LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
MY VILLAGE


__ADS_3

13 Jam perjalanan yang melelahkan, akan segera berakhir. Karena mobil yang mereka tumpangi, 10 menit lagi akan sampai di kediaman Alm. Dirmo dan Suminah.


"Bangun sayang," John menepuk nepuk pipi Lusiana.


"Hemmm." Lusiana mengerjapkan mata dan memandang suasana yang berbeda dari hiruk pikuknya kota.


"Kita sudah sampai?" tanya Lusi yang masih memeluk Juna.


"Mungkin 5 menit lagi kita akan sampai." jawabnya sambil tersenyum.


Jumira pun terbangun mendengar percakapan antara John dan Lusiana. Ia kini bersiap siap, karena tidak lama lagi perjalananya akan sampai tujuan.


"Adien membelokan setir mobil, mengarah masuk, pada sebuah pekarangan yang cukup luas, yang berakhir pada sebuah rumah dengan potongan classicnya.


"Akhirnya." Adien mematikan mesin mobilnya.


Mereka perlahan keluar dari mobilnya. Udara pagi hari yang bersih dan jauh dari kata polusi.


Membuat mereka bernafas lega dan leluasa.


"Ini rumah mas John?" tanya Lusi.


John merangkul pundak Lusiana dan tersenyum memandang rumah, yang menurutnya banyak mengandung sejarah.


"Bukan, lebih tepatnya. Rumah ini adalah, rumah mendiang Kakek dan neneku. Dan disini juga, Ayah membesarkanku dengan kasih sayangnya.

__ADS_1


Lusiana melihat John yang menundukan kepalanya, Lusi mengerti seperti apa suasana hati John saat ini.


"Mas, sudah. Jangan bersedih ya!, aku, Juna dan Ibu. Akan selalu menemani mas John." Lusiana mengusap punggung John.


"I ya, nak John, sabar. Mendiang orang orang yang nak John sayangi, akan lebih bersedih jika melihat nak John seperti ini." Jumira menasihati.


John mengangguk dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah alm. Dirmo. Sedangkan Adien, hanya terdiam sedih melihat dan mengingat, akan sejarah ke belakang yang di alami John.


"Mungkin jika aku menjadi John, aku belum tentu bisa bertahan sepertinya." senyum salut penuh rasa bangga pada sahabat kentalnya.


Adien mengeluarkan ponsel di dalam saku bajunya.


John, mungkin aku akan langsung pulang menuju rumah ayah dan ibuku.


Datanglah nanti ketika kau dan yang lainya sudah tidak lelah lagi.


Adien masuk kembali ke dalam mobilnya, ia menghidupkan mesin dan berlalu meninggalkan kediaman alm. Dirmo, menuju ke rumah Dul Hamid dan Syarifah.


Sementara, Lusi mendengar suara mobil yang menjauh pergi.


"Mas, Adien kenapa tidak ikut masuk?" tanya Lusi yang merasa heran.


"Sebentar sayang," John membuka pesan masuk di ponselnya.


John tersenyum ketika membaca isi pesan yang di baca dan memperlihatkanya pada Lusiana.

__ADS_1


"Ouwh," Lusi yang paham dengan jawaban pertanyaanya.


John menunjukan kamar yang akan di tempati Jumira untuk beristirahat. Ia mengambil juna yang tertidur, untuk di pindahkan ke kamar yang akan Lusiana tempati.


"Kamarmu disini." John menidurkan Juna di tempat tidurnya.


"Lalu, mas John dimana?" tanya Lusi.


"Kamarku di atas sayang. Kita belum boleh tidur bersama, kecuali kau yang memintanya sendiri." John menggoda Lusiana.


"Ya sudah, sana!, aku ingin istirahat sebentar." Lusi mengusir secara halus.


"I ya, aku akan pergi setelah..." John berhenti dan menatap licik pada Lusiana.


Lusiana yang mengerti, kemana arah pembicaraan John, hanya bisa terdiam dengan muka merah malu.


Cups...


Ciuman lembut, mendarat dengan sempurna di bibir tipis nan sexy Lusiana. Ciuman kecil yang semakin lama, semakin menuntut kedua insan itu terbuai dan terbenam dalam indahnya berkasih sayang.


Mereka melepas pagutanya, berlomba mencari suply oksigen, yang telah menipis di paru parunya.


Cutsss...


Lusiana terbuai dan tak menyadari bahwa, John telah berhasil membuka sedikit kancing baju, mengangkatya sedikit, dan meninggalkan bekas kepemilikan di dada Lusiana.

__ADS_1


Eng.. Ing.. Eng.. (ngaco wes bakalnya)


__ADS_2