LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
MAKAN SIANG


__ADS_3

"Bisa di Pecat gua." Adien turun dari tempat tidur berlari menuju kamar mandinya.


Tak ingin membuang waktunya lagi, mandi bebek pun ia lakoni.


Ia keluar dari tempat mandi, dan membuka lemari bajunya.


"Hmmm, yang Ini aja." Adien mengambil costumenya.


Tak perlu waktu lama, 8 menit sudah cukup baginya untuk mandi dan mengganti bajunya.


Srottt...


Aroma perfume oleh oleh paris pun ia gunakan.


"Ok, 9 menit." Dia menatap jam dinding dan keluar dari apartemennya.


Sesampai di parkiran mobilnya, 10 menit telah ia gunakan. Adien masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya.


"OK, berangkat." Adien berlalu meninggalkan area apartemen menuju kediaman John.


Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di rumah John. Tepat di depan gerbang, waktu yang telah ia gunakan 15 menit. Kini sisa 5 menit baginya untuk menghindari amukan John.


Gerbang terbuka, Adien memasukan mobil dan memparkirkanya.


"Duh 3 menit lagi nih," Adien keluar dari mobil dan berlari masuk menuju rumah John.


Di dalam rumah John masih terlihat sepi.


"John." Adien berteriak memanggil.


John yang mendengarnya langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


"Hei, kau pikir ini di hutan apa?, teriak seperti Tarzan." John menuruni anak tangganya.


"Hei, kenapa belum bersiap.?" Adien merasa heran dengan penampilan John yang masih dengan costume santainya.


"Bukanya semalam sudah di bicarakan, kalau kita akan berangkat nanti setelah siang." John dengan muka santainya.


"Sial." Adien mengumpat merasa di permainkan John.


"Sudah, duduklah dulu." titah John pada Adien.


"I ya, nak Adien. Santai saja, Ngapain buru buru." Jumira datang sambil membawa jus jeruk dingin beserta cemilanya.


"I ya, Bu. Maaf." Adien menatap John jengkel.


"O ya, John. Dimana Arjuna?" tanya Adien.


"Mungkin dia bersama ibunya." John mengangkat gelas dan meminum jusnya.


"Sepertinya gua akan mempercepat proses pernikahanya Dien." John memberitahu Adien sedikit melirihkan suaranya.


"Dah kebelet lo John?" Adien puas tertawa.


"Jangan berisik!" John memukul kepala Adien.


"I ya, ya. Gue ngerti." Adien menggaruk kepalanya yang sedikit sakit.


"Pindah Bro. Kita pindah biar lebih leluasa." Adien bangun dari duduk dan membawa gelas jusnya keluar, di ikuti John dari belakang.


Sesampainya di taman depan.


"Gimana ceritanya? , bukanya selama ini loh yang ngulur ngulur." Adien mengeluarkan rokok dan menyalakanya.

__ADS_1


"Itu dia Dien, Apes gue hari ini." John pun ikut menyalakan rokok dengan pemantiknya." John memalingkan pandangannya, memastikan tak ada yang mendengar ia bicara selain Adien.


John menceritakan kepada semua kejadian yang memalukan itu pada sahabatnnya.


"Ha.. Ha.. Ha." Adien tertawa terpingkal mendengar cerita John.


"Eh, malah ketawa." John memukul kembali kepala Adien.


"Duh, sakit." Adien menggaruk kepalanya yang terasa sakit karena John.


Tak berselang lama, datanglah Lusiana yang datang sambil menggendong Juna.


"Mas, ayo makan siang dulu." ajak Lusiana pada John sambil menatap Adien.


John bangun dari tempat duduknya sambil menarik tangan Adien.


Mereka bertiga berlalu meninggalkan gazebo tamanya menuju rumah.


Di ruang makan, Jumira telah menyiapkan beberapa macam menu makan kesukaan John.


"Wah, kalau seperti ini. Bisa habis 3 piring aku Bu." Adien tertawa melihat Jumira.


Karena saking terlihat lezatnya. Adien mencoba mencuil masakanya.


"Plak,"John menepis tangan Adien yang di rasa kurang sopan.


"kenapa lagi si John?" Adien yang sudah tidak sabar mencicipinya.


"Cuci tangan dulu sana!" titah John pada Adien.


"I ya, ya. Siap Bos." Adien berlalu meninggalkan mereka yang mentertawakan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2