
Karena malu, Lusi langsung masuk ke dalam kamar, menutup dan menguncinya.
Lusi bersandar di belakang pintu merutuki kebodohan yang tak di sadarinya.
"Mesum...3x, sekali mesum selamanya tetep mesum." Lusi berlalu menuju kamar mandinya.
"Lusi... Lusi," John tersenyum puas mendapatkan pemandangan indah.
John menuju dapur, dan ia melihat Jumira yang sedang membaca baca buku resep sambil menggendong cucunya.
"Nak John, ada apa?" tanya Jumira yang baru saja menyadari kedatangan John.
"Tidak ada apa-apa Bu, John cuma ingin membuat kopi saja." John tersenyum.
"Tunggu sebentar nak John," Jumira menurunkan cucunya.
"Juna tampan sudah mandi?" tanya John sambil jongkok menyetarakan tingginya.
"Papapa, dah." Juna mengangguk di sertai bahasa cedalnya.
"Ouwh, pantas udah wangi. Ikut Papa yuk." John menggendong Juna sambil menerima kopi dengan tangan kanannya.
John membawa Juna ke dalam kamarnya, setelah menyimpan kopi, John tak henti hentinya mengajak Arjuna untuk bermain kuda kudaan.
Arjuna terlihat gembira, ia duduk sambil berpegang kencang, di baju bagian belakang John, yang terus berjalan merangkak sambil menirukan suara kuda balap.
__ADS_1
"Hah.. Hah.. Hah." John yang merasa lelah dan encok di bagian pinggangnya.
Mereka berdua tak menyadari bahwa sepasang mata telah menangis haru, menyaksikan pemandangan antara John dan Juna.
Jumira mundur dari pintu kamar John, ia tak mau dirinya di ketahui John.
Jumira menutup mulut dengan tangannya, ia menggeeleng kepala sambil berjalan berurai air mata.
"Bu, Ibu kenapa?, kenapa ibu menangis?. Dimana Juna?" tanya Lusi yang baru datang menghampiri Jumira.
"Ibu menangis bukan menangis sedih nak," Jumira menggeleng kepalanya.
"Lantas, kenapa Ibu bersedih?" tanya lagi Lusi.
"Ibu hanya terharu nak." Jawab Jumira yang mengusap air mata nya.
Lusi segera menghampiri pintu yang di tunjuk oleh ibunya.
Di depan pintu kamar John, Lusi mendapati Juna yang sedang riang gembira dan bercanda ria dengan John. Tak henti hentinya kedua lelaki yang berbeda usia itu tertawa.
Tok.. Tok.. Tok..
"Juna sayang sini, kasihan Papanya ntar capek." Lusi melambaikan tanganya pada Arjuna.
Arjuna yang mendengar dirinya di panggil, seketika ia bangun dari duduknya, ia mencium pipi John, di sertai tangan yang melambai dan berjalan menghampiri Lusi yang telah menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
Lusi menggendong Juna dan menutup kembali pintu kamar John.
"Yah, sepi lagi." John menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
John mengambil ponsel dan dan kopinya, melangkah menuju balkon.
"Dingin sekali malam ini." John menatap pemandangan langit yang cerah.
Sambil menikmati indahnya malam, John membuka email kantor Via ponselanya. Mengusir rasa dingin di mulut dan badanya, John mengambil sebatang rokok, menyalakan dan menghisapnya.
Dret.. Drett.. Panggilan masuk.
John menggeser menu hijau di layar ponsel dan menempelkan di telinga.
"Hei John, sudah kau cek emailnya?" tanya Adien.
"Belum, baru saja aku akan mengeceknya. Dan kau dengan cepatnya langsung menelponkku." jawab John.
"Hei kawan, kenapa kau?, sepertinya kau kesepian." Adien mencoba menebak suasana hati John.
Alih alih mendapat jawaban, John malah membiarkan Adien, dan tak melanjutkan kata katanya.
"Baiklah, aku akan ke tempatmu. Tunggu aku disitu!" ucap Adien.
"Ok," John mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1
Sementara di lain tempat. Adien telah bersiap dengan mobilnya menuju rumah John.