng bener, Pak Robert ini. Baru di panggil mas aja.
"Gak apa apa mas, ngetes aja." Jumira tersenyum pada Robert.
"Ouwh," Robert menganguk paham.
Tak berselang lama, mobil yang di tumpangi Robert dan Jumira, kini telah sampai di halaman kediaman Dirmo.
Tid.. Tid..
Suara klakson mobil Robert, yang baru saja memparkirkan mobilnya di halaman rumah Dirmo.
"Siapa itu mas?" tanya Lusi yang telah selesai mandi dan berganti baju.
"Entahlah, tapi itu bukanlah mobil Adien." jawab John.
"Aku lihat dulu ya mas," Lusiana berlalu menuju luar rumahnya.
Sesampai di halaman depan, Lusiana mendapati ibunya yang baru saja turun dari mobil Robert sambil menggendong Juna.
"Hati hati, Jum." Robert memegang tangan Jumira menuntun keluar dari mobilnya.
"Terima kasih, mas Robert." jawab Jumira.
__ADS_1
"I ya, sama-sama." Robert melepas tangan Jumira dengan lembut