
Tak terasa seminggu sudah Minem meninggalkan Jarwo dan pangeran kecil nan tampan yang di beri nama Jono.
Untuk sementara Jono kecil di asuh langsung oleh Suminah atau mertuanya Jarwo, di bawah naunganya, Jono kecil di asuh di didik dengan kasih sayang yang tiada tara.
Menyibukan diri dengan pekerjaan, sengaja dibuat Jarwo agar dia tidak berlarut dalam kesedihanya , bagaimanapun dia masih punya tanggung jawab besar yaitu mendidik dan membesarkan Jono.
Selepas dari ladang Jarwo memasukan Samson pada kandangnya, dia bergegas membersihkan dirinya yang sudah terlihat kotor dan bau karena aktifitasnya di ladang.
Setelah acara mandinya selesai, Jarwo menyegerakan Sholat asharnya yang telah tertinggal Satu jam tersebut.
Di sehabis sholat Jarwo tak pernah lupa mendoakan segala kebaikan untuk mendiang istri dan orang tuanya yang telah tiada.
"Aku harus segera melihat anaku Jono" ucapnya sambil tersenyum penuh semangat.
Setelah mengunci semua pintu rumah dan memastikan semuanya aman, Jarwo kini menghidupkan mesin motornya dan berlalu pergi meninggalkan rumahnya menuju rumah mertuanya untuk menemui Jono.
Di perjalanan Menuju rumah mertuanya, Jarwo menyempatkan dirinya mampir membeli buah tangan dan perlengkapan sehari hari untuk di berikan pada mertua dan anak tercintanya Jono.
Setelah di rasa belanjaanya sudah cukup dan tak ada yang akan di beli lagi Jarwo akhirnya mengantri di depan kasir untuk melakukan pembayaran belanjaanya.
Sambil memegang keranjang belanjaannya, sesekali Jarwo memalingkan pandanganya ke kiri dan ke kanan memperhatikan orang lain yang masih memilih milih barang belanjaanya.
Hingga tak sengaja Pandangan Jarwo terkunci pada sebuah keluarga kecil nan terlihat harmonis sedang asik memilih belanjaanya sambil tertawa gembira.
"Ya alloh kuatkanlah hati hambamu ini" ucapnya dalam hati hingga tak sengaja meneteskan air mata.
Dengan cepat Jarwo mengusap air mata yang tak sengaja menetesnya itu dengan punggung tanganya, dan bergegas menyerahkan belanjaannya pada petugas kasir.
"Jadi semuanya 372.000 rupiah pak" ucap petugas kasir sambil tersenyum pada Jarwo.
"Ini mba, maaf. " ucapnya sambil memberikan empat lembar uang seratus ribuan pada petugas kasir.
"Terima kasih bapak telah berbelanja di tempat kami" jawab sang kasir sambil memberikan uang kembalian pada Jarwo.
"I ya sama sama. " jawabnya sambil tersenyum tampan.
Jarwo berlalu keluar meninggalkan swalayan dan menuju ke tempat parkir yang tempatnya tak jauh dari swalayan tersebut.
Jarwo menghidupkan mesin motornya dan melaju memasuki jalan raya melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
Sesampai di rumah mertuanya Jarwo langsung memparkirkan motornya dengan cantik di pojok dekat pohon mangga.
__ADS_1
Sebelum melangkah masuk ke rumah mertuanya Jarwo menepuk nepuk kecil baju dan celananya, karena mitos orang tua dulu kalau habis bepergian dari mana saja, apabila akan masuk rumah harus seperti itu, semua di lakukan agar tak ada mahluk astral atau kasat mata menempel atau mengikuti yang nantinya akan menakuti bayi atau anak anak kecil.
Tok.. Tok.. Tok…
"Asalamu alaikum… Pak, Bu" seru Jarwo sambil mengetuk ngetuk pintu.
"I ya, sebentar. " Jawab suminah sambil berlalu keluar dari kamar menuju pintu depan.
Ckrek…
"Sudah pulang Wo?" tanya Suminah yang baru mendapati Jarwo di depan pintu.
"Sampun(sudah) Bu." jawabnya sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Dengan tangan yang penuh belanjaan, Jarwo masuk kedalam rumah mertuanya, dan menyimpan barang belanjaan yang di belinya di atas meja.
"Bapak, kemana Bu?" tanya Jarwo pada Suminah.
"Bapak belum pulang Wo, tadi ada urusan mendadak katanya. "Jawabnya.
"Jono, sudah tidur belum Bu?" tanya lagi pada Suminah.
"Baru saja Jono tidur Wo. " jawabnya kembali.
Karena sebentar lagi waktu maghrib tiba, sebelum memasuki kamarnya Jarwo memutuskan mengambil air wudlu dengan niat sekalian sholat maghrib dalam kamarnya.
ALLOHU AKBAR.. 2X
Waktu maghrib telah masuk, terlihat Jarwo sedang menunaikan kewajibanya pada sang pencipta, Setelah selesai dengan kewajibanya Jarwo menemani Jono tampan yang telah tertidur dengan lelapnya.
Sambil mengusap ngusap kening Jono, Jarwo membacakan al qur'an, dia berharap agar kelak nanti anaknya akan menjadi anak yang taat pada tuhan dan orang tuanya.
Tok… Tok.. Tok..
"Wo, kamu sudah tidur?" tanya Dirmo sambil mengetuk pelan pintu kamarnya Jarwo.
"Dereng(belum)pak? " jawabnya sambil bergegas turun dari kasurnya menuju pintu kamarnya.
"Ada apa, pak? " tanya Jarwo setelah membuka pintu kamarnya.
"Kita ngobrol di depan saja Wo! " ajaknya sambil berlalu keluar menuju amben teras depan rumahnya.
__ADS_1
Jarwo yang belum mengerti dengan apa yang akan di bicarakan mertuanya, hanya patuh mengikuti langkah Dirmo dari belakang.
Tak berselang setelah mereka berdua duduk di amben teras depan, Terlihat suminah datang membawa nampan berisi dua gelas kopi dengan camilan jaraknya sebagai dorongan pelengkap obrolan.
"Jadi begini Wo maksud bapak…. " ucapnya sekaligus memulai percakapan antara mereka berdua.
Dirmo sebagai juragan buah buahan di pasar menjelaskan, bahwasanya beberapa bulan lagi, daerah Arab akan meminta pasokan buah melon yang sangat besar kepada kita.
Dirmo menegaskan pada Jarwo agar banting setir dari ladang yang biasa ia geluti di setiap harinya, menjadi kebun melon yang luas dan menghasilkan.
"Tapi pak, apa Jarwo bisa dan mampu mengelolanya? " tanya Jarwo yang merasa ragu akan skill dan kemampuannya dalam bertani.
"Tenang saja Wo, bapak akan bantu kirim pasukan buat bantu kamu nanti" Jawab Dirmo sambil menepuk pundak Jarwo.
"I ya wo, di coba saja, sayang peluang kesuksesan" timpal Suminah yang dari tadi menjadi pendengar setia obrolan antara Dirmo dan Jarwo.
"nggih Bu, tapi Jono pripun(bagaimana)? " tanya Jarwo yang merasa takut tidak bisa membagi waktu dengan Jono.
"Tenang Wo, serahkan semua sama ibu! " tegasnya pada Jarwo.
Akhirnya Jarwo menyanggupi apa yang di minta oleh Dirmo selaku mertua tercinta, sekaligus menjawab tantangan permintaan negara Arab akan buah melon yang manis dan segar.
"Jadi untuk bibit, pupuk dan pestisidanya gimana pak? " tanya Jarwo sambil menyalakan rokok , sekaligus penghilang kecanggungan dalam obrolan dengan mertuanya.
klepas… klepus…
Kepulan asap putih menyembur dari mulut dan hidung Dirmo, seraya bersiap menjawab apa yang telah di pertanyakan sang menantu tercintanya.
"Bisssssaaa di atur itu Wo" jawabnya penuh dengan keyakinan pada Jarwo.
Dirmo memberi penekanan lagi, kalau masalah bibit, pupuk dan obat hama biar mertuanya yang atur, Jarwo tinggal terima bersih.
Kecas... Kecus...
Tak kalah ganas, kepulan asap putih berbentuk lingkaran keluar dari mulut Jarwo, sesekali dia juga menyeruput kopi hitam dan memakan kripik karaknya sebagai pelengkap suasana.
"Yang benerrrr pak? " tanya lagi Jarwo pada mertuanya.
"Ya i ya lah, masa ya i ya donk!!! " ucapan penuh ketegasan dari seorang Dirmo sang juragan buah.
**TINGGALKAN JEJAK LIKE AND COMMENT, KARENA ITU GRATIS!!!
__ADS_1
SALAM AUTHOR**
ARBY YINGJUN