LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
AIR MATA BAHAGIA


__ADS_3

Setelah John pergi, Lusi bergegas melanjutkan pekerjaanya. Dia kembali memasuki kamar John dan mengambil setumpuk pakaian kotor yang berada di dalam bak keranjang.


Ia pun berlanjut mengambil pakaian kotor bekas Arjuna dan ibunya, dan membawanya untuk ia cuci dengan bersih.


Lusiana mensetting timer pada mesin cucinya, sambil menunggu cuciannya selesai. Dia pun mengerjakan pekerjaan rumah lainya seperti mengepel lantai kamar John, kamar ibu dan kamar ia sendiri bersama anaknya.


Setelah selesai, Lusiana pun mengecek mesin cuci yang kini telah selesai. ia membawa keranjang yang berukuran besar untuk wadah baju yang telah di cuci dan di keringkanya menggunakan pengering.


Sebenarnya semua pekerjaan ini memang benar benar melelahkan untuknya, tapi semua ini ia lakukan demi anak dan ibu yang selalu di hati dan di sayanginya.


"Akhirnya selesai juga pekerjaan mencuci dan menjemur pakaianku." Lusi mengusap peluh di dahinya sambil berlalu pergi menuju ke dapur.


"Oh, tidak sudah jam 10 siang. Aku harus buru-buru masak untuk menu makan siang Tuan John." Lusi menyimpan keranjang kosong bekasnya dan melanjutkan pada acara memasak.


Selesai memasak, Lusiana memutuskan untuk membersihkan dirinya yang telah benar benar bau keringat, akibat kegiatan yang benar benar menguras tenaga dan membuatnya lelah di kamar mandi.


Selesai dengan ritual mandinya, Lusiana bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian sederhana tetapi manis cantik di lihatnya.


Dengan sedikit polesan bedak dan lipstik yang tidak begitu tebal, ia kini terlihat laksana bidadari surga yang akan mampu membuat mabuk bagi siapa saja pria yang melihatnya.


"Aku kira cukup," ucap Lusiana sambil berputar di dalam cermin.


"Cantik juga ya, ha..ha..ha." Lusiana memuji dirinya sendiri.


Di lihatnya kembali jam dinding yang terpampang di kamarnya.


"Jam 11, C'mon berangkat." Lusiana pergi meninggalkan kamarnya.


Lusiana bergegas dan melenggang pergi meninggalkan rumah besar John.


"Lusi, apa kau akan mengantar makan siang untuk Tuan John lagi?" tanya Jumira yang baru saja turun dari Ojek.


"I ya, Bu. sudah selesai belanjanya?" tanya Lusi sambil melihat anaknya yang sudah pulas tidur di gendongan neneknya.


"Ya sudah Lusi, Hati hati di jalan." ucap Jumira sambil berlalu menggendong cucunya yang telah tidur dan di ikuti tukang Ojek yang membawa belanjaan sayuranya.


Lusi pun masuk ke dalam mobil yang telah siap mengantarkanya ke tempat dimana John bekerja dan menantinya.


"Sudah siap Non?" tanya supir padanya.


"I ya, mang. Ayo kita berangkat." jawabnya.


Sepanjang perjalanan, Lusiana termenung mengingat kejadian tadi pagi yang menimpanya. Dia merasa takut kejadian itu akan terulang kembali.


"Non, kenapa melamun?" tanya Supir sekaligus membuyarkan lamunan Lusi.


"Oh, tidak apa apa mang, lanjut jalan saja." jawabnya dengan singkat.


Sesampai di perusahaan John, Lusiana terlihat sedikit tegang karena kejadian tadi pagi terus menghantuinya.


Tapi dia mencoba biasa saja, dia tak mau orang orang kantor melihatnya aneh dan memiliki dugaan yang macam macam terhadapnya.


"Siang mba Fira," sapa Lusi sambil tersenyum.


"Siang juga Ibu Lusi, silahkan Bu. anda sudah di tunggu oleh Pak John di dalam." jawab Fira sang receptionis cantik dan ramahnya itu.

__ADS_1


"Terima kasih mba Fira." Lusi berlalu melanjutkan perjalanan ke dalam menuju ruangan John di lantai atas.


Lusiana kini telah sampai ke lantai 36, lantai dimana ruangan John berada. Dia melanjutkan kembali langkah yang sempat terhentinya itu.


Semua karyawan kantor menyapanya dengan ramah, membuatnya benar benar semakin tak enak hati dan kurang nyaman.


Di depan meja sekretaris, ia di sambut oleh Linda, yang sekaligus sekretaris handal John setelah Adien.


"Siang Bu Lusi." sapa Linda padanya.


"Siang juga mba Linda." jawabnya.


"Cantik sekali Bu hari ini." puji Linda yang memperhatikan penampilan Lusi.


"Ah, mba Linda bisa saja. Mba Linda juga tak kalah cantik kok." Puji balik kepada Linda.


"Sebentar Bu, saya hubungi sebentar Pak John dulu ya." Pinta Linda pada Lusi sambil mengangkat gagang telponya mencoba menghubungi Bosnya.


"I ya, Mba silahkan." jawab Lusi.


Tak berselang lama, Linda pun menutup panggilan teleponya.


"Mari Bu, saya antar ke dalam." ajak Linda padanya.


"I ya, Mba." Lusi mengikuti Linda dari belakang.


Tok..Tok..Tok..


"I ya, silahkan masuk." seru John dari dalam ruangannya.


"Maaf Bos, Ibu ingin menemui anda." ucapnya penuh rasa segan.


"Baiklah, kau boleh kembali melanjutkan pekerjaanmu." jawab John penuh kewibawaan.


Linda pun berlalu setelah mendapat titah dari John sang big Bos.


"Duduklah, mau sampai kapan kau berdiri layaknya patung seperti itu?" tanya John sambil tersenyum dengan segudang rencana.


"Terima kasih mas John." Lusi memastikan tak ada orang yang mendengarnya.


John tersenyum dan terlihat membuka laci mejanya, terlihat ia mengeluarkan sebuah remote pengunci pintu otomatisnya.


Lusi yang baru saja mendudukkan dirinya di sofa, sedikit terlihat pucat dan ketakutan.


"Mengapa mas John mengunci pintunya?" tanya Lusi meminta penjelasan.


"Karena, aku tak mau acara makan siangku terganggu oleh orang lain." John menggerakkan lidah dari kiri ke kanan seperti Harimau yang siap memakan mangsanya.


Tuhan, jangan biarkan dia berlaku semena-mena kepadaku seperti tadi pagi lagi.


" Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu melihatku?" John duduk di sebelah Lusi dan merangkul pinggang Lusiana.


"Ah, tidak. siapa bilang aku takut padamu.!" Lusiana menutupi rasa tegangnya.


"Lalu kenapa kau diam saja?, tak membuka bekal makan untuku." goda John yang melihat siluet merah di pipi Lusi.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa bergerak, sedangkan tanganmu merangkulku dengan kencang seperti ini." Lusiana sebisa mungkin berlaku tenang di depan John.


"Oh, Sorry aku lupa Lusi." John melepas rangkulan tangannya.


Lusi terlihat mengambil nasi beserta lauk pauknya untuk di berikan pada John.


"Kenapa tanganmu bergetar?" John memperhatikan Lusi terus yang terlihatnya cantik sekali di hari itu.


"Ah, tidak. Aku biasa saja." Lusiana berkilah kembali.


Lusi..Lusi, kau kira aku ini lelaki bodoh apa yang tak mengerti dirimu yang sedang tegang!


"A...," John membuka mulutnya.


Manja sekali dia ini, mentang mentang Bos berlaku seenak perut kepada bawahannya.


Lusiana pun menyuapi John laksana bayi yang usianya baru 2 tahun.


"Mi..mi..emu duyu." John meminta minum dengan manja sambil menirukan suara anak kecil.


Najis bener, enek gua lama lama.


John yang melihat mata sinis Lusi memandangnya, berubah menjadi seorang yang sedikit terlihat menakutkan kembali.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" John bertanya dengan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Lusiana.


"Tidak, aku hanya merasa lelah saja dan butuh istirahat, itu saja tak lebih." Lusiana membereskan kembali wadah bekas makan siang John.


"Lusi, apa kau membenciku?" tanya John.


"Tidak, alasan apa yang membuat aku harus membencimu." ucapnya penuh penekanan.


Lusiana bangun dari tempat duduknya, dan berniat pergi meninggalkan ruangan John.


"Lusi aku minta maaf padamu." John jongkok dan memeluk kaki Lusi.


"Lepaskan aku!" Lusiana coba melepas kakinya.


"Tak akan aku lepaskan Lusi, sebelum kau benar benar memaafkan ku." pinta John penuh dengan harapan.


John bangun dan menggenggam kedua tangan Lusi. Sambil menatap penuh keseriusan.


"Lusi, dengarkan aku. Aku akan menikahimu, aku mencintaimu Lusi. Percayalah padaku aku mohon." John menarik kedua tangan Lusi dan mencium jarinya sambil menangis.


Air mata menetes dari kedua mata Lusiana. ia tak menyangka bahwa John akan mengutarakan isi hatinya padanya.


Maaf, sedikit REVISI dari author untuk visual di novel ini



Visual John.



Visual Lusiana.

__ADS_1


__ADS_2