
Seminggu setelah kepergian sang Bapak tercintanya, Jono kini berubah menjadi sesosok anak yang pendiam. Bagaimana tidak kepergian sang ayahanda tercinta merupakan sebuah pukulan telak pada mentalnya.
Sebagai sahabat terbaik, Adien tak pernah bosan mencoba menghibur hatinya Jono yang masih terlihat dalam suasana berkabung.
"Jon, mau sampai kapan kamu akan bersedih seperti ini?" tanya Adien yang duduk di sebelah Jono.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Jono, membuat Adien merasa bingung di buatnya. Terkadang sebagai sahabat Adien selalu berpikir, cara apalagi yang harus dia lakukan agar sahabatnya bisa kembali ceria seperti dulu kala lagi.
Setelah jam sekolah usai, Adien dan Jono membereskan buku buku pelajaran dan memasukanya ke dalam tas.
"Jon, Ibuku menyuruhku mengajakmu pulang ke rumahku, beliau telah memasak makanan enak untuk kita" ucap Adien pada Jono.
"Kau pulang lah duluan, aku ada sedikit keperluan! " jawabnya pada Adien.
"Memangnya kau mau kemana Jon?" tanya Adien pada Jono.
"Aku ingin pergi ke kuburan Bapaku. " jawabnya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu, " ucap Adien.
"Tidak perlu!, aku perlu waktu untuk menyendiri" sanggahnya pada Adien.
Tanpa menunggu ucapan Adien, Jono berlalu pergi meninggalakan Adien yang terlihat berdiri memandang kepergianya.
Sesampainya di rumah Adien menyimpan tas dan mengganti baju seragam dengan baju keseharianya.
"Loh, Jono mana Dien?" tanya Syarifah pada Adien.
"Dia bilang akan menyusul Bu. " jawabnya pada Syarifah.
"Memangnya Jono ada les tambahan?" tanya lagi pada Adien.
"Bukan Bu, dia pergi ke makam Bapaknya. "
"Terus, kenapa kamu biarkan Jono sendirian pergi kesana, " ucapnya pada Adien.
"Adien sudah mencobanya Bu, tapi Jono bilang dia sedang ingin menyendiri seperti itu. " jawabnya lagi pada Syarifah.
Syarifah hanya terdiam setelah mendengar penjelasan dari anaknya, kini dia terlihat mencoba menghubungi seseorang.
"Asalamu alaikum Pak, " sapaan pertama suaminya.
"Wa'alaikum salam Bu, ada apa tumben. " jawabnya pada Syarifah.
__ADS_1
"Pak, nanti sepulang dari pasar, Bapak mampir ke makam Alm. mas Jarwo ya!, " titahnya pada Dul Hamid.
"Memangnya kenapa Bu?" tanya Dul Hamid yang merasa penasaran.
"Adien bilang, sekarang Jono sedang di makam Bapaknya sendirian, " ucap Syarifah.
"Oh. " angguk Dul Hamid.
"Sekalian Bapak Jemput ya! " pinta Syarifah pada Dul Hamid.
"I ya Bu, nanti beres ini, Bapak akan menjemput Jono disana.
Syarifah pun memutus panggilan telponnya, dan berniat pergi ke rumah Dirmo untuk memberitahukannya agar tidak merasa khawatir.
Sebelum berangkat menuju ke kediaman Dirmo, Syarifah terlihat membawakan separuh masakan rendang yang di buatnya untuk di bawa ke rumah Dirmo.
"Adien, " panggil Syarifah pada anaknya.
"I ya Bu, ada apa?" tanya Adien yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ibu hendak pergi ke rumah Pak Dirmo mengantarkan ini. " jawabnya sambil memperlihatkan rantang yang sudah tersusun rapi pada Adien.
"I ya Bu. " jawab Adien sambil menganggukan kepalanya.
Di lain tempat Dul Hamid sudah terlihat selesai dalam berjualan sayurnya, penjualan hari ini terlihat memuaskan. Semua itu terlihat dari sayur mayurnya yang tadinya terpajang di atas meja, kini habis terjual tanpa sisa.
"Laris manis tanjung kimpul, barang habis duit kumpul. " ucapnya sambil tertawa.
Seraya mengipas ngipaskan uang hasil penjualan sayur pada mukanya.
Setelah di rasa tak ada yang tertinggal, Dul Hamid memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Oalah, aku lupa. Aku harus jemput Jono. " ucapnya sambil menghidupkan mobil losbaknya.
Di lain tempat Syarifah yang baru saja sampai di rumah Dirmo, langsung bertemu dengan Suminah yang kebetulan sedang menyapu halaman depan rumahnya.
"Asalamu alaikum Bu Sum, " seru Syarifah mengawali percapakanya.
"Wa'alaikum salam Fah. " jawabnya sambil berlari kecil menuju pintu gerbang untuk membukanya.
"Masuk Fah!, " titah Suminah pada Syarifah.
Seraya menyimpan sapu lidinya, dan memutar kran air dan mencuci tanganya.
__ADS_1
"I ya Bu, terima kasih. " jawab Syarifah.
Di teras depan rumah Dirmo, mereka berdua duduk di amben, Syarifah menjelaskan akan maksud kedatanganya sambil memberikan rantang yang berisi rendang kepada Suminah.
"Terima kasih Fah, maaf merepotkan, " ucap Suminah padanya.
"Tidak apa apa Bu, tidak usah sungkan seperti itu. " jawabnya pada Suminah.
Di lain tempat, Dul Hamid yang baru saja sampai di pemakaman, kini dirinya turun dari mobil dan hendak menuju kuburan Jarwo.
Tak butuh waktu lama Dul Hamid untuk menuju kuburan Jarwo karena dia memang telah mengetahui tepat letaknya makam Jarwo berada.
Sesampai di kuburan Jarwo, perlahan Dul Hamid menghampiri Jono yang terlihat sedang duduk beralaskan sebuah koran sedang membacakan surat Yasin untuk mendiang bapaknya.
Tak ingin mengganggu ke khusuan Jono, Dul Hamid memilih diam dan berjongkok di belakang Jono.
"Allohumag firli wali walidaya warhamhuma kama robbaya ni sogiro. " Doa Jono kepada sang Bapak tercinta.
Seraya mengusapkan tangan ke mukanya dan bangun.
"Sudah selesai Jon, " tanya Dul Hamid yang sedikit mengagetkan Jono.
"Eh, Bapak. Bapak Dul sudah lama menunggu Jono ya?" tanya Jon yang merasa tidak enak pada Dul Hamid.
"Tidak apa apa Jon, Ayo kita pulang! , kamu pasti belum makan, i ya kan?" tanya Dul pada Jon.
"I ya, Bapak Dul. " jawabnya sambil tersenyum.
Kini mereka berjalan meninggalkan kuburan Jarwo, Dul Hamid menyalakan mesin mobilnya dan Jarwo duduk di sampingnya.
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya, Jon terlihat hanya terdiam melihat ke arah luar kaca menatap makam ayahnya yang kini semakin menjauh dari pandanganya.
"Jon, kau tak boleh selalu seperti ini, " ucapnya pada Jon.
"Apakah kau tahu, Bapakmu akan terlihat semakin bersedih jika kamu selalu murung dan diam seperti ini. "
"Jadilah anak ceria dan pintar seperti sebelumnya Jon!"
"Pak Dul yaqin, Bapak dan Ibumu akan senang melihatmu ceria dan bahagia. "
Sejenak Jono terdiam mencerna semua nasehat yang telah di ucapkan oleh Pak Dul kepadanya.
"Baik, Pak. Jono berjanji, Jono tidak akan bersedih dan Jono akan rajin belajar lagi. Agar Bapak sama Ibu di surga sana, bisa tersenyum melihat Jono.
__ADS_1
Akhirnya kedua percakapan mereka terhenti setelah mereka sampai di kediaman Dirmo, kakeknya Jono.