
Lusi menangis tak percaya mendengar John mengungkap isi hatinya.
"Lusi, apakah kau masih meragukan niat dan ketulusanku?" John bersujud di kaki Lusi mengemis cinta dan belas kasihnya.
Melihat keseriusan John, akhirnya pintu hati Lusiana terketuk. Lusi menjongkokan dirinya agar setara dengan John.
"Bangun!, kenapa kau sebodoh ini mengharap cintaku?, bukankah masih banyak wanita di luaran sana yang lebih baik dari diriku." Lusi mengangkat dan membantu John bangun dari sujudnya.
Setelah John bangun, John kembali menatap penuh harap pada Lusi.
"Apakah itu artinya kau menerima pinanganku?" John bertanya kembali meminta kepastian yang telah di tunggunya selama ini.
"Dasar bodoh, kau memang benar benar bodoh." Lusi memukul mukul kecil dada John.
Bruggg...
John memeluk Lusi dan mencium ujung kepala Lusiana.
"Terima kasih Lusi, aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah kau berikan padaku." John mengeratkan pelukannya yang di balas erat kembali oleh Lusi.
"Secepatnya aku akan menikahimu Lusi." John melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Lusiana.
"Hmmm.." Lusiana membalas dengan anggukan.
"Ayo." ajak John.
"Kemana?" tanya Lusi yang tanganya langsung di tarik oleh John.
"Cerewet, sudah ikut saja." John keluar dari ruanganya dengan menggandeng Lusiana.
Tak banyak yang bisa di lakukan Lusiana, selain pasrah dan mengikuti kemana John akan membawanya.
Sepanjang perjalanan menuju luar kantor, Semua karyawan memandang Lusiana dengan tersenyum.
Lusiana membalas senyuman itu dengan sedikit memaksa, karena merasa malu dan tidak enak hati.
__ADS_1
Sesampai di luar kantornya, John segera menghampiri mobilnya.
"Masuklah." titahnya pada Lusi.
"Baiklah," Lusi membuka pintu dan memasuki mobilnya.
"Di dalam mobil, tak percakapan antara mereka berdua, John hanya menghidupkan mobil dan menginjak pedal gasnya, berlalu meninggalkan tempat dimana ia bekerja.
Setelah beberapa lama, John terlihat membelokan setirnya menuju ke sebuah taman di tengah kota.
John menepikan mobilnya di pinggir area taman, dan mematikan mesin mobilnya.
"Kau mengajakku ke taman?" tanya Lusi dengan senyumnya yang merekah.
"I ya, apa kau suka?" John kembali menggandeng tangan Lusi dan mengajaknya untuk duduk di sebuah bangku di tengah taman.
Setelah mereka duduk, John kembali berdiri dengan pandangannya yang ia edarkan kesebuah toko di ujung Jalan, yang jaraknya tak begitu jauh dari taman itu sendiri.
"Kau tunggulah aku disini sebentar." John melepas genggaman Lusi.
Lusi terus memperhatikan langkah John yang semakin menjauh dari pandanganya.
John, yang telah masuk ke dalam toko swalayan, segera mengambil beberapa minuman dan makanan kecil. Dan segera membawanya ke kasir untuk di bayar.
Setelah selesai dengan dengan belanja kecilnya. John segera keluar dari toko tersebut berlari menuju taman di mana Lusi berada.
"Maaf membuatmu menunggu." John yang baru saja datang.
Lusi mendongakkan kepalanya dan tersenyum.
"I ya, aku mengerti." Lusi menepuk bangku di sebelahnya mengajak agar John segera duduk.
"Ini, ambil." John duduk tepat di sebelah Lusi.
"Apa ini?" Lusi membuka kantong plastik belanjaan yang di bawa John.
"Kau mau rasa apa?" Lusi yang memilih minuman dalam kantong plastiknya.
__ADS_1
"Rasa bibirmu yang manis, ada?" John sedikit menggoda Lusi.
"Ini, buatmu." Lusi memberikan sebuah minuman sambil menatap greget pada John.
"Segar sekali." Lusi yang telah meminum, minuman botolnya.
"I ya, segar sekali." John menatap bibir merah Lusi yang tipis dan karena minuman botolnya.
Lusi yang sadar akan tatapan mesum John, segera memalingkan pandangannya.
"Dasar mesum." Lusi mengucap sambil tertawa.
"Ayo, kita habiskan makanannya." John mengambil makanan dan membukanya.
"Sini, dan buka mulutmu." Lusi menghadapkan wajahnya pada John dan membuka mulutnya.
John memasukan makanan kecil ke dalam mulut Lusi.
"Enak?" tanya John yang di balas anggukan oleh Lusi.
"Kamu mau sayang?" ucapan itu lolos dari mulut Lusiana.
John tersenyum bahagia mendengar Lusiana memanggilnya dengan panggilan "Sayang".
Siluet merah terlihat dari pipi Lusiana, ia menyadari dan sedikit merasa malu, karena lidahnya yang tak bisa di ajak kompromi.
"Kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus?" John mencoba menggoda Lusi.
Lusi mengambil makanan kecil dan coba menyuapkanya pada mulut John.
"Ah, tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja." jawab Lusi mencoba biasa saja.
"Benarkah?" John menegang tangan Lusi dan memakan, makanan yang masih di pegang Lusi.
Lusi segera menarik tangannya kembali.
"Sebaiknya kita cepat pulang, Juna pasti mencarikan." Lusiana bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." John bangun dan berjalan sambil merangkul pundak Lusi